“Aku tidak akan menceraikanmu, Tiara.”
Haikal mengucapkan kalimat itu tanpa sedikit pun keraguan.
“Dan aku mengizinkanmu tetap tinggal di rumah ini.”
Air mata Tiara mulai mengalir lagi.
“Tapi, izinkan aku untuk menikah lagi.”
Tiara menatap pria yang selama ini menjadi tempatnya menggantungkan seluruh hidup. Pria yang baru saja ia kira akan menerima kekurangannya yang divonis mandul oleh Dokter.
Ternyata, Haikal hanya tidak ingin kehilangan istrinya. Ia ingin mempertahankan Tiara sebagai istri pertama sekaligus mengambil wanita lain sebagai calon ibu bagi anak-anaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoungLady, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Haikal merasa dunia seakan runtuh ketika sebuah kabar mengejutkan sampai ke telinganya.
“Tiara dan Pak Permana mempercepat pernikahan mereka.”
Kalimat itu terus terngiang-ngiang di kepalanya.
“Besok?”
Teman dekatnya mengangguk.
“Bukan hanya besok. Kabarnya semua persiapan sudah selesai. Mereka sengaja mempercepat acara karena ada beberapa masalah yang membuat Pak Permana tidak mau menunda lagi.”
Haikal terdiam.
Tangannya mengepal kuat.
Tidak!
Dia tidak bisa membiarkan itu terjadi.
Tiara tidak boleh menikah dengan Permana.
Wanita itu adalah mantan istrinya. Bagaimana mungkin hanya dalam waktu singkat Tiara bisa melupakan dirinya dan menikah dengan pria lain?
Terlebih lagi, Permana adalah orang yang selama ini membuatnya merasa terancam.
Seorang pria kaya, berkuasa, dan sekarang akan menjadi suami Tiara.
Haikal merasa dadanya sesak.
“Cari tahu di mana acaranya digelar,” perintahnya.
“Aku sudah mencoba, tapi informasinya sangat tertutup.”
“Cari sampai dapat!”
Haikal tidak peduli harus melakukan apa.
Beberapa jam kemudian, akhirnya ia mendapatkan informasi mengenai tempat berlangsungnya acara pernikahan tersebut.
Haikal langsung pulang.
Ia menemukan Rumi sedang duduk di ruang tengah.
“Ibu ikut denganku.”
Rumi mengerutkan kening.
“Mau ke mana?”
“Ke pernikahan Tiara.”
Wajah Rumi langsung berubah.
“Tiara?”
“Dia akan menikah dengan Permana. Kita harus menghentikannya.”
Rumi terdiam cukup lama.
Meski selama ini ia sudah menyesali perlakuannya kepada Tiara, mendengar wanita itu benar-benar akan menjadi istri Permana membuat hatinya terasa semakin tidak tenang.
Akhirnya Rumi berdiri.
“Apa yang harus ibu lakukan?”
“Bujuk Tiara. Dulu, dia sangat menurut padamu.
Malam itu, Haikal dan Rumi datang ke lokasi acara dengan pakaian sederhana.
Mereka tidak ingin dikenali.
Haikal bahkan mengenakan jas biasa dan menundukkan wajah setiap kali melewati orang-orang yang berjaga di sekitar gedung.
Setelah berhasil menyelinap masuk bersama beberapa tamu lain, Haikal mulai mencari Tiara.
Jantungnya berdegup kencang.
Ia membayangkan Tiara akan menangis ketika melihatnya.
Mungkin wanita itu masih mencintainya.
Mungkin semua hubungannya dengan Permana hanya pelarian.
Mungkin Tiara sebenarnya hanya ingin membuatnya cemburu.
Haikal terus menggenggam harapan itu.
Sementara itu, di salah satu kamar persiapan, Tiara baru saja selesai berdandan.
Ia mengenakan gaun yang anggun dan sederhana.
Tidak berlebihan, tetapi cukup membuat siapa pun yang melihatnya terdiam.
Raisa berdiri di sampingnya sambil tersenyum.
“Sudah siap?”
Tiara mengangguk.
“Sudah.”
“Ayo. Kak Permana pasti sudah menunggu.”
Tiara tersenyum kecil.
Mereka pun keluar dari kamar menuju ruang resepsi.
Namun baru beberapa langkah, seorang wanita tiba-tiba muncul dari balik pilar.
“Tiara!”
Langkah Tiara terhenti.
Matanya membesar ketika melihat Rumi.
“Ibu?”
Raisa langsung waspada.
Dari kejauhan, Haikal hanya bisa memperhatikan dengan napas tertahan.
Rumi segera menghampiri Tiara.
“Nak, tolong jangan menikah dengan Permana.”
Air mata langsung mengalir di pipinya.
“Jangan tinggalkan anakku.”
Tiara terdiam.
Rumi terbatuk beberapa kali sebelum melanjutkan.
“Kami menyesal, Tiara. Ibu menyesal. Dulu ibu bersikap buruk kepadamu. Ibu terlalu memikirkan keturunan, harta, dan omongan orang lain. Ibu tidak menyadari bahwa kamu adalah wanita yang tulus mencintai Haikal.”
