Dika Pratama ialah seseorang yang secara tak terduga kembali ke masa SMA ya ditahun 2010. dikarenakan ia mendapatkan sebuah kesempatan untuk menebus penyesalan terbesar nya yaitu ia tidak memanfaatkan bakatnya yaitu bermain sepakbola, lantas di kehidupan ini ia akan bersungguh-sungguh dalam memanfaatkan bakatnya untuk membawa Indonesia menjadi juara piala dunia.
yuk ikuti terus bagaimana perjuangan Dika untuk menjadi seorang pesepakbola terbaik di dunia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naga Ruwet, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah di Jalan Veteran, Kebanggaan Sang Jenderal Kecil
Lokasi: Perumahan sederhana kawasan Buduran, Sidoarjo, tidak jauh dari jalan Veteran.
Waktu: Pertengahan Juni 2011, pukul 18.30 WIB. Senja mulai berganti malam, langit berwarna ungu kemerahan. Angin sore berhembus cukup kencang, membawa aroma khas tanah Sidoarjo yang lembap dan asin dari arah tambak di selatan. Di halaman rumah yang tidak terlalu luas namun sangat rapi dan bersih, terlihat beberapa tanaman hias tertata rapi, ciri khas rumah bekas tentara yang disiplin dan teratur.
Rumah keluarga Dika berukuran sedang, berdinding bata merah yang dicat putih kusam, dengan pagar besi rendah yang dicat hijau. Di teras depan, ada dua kursi rotan dan sebuah meja kayu sederhana. Di sini tinggallah Dika bersama keluarganya: Ayah Rudi Pratama, yang beberapa tahun lalu pensiun dini dari dinas TNI dengan pangkat menengah, dikenal tegas, berwibawa, namun sangat penyayang keluarga; Ibu Siti, ibu rumah tangga yang lemah lembut, cekatan, dan menjadi penengah di rumah; serta adik perempuan Dika, Rina Pratama, gadis kecil berumur 13 tahun yang baru duduk di bangku SMP, ceria, manja, dan sangat mengidolakan kakaknya itu.
Sebagai anak sulung dan satu-satunya laki-laki, Dika memegang peran penting di rumah. Ayah Rudi, meski sudah pensiun, masih memiliki wibawa yang kuat. Selama bertahun-tahun masa bakti, Ayah banyak meninggalkan keluarga untuk bertugas, sehingga saat pensiun, ia mencurahkan seluruh waktunya untuk mengawasi pendidikan dan pembentukan karakter kedua anaknya. Penghasilan pensiun dan tabungan Ayah cukup untuk kebutuhan dasar keluarga, namun tidak berlebihan. Mereka hidup sederhana, hemat, namun sangat bahagia dan rukun. Dika sangat menyayangi adiknya, Rina, begitu juga Rina yang selalu mengikuti ke mana pun kakaknya pergi, menganggap Dika sebagai pahlawan pribadinya.
Malam ini, aroma masakan Ibu memenuhi seisi rumah. Bau nasi hangat, ikan mas goreng, sayur lodeh, dan sambal terasi yang pedas nikmat tercium sampai ke luar pagar. Suara denting sendok dan piring terdengar dari ruang tengah, diiringi celoteh Rina yang tak pernah habis bahasanya. Malam ini adalah malam yang sangat istimewa bagi Dika. Setelah mengambil keputusan besar menolak tawaran Persebaya dan klub-klub besar lainnya, serta menetapkan hati untuk berangkat ke Inggris setahun lagi, Dika merasa sudah tiba waktunya untuk membuka rahasia besarnya. Ia ingin menceritakan semuanya kepada Ayah, Ibu, dan adik kecilnya, membuat mereka tenang, bahagia, dan bangga luar biasa.
Di meja makan, duduklah Ayah Rudi dengan postur tegap khas mantan prajurit, Ibu yang duduk tenang di sampingnya, Rina yang duduk bersila antusias di hadapan piringnya, dan Dika. Suasana sangat akrab dan hangat.
