Tiga tahun lalu, Reno Wijaya dijebak dan difitnah oleh keluarga angkatnya sendiri demi menyelamatkan putra kandung mereka. Dipaksa melarikan diri dalam keadaan terluka, Reno terpaksa menyembunyikan identitas aslinya dan menjadi menantu numpang yang dihina di keluarga Pramudya. Di mata ibu mertua dan orang-orang kota, ia hanyalah pria miskin tak berguna yang hanya bisa mencuci piring dan menerima makian.
Namun, tidak ada satu orang pun yang tahu bahwa penyamaran miskin itu adalah cara Reno menguji hatinya sekaligus memulihkan teknik kultivasi kuno "Sutra Naga Kuno" demi menyelesaikan ujian kesembilan dari organisasinya.
Puncaknya terjadi ketika keluarga mertuanya yang matrealistis memaksa Alya untuk menceraikan Reno demi menikahkan wanita itu dengan seorang tuan muda kaya yang sombong, Brandon Pratama. Di hari yang sama ketika surat cerai dilemparkan ke wajahnya, masa pengasingan Reno resmi berakhir! Kelompok elit terkaya dan terkuat di dunia—Grup Naga Hitam—berlutut menyambut kembali
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deddy kris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: PIJAKAN PERTAMA DI ALAM DEWA
Pusaran cahaya merah dan emas perlahan memudar dari pandangan.
Reno memijakkan kakinya di atas tanah berbatu hitam yang memancarkan hawa dingin menyengat.
Langit di Alam Dewa Abadi berwarna ungu pekat dengan dua buah bulan raksasa yang menggantung anggun di angkasa.
Di sekeliling tempat Reno berdiri, puluhan pulau karang berukuran raksasa melayang bebas di udara, dialiri oleh air terjun cahaya spiritual murni.
Kepadatan energi spiritual di tempat ini ratusan kali lipat lebih pekat dibandingkan dengan yang ada di bumi.
"Aura energi di sini beneran gila," pukas Reno sambil menarik napas dalam-dalam.
'Pantas saja praktisi bumi yang tembus ke sini bisa makin kuat dalam waktu singkat,' batin Reno merasakan meridian tubuhnya menyerap energi spiritual sekitar secara otomatis.
Namun, kedamaian di area pijakan pertama itu tidak bertahan lama.
Hanya beberapa detik setelah keberadaan Reno terdeteksi oleh atmosfer Alam Dewa...
*Wusss! Wusss! Wusss!*
Puluhan bayangan berkain jubah tembaga melompat turun dari atas pulau melayang, mengepung posisi Reno dari segala penjuru.
Mereka adalah Pasukan Patroli Suku Tembaga—salah satu klan penjaga batas luar di Alam Dewa Abadi.
Masing-masing dari prajurit tersebut memiliki tingkat kultivasi Ranah Raja Spiritual tingkat atas.
Pria bertubuh tinggi besar dengan kulit berwarna tembaga melangkah maju, memegang tombak besar berkilauan.
Dia adalah Kapten Pasukan Patroli Suku Tembaga bernama Meng Huo.
Meng Huo menatap pakaian jas modern milik Reno dengan pandangan penuh penghinaan dan kecurigaan.
"Siapa lu?! Kenapa pakaian lu aneh begini?!" bentak Meng Huo dengan suara berat memecah kesunyian.
"Lu baru saja menerobos Gerbang Batas dari dunia bawah tanah kan?!" seru Meng Huo menudingkan ujung tombaknya tepat ke dada Reno.
Reno memiringkan kepalanya, merapikan kerah jas hitamnya yang sedikit berdebu.
"Gue cuma numpang lewat," sahut Reno santai.
"Numpang lewat?! Sembarangan lu!" teriak seorang prajurit di sebelah Meng Huo murka.
"Di Alam Dewa Abadi, praktisi dari dunia bawah cuma sampah yang pantes dijadikan budak tambang!" tambah prajurit itu mengejek keras.
Para prajurit Suku Tembaga tertawa terbahak-bahak, memandang Reno bagaikan seekor domba yang masuk ke sarang serigala.
Meng Huo menyunggingkan senyum licik, menatap tato naga keemasan di lengan kanan Reno yang masih menyisakan riak cahaya redup.
"Tunggu dulu... tato di lengan lu itu..." Meng Huo terbelalak kaget, mengenali aura pusaka dari dongeng kuno.
"Kunci Segel Alam Dewa!" jerit Meng Huo histeris dengan mata berbinar penuh keserakahan.
"Menyerahkan tato itu dan berlututlah jadi budak gue kalau lu masih sayang sama nyawa lu!" ancam Meng Huo penuh aura pembunuh.
Reno mendesah pelan, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
"Kenapa ya di mana-mana yang mukanya garang selalu otaknya pendek?" sindir Reno tertawa kecil.
'Padahal baru mendarat, udah ada aja yang mau disapu,' batin Reno menggelengkan kepala.
"Mati lu, Sampah Bumi!" jerit Meng Huo murka mendengar ejekan Reno.
Brakkkk!
Meng Huo mendadak melompat tinggi, mengayunkan tombak tembaganya dengan mengerahkan seluruh kekuatan Ranah Raja Spiritual puncak.