Tiara menatapnya tanpa ekspresi.
Rumi menggenggam tangannya.
“Pulanglah bersama ibu.”
Tiara perlahan menarik tangannya.
“Apa Mas Permana yang mengirim ibu ke sini?”
Rumi menggeleng cepat.
“Bukan!”
“Kalau begitu, sebaiknya kalian cepat pergi.”
Nada suara Tiara tetap tenang.
“Kalau Pak Permana tahu kalian masuk ke sini tanpa izin, kalian bisa ditangkap.”
Rumi kembali menangis.
“Nak, ibu tahu kamu sebenarnya masih mencintai Haikal.”
Tiara diam.
“Kamu menikah dengan Permana hanya untuk membuat Haikal cemburu dan sakit hati, bukan?”
Haikal yang berdiri tidak jauh dari sana menahan napas.
Itulah yang ingin didengarnya.
Rumi semakin yakin.
“Ayo ikut ibu. Haikal masih mencintaimu. Dia sadar bahwa dia telah melakukan kesalahan.”
Rumi menarik lengan Tiara.
Namun sebelum Tiara sempat bereaksi, sebuah suara keras terdengar.
“Lepaskan calon menantuku!”
Semua orang menoleh.
Nanik berdiri di sana.
Wajah wanita itu terlihat sangat marah.
Di belakangnya terdapat dua petugas keamanan berbadan besar.
Nanik berjalan mendekat.
“Menjauh darinya!”
Rumi tidak melepaskan tangan Tiara.
Nanik menatapnya tajam.
“Wanita tak tahu diri!”
Suara Nanik menggema di lorong.
“Dulu kau membuang menantumu sendiri. Kau memperlakukannya seperti pembantu. Kau merendahkannya dan membiarkan anakmu menyakitinya.”
Nanik menunjuk Rumi.
“Sekarang setelah Tiara akan menjadi bagian dari keluarga kami, kau datang mengambilnya kembali?”
Rumi menggigit bibir.
“Aku ibunya Haikal.”
“Dan?”
Nanik tertawa sinis.
“Apa hubungan itu membuatmu berhak merusak kebahagiaan Tiara?”
Rumi masih tidak menyerah.
“Tiara sebenarnya tidak mencintai Permana!”
Haikal menatap Tiara dengan penuh harap.
Rumi berkata dengan suara bergetar.
“Dia hanya terluka. Dia hanya ingin membuat Haikal cemburu. Nak, kamu masih mencintai anakku, kan?”
Tiara akhirnya membuka mulut.
“Dulu.”
Semua orang terdiam.
Tiara menatap Rumi.
“Dulu aku memang sangat mencintai Haikal.”
Haikal merasa dadanya berdebar.
“Tapi setelah dia mengkhianatiku dan menyakiti perasaanku, cinta itu hilang.”
Wajah Haikal seketika pucat.
Tiara melanjutkan.
“Bukan hilang karena aku ingin membalas dendam. Bukan karena aku ingin membuatnya cemburu.”
Ia menghela napas.
“Cinta itu hilang karena aku terlalu sering disakiti.”
Rumi menggeleng.
“Tidak. Ibu tahu kamu masih—”
“Siapa bilang aku tidak mencintai Pak Permana?”
Rumi terdiam.
Tiara menatapnya dengan tenang.
“Dia pria baik.”
Senyum tipis muncul di wajah Tiara.
“Dia bertanggung jawab. Dia menghargai aku. Dia tidak pernah membuatku merasa rendah hanya karena aku berasal dari keluarga sederhana.”
Haikal menundukkan kepala.
Tiara berkata tegas,
“Aku sangat mencintainya.”
Rumi terisak.
“Nak…”
“Sudah, Bu.”
Tiara melepaskan tangannya dari genggaman Rumi.
“Sebaiknya ibu pergi dari sini.”
Haikal akhirnya keluar dari tempat persembunyiannya.
“Tiara!”
Tiara menoleh.
Tatapan mereka bertemu.
Untuk beberapa detik, suasana terasa membeku.
Haikal berharap melihat wanita yang dulu mencintainya.
Namun yang ia lihat hanyalah ketenangan.
Tidak ada kerinduan.
Tidak ada air mata.
Tidak ada penyesalan.
Tiara menatapnya.
“Katakan pada Haikal…”
Ia berhenti sejenak.
“Trik kotornya mengirim ibu untuk membujukku tidak akan berhasil.”
Wajah Haikal semakin pucat.
“Aku bukan lagi wanita lemah yang bisa kalian tindas dan kalian atur sesuka hati seperti dulu.”
Rumi menangis semakin keras.
Tiara menatap Nanik, lalu mengalihkan pandangan kepada para petugas keamanan.
“Cari Mas Haikal sampai ketemu, aku yakin dia bersembunyi disekitar sini. Setelah itu, silahkan kalian seret mereka berdua keluar!"
Bersambung.....