NovelToon NovelToon
Obsesi Ketua OSIS

Obsesi Ketua OSIS

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Anak Genius / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:17.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nalara amora

Kanaya Leticia Clarissa hanya ingin masa SMA-nya berjalan tenang tanpa gangguan. Namun, kecantikannya yang mencolok justru menjadikannya target perundungan oleh senior OSIS yang iri. Di tengah ketakutan itu, Alden Arsenio Malik—sang Ketua OSIS yang dikenal sempurna dan dingin—datang mengulurkan tangan. Letta mengira itu adalah sebuah perlindungan, tanpa menyadari bahwa di balik tatapan tegas Alden, ada obsesi gelap dan posesif yang siap mengurung seluruh hidupnya.

"Kamu aman di sini, Letta. Tapi ingat, kamu hanya milikku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nalara amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

satu malam terakhir

 Warning ⚠️ ya, yang mau skip bagian ini skip karna mengandung 18+

"Ahhhh"

Erangan itu kini bukan lagi suara perlawanan, melainkan suara pengakuan yang paling menyakitkan bagi harga diri Aleta. Di balik air mata yang masih mengalir karena rasa malu dan benci, Aleta tidak bisa memungkiri kenyataan pahit yang menggerogoti logikanya: sentuhan Alden, meski dipaksakan, membakar syaraf-syarafnya dengan sensasi yang begitu intens dan memuaskan.

Setiap kali bibir Alden menekan kulitnya, atau tangannya yang besar membelai dengan posesif, tubuh Aleta merespons di luar kendalinya. Ada arus listrik yang menjalar, membuat otot-ototnya menegang lalu melemas dengan cara yang sangat nikmat.

 Rasa panas di dalam tubuhnya yang tadi terasa seperti siksaan, kini berubah menjadi tuntutan fisik yang mendesak untuk segera dipenuhi.

Alden, yang peka terhadap setiap perubahan ritme napas dan gerak tubuh Aleta, merasakan perubahan itu dengan jelas. Ia merasakan bagaimana tubuh Aleta tidak lagi sekaku batu, melainkan mulai membalas sentuhannya secara insting.

"Kamu merasakannya, kan?" bisik Alden, suaranya kini terdengar lebih dalam, penuh dengan kepuasan yang kelam. Ia berhenti menciumi leher Aleta, lalu mengangkat wajahnya untuk menatap gadis itu lekat-lekat.

 "Tubuhmu jujur, Aleta. Jauh lebih jujur daripada mulutmu yang terus berteriak minta dilepaskan."

Aleta membuang muka, menggigit bibir bawahnya untuk menahan erangan yang kembali ingin lolos. Ia merasa sangat terhina, namun tubuhnya justru menggeliat ke arah sentuhan Alden, mencari lebih banyak lagi.

"Kamu benci karena kamu menikmatinya," lanjut Alden dengan seringai yang semakin lebar. Ia mengusap pipi Aleta dengan ibu jarinya, lalu turun perlahan ke lekuk leher yang sudah dipenuhi jejak merah miliknya.

 "Dan itulah yang membuat semuanya jauh lebih menarik. Kamu milikku, Aleta... bahkan saat kamu membenciku, tubuhmu tidak bisa berbohong kalau kamu memang menginginkan ini."

Alden kembali menunduk, kali ini dengan ciuman yang lebih dalam dan penuh penekanan, tidak lagi memberi ruang bagi Aleta untuk menyangkal realita bahwa di bawah pengaruh obat itu, pertahanan Aleta telah runtuh sepenuhnya di tangan pria yang kini benar-benar menguasai malamnya.

🌍🌍🌍

Alden melakukan tugasnya dengan ketenangan yang menakutkan, seolah setiap gerakan adalah bagian dari ritual yang telah ia rencanakan dengan matang. Ia menatap Aleta dengan sorot mata yang menelanjangi, seakan ingin menghafal setiap inci tubuh yang kini sepenuhnya berada di bawah kuasanya.

Dengan jemari yang mantap namun terasa dingin, ia mulai melepaskan sisa-sisa pakaian yang masih melekat di tubuh Aleta. Setiap helai kain yang disingkirkan jatuh ke lantai, membiarkan kulit Aleta yang kini memerah karena demam gairah terpapar sepenuhnya di bawah cahaya lampu kamar yang temaram.

