NovelToon NovelToon
Alesha, Gadis Absurd.

Alesha, Gadis Absurd.

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Anshuu_

Arka tak pernah berniat ikut campur dengan kehidupan Alesha. Namun, karena gadis absurd itu adalah sepupu dari sahabatnya sendiri, mereka terus dipertemukan dalam berbagai keadaan. Tingkah Alesha yang tak pernah bisa ditebak sering kali membuat Arka hanya bisa menggelengkan kepala. Mulai dari masalah sepele hingga kekacauan yang menghebohkan sekolah, Alesha selalu punya cara untuk membuatnya ikut terseret. Mau tak mau, sebagai ketua OSIS, Arka harus berkali-kali turun tangan menghadapi ulah gadis yang paling sulit dipahami itu.

Siapa sangka, dari semua kekacauan tersebut, perlahan tumbuh perasaan yang tak pernah mereka rencanakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anshuu_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 01.

Alesha Wijaya merupakan gadis yang sulit di tebak, bukan karna dia misterius atau pendiam, justru sebaliknya.

Hidupnya terlalu penuh kejutan, cara berpikirnya sering kali melompat jauh dari logika orang kebanyakan.

karena itulah, orang-orang di sekitarnya sudah terbiasa di buat pusing sekaligus terhibur oleh tingkahnya.

Dan hari ini, sekolah kembali menjadi saksi dari tingkah absurd Alesha.

Ketika bel istirahat baru saja berbunyi, sebagian besar siswa langsung berhamburan keluar kelas. Ada yang menuju kantin, lapangan, perpustakaan, atau sekedar mengobrol didepan kelas.

Namun alesha justru sibuk mondar-mandir disepanjang koridor dengan langkah tergesa-gesa. Tatapannya menyapu setiap ruang kelas seolah sedang mencari sesuatu yang sangat penting.

"Aduh.. ke mana sih?" Gumamnya pelan sambil terus berjalan tanpa mempedulikan tatapan heran siswa lain yang berpapasan dengannya.

Melihat tingkahnya yang tak biasa, beberapa siswa mulai menghentikan langkah dan memperhatikannya dengan tatapan penuh tanda tanya.

"Alesha, lo nyari apa sih?" Tanya Rina salah satu teman kelasnya.

Alesha menghentikan langkahnya dan menatap teman-temannya satu per satu dengan wajah serius.

"Ada yang lihat...!" Tanya Alesha pelan.

"Lihat apa?" Rani mengernyit sambil tetap mengunyah rotinya.

Alesha ragu sejenak, lalu akhirnya menjawab dengan wajah tetap serius.

Seketika, tatapan semua orang langsung tertuju pada Alesha.

"Dompet lo hilang?"

Alesha menggeleng pelan.

"Ponsel?"

Alesha kembali menggeleng pelan.

"Headset?"

Masih Menggeleng.

Entah sejak kapan, suasana koridor berubah menjadi ajak tebak-tebakan.

Alesha hanya menghela napas pelan, ketika mendengar setiap pertanyaan-pertanyaan dari temannya.

"Gue lagi nyari pingky"

Hening..

"....."

Orang-orang disekitar Alesha hanya bisa menatapnya dengan wajah datar, bingung harus bereaksi seperti apa.

Sampai akhirnya, salah satu dari mereka membuka mulut lebih dulu, disusul yang lain hampir bersamaan.

"HAHH?!"

Suara mereka pun terdengar serempak.

Tatapan Rani tertuju pada Alesha dengan ekspresi pasrah, seolah baru saja kehilangan sisa kesabarannya.

"Yaa Ampun, les. Gue kira apaan! Tadi muka lo serius banget, gue sampai ngira dompet lo hilang atau dapat kabar buruk."

"Tapi itu emang penting" Bela Alesha tanpa merasa bersalah.

"Emang pingky itu siapa?Tanya Reza yang kini ikut merasa penasaran.

"Anak kelas berapa?" Tanyanya lagi.

Alesha menghela napas pelan sambil menatap reza dengan wajah tanpa ekspresi. Tatapannya seolah berkata 'Gue capek punya teman kayak lo'

Sementara itu, reza hanya terkekeh pelan sebelum mengangkat kedua tangannya tanda menyerah.

"Namanya unik juga, ya. Jarang-jarang gue denger nama kayak gitu."

Teman-teman di sekitarnya langsung memasang wajah penasaran.

"Iya juga, ya. Emang ada anak di sekolah kita yang namanya Pingky?" gumam salah satu dari mereka.

Yang lain hanya saling berpandangan sambil berusaha mengingat-ingat. Namun, tak satu pun dari mereka merasa pernah mendengar nama itu.

Namun, sebelum Alesha sempat menjelaskan siapa sebenarnya Pingky, suara ribut tiba-tiba terdengar dari ujung koridor.

Teriakan demi teriakan bersahutan, disusul langkah kaki yang berlarian. Seketika perhatian semua orang teralihkan ke arah sumber suara.

"Ada apa, tuh?" Tanya salah satu siswa sambil menjulurkan leher untuk melihat.

Suasana koridor yang tadinya dipenuhi rasa penasaran kini berubah menjadi riuh karena kehebohan yang datang entah dari mana.

Tanpa dikomandoi, beberapa siswa langsung berlari ke arah keramaian. Rasa penasaran mereka jauh lebih besar daripada keinginan untuk kembali ke kelas.

"Ayo, lihat!"

"Kayaknya ada yang ribut!"

Dalam hitungan detik, ujung koridor mulai dipenuhi siswa yang berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Reza ikut menjinjit.

