NovelToon NovelToon
Putri Yang Dibuang

Putri Yang Dibuang

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas Dendam / Diam-Diam Cinta
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: NisfiDA

Bisu, tuli, dan dianggap aib keluarga. Amara diperlakukan lebih buruk dari hewan di mansionnya sendiri. Puncaknya, ia dibuang ke halaman belakang yang dingin membeku tanpa diberi makan sedikit pun saat pesta bisnis ayahnya berlangsung.

​Di tengah keputusasaannya, muncul Gabriel—CEO muda paling ditakuti dengan tato bunga mawar di lehernya.
​Melihat Amara yang terkulai lemas menahan lapar, pria dingin itu melepaskan jasnya dan merangkul sang gadis.

​"Mulai malam ini, siapa pun yang menyakitimu... akan kuhancurkan."

​Ketika sang Putri yang Dibuang dilindungi oleh Pria Paling Berkuasa, pembalasan dendam pun dimulai!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keputusasaan yang Berujung Bencana

​"Siska bodoh! Bagaimana dia bisa begitu ceroboh?!" teriak Hendra frustrasi sambil memukul meja kaca di ruang tamunya hingga bergetar hebat.

​Hendra berjalan bolak-balik dengan napas memburu, wajahnya yang pucat pasi dibasahi keringat dingin. Berita ditangkapnya Siska di mansion Gabriel baru saja sampai ke telinganya, membuat sisa-sisa harapan yang ia miliki hancur berkeping-keping.

​"Nyonya Siska terlalu tidak sabaran, Tuan. Sehingga dia nekat menyamar menjadi pelayan baru yang memang kebetulan mansion itu sedang mencarinya," jelas asisten pribadinya, Bayu, yang berdiri ragu di dekat pintu.

​Hendra mencengkeram rambutnya sendiri, merutuki kebodohan istrinya. "Istriku itu benar-benar tidak punya otak! Dia pikir Gabriel itu pria bodoh yang bisa dikelabui hanya dengan KTP palsu dan pakaian lusuh?! Sekarang wanita itu malah mendekam di sel kantor polisi!"

​"Lalu... apa yang harus kita lakukan sekarang, Tuan Hendra?" tanya Bayu dengan raut panik yang tak lagi bisa disembunyikan. "Pihak kepolisian sudah mulai melacak dari mana Nyonya Siska mendapatkan dokumen palsu itu. Cepat atau lambat, nama Anda pasti akan terseret."

​"Cari cara agar aku tidak ikut masuk penjara, Bayu!" bentak Hendra dengan mata melotot tajam. "Gunakan sisa uang tunai yang kita punya! Bayar pengacara paling mahal!"

​Bayu menggeleng pelan dengan senyum getir. "Tidak ada pengacara yang mau mengambil kasus ini, Tuan. Nama Tuan Gabriel sudah memblokir seluruh akses kita. Tidak ada satu pun kantor hukum yang berani berurusan dengan beliau."

​Tubuh Hendra mendadak lemas. Ia terhuyung mundur hingga terduduk pasrah di atas sofa kusamnya.

​"Amara..." gumam Hendra gemetar, menyadari satu-satunya celah yang tersisa. "Aku harus bertemu Amara secara langsung. Anak itu pasti tidak akan tega melihat ayah kandungnya membusuk di penjara..."

​"Tapi Tuan, penjagaan di sekitar Nyonya Amara sangat ketat—"

​"Aku tidak peduli!" potong Hendra penuh kecemasan yang membuncah. "Ini satu-satunya kesempatan kita, Bayu! Jika aku tidak bisa menyentuh hati Amara, hidup kita benar-benar tamat!"

"Tapi Tuan, sebelum Anda sempat berbicara dengan Nyonya Amara, Tuan Gabriel pasti yang akan lebih dahulu bertindak. Dan lagi, Nyonya Amara saat ini masih dalam masa pemulihan psikologis!" tegas Bayu mengingatkan dengan raut wajah sangat cemas.

Hendra menatap Bayu dengan sorot mata yang dipenuhi keputusasaan sekaligus kemarahan yang meluap.

"Pemulihan psikologis apa?!" semprot Hendra kasar, napasnya naik turun. "Anak itu cuma berpura-pura traumatik agar bisa mendapat simpati dari Gabriel! Dulu saja dia bisa hidup bertahun-tahun di rumah ini tanpa mengeluh, kenapa sekarang mendadak jadi seharus itu?!"