"Makanlah, Le. Jangan dikit-dikit saja. Kamu kan tiap hari lari pagi, latihan sore, butuh banyak tenaga biar kuat dan sehat," kata Ibu sambil menyodorkan sepiring besar ikan goreng ke depan piring Dika. Wajah Ibu selalu bersinar bahagia setiap kali melihat anak-anaknya berkumpul lengkap.
Ayah Rudi mengangguk setuju, suaranya berat dan tegas namun lembut. "Betul kata Ibu. Disiplin makan itu bagian dari disiplin hidup, sama seperti saat saya dinas dulu. Badan yang kuat menyimpan jiwa yang tangguh. Kamu harus jaga kondisi, Dik. Saya dengar penampilanmu di kejuaraan kemarin sangat bagus. Saya sudah tonton rekamannya di kantor desa. Ayah bangga."
Wajah Dika bersemu merah bangga. Pujian dari Ayah adalah hal paling berharga baginya, jauh lebih mahal daripada piala apa pun. Di sebelahnya, Rina mengangguk semangat sambil mengunyah nasi.
"Iya Kak Dika hebat banget! Teman-teman di sekolah Rina semua tahu. Mereka bilang kakakku ganteng dan jago main bola. Rina jadi sering dipuji-puji juga lho," kata Rina riang, membuat seisi meja tertawa.
Dika tersenyum lembut, mengusap kepala adiknya itu. "Dasar Rina... ada-ada saja. Ada kabar bagus lho, Bu, Pak, dan kamu Rina... Kabar yang mungkin bakal bikin Ayah kaget, atau malah marah, tapi tolong dengarkan penjelasannya sampai selesai ya."
Ayah menghentikan kunyahannya sejenak, menaruh sendoknya pelan, lalu menatap anak sulungnya dengan tatapan tajam dan waspada, kebiasaan lamanya saat dinas.
"Kabar apa itu, Dik? Jangan-jangan kamu nakal di sekolah atau di lapangan? Atau nilai sekolahmu turun? Ingat pesan Ayah: pendidikan nomor satu, hobi nomor dua."
"Ah Ayah ini, Kak Dika kan selalu juara kelas juga," potong Rina lagi.
Dika tertawa kecil, lalu menatap bergantian ke arah Ayah, Ibu, dan adiknya dengan tatapan serius namun antusias.
"Iya, nilai aman, Pak. Dan soal sepak bola... kemarin ada orang penting datang ke kantor KONI nyari saya. Utusan resmi dari Persebaya Surabaya, Pak. Mereka nawarin saya buat langsung masuk tim utama, jadi pemain profesional, dikontrak, digaji besar setiap bulan, fasilitas lengkap, perlindungan asuransi, semuanya. Itu kehormatan besar sekali, Pak."
Suasana meja makan seketika hening sepenuhnya. Ibu sampai menutup mulutnya dengan tangan karena kaget. Mata Ayah Rudi yang tajam itu membelalak sedikit, wajahnya berubah cerah sekali, namun ia tetap berusaha tenang menahan diri. Rina berteriak kegirangan.
"Wah! Persebaya! Bajul Ijo! Kakak mau jadi pemain terkenal?! Asyik! Nanti Rina minta baju baru deh!"
Ayah menarik napas panjang, lalu bertanya dengan suara yang sedikit bergetar karena takjub sekaligus bangga luar biasa. "Serius kamu, Dik? Persebaya itu klub raksasa, kebanggaan Jawa Timur. Banyak anak muda mati-matian, latihan bertahun-tahun, cuma buat dilirik sedikit saja sama mereka. Dan mereka datang ke sini, nyari kamu? Wah... kalau begitu masa depanmu cerah sekali, Le. Ayah pensiun cuma bawa tabungan seadanya, Ayah senang sekali kalau kamu bisa mandiri, bantu ekonomi keluarga... Terus... kamu jawab apa? Kamu terima kan? Pasti terima, kan?"
