Di hari ketika seluruh mimpinya hancur, Lin Yuan divonis memiliki Akar Roh Rusak Total dan diusir dari Sekte Awan Langit.
Tunangannya meninggalkannya, sahabat menjauhinya, dan musuh-musuhnya memilih membunuhnya agar tak menyisakan ancaman.
Namun di ambang kematian, sebuah sistem kuno terbangun.
**Sistem Pemakan Takdir.**
Selama mampu mengalahkan lawannya, Lin Yuan dapat melahap takdir, bakat, keberuntungan, bahkan kesempatan hidup mereka untuk menjadi miliknya.
Sejak malam itu, seorang "sampah" yang ditertawakan seluruh dunia mulai menapaki jalan yang belum pernah dilalui siapa pun.
Jika langit menolak memberinya takdir...
Maka ia akan memakan takdir langit itu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Otna Forever, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Suara dari Gerbang Kedelapan
Kesadaran Lin Yuan perlahan kembali pulih sepenuhnya setelah melewati ujian berat di dalam Gerbang Takdir yang sangat misterius.
Ia perlahan membuka kedua matanya, mendapati dirinya kembali berdiri tegak di tengah Aula Delapan Gerbang yang sangat luas.
Pilar-pilar batu raksasa yang menjulang tinggi masih berdiri dengan sangat megah, seolah sedang mengawasi setiap langkah kecilnya.
Prasasti hitam di tengah aula tetap memancarkan cahaya keemasan yang redup, namun Gerbang Takdir kini telah tertutup sangat rapat.
Seolah pertarungan hidup dan mati yang baru saja dia lalui hanyalah sebuah mimpi buruk yang tidak pernah terjadi.
Lin Yuan menunduk perlahan, melihat pedang besinya yang masih tergenggam sangat erat dengan sisa noda darah yang mulai mengering.
Rasa nyeri yang sangat menusuk dari luka di bahu dan rusuknya membuktikan bahwa semua kejadian itu adalah kenyataan.
"Ternyata... semua itu bukanlah sekadar ilusi belaka," bisiknya pelan sambil berusaha mengatur napasnya yang masih terasa sangat sesak.
Ia segera duduk bersila, membiarkan aliran Qi di dalam tubuhnya beredar mengikuti jalur kultivasi dengan sangat tenang dan teratur.
Di dalam Laut Kesadarannya, Benih Jalan Pedang yang baru lahir memancarkan cahaya putih keperakan yang terlihat sangat hidup sekali.
Meskipun ukurannya masih sangat kecil, namun setiap denyutannya memberikan pemahaman baru yang sangat mendalam mengenai hakikat sebilah pedang.
[Benih Jalan Pedang telah stabil. Sinkronisasi mencapai 45%. Disarankan untuk segera memperkuat fondasi sebelum melanjutkan ujian berikutnya.]
Untuk pertama kalinya, Lin Yuan mengabaikan rekomendasi sistem tanpa adanya sedikit pun rasa ragu di dalam hatinya.
"Aku sangat mengerti risikonya, tapi aku harus segera mengetahui siapa sebenarnya pemilik suara misterius yang memanggilku tadi."
Seolah menjawab ucapannya, sebuah suara tawa yang sangat pelan kembali bergema memenuhi seluruh penjuru ruangan aula tersebut.
"Heh... anak muda, kau ternyata jauh lebih keras kepala dibandingkan dengan orang yang pernah berdiri di tempatmu dahulu."
Pupil mata Lin Yuan langsung mengecil tajam saat dia berhasil menangkap arah asal suara yang terdengar sangat berat itu.
Suara itu berasal dari Gerbang Kedelapan, sebuah gerbang batu yang sejak awal kedatangannya tidak pernah menunjukkan reaksi apa pun.
Gerbang itu tidak memiliki ukiran senjata ataupun lambang Dao, hanya dipenuhi oleh retakan kuno yang menyerupai akar pohon tua.