Aleta hanya bisa terbaring pasrah. Ia tidak lagi memiliki tenaga untuk melawan, dan efek obat yang diberikan Alden telah mengaburkan seleranya akan rasa malu. Tubuhnya yang menggigil karena sensasi panas yang tak kunjung padam kini menjadi kanvas bagi tangan Alden yang mulai menjelajah dengan posesif.

Saat pakaian terakhir berhasil ia lepaskan, Alden berhenti sejenak. Ia menarik napas dalam-dalam, membiarkan matanya menyapu seluruh tubuh Aleta yang kini tanpa penghalang. Tidak ada lagi rahasia, tidak ada lagi perlawanan yang bisa disembunyikan. Aleta sepenuhnya terbuka, telanjang, dan tak berdaya di hadapannya.

"Lihat dirimu sekarang," gumam Alden, suaranya parau dan sarat dengan obsesi yang memuncak. Ia membelai lekuk tubuh Aleta dengan punggung tangannya, merasakan kulit gadis itu yang bergetar hebat di bawah sentuhannya.

"Inilah yang sejak dulu seharusnya menjadi milikku. Tidak ada lagi penghalang, tidak ada lagi topeng. Hanya ada kamu, dan keinginan yang tidak bisa lagi kamu sangkal."

Alden menindih tubuh Aleta kembali, kali ini tanpa jarak sedikit pun. Kulit mereka bersentuhan langsung—sebuah kontras antara panas tubuh Aleta yang membara akibat obat dan tubuh Alden yang terasa dingin namun menuntut. Ia mengunci pandangan Aleta, memastikan bahwa gadis itu sadar sepenuhnya akan posisi mereka saat ini: di mana kebebasan telah mati, dan yang tersisa hanyalah penyerahan diri mutlak di bawah kekuasaan seorang pria yang tidak lagi mengenal batas.

Tautan bibir itu kini terasa berbeda. Tidak ada lagi perlawanan yang kaku atau isak tangis yang tertahan; yang ada hanyalah kebutuhan yang mendesak, dipicu oleh efek obat yang menguasai kesadaran Aleta. Saat Alden kembali menyesap bibirnya, Aleta tidak lagi memalingkan wajah atau menghindar. Justru sebaliknya, ia membawa tangannya yang gemetar naik ke bahu Alden, mengaitkan ke dua tangan Nnya pada leher Alden menariknya agar semakin mendekat.

Aleta membalas ciuman itu. Itu adalah sebuah respons yang jujur, sebuah tanda bahwa logika dan harga dirinya telah kalah sepenuhnya oleh gejolak biologis yang dipaksakan. Setiap lumatan Alden ia sambut, setiap tekanan ia balas dengan ritme yang selaras.

"Ahhhhh "

Erangan yang keluar dari tenggorokannya kini terdengar lebih dalam, sebuah melodi pasrah yang menandakan bahwa ia telah benar-benar hanyut ke dalam arus yang dibuat Alden.

Alden merasakan perubahan itu dengan gelombang kepuasan yang luar biasa. Ia melepaskan tautan bibirnya sejenak, hanya untuk menatap wajah Aleta yang kini terlihat kacau—bibirnya basah dan memerah, matanya tertutup rapat dengan bulu mata yang bergetar.

"Begitu," bisik Alden dengan suara yang sangat rendah, hampir seperti geraman yang puas.

"Itu dia, Aleta. Berhenti melawanku dan biarkan dirimu tenggelam."

Alden kembali memagut bibir Aleta, kali ini dengan intensitas yang lebih menuntut dan posesif. Ia tidak lagi sekadar mencium, tetapi seolah sedang menuntut segalanya dari gadis itu. Tangan Alden yang bebas bergerak menjelajahi lekuk tubuh Aleta, memberikan sentuhan di sana-sini yang membuat tubuh Aleta melengkung, semakin mendekat ke arahnya.

