NovelToon NovelToon
Aku Tak Sanggup Lagi

Aku Tak Sanggup Lagi

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Cintapertama / CEO / Tamat
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: Serena Muna

Mengisahkan rumah tangga Anjani dan Malik yang harus kandas dengan hadirnya sosok Dara, wanita yang merupakan sahabat baik Anjani yang menjadi pelakor dalam rumah tangganya. Hinaan kasar dari mertuanya juga membuat Anjani menyerah dan memutuskan untuk berpisah hingga takdir mempertemukannya dengan bule tampan asal Inggris Oliver Jones yang mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Datangnya Masa Lalu

Kehidupan di kediaman mewah milik Oliver Jones setelah pernikahan terasa seperti sebuah dongeng yang baru saja mencapai babak "bahagia selamanya". Bagi Anjani, setiap pagi yang ia lalui terasa seperti mimpi di siang bolong. Masih lekat dalam ingatannya bagaimana dulu ia adalah seorang istri yang berjuang melawan intrik keluarga Malik dan ancaman nyata dari Dara. Kini, ia terbangun di samping pria yang bukan hanya melindunginya, tetapi juga mencintainya dengan cara yang begitu tenang dan membumi.

Oliver Jones, sang pengusaha Inggris yang karismatik, tampak berbeda saat berada di rumah. Ia tidak lagi hanya berurusan dengan angka-angka atau strategi perusahaan, tetapi juga sering menghabiskan waktu di perpustakaan rumah bersama Anjani, membahas draf novel terbaru istrinya. Kebahagiaan itu begitu nyata, hingga Anjani kadang merasa harus mencubit lengannya sendiri untuk memastikan ia tidak sedang bermimpi.

Namun, di balik tembok-tembok tinggi kediaman mereka, ketenangan itu hanyalah sebuah lapisan tipis yang menutupi kecemasan yang terus berdenyut. Perburuan terhadap Dara Mitha Dahayu masih terus dilakukan dengan intensitas yang tinggi. Tim intelijen swasta yang dikerahkan Oliver menyisir setiap sudut hutan di Puncak, memeriksa setiap rekaman CCTV di stasiun kereta, hingga memantau transaksi-transaksi mencurigakan di kota-kota besar.

Namun, Dara terbukti jauh lebih lihai dari yang dibayangkan siapa pun. Ia tidak lagi bertindak seperti orang gila yang meledakkan bom. Ia bergerak dalam sunyi, menghilang bak embun pagi yang tertelan matahari. Ia tidak meninggalkan jejak digital, tidak menggunakan akses keuangan apa pun, dan seolah-olah telah melebur dengan kegelapan hutan dan kehidupan masyarakat kelas bawah yang tak tersentuh teknologi.

​"Dia seperti hantu, Anjani," ucap Oliver suatu malam di teras belakang, suaranya mengandung frustrasi yang ia coba sembunyikan. "Timku sudah memeriksa radius seratus kilometer dari lokasi pernikahan, tapi hasilnya nihil. Dia sangat terlatih dalam teknik bertahan hidup, atau mungkin... dia memang sudah tidak lagi berada di sana."

​Anjani hanya bisa mengangguk, menyandarkan kepalanya di bahu Oliver. "Mungkin dia sedang menunggu, Oliver. Dia tahu kita sedang mencarinya. Dia sedang memainkan permainan kesabaran."

****

​Namun, di saat mereka tengah waspada terhadap ancaman dari masa lalu, badai yang tak terduga justru datang dari arah yang tidak pernah mereka duga sebelumnya—bukan dari hutan yang gelap, melainkan dari pintu gerbang utama rumah mereka yang megah.

​Siang itu, sebuah mobil sedan mewah dengan plat nomor diplomatik berhenti tepat di depan kediaman Oliver. Seorang wanita turun dengan langkah yang elegan dan angkuh. Ia mengenakan setelan trench coat desainer berwarna beige, kacamata hitam berbingkai emas, dan rambut pirang yang ditata sempurna. Ia adalah Adele Smith.

​Kehadirannya di Jakarta bukan untuk berlibur. Saat ia melangkah masuk ke ruang tamu setelah diizinkan masuk oleh petugas keamanan yang sempat bingung dengan identitasnya, aura dingin langsung memenuhi ruangan.

​Anjani yang sedang menyeduh teh untuk sang ibu yang berkunjung, tertegun melihat wanita asing itu berdiri di ruang tamu mereka. Ia tampak sangat Eropa, sangat dingin, dan sangat berkuasa.

​"Oliver?" panggil Adele, suaranya memiliki aksen Inggris yang kental dan penuh penekanan.

​Oliver yang sedang memeriksa dokumen di ruang kerja, melangkah keluar. Begitu melihat siapa yang berdiri di sana, langkahnya terhenti.

Wajahnya yang biasanya tenang, kini menunjukkan keterkejutan yang nyata. "Adele? Apa yang kau lakukan di sini?"

****

Adele tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak mencapai matanya. Ia melangkah mendekati Oliver, mengabaikan keberadaan Anjani yang berdiri terpaku di dekat meja. "Aku sudah mencarimu ke seluruh dunia, Oliver. Apa kau pikir kau bisa pergi begitu saja setelah meninggalkan tanggung jawabmu di London?"

​Anjani merasakan jantungnya berhenti berdetak. Ia mendekat, suaranya parau. "Oliver, siapa wanita ini?"

​Adele menoleh ke arah Anjani, menatapnya dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan yang merendahkan. "Ah, jadi ini gadis lokal yang membuatmu lupa daratan? Perkenalkan, aku Adele Smith. Dan mungkin suamimu lupa memberi tahu bahwa aku adalah tunangannya secara resmi di hadapan keluarga besar Jones di Inggris."