Hati Dika terasa hangat namun terenyuh mendengar ucapan Ayah. Ia tahu betul, meski Ayah tidak pernah mengeluh, penghasilan pensiun Ayah pas-pasan. Ia tahu Ayah sering menahan keinginannya sendiri demi memenuhi kebutuhan sekolah dan kebutuhan Rina. Mendengar Ayah berharap ia langsung menerima tawaran itu demi kebaikan keluarga, Dika semakin sadar bahwa keputusannya untuk menolak tawaran itu demi masa depan yang jauh lebih besar adalah keputusan yang paling benar. Ia tidak hanya ingin membantu kebutuhan sehari-hari, ia ingin mengubah hidup mereka selamanya, membuat Ayah dan Ibu hidup nyaman, serta memastikan masa depan adiknya terjamin sampai kapan pun.
Dika menggeleng pelan, lalu menatap Ayah dengan lembut namun tegas.
"Ayah, Ibu... saya tolak."
"APA?!" Kali ini serentak kedua orang tuanya berseru kaget. Ibu hampir menjatuhkan gelas yang sedang dipegangnya. Ayah Rudi langsung duduk tegak kaku, alisnya berkerut tajam, wajahnya berubah drastis dari yang tadi cerah menjadi bercampur kaget, bingung, dan sangat kecewa. Bahkan Rina berhenti mengunyah, menatap kakaknya bingung.
"Ditolak?! Kamu... kamu sadar apa yang kamu katakan, Dika?!" Suara Ayah meninggi, nada tegas dan kemarahan mulai terdengar. Bagi seorang mantan tentara yang terbiasa mengambil peluang, keputusan ini terdengar sangat tidak masuk akal. "Itu Persebaya! Gajinya besar, masa depannya terjamin di sini, dekat rumah, dekat kami! Kamu... kamu gila ya? Kenapa kamu tolak? Kamu tahu betapa sulitnya cari pekerjaan bagus di zaman ini? Kamu mau buang kesempatan emas ini begitu saja?!"
Dika menarik napas panjang, menahan haru dan ketegangan. Ia bangkit berdiri sebentar, masuk ke kamar dan mengambil sebuah buku catatan kecil, serta sebuah amplop cokelat tebal yang sudah disiapkannya jauh-jauh hari. Ia kembali duduk, lalu meletakkan benda-benda itu di atas meja makan, di antara sisa-sisa makanan. Matanya menatap Ayah, Ibu, dan adiknya dengan penuh ketulusan dan kedewasaan yang luar biasa, kedewasaan yang jarang dimiliki anak seusianya.
"Ayah, Ibu... maafkan saya kalau keputusan ini bikin Ayah marah atau kecewa. Saya tidak menolak karena sombong, saya tidak menolak karena tidak tahu diri, saya tidak menolak karena tidak bersyukur. Saya menolak karena saya punya rencana yang jauh lebih besar, jauh lebih panjang, dan insya Allah... jauh lebih membahagiakan kita semua seumur hidup. Saya punya mimpi yang bukan cuma mau jadi pemain hebat di Indonesia. Saya mau jadi pemain hebat di dunia. Saya mau ke Inggris, Pak. Saya mau ke Eropa."
Ayah Rudi mengerutkan kening makin dalam, bingung dan tidak mengerti. "Inggris? Eropa? Apa yang kamu cari di sana, Dik? Di sini saja kami susah payah menyekolahkanmu, apalagi di negeri orang. Mahal, jauh, asing, bahasanya beda... Kamu mau bikin kami makin susah? Kamu mau pergi jauh ninggalin kami? Lalu siapa yang jaga Ibu dan Rina?"
"Itulah tantangannya, Ayah. Tapi percayalah... saya sudah persiapkan semuanya, bahkan jauh sebelum tawaran Persebaya itu datang. Saya sudah bilang kan? Sejak lama saya punya pemikiran yang jauh ke depan, dan saya sudah bekerja diam-diam untuk itu. Saya tidak akan pergi kalau saya belum yakin bisa sukses, dan saya tidak akan pergi kalau belum menjamin kenyamanan Ayah, Ibu, dan Rina di sini."
