NovelToon NovelToon
Benang Merah Diujung Mimpi

Benang Merah Diujung Mimpi

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / CEO / SPYxFAMILY
Popularitas:410
Nilai: 5
Nama Author: Luh Belong

No Plagiat ❌


Sejak kecil, Valerie Sinclair selalu bermimpi tentang seorang anak laki-laki bernama Hazel yang tumbuh bersamanya, namun setelah Hazel di mimpinya tumbuh remaja wajahnya tak pernah terlihat jelas. Setelah kehilangan kedua orang tuanya dalam kecelakaan tragis, Valerie menikah kontrak dengan Damian demi membalas budi keluarga konglomerat yang diselamatkan orang tuanya.

Seiring waktu, Valerie jatuh cinta pada Damian karena sosoknya begitu mirip dengan pria dalam mimpinya. Namun sikap Damian yang dingin membuat Valerie memilih bercerai. Saat Damian akhirnya menyadari perasaannya dan berusaha merebut kembali hati Valerie, sebuah kecelakaan mengungkap rahasia mengejutkan tentang mantan istrinya yang membuat Damian prustasi.

Mampukah Damian mendapatkan kembali cinta wanita yang pernah ia sia-siakan, atau kesempatan kedua ini justru datang terlambat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luh Belong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mari bercerai

Setelah percakapan panjang malam itu, hati Valerie terasa jauh lebih ringan. Kehangatan yang diberikan Ibu Amanda membuat luka di hatinya tidak lagi terasa sesesak sebelumnya. Untuk pertama kalinya sejak kedua orang tuanya meninggal, ia kembali merasakan kasih sayang seorang ibu.

Keesokan paginya, setelah Pak Boby dan Ibu Amanda berpamitan pulang, Valerie duduk seorang diri di ruang tamu rumah lamanya. Tatapannya kosong mengarah pada selembar kertas putih. Beberapa menit kemudian, ia mulai mengetik.

Surat perceraian.

Tangannya sempat gemetar, tetapi ia tidak menghentikan tangannya. Satu demi satu kalimat selesai diketik hingga akhirnya ia menandatangani namanya sendiri.

Valerie menarik napas panjang.

“Aku bukannya mudah menyerah, hanya saja tidak ingin bertahan pada tempat yang tidak menginginkanku lagi.”

“Dengan ini, semuanya akan berakhir.”

Tak lama kemudian, ia memanggil sebuah taksi menuju Mansion Robert. Mobil lalu berhenti di depan gerbang mansion.

Valerie menatap bangunan megah itu cukup lama. Dahulu tempat itu terasa hangat karena ia masih menyimpan harapan. Kini, rumah itu seakan ikut terasa asing.

Dengan langkah mantap, ia masuk ke dalam.

Di ruang utama, Damian tengah berbincang dengan Olivia. Nyonya Margaretha duduk tak jauh dari mereka. Begitu melihat Valerie, wajah wanita tua itu langsung berubah gelap.

“Untuk apa kamu datang kesini?!”

Bentaknya sambil menunjuk Valerie.

“Masih punya nyali datang ke rumah ini setelah mencoreng nama keluarga Robert! Sudah ku peringatkan, jangan pernah memperlihatkan wajahmu lagi, tapi kamu masih berani datang!”

Valerie menundukkan kepala sejenak sebelum berkata pelan,

“Nenek... aku bisa menjelaskan semuanya, kalian sudah salah paham.”

Air matanya mulai menggenang.

“Aku benar-benar tidak mengenal pria itu, saat itu aku diculik dari depan kampus. Saat sadar, aku sudah berada di kamar hotel.”

“Tolong... percayalah padaku.”

Nyonya Margaretha mendengus sinis.

“Dasar jalang!”

“Kamu hanya mencari alasan agar terlihat seperti korban. Padahal itu memang wajah aslinya.”

Valerie menggigit bibirnya, tak ada seorang pun yang ingin mendengar penjelasannya.

Damian tetap duduk dengan wajah dingin. Bahkan sejak Valerie datang, pria itu tidak pernah sekalipun menanyakan keadaannya.

Sementara Olivia hanya duduk tenang dengan senyum tipis yang sulit disembunyikan.

Valerie mengusap air matanya.

“Aku tau semua orang sedang kecewa, dan aku tidak punya bukti untuk menunjukannya pada kalian.”

“Tapi kedatanganku saat ini, bukan untuk meminta dipercaya lalu dibantu mengumpulkan bukti. Tapi...”

Ia mengeluarkan sebuah map dari dalam tasnya.

“Saya datang untuk bercerai.”

Tatapan Damian akhirnya beralih kepada map itu.

Valerie menunjukkan surat perceraian.

“Aku berharap Damian bersedia menandatanganinya.”

Nyonya Margaretha menoleh kepada cucunya, tatapannya seolah mengatakan bahwa ia menyetujui keputusan tersebut.

Valerie kembali menatap Damian.

“Damian, aku ingin kita bicara empat mata.”

Damian memahami maksud Valerie. Pernikahan kontrak mereka memang tidak boleh diketahui siapa pun. Tanpa berkata apa-apa, Damian bangkit dari duduknya. Mereka berjalan menuju taman belakang mansion.

Valerie duduk di hadapan Damian, ia meletakkan surat perceraian dan sebuah pulpen di atas meja.

“Tanda tangani surat cerai ini, dan aku akan keluar dari rumah ini tanpa membawa apapun darimu.”

Damian membaca isi surat itu sekilas.

