Raditya Baskara tahu cara mengelola bisnis mode bernilai miliaran, tapi dia sama sekali tidak tahu cara bersikap "normal". Dia adalah tipe bos yang bisa mendadak mengadakan lomba balap kursi roda di koridor kantor saat jam kerja hampir di mulai. Satu-satunya rem darurat dalam hidup Radit adalah Kirana, sekretarisnya yang super kaku dan selalu memandangnya dengan tatapan menghakimi.
Namun, sebuah kesalahpahaman di hadapan media membuat mereka terjebak dalam rumor asmara. Demi reputasi saham perusahaan, mereka terpaksa mempertahankan sandiwara tersebut di luar jam kantor. Masalahnya, bagaimana cara menjalani hubungan pura-pura jika sang CEO selalu bertingkah ajaib, sementara sang sekretaris menanggapi gombalan romantis dengan analisis SWOT? Ini adalah kisah tentang lembur paling melelahkan, sekaligus paling membahagiakan dalam hidup Kirana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rara_R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
"Sempurna," gumam Radit lirih, melangkah mendekat tanpa memedulikan pandangan menusuk dari Jihan Wirdana di sudut sofa. Dia mengulurkan tangannya, membantu Kirana menuruni anak tangga kecil di area cermin. "Gaun ini seperti diciptakan memang untukmu, Kirana".
"Terima kasih, Pak—maksud saya, Radit" rona merah tipis muncul di pipi Kirana, mengingat teguran Ibu Sofia lewat telepon tempo hari.
Ibu Sofia sendiri tampak mengangguk puas dari kursinya. Sebagai seorang wanita yang terbiasa membaca ekspresi manusia, dia bisa melihat kilat baja di mata Kirana yang baru saja keluar dari ruang ganti, tanda bahwa calon menantunya tidak kalah dalam konfrontasi terselubung dengan Valerie di dalam sana.
Namun, Jihan Wirdana tidak bisa menyembunyikan kekesalannya lebih lama lagi. Dia bangkit berdiri, merapikan selendang sutranya dengan gerakan kasar.
"Pilihan yang manis, Sofia. Tapi dalam dunia kita, keindahan luar saja bisa menipu. Aku harap gaun yang indah ini tidak terbuang sia-sia jika struktur saham di regional Singapura mengalami guncangan dalam beberapa minggu ke depan".
Radit membalikkan tubuhnya perlahan, menyembunyikan Kirana di balik pundaknya yang tegap.
"Tante Jihan, apakah itu sebuah ancaman korporat di tengah acara keluarga?"
"Bukan ancaman, Radit. Hanya sebuah pengingat ramah dari mitra bisnis lamamu," Jihan tersenyum sinis, lalu menoleh ke arah tirai ruang ganti tempat Valerie baru saja keluar dengan wajah yang masih tampak kaku. "Valerie, mari kita pulang. Udara di sini mendadak terasa kurang nyaman untuk keluarga kita".
Setelah Jihan dan Valerie meninggalkan kediaman Menteng dengan aura permusuhan yang pekat, Sofia Baskara mengembuskan napas panjang. Dia meletakkan cangkir tehnya, menatap putra tunggalnya dan Kirana dengan pandangan yang kembali serius.
"Mereka tidak akan tinggal diam, Radit," ujar Sofia tegas. "Jihan baru saja mengonfirmasi secara tidak langsung bahwa faksi Wirdana di Singapura sedang mengonsolidasikan kekuatan dengan beberapa mantan sekutu Baskoro yang tersisa di luar negeri. Mereka ingin menggunakan sepuluh persen saham mereka di Baskara Singapore Corp untuk menjatuhkan legitimasimu sebelum hari pernikahan kalian".
Kirana melepaskan pin payet di pergelangan tangannya, otaknya langsung bekerja dalam mode analisis operasional.
"Ibu Sofia, sepuluh persen saham di anak perusahaan Singapura memang tidak cukup untuk mengambil alih induk perusahaan di Jakarta. Namun, jika mereka melakukan aksi jual serentak (dumping) tepat di hari pertunangan kami di Bali, itu akan menciptakan sentimen negatif di bursa efek. Investor akan mengira ada keretakan internal yang serius".
Radit menyipitkan matanya, sebuah senyuman dingin yang sarat akan strategi perang muncul di wajah tampannya.
"Itulah yang mereka inginkan, Kirana. Mereka ingin kita memohon agar mereka tidak menjual saham tersebut, dengan imbalan aku harus membatalkan komitmenku padamu"
Radit berjalan mendekati meja jati lalu mengambil ponselnya dan langsung mendial sebuah nomor internasional.
"Hubungi Hendra di divisi modal ventura Singapura sekarang," perintah Radit begitu panggilan tersambung, suara baritonnya penuh otoritas mutlak. "Siapkan dana talangan (buffer fund) dari konsorsium domestik kita. Jika keluarga Wirdana berani melepas satu lembar pun saham mereka di bursa Singapura hari Senin depan, kita akan buyback semuanya dalam waktu kurang dari lima menit. Kita akan hapus pengaruh mereka dari ekosistem Baskara Group untuk selamanya".
