NovelToon NovelToon
BAYI UNTUK BOS MAFIA DINGIN

BAYI UNTUK BOS MAFIA DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Mafia / Romansa Fantasi
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Yudi Chandra

Kael Lucien Raventhorne dikenal sebagai bos mafia paling berkuasa, tampan, dan dingin. Di balik reputasinya yang membuat semua orang segan, ia menyimpan luka yang tak pernah diketahui siapa pun. Sebuah kecelakaan tragis merenggut harapan terbesarnya setelah dokter memvonisnya mandul. Kehancuran itu mengubah cara pandangnya terhadap hidup. Ia berhenti memercayai cinta dan memilih menjalani kehidupan tanpa ikatan, berganti pasangan dari waktu ke waktu demi mengisi kekosongan yang terus menghantuinya.
Namun takdir mempermainkannya.
Suatu malam, takdir mempertemukannya dengan seorang gadis berusia dua puluh tahun yang polos dan cantik. Kesalahpahaman dan rangkaian kejadian di luar dugaan membuat gadis itu kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya. Kael menganggap peristiwa itu hanya akan menjadi satu bab yang terlupakan, sementara sang gadis berusaha bangkit dari kenyataan yang mengubah hidupnya.
Sebulan kemudian, gadis itu kembali hadir di hadapan Kael dengan kabar yang musta

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yudi Chandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Surat keterangan dari rumah sakit itu terasa begitu berat di tangan Aurora. Kalimat singkat yang menyatakan usia kehamilannya membuat dunia seolah berhenti berputar. Berulang kali ia membaca lembaran itu, berharap ada kesalahan. Namun angka yang tercetak tetap sama.

Tak ada lagi ruang untuk menghindar.

Dengan napas yang masih bergetar, Aurora mengambil kartu nama yang pernah diberikan mantan manajernya. Satu-satunya petunjuk menuju pria yang telah mengubah hidupnya menjadi kekacauan.

Alamat itu membawanya ke sebuah bangunan yang dari luar tampak seperti perusahaan logistik dan distribusi biasa. Tak ada yang mencurigakan bagi orang awam. Namun di balik pagar besi tinggi dan penjagaan ketat, Aurora dapat merasakan bahwa tempat itu menyimpan sesuatu yang jauh lebih besar.

Masuk ke sana bukan perkara mudah.

Setiap tamu harus melewati pemeriksaan dan verifikasi berlapis. Demi memperoleh kesempatan bertemu, Aurora terpaksa mengaku sebagai kerabat jauh Kael. Kebohongan itu diucapkannya dengan suara pelan, meski jantungnya berdegup nyaris lepas.

Resepsionis tetap bersikap profesional. Ia meminta Aurora menunggu di ruang tamu sambil menghubungi lantai atas untuk memastikan identitas dan tujuan kedatangannya.

Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang menyesakkan.

Di ruang kerjanya, Kael menghentikan aktivitasnya ketika mendengar nama yang disebut melalui sambungan interkom. Sorot matanya berubah tajam. Setelah hening beberapa saat, ia akhirnya memberikan satu jawaban singkat.

"Biarkan dia masuk."

Tak lama kemudian, Cassian muncul di lobi.

Sebagai tangan kanan Kael, pria itu tetap memasang ekspresi datar. Ia memberi isyarat agar Aurora mengikutinya tanpa banyak bicara. Lorong-lorong panjang, pintu keamanan berlapis, dan penjagaan bersenjata membuat setiap langkah Aurora terasa semakin berat.

Sesampainya di depan pintu besar berlapis kayu gelap, Cassian berhenti.

"Silakan, Nona. Tuan Kael sudah menunggu."

Aurora menarik napas panjang sebelum menggenggam kenop pintu. Apa pun yang terjadi setelah ini, ia tahu hidupnya tidak akan pernah kembali seperti sebelumnya.

Cassian membukakan pintu ruang kerja itu, lalu memberi isyarat sopan kepada Aurora untuk masuk.

Ruangan luas bernuansa gelap itu memancarkan wibawa yang menyesakkan. Di balik meja kerja besar dari kayu hitam, Kael duduk dengan tenang mengenakan setelan jas hitam yang dijahit sempurna. Sikapnya santai, tetapi auranya begitu dominan hingga memenuhi seluruh ruangan.