“Bagaimana dengan kompensasi yang sudah disepakati dalam kontrak?”

Valerie menggeleng pelan.

“Aku tidak menginginkannya, kita sama-sama melanggar isi kontrak.”

Ia tersenyum pahit.

“Aku yang diam-diam jatuh cinta kepadamu.”

Tatapan Damian berubah.

“Dan kamu...”

Valerie menarik napas panjang.

“...telah menyentuh tubuhku. Jadi kontrak itu sudah tidak lagi utuh.”

Damian terdiam, beberapa detik kemudian ia kembali berkata,

“Aku tetap akan memberikan kompensasi untuk kedua orang tuamu.”

Valerie tersenyum tipis.

“Aku bukan perantara kedua orang tuaku, lebih baik berikan saja langsung kepada mereka.”

Damian mengernyit.

“Apa maksudmu?”

Valerie menyantapnya santai.

“Aku bukan bermaksud mengutuk keluargamu. Maksudku, kedua orang tuaku sudah meninggal. Jika ingin memberikan sesuatu atau kompensasi...”

“Lebih baik, saat suatu nanti jika waktu kalian habis dan bertemu dengan mereka. Katakan sendiri saja bahwa kalian ingin membayar utang balas budi itu.”

Suasana mendadak hening.

“Aku tidak pantas menerima uang untuk kebaikan yang bahkan tidak pernah kulakukan.”

Entah mengapa, ucapan Valerie membuat dada Damian terasa sesak. Ada rasa tidak nyaman yang perlahan muncul.

Valerie kembali berbicara.

“Aku hanya punya satu permintaan.”

“Apa?”

“Saat ini keluargamu tidak percaya padaku, dan kalau suatu hari nanti kebenaran terungkap...”

“...jangan pernah mencariku, tidak usah menebus kesalahan, dan tidak perlu minta maaf.”

“Aku ingin menjalani hidup yang baru, dimana hidupku tidak lagi melibatkanmu.”

Damian mengepalkan tangannya.

Valerie melanjutkan,

“Kalau kamu tetap memaksaku menerima kompensasi itu, aku akan membongkar pernikahan kontrak kita kepada Nenek.”

Tatapan Damian langsung berubah tajam.

“Berani sekali kau mengancamku.”

Valerie tersenyum kecut.

“Aku tidak sedang mengancam.”

“Aku hanya ingin tidak dipaksa, maupun dikasihani oleh keluargamu.”

Dengan kesal, Damian mengambil pulpen.

“Baik, jika memang itu maumu.Jangan pernah menyesal karena kamu sendirilah yang menolak semua pemberianku.”

“Kalau nanti terjadi apa-apa dalam hidupmu, keluarga Robert tidak akan ikut campur.”

Valerie mengangguk tanpa ragu.

“Aku setuju.”

Tanpa berpikir panjang, Damian membubuhkan tanda tangannya di atas surat perceraian.

BRAK!

Pulpen itu dilempar ke atas meja, lalu Damian berdiri dan hendak pergi.

“Damian.”

Langkah pria itu terhenti, ia menoleh tanpa ekspresi.

“Boleh aku ke atas mengambil barang-barangku?”

Damian menatapnya beberapa saat.

“Iya, lakukan secepatnya.”

“Jangan kotori tempat ini dengan barang murahanmu itu, dan satu lagi... jangan pernah kembali lagi ke mansion ini.”

Valerie tersenyum tenang.

“Aku bersumpah, dan terima kasih.”

Ia berjalan melewati Damian. Sejak awal, ia memang tidak pernah menginginkan pernikahan dengan keluarga Robert. Kini, ia akhirnya terbebas dari balas budi kedua orang tuanya yang selama ini berubah menjadi belenggu penderitaan.

Saat Valerie melewati bahunya, Damian tanpa sadar menoleh. Untuk sesaat, dadanya terasa kosong. Seolah ada sesuatu yang perlahan meninggalkan hidupnya, perasaan itu membuatnya kesal.

Dengan langkah cepat, ia kembali masuk ke dalam mansion dan duduk di samping Olivia, berusaha mengabaikan kegelisahan yang terus mengusik hatinya.

Beberapa menit kemudian, Valerie turun dari lantai atas sambil membawa sebuah koper berukuran sedang.

Ia berhenti di ruang utama.

“Terima kasih atas kebaikan kalian semua.”

“Saya pamit.”

Tak ada jawaban.

Damian tetap diam, Nyonya Margaretha memalingkan wajah, Olivia bahkan tidak berniat menatapnya.

Valerie tersenyum tipis, meski dadanya terasa begitu sesak. Tanpa mengucapkan sepatah kata lagi, ia melangkah keluar dari mansion. Di luar gerbang, ternyata Pak Boby sudah menunggu di dalam mobil.

Melihat Valerie datang membawa koper, Pak Boby segera turun dan memasukkan koper itu ke bagasi.

“Nona...?”

Valerie hanya mengangguk pelan.

“Ayo pulang, Pak.”

Pak Boby membuka pintu untuknya.

Mobil perlahan meninggalkan Mansion Robert. Melalui kaca jendela, Valerie memandang bangunan itu hingga semakin jauh dan akhirnya menghilang dari pandangan.

Air matanya kembali jatuh. Namun kali ini, di balik rasa sakit yang memenuhi dadanya, terselip sedikit kelegaan. Ia akhirnya meninggalkan tempat yang tidak pernah benar-benar menjadi rumahnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!