Shen Qingyue adalah istri pertama keluarga Marquis Yong'an yang dikenal kejam dan pencemburu. Ditinggalkan suami di malam pernikahan, ia mati setelah meminum semangkuk "sup penenang" yang diracun.
Tapi takdir berkata lain.
Ketika Lin Xiao, seorang direktur pemasaran modern yang mati kelelahan, terbangun di tubuh Shen Qingyue, ia mendapati dirinya berada di tengah-tengah keluarga bangsawan yang penuh intrik. Suami yang dingin, selir yang licik, dan ibu mertua yang kejam—semua orang ingin melihatnya jatuh.
Namun Lin Xiao bukanlah Shen Qingyue yang lemah. Dengan kecerdasan verbal dan logika modernnya, ia bertekad untuk bertahan hidup dengan martabat. Satu per satu, jebakan dibongkar, musuh dipermalukan, dan rahasia gelap keluarga Marquis mulai terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Permen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Puluh Tiga
"Bukan tidak ingin." Lin Xiao menjawab tenang. "Menantu hanya merasa bahwa besar kecilnya jatah bukanlah hal terpenting. Yang penting adalah keluarga hidup rukun, kesehatan Nyonya Tua terjaga, dan Marquis tetap dihormati di luar. Selama semua itu ada, apa yang menantu pakai dan gunakan tidaklah penting."
Setelah mengucapkan kalimat itu, ia sedikit menundukkan kepala dan memberi hormat.
Ruangan menjadi begitu sunyi hingga suara dedaunan tertiup angin di luar jendela pun terdengar jelas.
Nyonya Tua memandangnya lama.
Lalu, ia meletakkan cangkir tehnya dan sudut bibirnya sedikit bergerak. Gerakan itu begitu samar hingga hampir tak terlihat, tetapi Lin Xiao menangkapnya.
Nyonya Tua sedang tersenyum.
"Baiklah." katanya. "Asalkan kau memiliki niat seperti itu. Soal jatah akan kita bicarakan nanti. Duduklah."
Lin Xiao mengiyakan dan kembali ke tempat duduknya.
Wajah Nyonya Kedua sudah sangat muram. Jari-jarinya yang menggenggam cangkir memucat, bibirnya mengerucut membentuk garis lurus. Ia ingin mengatakan sesuatu, tetapi tidak menemukan kata yang tepat.
Ketika pertemuan usai, Nyonya Kedua menjadi orang pertama yang berdiri dan pergi. Saat melewati Lin Xiao, langkahnya sempat terhenti. Seolah ingin berbicara, tetapi pada akhirnya ia hanya mendengus pelan sebelum pergi tanpa menoleh lagi.
Lin Xiao berdiri, memberi hormat kepada Nyonya Tua, lalu meninggalkan halaman utama.
Qingxing sudah menunggu di luar. Begitu melihatnya keluar, gadis itu segera menghampiri sambil berbisik penuh semangat,
"Nyonya! Apa maksud perkataan Anda tadi? Nyonya Tua ingin menambah jatah, kenapa malah ditolak?"
"Menolak bukan berarti tidak menginginkannya." Lin Xiao berjalan santai di depan. "Kalau aku langsung menerimanya, itu namanya rakus. Tapi kalau aku menolaknya, Nyonya Tua justru akan menganggapku tidak serakah. Dan orang yang tidak serakah biasanya justru lebih mudah diberi."
Qingxing mengedipkan mata.
"Jadi... sebenarnya Anda tetap menginginkannya?"
"Tentu saja aku menginginkannya." jawab Lin Xiao. "Hanya saja, aku tidak boleh terlihat terlalu menginginkannya."
Mereka berbelok melewati lorong, dan dari kejauhan Lin Xiao melihat punggung Nyonya Kedua yang berjalan cepat menuju halaman barat. Langkahnya jauh lebih tergesa-gesa daripada biasanya, jelas hendak mencari seseorang untuk berdiskusi.
Lin Xiao tidak berhenti dan terus berjalan.
"Qingxing, sore nanti pergilah ke bagian pembukuan dan cari tahu sesuatu."
"Apa itu?"
"Cari tahu apakah dalam enam bulan terakhir Nyonya Kedua pernah mengambil uang dalam jumlah besar dari bagian pembukuan. Tidak perlu menanyakan jumlahnya, cukup cari tahu apakah ia pernah mengambilnya."
Qingxing mengangguk.
"Pelayan mengerti."
Setelah kembali ke halaman timur dan menutup pintu, Lin Xiao menuangkan secangkir teh untuk dirinya sendiri lalu duduk di dekat jendela sambil meminumnya perlahan.
Permainan hari ini memang sengaja ia atur.
Jika tadi ia langsung menerima tambahan jatah, itu sama saja dengan memberi tahu semua orang: begitu Marquis membuka mulut, ia segera mengulurkan tangan untuk menerimanya. Hal itu hanya akan membuat Nyonya Tua menganggapnya dangkal.
Namun ia memilih menolak, dan penolakannya terdengar mulia serta tanpa celah.
Nyonya Tua bukan hanya tidak akan menganggapnya bodoh, tetapi justru akan menganggapnya bijaksana.
Dan di mata Nyonya Tua, sifat "bijaksana" jauh lebih berharga daripada apa pun.
Lin Xiao menghabiskan tehnya dan meletakkan cangkir di atas meja.
Di luar jendela, bunga-bunga pohon begonia kembali bermekaran. Kelopak merah mudanya tampak setipis kertas di bawah cahaya siang.
Ia menyandarkan tubuh ke kursi dan memejamkan mata.
Sedikit demi sedikit, ia mulai memahami ritme permainan ini.