Retakan-retakan tersebut perlahan mulai memancarkan cahaya hitam keemasan yang sangat pekat, membuat seluruh aula mulai bergetar dengan pelan.
Tujuh gerbang lainnya tetap diam membisu, hanya Gerbang Kedelapan yang mulai menunjukkan perubahan energi yang sangat luar biasa besar.
Lin Yuan segera berdiri perlahan sambil kembali menggenggam pedang besinya, tatapannya tidak pernah lepas dari arah gerbang misterius tersebut.
"Apakah kau juga merupakan salah satu bagian dari ujian berat yang harus aku lalui di tempat ini?"
Keheningan panjang sempat menyelimuti aula sebelum akhirnya suara berat yang sangat berwibawa itu kembali terdengar menyapa telinga Lin Yuan.
"Ujian? Hahaha... aku rasa aku sudah terlalu tua untuk sekadar menjadi seorang penguji bagi anak muda sepertimu sekarang."
Meskipun nada suaranya terdengar sangat santai, namun tekanan aura yang dilepaskannya membuat udara di seluruh aula menjadi sangat berat.
Lin Yuan merasakan bulu kuduknya berdiri karena tekanan ini jauh berbeda jika dibandingkan dengan tekanan aura dari sang Guru.
Tekanan ini terasa seperti sebuah gunung purba yang telah berdiri tegak selama jutaan tahun, sangat sulit untuk digoyahkan sedikit pun.
Sebuah retakan baru muncul di permukaan gerbang, dan perlahan-lahan sebuah tangan tua yang penuh luka mulai keluar dari celahnya.
Hanya dengan bertumpu pada permukaan gerbang batu, seluruh Aula Delapan Gerbang kembali berguncang dengan sangat hebat dan juga menakutkan.
Mata Lin Yuan langsung menyipit tajam saat menyadari bahwa sosok yang akan muncul ini bukanlah seorang manusia yang biasa.
Benih Jalan Pedang di jiwanya berdenyut sangat cepat, memberikan peringatan bahaya yang belum pernah dia rasakan sebelumnya hingga kini.
[Peringatan! Mendeteksi keberadaan yang tidak tercatat dalam data Menara Takdir! Analisis gagal... Tingkat ancaman tidak dapat diukur secara akurat!]
Lin Yuan menggenggam pedangnya semakin erat, meskipun naluri bertarungnya telah mencapai puncak, dia tetap berusaha menjaga ketenangan pikirannya sendiri.
Sosok lelaki tua akhirnya keluar sepenuhnya dari balik Gerbang Kedelapan dengan rambut putih panjang yang terurai hingga ke pinggang.
Jubah abu-abunya tampak sangat usang dan sobek di beberapa bagian, seolah dia telah melewati ribuan pertempuran yang sangat dahsyat.
Meskipun tubuhnya tampak sangat kurus, namun tatapan matanya terlihat sangat dalam seperti langit malam yang dipenuhi oleh banyak rahasia.
Lin Yuan tidak menurunkan kewaspadaannya sedikit pun, pedang besi di tangannya tetap terangkat lurus ke arah sosok lelaki tua.
Lelaki tua itu memperhatikan pedang Lin Yuan selama beberapa saat sebelum akhirnya sebuah senyuman tipis muncul di wajah keriputnya.
"Itu adalah sebilah pedang yang sangat bagus."
"Ini hanyalah sebilah pedang besi biasa yang bisa ditemukan di mana saja," jawab Lin Yuan dengan nada yang sangat datar.
Lelaki tua itu menggelengkan kepalanya perlahan, menjelaskan bahwa bukan pedangnya yang bagus melainkan sosok pendekar yang sedang menggenggamnya sekarang.
Suasana aula kembali menjadi sangat sunyi saat lelaki tua itu melangkah mendekati prasasti batu hitam yang berada di tengah.
