NovelToon NovelToon
Dokter Hewan Mencuri Hati CEO Agribisnis Dengan Sapi Wagyu

Dokter Hewan Mencuri Hati CEO Agribisnis Dengan Sapi Wagyu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Reinkarnasi / CEO
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Saskia Mahendra adalah dokter hewan brilian yang mati kelelahan di laboratorium. Kini ia terbangun sebagai Saskia Utami, 20 tahun, terlilit utang koperasi, dikepung Bibi dan Paman serakah yang siap merampas tanahnya.

Namun, ia membawa sesuatu dari alam kematian: Air Suci. Warisan jiwa yang bisa menyembuhkan ternak dan memicu pertumbuhan ajaib. Setiap tetes bisa mengubah sapi kurus jadi Wagyu bernilai fantastis, tapi setiap tetesnya juga menguras nyawanya sendiri. Harga yang harus ia bayar diam-diam.

Ketika hasil peternakannya menembus standar daging termahal Indonesia, CEO agribisnis raksasa datang membawa kontrak, dan bahaya. Daniel Hardjono. Jenius, arogan, dan terlalu berbahaya untuk dipercaya. Di antara klausul kontrak berdarah dan ciuman yang tak direncanakan, Saskia harus menghadapi ancaman yang lebih ganas dari preman desa, mata-mata korporat internasional yang tahu ada rahasia di kandangnya, dan akan membunuh untuk mendapatkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12. Bukan yang Pertama

Aroma darah segar dan air ketuban langsung menyergap indera penciumannya saat ia berlari ke arah kerumunan.

Saskia menerobos kerumunan warga yang berkumpul di pinggir jalan, tepat di depan sebuah kandang sapi semi-permanen. Lima belas orang, mungkin lebih, berdiri dengan wajah panik.

Beberapa perempuan memegang sapu tangan di mulut. Laki-laki berteriak-teriak memberi saran yang tidak jelas. Tidak ada yang bertindak.

"Beri jalan! Saya dokter hewan!"

Kata-kata itu keluar dari mulutnya sebelum ia sadari. Kepala-kepala menoleh. Mata-mata menatapnya dengan campuran antara heran dan tidak percaya. Seorang gadis desa dengan kebaya putih lusuh dan sandal jepit, mengaku dokter hewan?

Tapi Saskia sudah tidak peduli.

Di dalam kandang, seekor sapi Limosin betina terbaring miring di atas jerami yang sudah basah oleh cairan ketuban. Nafasnya berat, cuping hidungnya melebar, matanya berputar-putar menunjukkan rasa sakit yang luar biasa. Perutnya membuncit, kontraksi otot perut terlihat jelas di bawah kulit yang berkeringat.

Dan dari vulvanya, hanya terlihat satu kaki belakang. Satu kaki. Bukan dua.

Sungsang.

"Pemiliknya mana?" Suara Saskia tajam, memotong kebisingan kerumunan.

Seorang laki-laki tua mendekat, wajahnya pucat. "Saya, Mbak. Sapi saya. Sudah dua jam seperti ini. Anaknya tidak mau keluar. Biasanya paling lama satu jam sudah..."

"Dua jam?!" Saskia berlutut di samping sapi itu. Tangannya langsung memeriksa posisi kaki yang terlihat. "Kaki belakang. Sungsang penuh. Anak sapinya terbalik, Pak. Kepalanya di dalam, kakinya yang keluar duluan."

"Bisa diselamatkan, Mbak?"

Saskia tidak menjawab. Jemarinya meraba perut sapi itu, merasakan posisi anak di dalam. Matanya terpejam, berkonsentrasi. Di kepalanya, diagram anatomi sapi hamil dari buku teks kedokteran hewan terpampang jelas. Posisi normal: kedua kaki depan dan kepala keluar bersamaan, seperti posisi menyelam. Posisi ini: kaki belakang keluar duluan, kepala dan kaki depan tersangkut di dalam panggul.

"Saya butuh pisau. Sekarang."

Kerumunan bergumam. Pisau? Untuk apa?

"CEPAT!"