Nyonya Tua adalah wasitnya.
Pei Yanzhi adalah variabel yang sulit ditebak.
Nyonya Kedua adalah musuh yang bersembunyi di balik bayang-bayang.
Selir Zhou adalah sasaran yang terlihat jelas.
Sementara dirinya sendiri adalah orang yang tiba-tiba mengubah cara bermain.
Semua orang sedang berusaha menyesuaikan diri dengannya.
Dan masa penyesuaian itu, justru merupakan saat terbaik untuk mulai menyerang.
*
Senja hari itu datang lebih lambat dari biasanya.
Lin Xiao duduk di dekat jendela sambil membolak-balik buku rekening di tangannya, tetapi pandangannya justru tertuju pada pohon begonia di luar sana. Beberapa kuntum lagi telah bermekaran. Itu sudah gelombang ketiga bunga yang mekar, kelopak merah mudanya memantulkan cahaya keemasan di bawah sinar matahari senja.
Ia meletakkan buku rekening itu dan tiba-tiba teringat pada pot sirih gading yang nyaris mati di kantornya pada kehidupan sebelumnya. Tiga tahun dirawat, tetapi tak pernah berbunga. Dulu ia selalu mengira tanahnya yang bermasalah. Sekarang, setelah dipikir-pikir lagi, mungkin memang karena ia tidak pernah benar-benar menyiraminya dengan baik.
Lin Xiao tersenyum kecil, merasa dirinya agak membosankan.
Saat malam tiba, Qingxing menyalakan sebuah lentera di halaman. Cahaya kuning hangat bergoyang pelan diterpa angin malam, menerangi sebidang kecil lantai batu di pelataran. Lin Xiao menutup jendela dan bersiap untuk beristirahat.
Ketukan di pintu terdengar tepat pada saat itu.
Tiga kali ketukan, berhenti sejenak, lalu tiga kali lagi.
Irama yang sama seperti malam sebelumnya.
Lin Xiao berdiri di ambang kamar dalam, tangannya bertumpu pada kusen pintu, tetapi ia tidak segera membukanya. Ia bisa merasakan keraguan di balik ketukan itu, bahkan lebih samar daripada malam kemarin, seolah-olah orang di luar sana juga merasa tidak pantas datang pada jam seperti ini.
Ia berjalan menuju pintu ruang utama dan bertanya dari balik daun pintu,
"Siapa?"
Keheningan di luar kali ini lebih singkat. Tak lama kemudian, suara rendah yang kini sudah dikenalnya terdengar.
"Aku."
Gerakan Lin Xiao membuka pintu kali ini sedikit lebih cepat daripada semalam.
Di bawah sinar rembulan berdirilah Pei Yanzhi. Ia berganti pakaian menjadi jubah gelap, rambutnya tergerai tanpa diikat. Ia berdiri di bawah tangga batu sambil membawa sebuah guci kecil berisi arak. Saat melihat Lin Xiao membuka pintu, ia mengangkat guci itu sedikit.
"Aku tidak bisa tidur," katanya. "Kebetulan lewat sini dan melihat lampumu masih menyala."
Lin Xiao memandang guci arak itu, lalu menatapnya lagi.
Ekspresi Pei Yanzhi berbeda dari siang tadi. Tidak lagi seformal atau sesering menguji seperti sebelumnya. Sebaliknya, ia tampak santai, seperti seorang teman yang datang berkunjung di malam hari. Sebelum bereinkarnasi, Lin Xiao pernah melihat ekspresi semacam itu, ekspresi seseorang yang baru pulang lembur larut malam sambil membawa dua botol bir dan ingin mencari teman mengobrol.
"Marquis ingin masuk dan duduk sebentar?"
Lin Xiao menyingkir dari ambang pintu.
Pei Yanzhi masuk dan meletakkan guci arak di atas meja. Lin Xiao mengambil dua cangkir tanpa bertanya apakah ia menginginkannya atau tidak, lalu langsung menuangkan arak.
Ia sendiri tidak tahu mengapa melakukan itu secara refleks. Mungkin karena kebiasaan dari kehidupan sebelumnya saat sering lembur. Jika seseorang datang membawa minuman, maka tinggal menuangkannya.
Pei Yanzhi duduk di seberangnya dan meneguk sedikit arak.
"Kau tidak bertanya mengapa aku datang?"
"Marquis baru saja mengatakannya. Karena tidak bisa tidur."
"Itu benar." Pei Yanzhi mengangguk. "Tapi bukan seluruh alasannya."
Lin Xiao memegang cangkirnya tanpa meminumnya, menunggu pria itu melanjutkan.
Pei Yanzhi menunduk menatap cairan berwarna keemasan di dalam cangkir. Setelah terdiam cukup lama, ia mengatakan sesuatu yang agak mengejutkan.
"Hari ini, Nyonya Tua memberitahuku bahwa kau menolak soal jatah bulanan."
"Benar."
"Kenapa?"
"Karena saat itu bukan waktu yang tepat untuk menerimanya." Lin Xiao menjawab tenang. "Saat Nyonya Tua mengatakan itu, Bibi Kedua dan Bibi Ketiga ada di sana. Jika aku langsung menerimanya, mereka akan menganggapku serakah. Jika aku menolaknya, mereka akan menganggapku berpura-pura. Tapi Nyonya Tua akan menganggapku bijaksana."
Pei Yanzhi mengangkat kepalanya dan menatapnya. Ada sesuatu yang berbeda dalam tatapannya kali ini.
Tatapan itu hampir sepenuhnya jujur, seolah untuk pertama kalinya ia benar-benar melihat siapa Lin Xiao sebenarnya.
"Kau tahu apa yang akan dipikirkan Nyonya Tua?"