Aurora sempat terpaku beberapa detik. Ia tak dapat menyangkal bahwa pria di hadapannya memiliki pesona yang sulit diabaikan. Namun, setiap kenangan yang kembali terlintas membuat rasa kagum itu berubah menjadi kegelisahan yang mencengkeram dadanya.

Kael mengangkat pandangan dari berkas di atas mejanya. Mata kelabunya menatap lurus ke arah Aurora, tajam namun tetap tenang.

"Apa yang membawamu datang ke sini?" tanyanya datar, tanpa sedikit pun menunjukkan emosi.

Tatapan itu membuat Aurora gugup. Jantungnya berdetak begitu keras hingga seolah memenuhi keheningan ruangan. Bibirnya terbuka, tetapi tak ada kata yang berhasil keluar.

Sebagai gantinya, ia menggenggam erat map berwarna putih yang sedari tadi dibawanya. Dengan tangan yang sedikit gemetar, Aurora melangkah maju dan meletakkannya perlahan di atas meja, tepat di depan Kael.

"Aku ingin Om melihat ini." ucapnya lirih.

Alis Kael terangkat tipis. Jemarinya bergerak mengambil map tersebut, lalu membukanya dengan tenang.

"Dokumen apa ini?" tanyanya singkat.

Aurora menarik napas panjang, berusaha mengumpulkan keberanian yang nyaris habis.

"Itu hasil pemeriksaanku di rumah sakit," katanya pelan. "Aku... sedang mengandung."

Kalimat itu menggantung di udara.

Gerakan tangan Kael berhenti seketika. Untuk pertama kalinya sejak Aurora memasuki ruangan, ekspresi pria itu berubah nyaris tak terlihat. Tatapannya kembali beralih kepada Aurora, lebih dalam dan lebih tajam daripada sebelumnya, sementara suasana di dalam ruangan mendadak terasa jauh lebih sunyi.

Bahkan Cassian, yang masih berdiri di dekat pintu, memilih tetap diam, menyadari bahwa percakapan yang akan terjadi setelah ini dapat mengubah hidup kedua orang itu selamanya.

Perlahan Kael mengangkat kepalanya.

Di hadapannya, Aurora berdiri dengan kedua tangan saling menggenggam erat. Ujung jarinya memucat karena terlalu kuat mencengkeram satu sama lain. Kepalanya tertunduk, seolah sedang mengumpulkan keberanian untuk menghadapi apa pun yang akan keluar dari mulut pria itu.

Kael bangkit dari kursinya. Langkahnya tenang dan terukur hingga berhenti beberapa langkah di depan Aurora.

"Kalau memang kau sedang mengandung," ucapnya dengan suara rendah, "mengapa kau datang mencariku? Bukankah seharusnya kau menata hidupmu sendiri dan mempersiapkan masa depan anak itu?"

Aurora mengangkat wajahnya perlahan. Meski matanya dipenuhi kecemasan, sorot tekad di dalamnya tak menghilang.

"Itulah alasan aku datang," jawabnya pelan namun mantap. "Anak yang kukandung bukan hanya tanggung jawabku. Om juga harus bertanggung jawab."

Beberapa detik berlalu tanpa suara.

Lalu, Kael mengembuskan napas pendek yang berubah menjadi tawa kecil. Senyum tipis menghiasi sudut bibirnya, bukan karena merasa senang, melainkan seolah sulit mempercayai apa yang baru saja didengarnya.

"Jadi..." katanya sambil menatap Aurora lekat-lekat, "kau datang untuk mengatakan bahwa aku adalah ayah dari bayi itu?"

Aurora tidak mengalihkan pandangannya.

"Ya," jawabnya tegas. "Karena hanya ada satu orang yang bisa dimintai pertanggungjawaban atas kehamilan ini. Dan orang itu adalah Om."

Keheningan kembali menyelimuti ruangan.

Tatapan Kael mengeras, sementara Aurora tetap berdiri di tempatnya, berusaha menyembunyikan gemetar yang perlahan menjalar di seluruh tubuhnya. Pertemuan yang sejak awal dipenuhi ketegangan itu kini berubah menjadi awal dari konflik yang jauh lebih besar daripada yang pernah mereka bayangkan.