"Tuan, tolong realistis!" pangkas Bayu, memberanikan diri menatap langsung mata majikannya. "Nyonya Amara bukan lagi gadis lemah yang bisa Tuan tekan seperti dulu. Di belakangnya ada Tuan Gabriel yang mengawasi setiap detik. Begitu Tuan menampakkan diri di hadapan Nyonya Amara, Tuan Gabriel tidak akan memberi Tuan kesempatan untuk bersuara sedikit pun. Tuan bisa langsung dihabisi di tempat!"

Hendra mengepalkan tangannya rapat-rapat hingga bukunya memutih. Ucapan Bayu menghantam kesadarannya bagai gada berat. Ia tahu persis bagaimana dingin dan kejamnya reputasi seorang Gabriel dalam menghancurkan musuh-musuhnya.

"Lalu aku harus diam saja sampai polisi datang mengetuk pintu rumah ini?!" bentak Hendra dengan suara bergetar menahan takut. "Siska sudah ditahan! Semua rekeningku dibekukan! Aku tidak punya apa-apa lagi, Bayu!"

"Kita harus sembunyi, Tuan," bisik Bayu pelan, menawarkan satu-satunya pilihan rasional yang tersisa. "Tinggalkan kota ini sebelum anak buah Tuan Gabriel menemukan keberadaan Tuan. Itu satu-satunya cara agar Tuan selamat."

Hendra terdiam kaku. Wajahnya pucat pasi memikirkan dirinya harus melarikan diri seperti buronan yang tak punya harga diri lagi, hanya karena seorang anak yang dulu pernah ia sia-siakan.

"Kalau begitu, ayo kita pergi sekarang, Bayu! Aku tidak ingin kehidupanku berakhir di penjara!" seru Hendra panik, bangkit bergegas dari sofanya dengan tangan yang gemetar hebat.

Ia melangkah ketakutan menuju lemari di sudut ruangan, membukanya kasar lalu mengubrak-abrik isi laci untuk mencari sisa uang tunai dan paspor yang tersisa.

"Bawa barang yang penting-penting saja, Tuan!" pangkas Bayu cepat seraya melirik cemas ke arah jendela. "Jangan buang-buang waktu! Anak buah Tuan Gabriel bisa bergerak jauh lebih cepat dari yang kita perkirakan!"

"I-iya, aku tahu!" sahut Hendra gugup, menjejali beberapa bendel uang ke dalam tas ranselnya yang kusam. Pria itu menyapu pandangannya ke sekeliling rumah mewahnya yang kini terasa dingin dan mencekam. "Semua hartaku... semua yang kubangun bertahun-tahun hancur hanya karena anak bisu itu..."

"Tuan Hendra, fokus!" gertak Bayu pelan namun menohok. "Kalau Tuan masih meratapi rumah ini, kita berdua yang akan membusuk di sel! Ayo bergerak sekarang!"

Hendra menelan ludahnya yang terasa pahit. Ia mengancingkan jaket tebalnya dengan terburu-buru, lalu menyampirkan tas ransel di bahunya.

"K-mobil... kita pakai mobilku yang di garasi?" tanya Hendra pelan saat melangkah menuju pintu belakang.

"Jangan gila, Tuan!" jawab Bayu menggeleng cepat. "Mobil Tuan sudah pasti dilacak plat nomornya. Kita naik taksi umum dari jalan raya luar, lalu berganti-ganti angkutan ke luar kota."

Hendra mengangguk pasrah, melangkah terseok-seok mengikuti asistennya menerobos pintu belakang rumah. Rasa percaya dirinya sebagai pria berkuasa luntur total, digantikan oleh ketakutan membara atas bayang-bayang amarah Gabriel yang siap memburu ke mana pun ia melangkah.

1
Rahmat
ayah dan ibu tiri lucknat masih gak nyadar y di penjara baru tau rass ciuh😠
Rahmat
bahagiax jd istri moga sukses ritualx🤭
Rahmat
lanjut thor
Rahmat
saking traumax sering dpt kekerasan fisik dan hinaan mpai suarax pun tdk kedengaran
Rahmat
lanjut thour ceritax bagus
Iffanaya 😽
belum sah ya Gabriel udah di klaim jd istri 🤣🤣
Soraya
lanjut
Fitria Syafei
semangat KK 👌 KK cantik kereen 😍 kereen 😍
Soraya
mampir thor lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!