Takahiro, seorang pemuda yang gemar bermain gim dan menghabiskan sebagian besar waktunya mengurung diri di kamar, suatu hari tanpa sengaja tersesat ke dalam dunia gim yang sedang ia mainkan.
Di dunia lain yang bernama Terrovia, Takahiro memulai kehidupan barunya sebagai manusia biasa yang tidak memiliki kekuatan sihir.
Berbekal pengetahuan yang ia peroleh dari dunia modern, ia membantu para petani di Desa Veria dan berjuang tanpa kenal lelah untuk memperbaiki kehidupan orang-orang yang tengah dilanda kesulitan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saiful Bachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satu Kejadian Menjadi Bencana
Ketenangan absolut yang menyelimuti rumah gubuk itu, berpadu dengan embusan sejuk angin pagi menjelang siang khas Desa Veria, justru terasa menyiksa bagi Takahiro. Ketenangan itu memberinya terlalu banyak ruang untuk berpikir.
Sejak kepergian Joe dari rumah, pemuda itu ditinggalkan dalam kebingungan yang pekat. Ia hanya bisa berbaring kaku, menatap kosong langit-langit atap kayu yang dipenuhi sarang laba-laba.
Otaknya bekerja keras, memutar roda ingatan untuk mencari tahu bagaimana rentetan kejadian gila ini bisa menimpanya.
Ia sangat ingin bertanya pada Bellinda, tapi kondisinya tak memungkinkan untuk beranjak mencari wanita itu.
"Bagaimana...," gumamnya lirih, suaranya terdengar kering dan serak. "Bagaimana aku bisa berada di tempat seperti ini?"
Nihil. Tak ada satu pun kepingan memori masa lalu yang bisa ia tarik utuh. Di kepalanya, hanya terlintas satu identitas samar: ia adalah seorang gamer dari dunia modern. Selebihnya, gelap.
Semakin ia memaksa otaknya menggali ingatan sebelum portal putih itu menyedotnya, semakin hebat pula denyut nyeri yang menghantam kepalanya, seolah ada godam tak kasat mata yang menghantam tengkoraknya berulang kali.
Sadar usahanya hanya akan membuahkan rasa sakit yang sia-sia, Takahiro memilih menyerah pada ingatannya. Ia mengalihkan fokus pada hal yang lebih rasional: mengendalikan tubuhnya.
Dimulai dari menggerakkan pergelangan tangan, lalu perlahan merambat memaksa otot-otot kakinya merespons perintah otak.
Rasa ngilu yang luar biasa langsung menyengat setiap sarafnya, tapi ia tak peduli. Ia harus menahan dan melawannya.
'Aku nggak bisa berdiam diri terus,' rutuknya dalam hati, napasnya tertahan menahan sakit. 'Aku harus melakukan sesuatu.'
Inci demi inci, pertarungannya melawan rasa sakit mulai membuahkan hasil. Meski seluruh tubuhnya bergetar hebat bak tersengat aliran listrik, punggungnya berhasil terangkat. Ia memaksakan diri untuk duduk, lalu dengan sisa-sisa tenaga yang ada, ia mencoba untuk berdiri.
Napasnya menderu brutal. Jantungnya bergemuruh memompa darah dua kali lipat lebih cepat.
Bulir-bulir keringat dingin menembus pori-porinya, meluncur turun dari pelipis, melewati bibir pucat yang kini ia gigit kuat-kuat demi menahan erangan.
Seumur hidupnya, baru kali ini ia merasakan siksaan fisik yang begitu nyata dan menyiksa.
'Aku... harus... bisa—!'
Di sudut lain ruangan, tepatnya dari arah lorong dapur, langkah Bellinda mendadak terhenti. Pemandangan di ruang keluarga seketika membekukan pergerakannya.
Dari tempatnya berdiri, ia melihat pemuda berambut putih itu tengah bertarung habis-habisan memaksa kedua kakinya untuk berdiri tegak.
Tubuh yang dibelit perban itu bergetar tak terkendali. Keringat membasahi kain putih yang membalutnya, diiringi erangan tertahan yang menyayat hati.
Insting keibuannya menjerit, menyuruhnya segera berlari dan menopang tubuh rapuh itu. Namun, entah kenapa, kakinya terpaku di lantai. Ada sesuatu dari kegigihan pemuda itu yang menyuruhnya untuk diam.
Ia hanya mematung sambil memegang piring tanah liat berisi potongan singkong dan taburan jagung rebus untuk sarapan Takahiro.
Angin sepoi menyusup masuk melalui pintu depan yang terbuka lebar. Takahiro masih bergeming dengan usahanya.
Gagal, mencoba lagi, gagal, dan kembali memaksa lututnya lurus. Ia tahu betul, meski di kehidupan nyatanya ia hanya terbiasa menghabiskan waktu dengan bermalas-malasan di kamar, aturan di dunia ini berbeda. Di sini ia sebatang kara—tak ada keluarga, tak ada teman.
Ini adalah ujian nyata bagi mental dan fisiknya. Jika ia gagal beradaptasi dan hanya terbaring pasrah, maka kematian akan dengan senang hati menjemputnya.
Melihat kaki Takahiro yang semakin gemetar hingga nyaris rubuh, pertahanan Bellinda akhirnya runtuh.