Aurora menarik napas panjang sebelum akhirnya bersuara. Matanya memerah, tetapi tekadnya tidak goyah sedikit pun.

"Anak ini adalah darah daging Om," katanya lirih namun tegas. "Aku datang karena Om tidak bisa mengabaikan kenyataan ini. Om harus bertanggung jawab... dan menikahiku."

Keheningan hanya bertahan sesaat.

Tatapan Kael berubah dingin. Rahangnya mengeras, sementara sorot matanya seolah menolak mempercayai setiap kata yang baru saja didengarnya.

"Jangan bermain-main dengan tuduhan seperti itu," ucapnya rendah. "Kau tahu betul apa yang sedang kau katakan?" lanjutnya sambil mencengkram rahang Aurora dengan kasar, hingga memaksa wanita cantik itu mendongak menatapnya

Aurora tidak mundur. Meski rasa takut masih membayang di wajahnya, ia tetap berdiri tegak.

"Aku tidak sedang mengarang cerita," balasnya sambil berusaha melepaskan tangan Kael. "Aku benar-benar mengandung anak Om. Apa Om berniat menyangkal semuanya? Aku tidak pernah menyangka seseorang dengan kekuasaan sebesar Om justru memilih lari dari tanggung jawab."

Kael menghempaskan wajah Aurora dengan kasar hingga tertoleh ke samping. Lalu ia berpaling sejenak, berusaha meredam gejolak pikirannya sebelum kembali menatap Aurora.

"Berani juga kau datang ke tempatku membawa pengakuan sebesar ini," katanya datar. "Selama ini tak pernah ada seorang pun yang berani menuntut pertanggungjawaban dariku."

Ia menggeleng pelan.

"Kalau memang kau yakin sedang mengandung, carilah ayah biologis anak itu. Jangan datang kepadaku seolah semuanya adalah kesalahanku."

Ucapan itu membuat dada Aurora terasa sesak. Jemarinya mengepal tanpa sadar.

"Om adalah ayah dari bayi ini," katanya dengan suara bergetar, tetapi penuh keyakinan. "Tidak ada pria lain yang menyentuhku selain Om."

Tatapan mereka saling bertemu, dipenuhi amarah, kekecewaan, dan ketidakpercayaan.

Aurora mengangkat dagunya, menahan air mata agar tidak jatuh di hadapan pria itu.

"Aku tidak akan mundur," ucapnya mantap. "Cepat atau lambat, kau akan menghadapi kenyataan ini. Dan saat hari itu tiba, aku berharap kau tidak menyesali keputusanmu hari ini."

Ruangan kembali tenggelam dalam keheningan. Udara terasa begitu berat, seolah setiap kata yang baru saja terucap telah mengubah arah hidup keduanya untuk selamanya.

"Kalau begitu, jelaskan padaku... bagaimana mungkin seseorang yang divonis tidak bisa memiliki keturunan justru menjadi ayah dari anak yang kau kandung?"

Ucapan Kael meluncur dingin, tanpa sedikit pun keraguan. Kata-katanya membuat Aurora membeku. Jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat ketika mendengar pengakuan itu.

"Maksudmu... kau mandul?" bisiknya lirih, nyaris tak terdengar.

Kael tidak menjawab. Tatapannya saja sudah cukup menjadi jawaban.

Aurora menggeleng kuat-kuat, berusaha mengusir kenyataan yang baru saja didengarnya.

"Itu tidak mungkin. Aku tidak pernah bersama pria lain selain Om. Bayi ini adalah anakmu, Om."

Sorot mata Kael berubah semakin kelam. Rahangnya mengeras, sementara suasana di ruangan itu mendadak terasa begitu mencekam.

"Atau mungkin kau sedang memainkan permainan yang salah," katanya datar. "Datang kepadaku, membawa seorang anak yang bukan darah dagingku, lalu berharap aku mengambil tanggung jawab? Itu kesalahan besar."