​Hening yang mematikan menyelimuti ruangan itu. Anjani menatap Oliver, menuntut jawaban. Oliver tampak gusar, ia segera meraih tangan Anjani, namun Anjani menariknya perlahan.

​"Oliver, apa maksudnya tunangan? Apa kau menikah denganku saat kau masih terikat dengan wanita lain?" suara Anjani bergetar.

​"Anjani, dengarkan aku," Oliver berusaha menjelaskan, namun Adele memotongnya dengan nada bicara yang tajam.

​"Tunangan adalah ikatan yang sudah disetujui bertahun-tahun lalu oleh dewan direksi keluarga Jones, Oliver. Pernikahan ini bukan pilihan, ini adalah keharusan untuk menjaga kendali perusahaan di London. Gadis ini," Adele menunjuk Anjani dengan dagunya, "hanyalah sebuah kesalahan yang kau buat saat kau sedang mengalami krisis identitas di Asia."

****

​Anjani merasa dunianya seolah kembali berputar. Ia baru saja bebas dari teror Dara yang ingin menghancurkan fisiknya, kini ia berhadapan dengan ancaman yang lebih berbahaya: ancaman yang ingin menghancurkan legitimasi pernikahannya, harga dirinya, dan posisinya di sisi pria yang ia cintai

​"Aku tidak pernah mengakui pertunangan itu, Adele! Kau tahu itu!" bentak Oliver. "Aku sudah memutuskan semua hubungan dengan keluargaku di London demi memulai hidup baru di sini!"

​"Dan kau pikir semudah itu?" Adele tertawa kecil. "Ayahmu sudah berada di pesawat menuju Jakarta. Dia ingin melihat langsung 'istri' yang kau pilih ini, dan dia sudah menyiapkan dokumen pembatalan pernikahan kalian karena pernikahan ini tidak pernah mendapatkan izin dari garis keturunan utama."

​Anjani berdiri di sana, di tengah-tengah perdebatan dua orang dari dunia yang sangat asing baginya. Ia menatap Oliver—pria yang baru saja ia nikahi dengan sumpah suci di hadapan Tuhan dan keluarganya. Apakah semua janji itu palsu? Apakah cinta mereka hanyalah sebuah formalitas di mata orang-orang dari dunia Oliver yang sesungguhnya?

​"Aku ingin kau pergi, Adele," suara Oliver kini terdengar lebih dingin dari es. "Keluar dari rumahku sebelum aku memanggil keamananku untuk menyeretmu keluar."

​Adele tidak tampak takut. Ia justru merapikan pakaiannya dan menatap Anjani dengan tatapan penuh tantangan. "Nikmati waktumu, Anjani. Karena saat ayah Oliver tiba, kau akan menyadari bahwa menjadi istri dari seorang pria seperti dia bukanlah hal yang bisa kau tulis dalam novel cintamu. Ini adalah perang bisnis, dan kau hanyalah pion yang akan segera disingkirkan."

****

​Setelah Adele pergi dengan langkah yang angkuh, ruangan itu kembali sunyi. Namun, ketenangan itu telah ternoda. Anjani menatap Oliver, namun kali ini ada jarak yang tercipta di antara mereka. Sebuah jarak yang tidak diciptakan oleh bom atau peluru, melainkan oleh kebenaran yang selama ini disembunyikan.

​Anjani berbalik dan berjalan menuju kamarnya tanpa sepatah kata pun. Ia membiarkan Oliver berdiri mematung di tengah ruang tamu. Di luar sana, angin senja mulai bertiup kencang, seolah-olah menandakan bahwa badai yang sebenarnya—badai yang tidak melibatkan dendam fisik, melainkan kehancuran status dan kepercayaan—baru saja dimulai.

​Dan sementara itu, di suatu tempat di pinggiran Jakarta, seseorang sedang memantau situasi rumah mewah tersebut dari jarak jauh. Dara Mitha Dahayu, yang selama ini menghilang, tersenyum lebar. Ia telah mengetahui kedatangan Adele melalui akses informasi ilegalnya. Ia tidak perlu lagi mengangkat senjata untuk menghancurkan Anjani. Ia hanya perlu menonton dari balik bayang-bayang saat pernikahan yang baru saja disatukan itu hancur berkeping-keping oleh tangan orang lain.

​"Ini jauh lebih manis daripada ledakan," bisik Dara pada dirinya sendiri. "Pernikahan yang hancur karena pengkhianatan? Itulah neraka yang sesungguhnya."

1
Arieee
bagus👍👍👍👍👍👍👍
Serena Muna: terima kasih kak
total 1 replies
Adi Sudiro
cerita dibikin dramatis tapi penuh cela dan kebodohan
di rumah sakit kenapa tidak di bius atau di suntik mati misalkan...... tapi cerita ya tetap cerita....
Serena Muna: EMANG DIBIKIN DRAMATIS NAMANYA JUGA CERITA!
total 1 replies
Siti M Akil
g mati² ky tom Jery 🤣🤣
Heriyani Lawi
ceritanya ky film India, meskipun ditangkap bbrp kali msh aja lolos. klo aku mungkin dah kutembak mati aja tuh si dara, ngapain diserahkn ke polisi klo ujung2nya lepas lg
Heriyani Lawi
ceritanya agak aneh menurutku thor. sdh tau dara melarikan diri dan bersifat licik, knp ayahnya Anjani tidak dikawal dan dibiarkan sendiri
Dew666
👍
Iffanaya 😽
dara tu gk bisa dimasukin penjara lg, orang mcm dara lbih baik dimusnahkan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!