Sejak bangku taman kanak-kanak, sekolah dasar, menengah, hingga ruang kuliah, mereka selalu dipertemukan, seolah takdir tak ingin memisahkan langkah keduanya. Namun perbedaan watak dan sifat menjadikan mereka dua kutub yang selalu berlawanan, sering berselisih paham atas hal-hal kecil, dan saling memandang dengan dingin. Kini, dua jiwa yang dulu saling menjauh dan penuh pertikaian, terpaksa disatukan dalam satu ikatan pernikahan. Di atas janji yang tertulis di atas kertas, tersembunyi sebuah tanya besar: mungkinkah benci yang lama terjalin perlahan meleleh, berubah menjadi rasa cinta yang tumbuh diam-diam di tengah perbedaan dan perselisihan yang selama ini ada di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Vira yang Mulai Merindu
Hari yang ditunggu itu akhirnya tiba juga. Farzhan harus berangkat ke luar negeri untuk keperluan bisnis yang mendesak, sebuah perjalanan kerja yang memakan waktu cukup lama, tepatnya satu minggu penuh.
Ini adalah pertama kalinya mereka harus berpisah sejauh dan selama ini sejak tinggal satu atap di rumah yang sama. Selama ini, mereka bertemu dan saling menatap wajah setiap hari — saat sarapan di meja makan, saat berpapasan di koridor, hingga saat duduk diam di ruang tengah. Kehadiran satu sama lain sudah menjadi hal yang biasa, seperti udara yang terhirup setiap saat.
Namun sekarang, segalanya akan berubah sepenuhnya.
Malam sebelum keberangkatan, suasana di ruang tengah terasa hangat namun diliputi keheningan yang berat. Farzhan sibuk berdiri di dekat lemari, memeriksa kembali isi koper dan berkas-berkas penting yang akan dibawanya. Di sofa yang tidak jauh dari sana, Vira duduk diam, matanya tak lepas mengamati punggung lebar dan tegap suaminya itu. Di dalam dadanya, ada rasa berat yang mengganjal, perasaan aneh yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
"Besok subuh aku berangkat jam lima. Pesawatnya jadwal berangkatnya sangat pagi," kata Farzhan memecah keheningan, namun ia tidak menoleh sedikit pun, masih fokus melipat pakaian.
"Oh... baik," jawab Vira pelan, suaranya hampir hilang tertelan suasana malam.
"Koper isinya sudah lengkap semua kan? Jangan sampai ada barang yang tertinggal. Jangan lupa bawa baju yang cukup tebal, ya. Di sana masuk musim dingin, katanya suhunya sangat rendah."
Farzhan berhenti bergerak sejenak, lalu perlahan menoleh ke arah istrinya. Wajahnya masih datar dan tenang seperti biasanya, namun di balik tatapan matanya yang tajam, terselip kelembutan yang mendalam.
"Sudah lengkap semua, tidak ada yang tertinggal. Kamu di rumah... jaga dirimu baik-baik ya. Kunci semua pintu dan jendela dengan rapat. Jangan sembarangan membuka pintu untuk orang yang tidak dikenal. Makanlah dengan teratur, jangan hanya makan mi instan saja terus-menerus."
"Iya... aku tahu kok," jawab Vira sambil mengangguk pelan, tangannya sibuk memainkan ujung jari sendiri karena gugup. "Kamu juga harus hati-hati di sana ya. Jangan memaksakan diri bekerja terlalu keras. Dan ingat, sisakan waktu untuk istirahat."
Farzhan berjalan mendekat, lalu berdiri tepat di hadapan Vira. Ia mengulurkan tangan besarnya, menyentuh puncak kepala istrinya dengan lembut, lalu mengusap rambut itu perlahan dengan gerakan yang penuh kasih sayang.
"Aku pergi hanya seminggu saja. Waktu berputar sangat cepat, tidak akan terasa."
"Iya..."
"Jangan terlalu kangen aku ya," godanya pelan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang khas.
"SIAPA YANG KANGEN SAMA KAMU! Mimpi saja kamu!" Vira langsung mendongak, lalu memukul lengan Farzhan dengan sangat pelan, wajahnya seketika memerah padam menahan malu. "Pergi saja sana! Aku malah senang sekali, akhirnya bisa bebas dan tenang tanpa ada yang mengatur-ngatur terus!"
Farzhan tertawa kecil melihat tingkah laku istrinya. "Baiklah, baiklah. Sudah malam, aku masuk kamar dulu ya. Besok aku berangkat pagi-pagi sekali, mungkin kamu masih tertidur lelap, jadi aku tidak akan membangunkanmu untuk pamit."
"Oalah... begitu..."
Malam itu, Vira tidur dengan perasaan yang campur aduk. Ada sedikit rasa lega karena merasa akan bebas melakukan apa saja tanpa diawasi, namun perlahan, rasa sepi dan kekosongan mulai menyelinap masuk ke dalam hatinya.
