NovelToon NovelToon
IBU TIRI SEWAAN

IBU TIRI SEWAAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Orang Disabilitas / Menikahi tentara / Anak Genius
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Lisa

Demi uang, Asia menerima tawaran menikah kontrak dengan Kapten Hugo, seorang tentara yang mengalami kelumpuhan parsial karena cidera tugas. Baginya pernikahan itu hanyalah jalan tercepat untuk melunasi utang seratus juta rupiah yang ditinggalkan ayahnya setelah kabur karena kalah berjudi.

Namun ia harus menjadi ibu tiri bagi putra bungsu yang super aktif dan sulit dikendalikan. Serta putri kelas 3 SMP yang membencinya karena merasa Asia telah menggantikan posisi mendiang ibunya.

Asia tak berniat menjadi istri yang baik atau ibu yang penyayang. Targetnya hanya satu: mengumpulkan uang sebanyak mungkin, lalu pergi saat kontrak pernikahan berakhir.

Hanya saja, keluar dari keluarga itu ternyata jauh lebih sulit daripada masuk ke dalamnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 21

Enggan berurusan dengan siapa pun saat emosinya sedang tidak stabil, kaki Jenny langsung bergerak hendak melangkah menjauh. Belum banyak melangkah, suara berat Kevin yang santai menghentikannya.

"Hei."

Jenny menghentikan langkahnya. Karena di koridor itu hanya ada mereka berdua, sudah pasti Kevin sedang bicara dengannya. Dengan raut wajah yang kembali datar dan dingin Jenny menoleh sekilas. "Ya?"

Kevin tidak langsung menjawab. Dengan gerakan santai yang terkesan acuh tak acuh, ia membungkuk untuk memungut sebuah benda yang tergeletak di atas lantai semen sekolah.

"Mainan tasmu jatuh," ucap Kevin. Ia berjalan mendekat lalu mengulurkan benda itu ke hadapan Jenny.

Mata Jenny sedikit melebar. Jantungnya berdetak cepat melihat benda di tangan Kevin. Itu memang miliknya sebuah gantungan kunci rajut usang berbentuk lumba-lumba yang diberikan oleh mendiang mamanya. Mainan itu pasti terlepas saat ia menyentak tali tasnya karena emosi tadi.

Jenny segera mengambil gantungan kunci itu dari tangan Kevin. "Terima kasih," ucap Jenny dingin dan formal seperti biasanya. Tapi diselipi rasa syukur.

Kevin hanya menatap Jenny datar. Dia mendengar Omelan Jenny tapi tidak berniat untuk meledek atau membahasnya. Kevin seperti sudah paham kalau gadis di depannya ini tidak suka ditanya. Kevin sengaja bersikap biasa saja agar Jenny tidak merasa terintimidasi.

"Sama-sama. Jaga baik-baik, jangan sampai jatuh lagi," ujar Kevin pelan tapi terdengar tulus. Setelah mengatakan itu, tanpa banyak bicara lagi Kevin berbalik dan berjalan mendahului Jenny dengan langkah santai.

Ekor mata Jenny melirik. Memperhatikan punggung Kevin yang lebar. Lalu menghela napas untuk segera pergi dari sana.

***

Di TK Nero.

Asia ikut melangkah masuk ke dalam ruang kelas. Nero tidak lagi memegangi roknya. Langkahnya sudah berani. Meski begitu, bocah itu masih enggan untuk bergabung atau ikut belajar bersama teman-temannya di meja depan.

Melihat hal itu, Bu Maya tersenyum memahami. Beliau mengarahkan Asia dan Nero ke sudut belakang kelas yang sedikit lebih tenang. Ada juga ibu lain yang menunggui anaknya. Sepertinya anak ibu itu rewel juga.

"Maaf, Bu Asia. Tidak ada bangku untuk orangtua. Karena sebenarnya kami tidak mengijinkan orangtua ada dikelas saat belajar. Tapi karena keadaan tertentu kami mengijinkan," kata Bu Maya meminta maklum.

Oh, harus berdiri? Latihan kaki ini. Oke, batin Asia terhibur dengan posisinya sendiri.

Nero duduk di kursi sebelah Asia, memilih memangku tas ranselnya ketimbang mengeluarkannya. Ia hanya memperhatikan anak-anak lain yang mulai sibuk bernyanyi dan mewarnai di bawah bimbingan Bu Maya.

"Hei, ayo," bisik Asia sambil menepuk pelan bahu Nero.

Nero menoleh.

"Ayo keluarkan kotak pensilnya. Krayonnya juga," perintah Asia pelan namun tegas.

"Aku capek..." gumam Nero pelan dengan bibir yang sudah mengerucut.

Lebih capek aku, ya, jagain kamu, batin Asia.

"Iya, tapi kita sudah ada di sini. Kamu harus ikut yang lainnya," ujar Asia sambil menunjuk ke arah anak-anak lain yang sibuk mewarnai dengan isyarat matanya.

Nero melihat ke arah mereka. Matanya mengawasi krayon warna-warni yang mulai menari di atas kertas teman-temannya.

"Kalau selesai menggambar, kamu bisa cepat pulang," bujuk Asia lembut.