"Aku tidak berbohong!" balas Aurora dengan suara bergetar, namun penuh keyakinan. "Aku bersumpah, hanya ada Om. Aku datang bukan untuk mencari belas kasihan, melainkan meminta tanggung jawabmu."

Kesabaran Kael mencapai batasnya. Dalam beberapa langkah panjang ia sudah berdiri tepat di hadapan Aurora. Tatapannya menusuk tajam hingga membuat gadis itu tanpa sadar mundur selangkah, sampai punggungnya menyentuh dinding.

"Jangan pernah mencoba mempermainkanku, Aurora."

Suara Kael rendah, tetapi mengandung ancaman yang membuat udara terasa semakin berat.

"Aku tidak takut mengatakan yang sebenarnya," jawab Aurora, tetap berusaha menahan pandangannya. "Kau boleh menyangkalnya sekarang, tetapi kenyataan tidak akan berubah."

Untuk beberapa detik, ruangan itu tenggelam dalam keheningan yang menyesakkan. Tatapan mereka saling bertemu, dipenuhi kemarahan, ketidakpercayaan, sekaligus kebingungan yang tak mampu disembunyikan.

Kael mengembuskan napas panjang, lalu berkata dengan nada dingin yang jauh lebih mengintimidasi daripada bentakan.

"Pergilah sebelum aku kehilangan kesabaran. Jika semua ini hanya kebohongan, konsekuensinya tidak akan sanggup kau tanggung."

Aurora mengepalkan kedua tangannya. Air mata menggenang, tetapi tidak satu pun jatuh. Dengan sisa keberanian yang dimilikinya, ia menatap lurus ke mata pria yang dikenal sebagai penguasa dunia gelap itu.

"Aku akan pergi. Tapi suatu hari nanti, kau sendiri yang akan membuktikan bahwa aku tidak pernah berdusta."

...****************...

1
Badkill 99
cerita nyaa baagus..tpi diaalog nyaa sedikit bngt...
maap,unfollow dan unsubscribe
Yudi Chandra: it's okey.😊 but thanks for stopping by.🙏🤗
total 1 replies
Badkill 99
dialog nya dikit banget,
Lisa
Halo Kak..aku mampir nih
Yudi Chandra: makaciiiiiih🙏🙏🙏🙏😘
total 1 replies
Nur Halida
kenapa gak kamu aja kel yg gantiin brema malah gak datang juga terus aurora gimana kalo gak ada yg nikahin .. gak ngerti d3h sama jalan pikirannya si kael ini
Yudi Chandra: sabar buuu🤗🤭
total 1 replies
Nur Halida
ihhhh .. masih saja gak percaya kalo itu anakmu..
Yudi Chandra: sabar ya bu🤭🤭🤭🤭 jangan emosi🤗 calm down😘
total 1 replies
Nur Halida
gimana kael ???kamu rela aurora nikah sama orang laen?? buang itu ke egoisan kamu
Yudi Chandra: hahhaha...jahat banget🤭
total 1 replies
Enz99
bagus
Yudi Chandra: makaciiiiiih🙏😘
total 1 replies
Nur Halida
dasar kael .. awas ya nanti kalo anakmu lahir dan mirip kamu entr kamu rebut dari aurora .. sok sok an gak mau ngakuin anakmu sekarang
Yudi Chandra: Hahaha....smoga dapat karma dia🤭
total 1 replies
Nur Halida
kael ini umur berapa sih??
Yudi Chandra: 35 kalo nggak salah😅
total 1 replies
Nur Halida
ku kira waktu kael nyelametin aurora di rumah sakit dia udah bisa menerima aurora dan bayi dalam kandungannya .. sampe katanya mau melindunhi aurora dari siapapun yg akan menyakiti aurora tapi ternyata kael balik lagi ke mode egois dan kek karakternya cenderung plin plan .. tumben kak author bikin karakter cowok yg plin plan kek si kael ini.. gak kayak karakter ethan, aiden atau ryuga yg tegas dari awal
Nur Halida
loh kok kael gitu lagi sikapnya??bukannya tafi katanya fia mau melindungi aurora??
Resti Guriangdani
seruuuuuuuuu
Yudi Chandra: Makaciiiiiih😘🙏
Ku harap kamu nggak bosen sama ceritanya ya😅
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!