Kirana menatap Radit dengan rasa kagum yang tak bisa disembunyikan. Pria di depannya tidak pernah ragu untuk memotong rantai bisnis yang merugikan, tidak peduli seberapa lama hubungan sejarah keluarga mereka terjalin.
____
Hari Senin pagi, lantai 29 Baskara Group kembali berdenyut dengan kecepatan tinggi. Kirana sudah berada di meja kerjanya sejak pukul tujuh pagi, didampingi oleh Tika yang sibuk menyortir data pergerakan pasar saham regional Singapura.
"Ibu Kirana, grafik volume perdagangan Baskara Singapore Corp mulai menunjukkan aktivitas tidak biasa sejak pasar dibuka tiga puluh menit lalu," lapor Tika dengan wajah tegang, menyerahkan tablet yang menampilkan grafik garis merah yang menukik tajam. "Ada aliran penjualan masif dari akun-akun sekuritas institusi yang terafiliasi dengan Wirdana Holdings".
Kirana tidak panik. Dia menegakkan duduknya, meraih gagang telepon interkom di mejanya dan menekan tombol pintas menuju ruang kerja CEO di lantai paling atas.
"Radit, mereka sudah mulai bergerak di Singapura" ucap Kirana langsung begitu panggilan diangkat.
"Aku sedang melihat layarnya sekarang, Kirana," jawab Radit dari seberang saluran. Suaranya terdengar sangat tenang, seolah-olah penurunan nilai saham bernilai ratusan miliar itu hanyalah permainan catur biasa baginya. "Mereka mengira aksi ini akan membuat kita panik dan menunda pengumuman administrasi pertunangan kita ke pers jam sepuluh nanti".
"Apakah dana talangan kita sudah siap di posisi?" tanya Kirana memastikan.
"Sudah. Tim sekuritas kita di bawah perintah Hadi hanya tinggal menunggu instruksiku. Aku ingin membiarkan Valerie dan ibunya menguras peluru mereka sampai habis dulu. Begitu mereka mengira telah berhasil meruntuhkan harga saham kita... kita akan membalikkan keadaan dengan satu kali ketukan palu".
Kirana menutup telepon, lalu menatap Tika yang masih tampak cemas.
"Tika, tetap pantau arusnya. Jangan biarkan ada satu pun media domestik yang menggoreng berita ini sebelum rilis resmi dari tim Humas pusat turun".
___
Tepat pukul 9.45, grafik saham Baskara Singapore Corp menyentuh titik terendah dalam enam bulan terakhir akibat aksi jual sepihak keluarga Wirdana. Di sebuah apartemen mewah di kawasan Orchard, Singapura, Jihan dan Valerie mungkin sedang merayakan kemenangan prematur mereka, bersiap menunggu telepon darurat dari Radit yang memohon gencatan senjata.
Namun, telepon itu tidak pernah datang.
Pukul sepuluh tepat, layar monitor bursa efek regional mendadak memerah sesaat sebelum sebuah gelombang hijau raksasa menghantam sistem. Dana talangan rahasia milik konsorsium Radit masuk ke pasar seperti air bah, menyerap seluruh sepuluh persen saham yang dilepas oleh keluarga Wirdana dalam hitungan detik. Harga saham tidak hanya kembali stabil, melainkan meroket naik lima persen lebih tinggi dari posisi pembukaan pagi itu karena pasar melihat adanya aksi beli balik (buyback) korporasi yang sangat agresif dan percaya diri.
Pada saat yang sama, notifikasi pop-up dari portal berita bisnis Fakta Nusantara muncul serentak di seluruh ponsel karyawan Baskara Group:
*[BREAKING NEWS] Baskara Group Resmi Umumkan Pembersihan Total Saham Faksi Asing di Singapura, Sekaligus Mengonfirmasi Acara Pertunangan Resmi CEO Raditya Baskara dan Direktur Operasional Kirana Larasati Akhir Bulan Ini.*
Tika langsung melompat dari kursinya sambil memukul meja dengan gembira.
"Ibu Kirana! Kita berhasil! Saham Singapura berbalik menguat, dan pengumuman pertunangan Ibu sudah resmi naik ke publik! Manuver keluarga Wirdana gagal total!"
Kirana mengembuskan napas lega yang panjang, menyandarkan punggungnya pada kursi kerja barunya. Di balik kaca jendela besar ruangannya, dia bisa melihat langit Jakarta yang cerah.
Pintu ruang kerjanya terbuka tanpa ketukan. Radit melangkah masuk dengan senyum kemenangan yang paling menawan yang pernah Kirana lihat. Pria itu berjalan mendekat, lalu duduk di tepi meja kerja Kirana, menatap wanitanya dengan binar mata yang penuh dengan kepemilikan mutlak.
"Selamat, Direktur Kirana," ujar Radit lembut, meraih tangan kiri Kirana dan mengusap cincin berlian emerald yang melingkar indah di jari manis wanita itu. "Satu lagi penghalang masa depan kita telah resmi dihapus dari draf korporasi. Sekarang, tidak ada lagi yang bisa menghentikan perjalanan kita ke Bali".
Kirana tersenyum manis, membalas genggaman tangan Radit dengan erat.
"Perjalanan yang mahal, Pak CEO. Tapi saya rasa... Ini adalah investasi terbaik yang pernah kita lakukan bersama".