Laki-laki tua itu berlari ke rumahnya. Tiga puluh detik kemudian ia kembali dengan pisau dapur, mirip dengan yang Saskia gunakan untuk mengancam Paman Harto.

"Sabun. Air bersih. Tali rafia. Handuk bersih. Cepat, sebelum induknya kehabisan tenaga!"

Warga bergerak. Entah karena nada suaranya yang otoritatif, atau karena tidak ada yang berani membantah, mereka melakukan apa yang ia perintahkan. Sabun batangan. Ember berisi air. Tali rafia. Handuk bekas yang sudah luntur warnanya.

Saskia mencuci tangannya sebersih mungkin dengan sabun dan air. Tidak steril. Jauh dari standar operasi. Tapi cukup.

"Pak, pegang kepalanya. Jangan biarkan dia meronta."

Laki-laki tua itu memegang kepala sapinya, berbisik-bisik menenangkan. Saskia berlutut di belakang sapi itu. Pisau dapur di tangan kanannya. Tangan kirinya meraba vulva sapi, mencari sudut yang tepat.

"Ini episiotomi darurat. Saya harus memperlebar jalan lahirnya sedikit. Kalau tidak, anaknya tidak akan keluar dan induknya bisa robek."

Goresan pisau. Kulit dan jaringan otot terbelah. Darah segar mengalir, tapi tidak banyak. Sayatan yang presisi, menghindari pembuluh darah besar. Tangannya stabil, tidak gemetar sama sekali.

Kerumunan di belakangnya menahan nafas. Beberapa perempuan memalingkan wajah.

"Anaknya sudah lemah. Saya harus tarik."

Tangan kanannya masuk ke dalam jalan lahir, menyusuri tubuh anak sapi yang masih terjebak. Jemarinya meraba kaki belakang yang basah dan licin. Ia mencari kaki yang satunya. Dapat. Ia ikat tali rafia di sekitar kaki itu, tepat di atas sendi fetlock.

"Tarik pelan-pelan waktu ada kontraksi. Jangan paksa."

Tangannya bekerja dengan presisi yang hanya dimiliki oleh seseorang yang sudah melakukan ini puluhan kali.

Di kehidupan sebelumnya, Saskia Mahendra pernah menangani tujuh belas kasus distokia dalam satu musim melahirkan. Tujuh belas. Dua di antaranya operasi caesar lapangan. Semuanya selamat.

"Ini bukan yang pertama," bisiknya pada sapi itu. "Kau dengar, Bu? Aku tahu apa yang kulakukan. Kau cuma perlu bertahan sedikit lagi."

Sapi itu melenguh rendah. Matanya yang besar menatap Saskia dengan ekspresi yang anehnya menenangkan. Seolah ia mengerti.

Kontraksi berikutnya datang. Dinding perut sapi itu mengencang.

"Sekarang."

Tangan Saskia menarik tali rafia dengan gerakan yang stabil, mengikuti sudut alami jalan lahir. Kakinya mencengkeram tanah untuk mendapatkan tumpuan. Otot-otot di lengannya yang kurus menegang sampai pembuluh darahnya terlihat jelas.

Kepala anak sapi muncul.

"Kepalanya keluar! Lagi! Sedikit lagi!"

Kontraksi kedua. Tarikan kedua. Bahu. Kaki depan. Dada. Pinggul.

Dan akhirnya, dengan suara basah yang melegakan, seluruh tubuh anak sapi itu meluncur keluar.

Anak sapi Limosin jantan. Basah. Lemah. Tapi hidup.

Saskia langsung membersihkan lendir dari hidung dan mulut anak sapi itu dengan jemarinya. Ia menggosok dadanya dengan handuk, merangsang pernafasan. Tiga detik. Lima detik. Tujuh detik.

Anak sapi itu bersin. Lalu menarik nafas pertamanya.

Kerumunan di belakangnya bersorak. Tepuk tangan. Tangis haru. Laki-laki tua itu, si pemilik sapi, jatuh berlutut di samping Saskia dengan air mata mengalir di pipinya yang keriput.

"Terima kasih, Mbak. Terima kasih. Saya tidak tahu harus bayar pakai apa..."