Di bawah cahaya kamar yang temaram, Aleta tidak lagi menyadari bahwa ia telah kehilangan dirinya sendiri. Ia hanya tahu bahwa saat ini, di bawah kendali Alden, ia merasa seolah ia tidak punya pilihan lain selain menjadi milik pria itu sepenuhnya, membiarkan setiap sentuhan Alden mengukir miliknya di atas kulit dan jiwa gadis itu tanpa sisa.

🌍🌍🌍

No no ngebayangin aneh aneh ya⚠️😶‍🌫️

1
Char is You
iy ih angkasa bego🗿
author_rabbit18✍︎
mau di bawah kemana sihhhh

tapi ngomong-ngomong aku tidak di ajak?
Nalara amora: kaaaa 🤣🤣
total 1 replies
author_rabbit18✍︎
semoga saja hukuman untu Aleta tidak seperti di pikiran... yang sudah sangat jauhh
Nalara amora: pikiran apa tuh ka😭
total 1 replies
Putri Ayu/PqxxyZ
jadi... nih nasibnya sama gak sih kek emak nya 😭 Mau kasihan tapi ah sudahlah den Alden😭
Nalara amora: kitaa doakan yg terbaik😭😭
total 1 replies
Putri Ayu/PqxxyZ
Liam, bantu aku ambil tali di bawah. kita ikat dia dulu.. biar diam 💪
Nalara amora: di bawah mna kaaa😭😭😄
total 1 replies
Putri Ayu/PqxxyZ
sini deh rania antar sama aku. entar aku cincang dia, karena sudah melukai angkasa.. Angkasa ku lecet nih
Nalara amora: kaaaa😭
total 1 replies
Putri Ayu/PqxxyZ
awasss sampe kenapa-kenapa Angkasa-ku.. ku kirimkan bom RS nya 😊
Nalara amora: no no ya kaaa🤣
total 1 replies
Putri Ayu/PqxxyZ
hah.. kukira typo ternyata bahasa yang berbeda😭
Nalara amora: iyaa kaa pake norwegiaa😭🙏
total 1 replies
Zed
namanya juga lagi MPLS
Nalara amora: bener bgt🤭 makasih ka udah mampir 🙏🤭
total 1 replies
Arni Arlinawati pratiwi
ha ha ha.. suka gue sha, silaing di jdikeun umpan gelur ku author na mantap.. gelut lah, gelut..
Nalara amora: no no ya kaaa😭😭
total 1 replies
Arni Arlinawati pratiwi
har.. kabayang na ngadon hitut nya, lah.. /Facepalm//Curse/
Nalara amora: kaaa pikiran nyaaa absrud bgttt😭😭
total 1 replies
Arni Arlinawati pratiwi
ah silaing.. ek di jadikeun umpan, 🤣🤣🤣
Nalara amora: hahahahah🤭
total 1 replies
Arni Arlinawati pratiwi
oh kitu? jeung sayah we yu gelut.. ek gaya naon den, di ladenan ku mak mah..
Arni Arlinawati pratiwi
teman emang kuduna kitu, sekalian we tor jadikeun umpan curut na si alden meh gelut.. Aleta nonton mereka lagi gelut, kan marsha pemberani.. tonjok aja sha, 🤣🤣🤣🤣
Nalara amora: ga gitu konsepnya kaaa😭😭
total 1 replies
Arni Arlinawati pratiwi
nya serem jiga bebegig sawah serem.. /Hey/
Nalara amora: kaaa Bebegig pisaan ie teh😭😭
total 1 replies
Arni Arlinawati pratiwi
keluar dari komik nak gepeng dong.. /Facepalm/
Swan Tiger
Alden😍
Nalara amora: ntar ada ka di depan 😭😭🤭
total 5 replies
Arni Arlinawati pratiwi
Alden sini lu gua jadi in lu musuh gua juga.. jadiin ulekan lu mau!
Nalara amora: kaaaa😭😭🤭
total 1 replies
Arni Arlinawati pratiwi
wah menta di karungan si alden.. gob***!!! /Drowsy/
Nalara amora: ga bakal cukup ka kalau pake karung 🙏🤣
total 1 replies
Arni Arlinawati pratiwi
kadieukeun aleta.. uwang di piceun,! /Skull/
Nalara amora: kaa aku ketawaaa😭😭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!