Delapan tahun Tira dan Dimas menjadi kekasih. Delapan tahun pula ia menunggu satu kepastian yaitu pernikahan. Namun, ketika Dimas tak kunjung datang membawa lamaran, ayah Tira justru menjodohkannya dengan Fahri, lelaki asing yang bahkan tak pernah ia cintai.
Tira akhirnya menikah dengan Fahri, meninggalkan cinta yang telah menemaninya selama delapan tahun. Tapi bagaimana jika lelaki asing itu perlahan membuatnya menemukan cinta yang selama ini ia cari? Dan bagaimana jika Dimas baru datang ketika Tira sudah menjadi istri orang lain?
#Konflik Etika #Nikah Paksa #Air Mata Pernikahan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2
Laki-laki Yang Berani Ngajak Nikah Itu Bernama Fahri
“Kamu masih cinta sama aku.”
Tira menunduk. Air matanya jatuh. “Iya.”
Dimas tampak seperti baru saja mendapatkan harapan.
Tetapi sebelum lelaki itu sempat berkata apa-apa, Tira melanjutkan, “Aku masih mencintaimu. Tapi aku tidak mau lagi menjadikan cinta sebagai alasan untuk terus menunggu.”
Harapan di wajah Dimas perlahan runtuh.
Tira berdiri. Ia merapikan tasnya, lalu memandang lelaki itu untuk terakhir kalinya sebagai seseorang yang pernah ia bayangkan akan menjadi suaminya. “Jaga dirimu, Mas.” ia mengambil kembali undangan di atas meja yang tadi dipegang Dimas. "Oh iya, undangan ini bukan untuk ngundang kamu, ini untuk meyakinkan kamu bahwa aku dan kamu benar-benar sudah nggak ada apa-apa lagi. Kita sudah usai. Aku akan memulai hubungan baru yang aku yakin akan lebih baik dan lebih bahagia. Setelah ini semoga kita nggak bertemu lagi dan jangan pernah menyapa aku lagi!"
Dimas tidak menjawab.
Tira melangkah pergi. Baru beberapa meter dari meja mereka, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk.
Dari Fahri. [Abang sudah selesai kerja. Sudah makan?]
Tira berhenti. Untuk beberapa detik ia hanya memandangi layar. Hubungan mereka bahkan belum dimulai sebagai pasangan suami istri, tetapi Fahri sudah mulai membiasakan dirinya bertanya tentang hal-hal kecil.
Tira tersenyum tanpa sadar. Ia mengetik, [Belum. Abang?]
Balasan datang tidak sampai satu menit. [Belum juga. Kalau Tira belum makan, Abang jemput. Kita cari makan. Sekalian ajak ayah dan ibu.]
Tira menatap pesan itu cukup lama. Di belakangnya, Dimas masih duduk sendirian di meja, masih kepikiran undangan pernikahan yang beberapa menit lalu diberikan kepadanya. Ada nama lelaki lain yang akan menjadi suami perempuan yang selama delapan tahun ia cintai. Dan untuk pertama kalinya, Dimas menyadari bahwa ada satu kesalahan yang mungkin tidak bisa diperbaiki hanya dengan berkata, “Aku siap sekarang.” Sebab Tira sudah menemukan seseorang yang tidak membuatnya menunggu. Seseorang yang, sejak awal, berani mengatakan dengan sederhana bahwa ia ingin menikahinya. Dan lelaki itu bernama Fahri.
***
Dimas masih duduk di tempat yang sama setelah Tira pergi. Secangkir kopi di depannya sudah tidak lagi disentuh, sementara undangan pernikahan itu masih terngiang dipikiran Dimas. Fahri dan Tira. Tidak mungkin. Dimas menggeleng pelan. Tira hanya sedang marah. Pasti. Delapan tahun bukan waktu yang bisa dihapus hanya dengan sebuah undangan. Delapan tahun terlalu panjang untuk berakhir hanya karena seorang lelaki bernama Fahri datang membawa niat menikah. Apalagi Tira mencintainya. Dimas tahu itu.
Ia tahu bagaimana Tira memandangnya ketika mereka masih kuliah. Ia tahu kebiasaan-kebiasaan kecil perempuan itu. Tira tidak suka kopi terlalu pahit, tidak suka tempat ramai, selalu membawa tisu lebih banyak daripada yang dibutuhkan, dan kalau sedang kesal akan mengatakan “terserah” dengan nada yang justru berarti tidak terserah. Dimas tahu semuanya. Bahkan ia tahu bahwa Tira akan menangis jika melihat film sedih meski selalu menyangkalnya.
Jadi bagaimana mungkin perempuan yang sudah bersamanya selama delapan tahun tiba-tiba menikah dengan orang lain? Tidak mungkin.
