tentang dua remaja yang bersahabat bersahabat - Rigecherta dan Tivane - yang bersahabat dari kecil, namun tragedi saat mereka duduk di kelas 9 SMP membuat mereka harus berpisah karena Tivane yang hilang ingatan.
Berpisah selama 3 tahun dan bertemu saat kelas 12 SMA. Namun Tivane akan di jodohkan.
Bagaiman nasib Rigecherta yang menunggu 3 tahun dan diam diam suka terhadap sahabatnya itu.
Akankah dia berhenti berharap kepada sahabatnya itu, atau mereka akan kembali bersatu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon salbiah pulungan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 13/ yey nggak jomblo lagii
Suasana hening saat semua mata tertuju heran pada Revon. Bagaiman bisa ia tahu nama Rigecherta.
Namun Rigecherta hanya melongos dan membuang wajah muak.
Revon sendiri masih memandangi Rigecherta seolah meyakinkan bahwa yang di depannya itu adalah Rigecherta. Namun semua struktur wajah mereka bisa di bilang mirip, dari mata yang sama-sama tajam dan hidung yang cukup mancung sama seperti dirinya.
Rigecherta yang terlihat cukup muak pun langsung menarik tangan Tivane hendak pergi
" Rigecherta!" Panggil Revon membuat Rigecherta berhenti dan menoleh dan mengangkat alis tenang.
" Ini benaran kamu kan?" Tanya Revon lagi membuat Rigecherta mengangguk santai.
" Ya! Ini saya! Ada perlu urusan apa ya anda?" Tanya Rigecherta menekan setiap kata.
" Ini papa Rige. Kamu nggak ingat kah? Kamu datang kan waktu itu ke rumah sakit?" Pertanyaan Revon membuat Rigecherta mengalihkan wajah dengan dengusan sinis.
Sedikit muak dengan muka tembok yang mengaku ayahnya itu.
" Oh itu anda ya?" Tanya Rigecherta sinis. Sementara Tivane dan Evan hanya melongo bingung melihat keduanya.
" Saya pikir orang yang berbeda tadinya. Soalnya pas di rumah sakit bilangnya kangen dan sayang banget sama saya. Tapi tadi dengar-dengar pengen nyinkirin saya" ucap Rigecherta menyindir keras ucapan ayahnya tadi.
" Kamu... Itu kamu salah denger sayang. Papa nggak ada bilang gitu. Papa juga nggak tau kalo kamu pacarnya Tivane." Ucap Revon membela diri membuat Rigecherta mengangguk dan tersenyum miring.
" Ya iyalah, gimana anda bisa tau sedangkan anda sendiri nggak pernah ngurus anak dan istri. Malah selingkuh sama perempuan lain dan ninggalin anak sama istri sendiri." Ucap Rigecherta menusuk tajam membuat Revon terdiam.
" Papa minta maaf sayang" ucap Revon sedikit menunduk.
" Kenapa minta maaf? Udah butuh saya buat penerus perusahaan? Atau karna anda tau kalau saya sedang berpacaran dengan Tivane?" Tanya Rigecherta karena ia sudah tau kalau ayahnya hanya gila harta dan ketenaran semata. Bahkan dulu Revon selingkuh karena ibu Evan model terkenal.
" B-bukan gitu papa beneran-" ucapan Revon terpotong saat Rigecherta berkata cepat.
" Alah bullshit tau nggak! Urus aja bini sama anak-anak anda dan jangan pernah ganggu mama" Ketus Rigecherta tajam dan langsung menarik kembali tangan Tivane membuat Tivane mengikuti.
Rigecherta berjalan cepat ke arah motornya dan langsung naik di ikuti oleh Tivane. Rigecherta langsung tancap gas pergi dari sana dan melaju menuju danau tempat biasa ia menyendiri, namun kali ini Tivane ada di sisi nya.
Kalau di tanya soal perasaan Rigecherta sudah tentu ia merasa sangat sesak. Anak mana yang tidak merindukan sosok ayah di hidupnya? Ia juga ingin seperti orang lain yang di penuhi kasih sayang dari ayahnya, namun untuk melihat Revon saja ia sudah merasa kecewa dan muak.
Motor Rigecherta berhenti membuat Tivane langsung turun di ikuti oleh Rigecherta.
Suasana hening saat Rigecherta hanya diam sambil duduk di bawah pohon tempat ia biasa.
Tivane mendekat dan ikut duduk di sampingnya dan menatap dalam mata Rigecherta.
" Are you oke?" Tanya Tivane hati-hati membuat Rigecherta mengangguk pelan dan menunduk.
" Yes i'm oke" jawab Rigecherta walau matanya sedikit memerah.