"Tapi aku capeekk ..." Nero merengek pelan. Kepalanya bersandar lesu ke meja kayu mungil di depannya.

"Katanya mau beli sugar glider?" Lagi-lagi bujukan itu yang keluar dari mulut Asia. Lagi-lagi ia harus membahas binatang berkantung itu demi memancing semangat Nero.

"Iya, sih..." gumam Nero pelan, matanya mulai berkedip-kedip menatap Asia.

"Ayo cepat keluarkan alat tulismu dan segera warnai gambarnya."

Akhirnya Nero mau mengeluarkan alat tulisnya dari dalam tas. Jemari mungilnya perlahan mulai memegang krayon dan menggoreskan warna di atas kertas menggambar.

Kadang bocah ini menoleh pada Asia, menatapnya dengan raut ragu seakan ingin meminta pendapat apakah hasil mewarnainya sudah tepat atau belum.

Asia tersenyum tipis lalu menunjukkan jempolnya ke arah Nero. Melihat isyarat itu, Nero kembali memfokuskan pandangannya dan melanjutkan kegiatan mewarnainya.

Perlahan-lahan bocah ini mulai menikmati suasana kelas tanpa rasa cemas lagi.

***

Dua jam berlalu tanpa terasa hingga bel tanda berakhirnya jam sekolah akhirnya berbunyi nyaring.

"Horeee! Pulang!" seru anak-anak di kelas riang, langsung membereskan alat tulis mereka.

"Baiklah, anak-anak, pelajaran hari ini selesai. Sampai jumpa besok, ya!" pamit Bu Maya ramah. "Besok Nero sekolah lagi ya."

Nero mengangguk dengan enggan.

"Iya, Bu. Besok Nero pasti sekolah," sahut Asia pasti.

Nero langsung menyambar tasnya, berdiri dari kursi dengan wajah yang jauh lebih segar. "Ayo pulang! Mau naik motor lagi!" tagih Nero antusias.

"Ayo."

"Tapi ingat janji kita tadi, kan?" Tagih Nero.

"Ingat! Nanti beli sugar glider kan? Ayo, pamit dulu sama Bu Guru," ajak Asia.

Setelah menyalami Bu Maya dan mengucapkan terima kasih, Asia menggandeng tangan Nero keluar dari kelas menuju area parkir roda dua.

Di koridor sekolah, beberapa ibu masih berkumpul. Nyonya Ratna yang berdiri di dekat gerbang sempat melirik ke arah Asia. Wanita itu tetap memasang wajah angkuh.

Asia mengangguk sopan demi menjaga wibawa Pak Hugo. Nyonya Ratna pun mengangguk tipis.

Sampai di area parkir, ia membantu Nero naik ke bagian depan jok motor matiknya. Memastikan posisi duduk bocah itu aman dan tangannya berpegangan kuat.

"Helmnya besok kita beli yang pas buat kamu, ya. Sekarang pegangan yang erat," ujar Asia seraya menyalakan mesin motor.

"Oke! Gas cepat," seru Nero riang. Rupanya ia sudah tidak sabar.

***

"Aku pulang, Oma," ucap Jenny saat melangkahkan kaki masuk ke dalam ruang tengah.

"Ya..." Nyonya Malinda mengalihkan pandangan dari layar televisi, lalu menyadari ada sosok lain di belakang cucunya. "Kamu dengan siapa?"

"Dia temanku."

"Aku Mita," potong gadis itu pelan. Dengan gestur yang sangat santai dan santun, Mita membungkukkan badannya sedikit untuk memberi hormat.

Oma tersenyum hangat melihat kesopanan teman cucunya itu.

"Aku mau main di kamar dengan Mita," pamit Jenny.

"Iya," jawab Oma memberi izin.

"Permisi..." Mita sepertinya memang gadis yang sangat sopan. Langkah kakinya begitu berhati-hati, berjalan sedikit membungkuk ketika melintas di depan area ruang tengah di mana Nyonya Malinda sedang menonton televisi.

Namun, tepat saat mereka hendak menaiki anak tangga menuju lantai dua, sosok Asia muncul dari arah dapur.

"Oh, Jenny. Kamu sudah pulang? Kamu dengan temanmu ya?" tanya Asia, menghentikan langkahnya sejenak sambil melirik hangat ke arah Mita.

"Halo, Tante," sapa Mita refleks dan ramah.

"Jangan bicara dengannya!" potong Jenny cepat dengan nada ketus.

Mita yang terkejut langsung menyikut lengan Jenny pelan. "Dia siapa...?" bisiknya penuh rasa penasaran.

"Aku ibu tiri Jenny," ujar Asia tenang.

Mita terkejut saat mendengar wanita ini memberikan jawaban jujur.

Jenny hanya melirik Asia dengan tatapan tidak suka. "Ayo kita ke atas," ajak Jenny memotong pembicaraan. Dia ingin segera masuk ke dalam kamarnya dan menghindar.

Mita mengangguk lagi sambil bersikap canggung. Raut wajahnya tak bisa menyembunyikan rasa tidak nyaman akibat sikap ketus Jenny barusan pada ibu tirinya. Tapi karena posisi berdiri di rumah orang lain ia hanya bisa ikut-ikutan melangkah mengekor Jenny menaiki tangga.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!