NovelToon NovelToon
Jodoh Kok Bikin Emosi

Jodoh Kok Bikin Emosi

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Seranovelle

Hari pertama bekerja seharusnya menjadi awal yang sempurna bagi Naira Putri Prameswari. Namun semua rencananya berantakan ketika tanpa sengaja ia menumpahkan segelas kopi ke jas seorang pria asing yang dingin dan menyebalkan. Masalahnya, pria itu ternyata adalah Arga Mahendra Wijaya—CEO perusahaan tempat Naira baru diterima bekerja. Sejak saat itu, setiap pertemuan mereka selalu diwarnai adu mulut, sindiran, dan kekacauan yang mengundang tawa. Naira menganggap Arga terlalu kaku dan perfeksionis, sementara Arga merasa Naira adalah sumber masalah yang tak pernah habis. Takdir rupanya punya selera humor. Sebuah proyek penting memaksa mereka bekerja dalam satu tim. Semakin sering bersama, semakin banyak sisi lain yang mereka temukan. Di balik sikap dingin Arga tersimpan perhatian yang tulus, sementara di balik kecerobohan Naira ada hati yang hangat dan selalu membawa warna. Saat kebencian perlahan berubah menjadi rasa nyaman, masa lalu Arga datang menguji hubungan mereka. Mampukah mereka mengalahkan ego, atau justru kembali menjadi dua orang yang saling menyakiti? Karena terkadang, orang yang paling membuat kita emosi adalah orang yang paling sulit kita lepaskan. ❤️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seranovelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 25 - Dibalik Hujan, Ada Jawaban

Hujan turun semakin deras.

Angin pegunungan berembus kencang, membuat dedaunan bergoyang liar. Suara panitia yang meminta seluruh peserta segera masuk ke aula hampir tenggelam oleh gemuruh hujan.

Arga masih memegang pergelangan tangan Nadira.

"Dir... kamu nggak apa-apa?"

Nadira mengangguk cepat, meski napasnya belum beraturan.

"Aku... aku nggak apa-apa."

Baru setelah memastikan Nadira benar-benar berdiri dengan stabil, Arga melepaskan tangannya.

Mereka saling berpandangan beberapa detik.

Lalu sama-sama tertawa kecil.

"Aku kayaknya memang langganan hampir jatuh kalau ada kamu," gumam Nadira.

Arga mengusap tengkuknya sambil tersenyum.

"Bedanya sekarang aku lebih sigap."

"Percaya diri banget."

"Soalnya aku belajar dari kejadian sebelumnya."

Nadira menggeleng geli.

"Dasar."

---

"WOI!"

Suara Rina memecah suasana.

"Kalian mau ngobrol romantis di tengah hujan sampai besok?"

Arga dan Nadira langsung tersadar.

"Kita duluan ya!"

teriak Rina sambil berlari menuju aula.

"Kalian jangan lupa napas!"

Nadira langsung menutup wajahnya.

"Ya ampun..."

Arga tertawa pelan.

"Rina memang nggak ada obat."

---

Sesampainya di aula, seluruh peserta sudah berkumpul.

Beberapa sibuk mengeringkan rambut dengan handuk.

Panitia membagikan minuman hangat.

"Silakan diminum. Jangan sampai masuk angin."

Nadira menerima secangkir teh jahe.

Tangannya masih terasa dingin.

Belum sempat ia meminumnya, Arga datang membawa handuk bersih.

"Ini."

"Kamu dari mana?"

"Tadi ambil di resepsionis."

"Nih, buat kamu."

Nadira menerima handuk itu.

"Terima kasih."

"Rambutmu basah semua."

"Kalau nanti sakit..."

"...Mama kamu bisa nyalahin aku."

Nadira tertawa pelan.

"Kenapa jadi kamu?"

"Soalnya tadi aku yang narik kamu."

Jawaban itu terdengar begitu tulus hingga Nadira hanya mampu tersenyum.

---

Dari sudut aula, Farhan memperhatikan mereka.

Pak Dimas datang menghampirinya.

"Kamu baik-baik saja?"

Farhan mengangguk.

"Baik, Pak."

Pak Dimas mengikuti arah pandang Farhan.

Lalu tersenyum kecil.

"Hidup memang kadang begitu."

Farhan ikut tersenyum.

"Iya."

"Pak..."

"Hm?"

"Saya rasa saya sudah tahu jawabannya."

Pak Dimas tidak bertanya lagi.

Ia hanya menepuk pelan bahu Farhan.

"Kadang menerima kenyataan juga butuh keberanian."

Farhan mengangguk pelan.

---

Malam harinya, hujan akhirnya reda.

Karena acara api unggun dibatalkan, panitia menggantinya dengan permainan santai di aula.

Salah satunya adalah permainan **"Kotak Pertanyaan Jujur."**

Semua peserta duduk melingkar.

Aturannya sederhana.

Seseorang mengambil gulungan kertas berisi pertanyaan.

Lalu harus menjawab dengan jujur.

"Yang bohong disuruh nyanyi!"

teriak Rina.

Semua tertawa.

Orang pertama mendapat pertanyaan ringan.

"Hobi waktu kecil?"

Yang kedua.

"Makanan favorit?"

Suasana semakin santai.

Hingga...

Giliran Arga.

Ia membuka gulungan kertas.

Lalu langsung terdiam.

Rina yang penasaran berdiri.

"Pertanyaannya apa?"

Arga membaca pelan.

> **"Apakah saat ini kamu sedang menyukai seseorang?"**

Seluruh ruangan langsung bersorak.

"Wuuuu!"

Pak Dimas sampai menahan tawa.