“Dia cuma ingin membuatku takut,” gumamnya. “Pasti.” Dimas tersenyum penuh keyakinan, namun suara hatinya sendiri tidak terdengar yakin, makanya perlahan senyumnya hilang.
Dimas bersandar pada kursi dan memejamkan mata. Ingatannya membawa dia kembali ke delapan tahun lalu, ketika semuanya bahkan belum dimulai. Saat itu mereka masih mahasiswa. Dimas masih ingat hari pertama melihat Tira di kampus. Bukan karena Tira datang dengan pakaian mencolok atau berusaha menjadi pusat perhatian. Justru sebaliknya. Gadis itu duduk di bawah pohon dekat gedung fakultas sambil membaca buku, sesekali berbicara dengan dua orang temannya. Rambutnya tertutup kerudung sederhana. Tidak banyak bergerak. Tidak banyak tertawa. Tetapi entah mengapa, mata Dimas berhenti di sana. “Siapa?” tanyanya kepada seorang teman yang berdiri di sebelahnya.
“Siapa apanya?”
“Yang duduk di sana.”
Temannya mengikuti arah pandangan Dimas. “Tira.”
“Sudah punya pacar?”
Temannya tertawa. “Baru lihat sudah tanya begitu? Naksir?”
“Jawab saja.”
“Kayaknya nggak.”
Sejak hari itu Dimas mulai mencari alasan agar bisa berada di tempat yang sama dengan Tira. Awalnya ia hanya lewat di depan kelasnya. Kemudian sengaja duduk tidak jauh ketika ada diskusi mahasiswa. Setelah itu mulai berani menyapa. “Tira, kan?”
Tira yang sedang memasukkan buku ke dalam tas mengangkat wajah. “Iya.”
“Aku Dimas.”
“Aku tahu.” Dimas sempat bingung.
“Kok tahu?”
“Kita satu kampus, satu fakultas, satu angkatan, hanya beda kelas.”
“Oh.” Hanya itu. Tira kembali memasukkan bukunya. Dimas berdiri beberapa detik seperti orang yang baru kehilangan naskah pidato. Ia sudah menyiapkan kalimat pembuka sejak semalam, tetapi semuanya hilang hanya karena Tira menjawab singkat. Namun Dimas bukan orang yang mudah menyerah.
Besoknya ia menyapa lagi. Lusa ia menyapa lagi. Minggu berikutnya ia mulai menawarkan bantuan. Kalau Tira membawa banyak buku, Dimas menawarkan diri membawakan. Kalau ada tugas kelompok yang sulit, ia menawarkan bantuan. Kalau Tira sedang menunggu kendaraan, entah bagaimana Dimas selalu kebetulan berada di sana. Kebetulan yang terlalu sering untuk disebut kebetulan.
Tira akhirnya menyadari. “Kamu sebenarnya kenapa selalu ada di mana-mana?” tanyanya suatu sore.
Dimas tersenyum lebar. “Mungkin kita memang sering berjodoh di tempat yang sama.”
Tira memutar mata. “Gombal.”
“Serius.”
“Aku nggak tertarik pacaran.” Jawaban itu keluar ketika Dimas akhirnya menyatakan perasaannya. Tidak ada drama. Tidak ada tangisan. Tira hanya mengatakan terus terang bahwa ia tidak ingin berpacaran. Dimas bertanya alasannya. Tira menjawab bahwa ia ingin fokus kuliah dan tidak ingin menghabiskan masa muda dengan hubungan yang tidak jelas arahnya.
Dimas justru melihat celah dari kalimat itu. “Kalau arahnya jelas?”
Tira menatapnya curiga. “Maksudnya?”
“Kalau tujuan akhirnya menikah?”
“Tetap saja pacaran itu pacaran.”
“Tapi kita kan belum bisa menikah sekarang.” Dimas mengatakannya dengan penuh keyakinan, seolah ia telah menemukan solusi paling masuk akal di dunia. “Kita masih kuliah. Aku juga belum punya apa-apa. Tapi aku serius sama kamu. Jadi daripada nanti ada orang lain datang, aku mau kita saling mengenal dulu.”
Tira diam.
Dimas melanjutkan, “Anggap saja ini proses menuju pernikahan.”
“Pacaran kok proses menuju pernikahan?”
“Ya karena kelak tujuannya menikah.” Dimas tersenyum. “Aku nggak akan main-main.”
Kalimat itulah yang akhirnya membuat pertahanan Tira retak. Bukan karena Tira tiba-tiba menjadi perempuan yang gemar berpacaran, melainkan karena Dimas berhasil meyakinkannya bahwa hubungan mereka memiliki tujuan.
Dimas bahkan mengatakan, “Aku cuma mau mengikat kamu dulu dengan status pacaran. Biar kita sama-sama tahu kalau kita serius. Terus biar nggak ada yang ngincar kamu lagi soalnya kamu punyaku!”