Ia tak bisa membiarkan pemuda itu menyiksa dirinya lebih jauh sebelum perutnya terisi. Perlahan, Bellinda melangkahkan kakinya.
Gerakannya begitu halus, nyaris tanpa suara, seolah berjalan melayang menembus udara.
Tepat ketika Bellinda tiba persis di belakang punggung Takahiro, niatnya untuk menyuruh pemuda itu makan urung terlaksana. Sebuah malapetaka kecil terjadi begitu cepat, jauh sebelum refleks Bellinda sempat menghindar.
Kaki Takahiro yang sudah mencapai batas toleransinya akhirnya menyerah. Saat pemuda itu mencoba memutar tubuh untuk mencari keseimbangan, kedua lututnya kehilangan daya tumpu.
Tubuhnya tumbang seketika, jatuh menimpa sosok Bellinda yang berdiri tepat di belakangnya.
Prang!
Piring tanah liat itu terlepas dari tangan Bellinda, hancur berkeping-keping menghantam lantai. Potongan singkong dan butiran jagung rebus berserakan tak karuan di sisi kiri tempat mereka berdua terjerembap.
Suasana pagi yang semula hening dan damai, dalam sekejap berubah menjadi situasi yang sangat canggung dan menegangkan.
Kondisi mereka jatuh dalam posisi yang salah. Di tengah kepanikan itu, kedua telapak tangan Takahiro yang mencoba mencari pegangan justru mendarat tepat di area paling sensitif di dada Bellinda.
Kelopak mata hijau muda milik pemuda itu terpejam rapat menahan pusing akibat benturan, namun insting jemarinya bergerak mandiri. Secara refleks, tangannya meremas objek empuk yang berada di bawah telapaknya.
Sebuah sensasi asing langsung menjalar ke saraf tangan Takahiro. Terasa begitu kenyal layaknya jelly saat ditekan. Lebih gilanya lagi, tak ada lapisan kain pelindung atau penyangga tebal di balik baju yang dikenakan wanita itu.
Tepat di bagian tengah telapak tangannya, ia bisa merasakan dengan jelas ada sepasang tonjolan kecil yang mengeras saat bergesekan dengan kulitnya.
Tanpa perlu membuka mata, otak remajanya dengan cepat menyimpulkan objek apa yang tengah ia remas saat ini.
Napas Takahiro yang memang sudah menderu, kini berubah ritme—bukan lagi karena kelelahan, melainkan efek lonjakan adrenalin yang memabukkan.
Keringat kian deras mengucur dari pelipisnya. Jakunnya naik turun, mencoba menelan ludah yang tiba-tiba terasa tebal bagai pasir di tenggorokannya.
Di bawahnya, Bellinda membeku total. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Wajah wanita paruh baya itu memerah padam hingga ke telinga.
Gigi serinya menggigit kuat bibir bawah dan atasnya secara bergantian. Kedua tangannya sebenarnya sudah menahan dada Takahiro, bersiap mendorongnya menjauh.
Namun, sebelum tenaga dorongannya terkumpul, jemari pemuda itu meremas dadanya.
Sengatan kejut itu membuat pertahanan Bellinda goyah. Sebuah erangan desahan lirih dan tertahan lolos begitu saja dari bibirnya. Matanya membola, tak berani menatap wajah pemuda yang tampak gelisah di atasnya, hingga ia terpaksa membuang muka ke samping.
Seolah kesialan itu belum cukup, Bellinda merasakan hal lain di bawah sana.
Dari balik pakaian mereka yang saling menempel erat, di area perut bawahnya, ia bisa merasakan dengan jelas ada sesuatu yang perlahan bangkit mengeras, menekan area selangkangannya dengan paksa.
Respons fisiologis pemuda itu bereaksi tanpa bisa dikendalikan.
Menyadari situasi sudah melampaui batas kewajaran, kepanikan meledak di dada Bellinda.
Dengan sisa tenaga yang ia miliki, tangannya menyentak kuat, mendorong tubuh Takahiro ke sisi kanan hingga pemuda itu terguling jatuh dari atas tubuhnya.
Tanpa membuang waktu satu detik pun, Bellinda bangkit dengan wajah yang masih terbakar hebat, lalu berlari sekencang-kencangnya menuju kamar dan menyembunyikan diri di balik sekat usang.
Di ruang keluarga yang kini berantakan, Takahiro tertinggal seorang diri.
Pemuda itu terkapar lemas. Kelopak matanya sempat terbuka menatap nanar langit-langit atap, sebelum akhirnya kembali terpejam rapat.
Dorongan keras dari Bellinda tadi sukses membuat punggungnya kembali menghantam lantai beton, membangunkan semua rasa sakit di sekujur tubuhnya.
Rasa bersalah yang luar biasa langsung meremukkan dadanya. Ia sangat menyesali kecerobohannya, ingin merutuk dan berteriak meminta maaf. Sayangnya, tubuhnya benar-benar sudah mencapai limit.
Lidahnya kelu. Jangankan untuk bangun, untuk bersuara saja ia tak sanggup. Pada akhirnya, Takahiro hanya bisa diam terkapar di atas lantai beton usang itu, membiarkan rasa sakit dan rasa malu menelannya hidup-hidup.