"Jawab!"

"Harus jujur!"

Arga tersenyum kecil.

Ia melirik sekilas ke arah Nadira.

Perempuan itu juga sedang menatapnya dengan wajah tegang.

"Iya."

Jawaban singkat itu langsung membuat aula riuh.

"Siapaaa?"

"Siapa orangnya?"

"Sebutin namanya!"

Arga menggeleng sambil tertawa.

"Pertanyaannya cuma iya atau tidak."

"Curang!"

teriak Rina.

"Tapi aku jawab sesuai aturan."

Semua akhirnya pasrah.

Namun beberapa orang mulai saling melirik ke arah Nadira.

---

Takdir seolah sedang bercanda.

Beberapa putaran kemudian...

Giliran Nadira.

Ia mengambil gulungan berikutnya.

Begitu membacanya, ia langsung memejamkan mata.

"Aduh..."

"Apa?" tanya Tiara.

Nadira menunjukkan kertas itu.

> **"Apakah ada seseorang yang akhir-akhir ini sering memenuhi pikiranmu?"**

Rina langsung berdiri.

"PANITIA INI SIAPA SIH?"

Semua kembali tertawa.

Nadira menarik napas panjang.

Ia menggenggam kertas itu cukup erat.

Lalu menjawab pelan.

"...Ada."

Suasana mendadak sunyi.

Tidak ada yang menyangka Nadira akan menjawab sejujur itu.

"Siapa?"

Rina kembali bertanya.

Nadira tersenyum kecil.

"Pertanyaannya juga cuma iya atau tidak."

Jawabannya membuat semua orang kembali tertawa.

Namun hanya satu orang yang benar-benar memahami arti jawaban itu.

Arga.

Entah mengapa, hatinya dipenuhi harapan yang belum pernah sebesar ini.

---

Acara selesai menjelang pukul sepuluh malam.

Udara semakin dingin.

Nadira memilih berjalan sebentar di taman resort sebelum kembali ke cottage.

Langit mulai cerah.

Bintang-bintang perlahan bermunculan.

"Dir."

Suara itu kembali membuatnya menoleh.

Arga.

"Kamu belum tidur?"

"Belum."

"Aku juga."

Mereka berjalan pelan menyusuri jalan setapak yang diterangi lampu taman.

Tidak ada yang berbicara selama beberapa menit.

Keheningan itu justru terasa nyaman.

"Dir."

"Hm?"

"Aku mau minta satu hal."

"Apa?"

"Kalau suatu hari nanti..."

Arga berhenti melangkah.

"...aku benar-benar menyatakan perasaanku."

Nadira ikut berhenti.

"Tolong..."

"...jangan menjawab karena merasa nggak enak."

"Aku ingin jawaban yang benar-benar datang dari hatimu."

Tatapan Nadira melembut.

"Kenapa bilang begitu?"

Arga tersenyum tipis.

"Karena aku nggak mau dicintai karena kasihan."

"Aku maunya..."

"...karena memang dipilih."

Untuk beberapa saat, Nadira tidak mampu berkata apa-apa.

Ia hanya menatap pria di hadapannya.

Pria yang dulu selalu membuat emosinya naik turun.

Pria yang kini justru mengajarinya arti ketulusan melalui perhatian-perhatian kecil.

Pelan-pelan, Nadira tersenyum.

"Kalau nanti kamu benar-benar menyatakan perasaanmu..."

Arga menahan napas.

"...aku janji akan menjawab dengan sejujur-jujurnya."

Senyum Arga mengembang.

"Itu sudah lebih dari cukup."

Namun tanpa mereka sadari, dari balkon cottage lantai dua, Mama Arga dan Mama Nadira—yang ikut gathering sebagai tamu undangan keluarga pendiri perusahaan—kebetulan sedang menikmati teh hangat.

Keduanya saling berpandangan, lalu tersenyum geli.

"Kayaknya..." bisik Mama Arga.

"...sebentar lagi kita nggak perlu pura-pura ngajak mereka ketemu lagi."

Mama Nadira terkekeh pelan.

"Saya juga merasa begitu."

Sementara di bawah langit Puncak yang bertabur bintang, jarak di antara Arga dan Nadira terasa semakin dekat.

Dan untuk pertama kalinya...

Bukan hanya Arga yang sedang berjuang.

Hati Nadira pun mulai berjalan ke arah yang sama.

**Bersambung ke Episode 26...**

1
Dewi Sinta
lusa hari senin dong.. kan mau ngerayain ultahnya mamanya arga hari minggu mesti nya besok😂
Seranovelle: "Ya ampun, bener juga. 🤣 Untung ada Kakak, kalau enggak Arga ngerayain ulang tahun mamanya lompat hari. 😂"
total 1 replies
Dewi Sinta
ayah tiri ya thoor, krn di bab sebelumnya ayah arga udah meninggal
Seranovelle: Cobaa tebak kak, ayah arga sudah meninggal atau belum yaa kak?
total 1 replies
Dewi Sinta
perasaan masih pagi thoor 😂
Seranovelle: Perjalanan dangat jauh ni kak, waktu pagi terasa singkat.. dan tibatiba sudah masuk jam makan siang deh kaa 🤭
total 1 replies
Dewi Sinta
Gar.. apa itu thor.. sy kira arga.. mesti nya bilang Ar..😌
Seranovelle: Btw kak, Gar itu nama panggil argaa yaa kak 😬🤍
total 2 replies
Dewi Sinta
sudah bertemu 3 kali thoor 😂
Seranovelle: Author lagi kena efek butterfly. Pertemuan ketiga tiba-tiba menghilang. 🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!