Tangannya yang penuh dengan keriput perlahan menyentuh permukaan prasasti, seketika seluruh tulisan kuno memancarkan cahaya putih yang sangat terang.
Prasasti yang sebelumnya hanya memiliki satu kalimat pendek kini mulai memperlihatkan baris-baris tulisan baru yang sangat penuh dengan misteri.
"Delapan Gerbang menguji kemampuan, sementara Gerbang Kesembilan menguji pilihan hidup," Lin Yuan membaca tulisan baru tersebut dengan penuh keheranan.
Dia merasa bingung karena sebelumnya prasasti hanya menyebutkan tentang penaklukan delapan ujian sebelum berhak untuk mengetuk pintu Gerbang Kesembilan.
"Mengapa isi kalimat di dalam prasasti kuno ini bisa berubah secara mendadak?"
"Karena sekarang kau telah dianggap memenuhi syarat untuk mengetahui lebih banyak rahasia mengenai Menara Takdir yang sangat misterius ini."
Lin Yuan menatapnya dengan sangat tajam, menanyakan identitas asli dari lelaki tua yang baru saja keluar dari Gerbang Kedelapan.
Lelaki tua itu terdiam sejenak sambil memandang delapan gerbang yang mengelilingi aula dengan tatapan mata yang dipenuhi rasa penyesalan.
"Aku... sebenarnya hanyalah sosok seseorang yang telah gagal di masa lalu."
Lelaki tua itu mengangkat tangan kanannya, seketika delapan gerbang batu bergetar bersamaan dan memancarkan cahaya yang jauh lebih pekat.
Tekanan aura yang dilepaskan kini meningkat berkali-kali lipat, membuat Lin Yuan menyadari bahwa ujian yang sesungguhnya baru saja dimulai.
"Dulu, aku juga pernah berdiri tepat di tempatmu sekarang sebagai seorang pewaris."
Lelaki tua itu menceritakan bahwa dia berhasil melewati delapan ujian berat dan berdiri tegak di depan pintu Gerbang Kesembilan.
"Tetapi, aku ternyata tidak memiliki keberanian yang cukup besar untuk berani membukanya."
Penyesalan yang sangat mendalam terlihat jelas di wajahnya, seolah beban tersebut telah dia pikul selama ribuan tahun yang panjang.
"Tahukah kau alasan mengapa pintu Gerbang Kesembilan tidak pernah dibuka oleh siapa pun hingga saat ini?"
Lin Yuan menggelengkan kepalanya perlahan, sementara lelaki tua itu menatap lurus ke arah Gerbang Takdir yang kini telah tertutup.
"Karena begitu Gerbang Kesembilan berhasil dibuka, maka Takdir seluruh dunia ini tidak akan pernah menjadi sama lagi seperti sebelumnya."
Seketika seluruh Aula Delapan Gerbang berguncang dengan sangat hebat, retakan-retakan besar mulai menjalar di sepanjang permukaan lantai batu aula.
Bahkan pilar-pilar raksasa mulai bergetar hebat, sementara suara sistem kembali berbunyi dengan nada peringatan yang sangat tajam dan mendesak.
[Peringatan tingkat tinggi! Segel Gerbang Kesembilan mengalami gangguan besar! Energi Takdir Tercemar terdeteksi sedang mendekat dari luar Menara!]
Wajah lelaki tua yang semula tampak sangat tenang kini mendadak berubah menjadi sangat serius saat dia menoleh ke langit-langit.
"Semuanya sudah terlambat... dia ternyata akhirnya berhasil menemukan keberadaan tempat suci ini."
Belum sempat Lin Yuan bertanya, suara benturan yang sangat dahsyat mengguncang seluruh Menara Takdir hingga membuat semuanya bergetar sangat hebat.
Pada langit-langit aula muncul sebuah celah hitam raksasa, dan dari balik kegelapan tersebut sepasang mata merah perlahan mulai terbuka.
...........
Bersambung...