Dika kemudian membuka amplop cokelat itu. Di dalamnya ada tumpukan uang tunai berlembaran seratus ribu rupiah yang tebal sekali, dan beberapa lembar kertas cetakan yang berisi rincian transaksi serta saldo rekening. Ia mendorong benda-benda itu ke depan kedua orang tuanya.
"Ayah, Ibu... ini ada hal lain yang selama ini saya sembunyikan, bukan karena tidak percaya, tapi karena saya ingin buktikan sendiri dulu, saya ingin pastikan aman dulu baru saya kasih tahu. Sejak setahun lalu, selain main bola dan sekolah, saya mulai cari uang sendiri. Saya suka nyanyi, Bu... Ibu kan sering dengar saya bernyanyi di kamar mandi atau di halaman sambil lari pagi. Rina juga sering dengar kan?"
Rina mengangguk antusias. "Iya! Kakak suaranya bagus banget, lebih bagus dari penyanyi di TV!"
"Saya rekam suara saya, Bu. Saya nyanyikan lagu-lagu, saya aransemen sendiri, lalu saya unggah ke internet, ke situs bernama YouTube. Dan ternyata... banyak orang suka. Banyak orang dari Indonesia, dari Malaysia, Singapura, bahkan dari Amerika dan Eropa yang suka lagu saya. Nah, dari situ saya dapat uang, Bu. Bukan sedikit. Banyak sekali. Karena orang luar negeri bayarnya mahal."
Dika menunjuk tumpukan uang tunai itu, jumlahnya sangat banyak, menumpuk tinggi di atas meja.
"Ini uang tunai sebesar Rp 50 Juta Rupiah, Bu. Hasil tabungan saya beberapa bulan terakhir. Semuanya halal, bersih, dicatat rapi. Saya serahkan ini ke Ibu hari ini, buat kebutuhan rumah, buat beli apa saja yang Ayah dan Ibu butuh tapi selama ini ditahan-tahan karena kurang uang. Buat kebutuhan sekolah Rina sampai tamat kuliah nanti, buat beli baju baru Ayah, buat perbaiki atap rumah yang bocor kalau hujan, buat beli sepeda motor baru biar Ayah nyaman bepergian, buat Rina beli buku atau mainan apa pun yang dia mau. Ini hak kalian semua."
Mulut Ibu terbuka diam tak bersuara. Tangan gemetar Ibu menyentuh tumpukan uang itu. Lima puluh juta. Bagi keluarga mereka, itu adalah uang yang luar biasa besar, uang yang mungkin baru bisa dikumpulkan dari uang pensiun Ayah dalam waktu bertahun-tahun. Air mata mulai menetes di pipi Ibu. Ayah Rudi diam terpaku, matanya menatap uang itu, lalu beralih menatap wajah anak sulungnya dengan pandangan yang mulai berubah.
"Ya Allah... Dika... Nak... kamu... kamu kerja apa saja sampai dapat uang sebanyak ini? Kamu jangan sampai..." Ibu tidak sanggup melanjutkan kalimatnya, khawatir anaknya melakukan hal buruk.
Dika langsung menggenggam tangan Ayah yang tegas dan keras, serta tangan lembut Ibu dengan erat, lalu mengusap kepala adiknya.
"Enggak, Bu! Jangan berpikir yang tidak-tidak. Semuanya aman, halal, dan bersih. Dan ini belum semuanya, Bu. Ada lagi yang lebih besar."
Dika lalu menyerahkan selembar kertas cetakan yang berisi angka-angka besar dengan banyak angka nol di belakangnya.
"Selain uang tunai, saya juga berinvestasi. Saya beli aset digital namanya Bitcoin. Dulu saya beli harganya murah banget, cuma ratusan rupiah satuannya, saya beli pakai uang jajan dan hasil nyanyi saya. Sekarang... harganya sudah melonjak sampai ratusan ribu rupiah per koin. Lihat sini, Bu... saldo aset saya di sini nilainya sekarang sudah ada sekitar Rp 7 Miliar Rupiah."
"uhukkkk ..... ".