"Tidak perlu bayar." Saskia tersenyum, dadanya masih naik turun karena kelelahan. "Ini pekerjaan saya."

Lalu ia mendengar suara itu. Suara yang dalam, tenang, dan dingin.

"Bukan dokter hewan biasa."

Saskia menoleh.

Laki-laki dari Alphard hitam itu berdiri di pinggir kerumunan. Setelan jas abu-abu gelapnya tidak terkena setitik pun kotoran. Sepatu pantofelnya masih mengilap. Tangannya terlipat di dada. Matanya, yang sekarang bisa Saskia lihat dengan jelas, berwarna coklat tua dengan sorot yang sulit diartikan.

Di sampingnya, seorang laki-laki lain memegang ponsel. Ponsel itu mengarah ke Saskia. Merekam.

"Budi," kata laki-laki berjas itu tanpa menoleh. "Kau rekam semua?"

"Jelas, Pak Daniel. Dari awal sampai akhir."

Daniel. Namanya Daniel.

Laki-laki itu melangkah mendekat. Kerumunan warga otomatis menyingkir, memberi jalan. Bahkan tanpa mengeluarkan suara, ia punya aura yang membuat orang-orang sekitarnya merasa perlu minggir.

"Kau bilang tadi kau dokter hewan."

Saskia berdiri. Tangannya masih berlumuran darah dan cairan ketuban. Kebaya putihnya sekarang berwarna merah dan coklat. Sanggulnya lepas, rambutnya tergerai kusut. Tapi ia menatap laki-laki itu lurus ke matanya.

"Betul."

"Pendidikanmu?"

"Belajar sendiri."

Daniel mengangkat satu alisnya. "Belajar sendiri tidak membuat orang bisa melakukan episiotomi dengan presisi seperti itu. Belajar sendiri tidak membuat orang tahu sudut tarikan yang tepat untuk sungsang. Aku lulusan Cornell. Aku tahu teknik itu. Itu teknik dokter hewan profesional."

Saskia tidak menjawab. Jantungnya berdebar lebih kencang dari sebelumnya.

Daniel menatapnya beberapa detik. Matanya bergerak dari wajah Saskia, ke tangannya yang berlumuran darah, ke anak sapi yang mulai merangkak di atas jerami, ke induknya yang menjilati anaknya dengan lembut.

"Satu pertanyaan lagi."

"Apa?"

"Kenapa kau mau menolong sapi orang lain, gratis, tanpa diminta?"

Saskia menatap anak sapi yang baru lahir itu. Basah. Lemah. Tapi hidup. Induknya terus menjilatinya, membersihkan sisa-sisa cairan ketuban dari bulunya.

"Karena dia butuh," jawabnya sederhana.

Keheningan panjang. Daniel Hardjono, CEO Hardjono Agribisnis Tbk, menatap gadis desa di depannya dengan ekspresi yang berubah perlahan. Dari dingin dan menilai, menjadi... sesuatu yang lain.

"Bapak saya sedang mencari mitra peternak potensial."

Daniel menoleh ke arah Budi yang baru saja berbicara, yang langsung mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya. Sebuah kartu nama.

Kartu nama hitam dengan tinta emas.

"Kapan kau bisa datang ke kantor pusat kami? Surabaya."

Saskia menatap kartu nama yang disodorkan Budi padanya. Tangannya yang masih gemetar karena kelelahan meraihnya.

PT Hardjono Agribisnis Tbk.

Raksasa nomor tiga se-Indonesia. Perusahaan yang menguasai hampir dua puluh persen pasar daging nasional. Perusahaan yang baru saja ia baca di koran bekas minggu lalu karena mengakuisisi dua feedlot, tempat penggemukan di Jawa Timur.

1
4revenge
aku suka bagian ini
Lini Krisnawati
bagus
gina altira
Suka nie sama Saskia tegassss
gina altira
semangat SASKIA
gina altira
jadi Dilema ya Saskia,
sukensri hardiati
baru mulai buka mata dah banyak banget masalah saskia yg harus diurus....smangatttt....
gina altira
lanjutt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!