" Coba liat aku" pinta Tivane menangkup wajah Rigecherta agar melihat ke arahnya, namun Rigecherta tetap menunduk dalam.
" Rige, kamu nggak sendiri sekarang. Ada aku di sini. Dan akan selalu di sisi kamu" ucap Tivane lembut membuat Rigecherta semakin menunduk.
" Nggak papa, nangis aja kalo emang udah cape sama semuanya. Aku tungguin" ucap Tivane lagi seolah ingin menenangkan sahabat nya itu.
Karena saat melihat Rigecherta diam sambil menunduk itu sama seperti ia sedang ikut dalam hancurnya dunia sahabatnya itu.
" Sini peluk, biar kamu lega" Tivane langsung menarik Rigecherta ke dalam pelukannya membuat Rigecherta menjatuhkan tubuh pasrah dalam pelukan Tivane.
Tivane mengelus lembut punggung Rigecherta, tangis yang sedari tadi di tahan oleh Rigecherta langsung tumpah dalam pelukan sahabatnya itu. Dan membalas pelukan Tivane dengan erat seolah pelukan itu mampu untuk membuatnya tetap tegar.
" Udah ya?" Bujuk Tivane melepaskan pelukan dan menghapus lembut air mata Rigecherta.
" Makasih" ucap Rigecherta pelan dan menarik nafas dalam sebelum akhirnya berdiri dan menarik tangan Tivane agar ikut berdiri.
" Yaudah pulang yuk" ajak Tivane membuat Rigecherta mengangguk.
" Kali ini aku mau nyetir. Sini" Tivane mengulurkan tangan membuat Rigecherta menatapnya dengan heran dan memberikan tangannya.
" Ish kunci motor Rigee" gemas Tivane membuat Rigecherta langsung menggeleng tegas.
" Nggak! Aku yang bawa." Rigecherta langsung menyembunyikan kunci motornya.
" Aku aja... Kamu tuh lagi sedih, nggak baik nyetir dan aku nggak mau lewat sekarang" cerocos Tivane cerewet.
" Nggak aku aja" tegas Rigecherta.
" Aku aja.." decak Tivane geregetan.
" Tivane" peringat Rigecherta sedikit melotot.
" Rigecherta!" Tantang Tivane malah melotot balik.
" No!" Tegas Rigecherta.
Tivane langsung menghela nafas dan menatap Rigecherta dengan wajah kesal, kemudian melirik saku celana Rigecherta. Dengan gerakan kilat Tivane langsung mengambil sesuatu dari saku Rigecherta. Rigecherta yang panik pun langsung merebut kembali yang Tivane ambil dari sakunya. Namun Tivane yang sudah melihat isinya pun terdiam dan membeku lalu melirik Rigecherta yang terlihat sedikit salah tingkah sambil mengetuk kepalanya sendiri dengan pelan.
" Itu apa?" Tanya Tivane pelan.
" It.. itu.." Rigecherta menghembuskan nafas kasar dan menatap Tivane lekar.
" Itu kalung buat lo," ungkap Rigecherta akhirnya dan membuka kotak tersebut lalu menyodorkannya ke arah Tivane dengan ragu.
" Tapi gue mau ngasih ini kalo lo mau jadi pacar gue nanti" ungkap Rigecherta sedikit salah tingkah.
" Yaudah sini buat gue" Tivane langsung mengambilnya dan memakainya sendiri membuat Rigecherta terkejut melihatnya.
" Pas, oke mulai hari ini lo pacar gue. Gue terima lo" ucap Tivane percaya diri dan tersenyum sombong.
" Emang ada gue nembak lo? Ngarep banget jadi cewe gue, sampe langsung di pasang sendiri" ledek Rigecherta membuat Tivane manyun dan berniat mengembalikannya namun Rigecherta menahan sambil terkekeh pelan.
" Nggak usah, kalo di lihat-lihat, bagusan lo yang make. Yaudah karna lo ngotot ngambil dan make sendiri. Gue terima lo jadi pacar gue" ucap Rigecherta membuat Tivane mendelik.
" Dih, nggak ada gitu ya, orang lo tadi yang ngode minta pacaran" protes Tivane tak terima kerena di bilang nembak duluan.
" Iya iya. So, kita pacaran nih?" Tanya Rigecherta iseng membuat Tivane mengangguk.
" Yey pacar baru" ucap Rigecherta iseng sedikit menyenggol lengan Tivane.
" Yey udah nggak jomblo lagi" riang Tivane malah mengajak Rigecherta berputar bersama membuat Rigecherta mengikut sambil terkekeh dan ikutan gila bersama sahabat- ralat kekasih barunya itu