"Geser dikit, woy. Gue nggak kelihatan."

Rani menghela napas sambil ikut melangkah mendekat.

"Cuma jam istirahat bentar aja, sekolah ini nggak pernah sepi drama."

Di tengah semua orang yang fokus ke arah keributan, Alesha justru berdiri mematung.

Matanya membulat.

Tatapannya terkunci pada sesuatu di balik kerumunan.

"Pingky..."

Suara Alesha nyaris seperti bisikan.

Detik berikutnya, tanpa menjelaskan apa pun, ia langsung menerobos kerumunan sambil berteriak,

"WOI! MINGGIR DULU! ITU PINGKY GUE!"

Sontak semua orang menoleh ke arah Alesha.

"Minggir! Minggir dulu!" teriaknya sambil berusaha menyelip di antara kerumunan siswa.

"Les, pelan-pelan!" Rani buru-buru mengejarnya.

Reza ikut berlari di belakang mereka, masih kebingungan.

"Emang Pingky apaan, sih?"

Begitu berhasil berada di barisan paling depan, langkah Alesha mendadak terhenti.

"Nah, tuh..."

Beberapa siswa di depannya otomatis ikut menoleh mengikuti arah pandang Alesha.

Di tengah kerumunan, seekor bebek putih dengan pita merah muda di lehernya tampak berlari ke sana kemari sambil mengepakkan sayap.

Beberapa siswa berusaha menangkapnya, tapi setiap kali hampir tertangkap, bebek itu malah kabur ke arah lain.

"Woy! Bebek siapa, nih?" teriak seseorang.

"Bukan bebek biasa!" sahut Alesha sambil menunjuk heboh. "Itu Pingky!"

Reza yang berdiri di sampingnya langsung melongo.

"...Jadi Pingky itu bebek?"

"Iya!" jawab Alesha tanpa mengalihkan pandangan. "Makanya jangan pada bengong! Tangkap dulu!"

"Bebek dibawa ke sekolah?!" Reza menatap Alesha seolah baru mengenal temannya itu.

"Penjelasannya nanti! Pingky kabur duluan!"

Belum sempat ada yang bertanya lagi, Pingky kembali berlari melewati sela-sela kaki para siswa.

"Eh, eh... lewat sini!"

"Hoi! Jangan diinjek!"

Koridor yang tadinya cuma ramai mendadak berubah jadi arena kejar-kejaran. Beberapa siswa refleks ikut membantu, sementara yang lain malah sibuk merekam kejadian langka itu dengan ponsel.

Pingky mengepakkan sayap kecilnya sambil terus berlari lurus.

"Pingky! Sini, Sayang!" teriak Alesha.

Bukannya mendekat, bebek itu malah mempercepat langkahnya.

"Astaga..." Rani menutup wajahnya dengan telapak tangan. "Ini pertama kalinya gue lihat satu sekolah heboh gara-gara ngejar bebek."

Di sisi lain koridor, suara langkah kaki terdengar semakin jelas.

Seseorang baru saja datang.

Dan dari cara siswa-siswa yang berdiri di sana mendadak menyingkir, jelas orang yang datang bukan siswa biasa.

"Pegang! Jangan sampai kabur lagi!"

Beberapa siswa spontan ikut mengejar Pingky yang terus berlari menyusuri koridor. Ada yang mencoba menghadang dari depan, ada juga yang mengejar dari belakang.

"Ke kanan! Ke kanan!"

"Eh, jangan dipojokin, nanti makin lari!"

Pingky malah semakin semangat. Sesekali ia mengepakkan sayapnya sambil mengeluarkan suara nyaring, membuat siswa lain yang baru keluar dari kelas ikut menoleh heran.

Alesha yang sudah mulai kehabisan napas tetap berlari di belakangnya.

"Pingky! Berhenti! Nanti aku kasih camilan!"

Entah mengerti atau tidak, Pingky justru berbelok ke arah taman sekolah.

"Astaga..." Rani mengusap keningnya. "Baru juga jam istirahat, udah kayak acara lomba tangkap bebek."

Reza terkekeh sambil terus berlari.

"Fix, hari ini satu sekolah bakal kenal sama Pingky."

Dan benar saja.

Belum sampai lima menit, kabar tentang seekor bebek yang kabur di sekolah sudah menyebar ke mana-mana.

Begitu tiba di taman sekolah, langkah mereka otomatis melambat.

Di bawah salah satu pohon yang rindang, Pingky tampak berdiri santai sambil mematuk sesuatu di tanah, seolah tidak pernah membuat satu sekolah geger.

"Nah, itu dia..." bisik Alesha.

Namun, ada satu hal yang membuatnya langsung menahan langkah.

Tak jauh dari Pingky, seseorang berdiri membelakangi mereka. Sosok itu terlihat tenang, sama sekali tidak terganggu dengan keributan yang baru saja terjadi.

Alesha memberi isyarat agar teman-temannya tetap diam.

"Jangan berisik," bisiknya pelan.

Pelan-pelan ia melangkah mendekati Pingky. Satu langkah... dua langkah... hingga jaraknya tinggal beberapa meter.

Saat Pingky masih asyik mematuk makanan di tanah, Alesha langsung membungkukkan badan dan...

"Hap!"

Kedua tangannya sukses menangkap tubuh Pingky.

"Huh... akhirnya ketangkap juga," ucapnya lega sambil mengembuskan napas panjang.

Pingky hanya mengeluarkan suara pelan, lalu diam di dalam pelukan Alesha, seolah tidak terjadi apa-apa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!