Tombak itu meluncur deras membelah angin, menciptakan bayangan kepala harimau tembaga raksasa yang mengaum keras.
*Roarrrr!*
Para prajurit Suku Tembaga tersenyum puas, meyakini tubuh Reno akan tembus berkeping-keping dihantam jurus tersebut.
Namun, di mata Reno, tebasan tombak itu tidak ada bedanya dengan mainan anak kecil.
Reno tidak bergeser satu senti pun dari posisi berdirinya.
Ketika mata tombak tajam itu berada hanya berjarak beberapa milimeter dari dahi Reno...
Reno membuka mulutnya, membalas raungan tombak tersebut dengan satu kali dehaman halus yang berisi aura Sutra Naga Kuno.
"Ehem!"
Brakkkk!
Gelombang kejut keemasan meledak hebat dari tubuh Reno!
*Pranggg!*
Tombak tembaga milik Meng Huo hancur berkeping-keping menjadi debu tembaga di udara!
Meng Huo terbelalak lebar, memuntahkan darah segar saat gelombang suara dehaman Reno menghantam dadanya secara langsung.
"Guaaarkkk!"
Tubuh Meng Huo yang kekar melesat mundur bagaikan peluru, menabrak tebing batu hitam hingga hancur berhamburan.
Brakkk!
Meng Huo tersungkur di tanah dengan tulang-tulang rusuk yang retak parah, dadanya terengah-engah penuh ketakutan yang belum pernah ia rasakan seumur hidup.
"K-Kapten Meng!" jerit puluhan prajurit Suku Tembaga histeris.
Semua prajurit langsung membeku di tempat, senjata di tangan mereka gemetaran hebat.
Hanya dengan satu dehaman halus tanpa menggerakkan tangan, seorang Kapten Ranah Raja Spiritual puncak lumpuh seketika!
"L-Lu... Lu ini monster jenis apa?!" jerit seorang prajurit gemetaran setengah mati.
Reno melangkah maju pelan-pelan, berdiri tepat di hadapan Meng Huo yang kini tergeletak tak berdaya.
"Gue tanya sekali lagi. Di mana kota terdekat dari sini?" tanya Reno dengan suara datar namun penuh tekanan ilahi.
Meng Huo ketakutan setengah mati, membenturkan kepalanya berulang kali ke tanah sampai dahinya berdarah.
"A-Ampun, Tuan Agung! Hamba tidak tahu diri!" jerit Meng Huo meratap pasrah.
"K-Kota Kota Batu Hitam... berada lima puluh kilometer ke arah timur dari sini!" jawab Meng Huo gemetaran sambil menunjuk ke arah horizon timur.
"Di sana ada pasar pelelangan dan markas cabang Kota Alam Dewa!" tambah Meng Huo secepat mungkin agar nyawanya diselamatkan.
Reno mengangguk-angguk kecil menerima informasi tersebut.
"Bagus. Berhubung lu sudah kooperatif, nyawa lu gue sisakan," pukas Reno tenang.
"Tapi seluruh cincin penyimpanan dan batu spiritual pasukan lu... jadi bayaran atas ketidaksopanan kalian," tambah Reno menyunggingkan senyum tipis.
Meng Huo dan seluruh prajurit Suku Tembaga tanpa berani membantah sedikit pun langsung melepas seluruh cincin penyimpanan harta mereka dan menyerahkannya ke tangan Reno dengan tubuh gemetaran.
Reno mengambil puluhan cincin penyimpanan itu, mengantonginya dengan santai.
Dia membalikkan badan, melompat ringan melintasi pulau-pulau melayang menuju arah timur.
Sementara itu, berita tentang munculnya seorang pemuda misterius dari bumi yang menghancurkan Kapten Suku Tembaga dalam satu dehaman menyebar cepat ke Kota Batu Hitam.
Di dalam aula megah Pelelangan Batu Hitam yang merupakan pusat perdagangan terbesar di batas luar Alam Dewa...
Seorang wanita bergaun merah marun dengan pesona memikat duduk di kursi kepemimpinan.
Dia adalah Liu Ruyi, Penanggung Jawab Rumah Pelelangan Batu Hitam yang juga merupakan master informasi ulung.
Seorang pengawal pribadi berlutut di hadapan Liu Ruyi dengan raut wajah panik.
"Nona Ruyi! Pemuda pemilik tato naga keemasan dari bumi sedang bergerak menuju kota kita!" lapor pengawal itu cepat.
"Panglima Tujuh Dosa dari Wilayah Iblis juga baru saja mengirim pasukan pemburu menuju Kota Batu Hitam untuk mencegatnya!" tambahnya lagi.
Liu Ruyi menyandarkan tubuhnya yang anggun di kursi, menyunggingkan senyum manis yang penuh misteri.
Dia mengusap cangkir teh porselennya pelan-pelan.
"Pemuda bumi yang membawa Kunci Segel dan dikejar oleh Panglima Tujuh Dosa?" gumam Liu Ruyi dengan binar mata tertarik.
"Kota Batu Hitam bakal jadi panggung pertunjukan yang sangat menarik hari ini..."