Keesokan harinya, saat Vira terbangun dan keluar kamar menjelang siang, rumah itu terasa... sangat besar, sangat luas, dan sangat sunyi senyap.
Ia berjalan melangkah ke meja makan. Kosong. Tidak ada sosok Farzhan yang duduk serius membaca koran sambil menyesap kopi hitamnya.
Ia menoleh ke arah ruang kerja. Pintu tertutup rapat dan gelap, seolah ruangan itu sudah lama tidak disentuh siapa pun.
"Hah... benar-benar sudah pergi dia," gumam Vira pelan sendirian, suaranya menggema di ruangan kosong.
Awalnya, rasanya memang menyenangkan dan terasa bebas. Vira bisa menonton televisi dengan suara sekeras-kerasnya, bisa makan sambil duduk bersila di depan layar, bisa bernyanyi dengan suara kencang, dan bergerak ke sana kemari tanpa takut dimarahi karena berisik atau ceroboh.
"Taraaa! Bebas! Akhirnya damai sejahtera!" serunya riang sambil melompat-lompat kecil di ruang tamu yang luas.
Namun... saat hari mulai berganti menjadi malam, suasana berubah drastis.
Ketika kegelapan mulai menyelimuti luar jendela, rumah besar itu tiba-tiba terasa mencekam, dingin, dan sangat sepi. Hanya terdengar suara detak jam dinding dan desah angin malam yang berhembus pelan. Vira duduk meringkuk di sofa, memeluk erat bantal guling kesayangannya.
Kring... kring...
Telepon genggamnya berdering. Nama Zhan ❤️ tertera jelas di layar yang menyala.
Jantung Vira langsung berdegup kencang tanpa alasan yang jelas. Ia buru-buru menyambar ponsel itu dan mengangkatnya dengan cepat.
"Halo?"
"Vira, ini aku. Aku sudah sampai di hotel dengan selamat," suara Farzhan terdengar dari seberang, sedikit pecah karena jarak dan sinyal, namun tetap terdengar berat, dalam, dan sangat khas.
"Ya Allah! Alhamdulillah sampai dengan selamat! Penerbangannya lancar kan? Tidak ada kendala apa-apa?" tanya Vira antusias, nadanya otomatis berubah menjadi sangat lembut dan penuh perhatian.
"Lancar saja. Tapi cuaca di sini dingin sekali, rasanya sampai menusuk tulang. Kamu di rumah bagaimana? Aman dan nyaman kan?"
"Aman dong! Kamu tahu kan aku pandai mengurus diri sendiri. Kamu jangan lupa makan yang enak dan bergizi ya di sana!"
"Iya, nanti kalau aku ingat. Sudah malam sekali di sana, sebaiknya kamu cepat istirahat. Selamat malam."
"Selamat malam juga, Zhan..."
Sambungan telepon pun terputus.
Vira masih menatap layar ponselnya yang sudah kembali gelap. Ia menyentuh layar itu perlahan dengan jari telunjuknya, lalu tersenyum-senyum sendiri sendirian di tengah ruangan.
"Hanya mengobrol sebentar saja... tapi kenapa rasanya hati jadi sangat tenang dan damai hanya karena mendengar suaranya," batinnya berbunga-bunga, rasa senang itu menular ke seluruh tubuh.
Hari demi hari pun berlalu. Sudah empat hari sejak Farzhan meninggalkan rumah.
Kebiasaan baru Vira kini adalah menunggu setiap malam — menunggu pesan masuk atau telepon singkat dari suaminya. Walaupun percakapan mereka selalu singkat saja, hanya sekadar bertanya "sudah makan?", "sedang melakukan apa?", atau "bagaimana cuaca di sana?", hal kecil itu saja sudah cukup membuat Vira tersenyum lebar sepanjang malam.
Namun, lama-kelamaan, rasa "senang dan bebas" yang dirasakan di awal itu perlahan-lahan berubah dan berganti menjadi rasa SEPI yang menyakitkan.
Vira mulai merasakan banyak hal aneh pada dirinya sendiri.
Saat sedang memasak di dapur, ia tanpa sadar selalu menyiapkan piring dan gelas untuk dua orang.
Saat melihat sesuatu yang lucu, unik, atau aneh di televisi maupun di halaman rumah, refleks bibirnya ingin berteriak memanggil, "Zhan! Lihat nih, lucu sekali lho!", namun ia baru sadar sekejap kemudian bahwa suaminya tidak ada di sana untuk diajak berbagi tawa.
Saat duduk di ruang tengah yang besar itu, sofa terasa terlalu lebar dan kosong, serta suhu ruangan terasa terlalu dingin tanpa kehadiran "penghangat alami" yang bernama Farzhan.
Malam itu, hujan turun kembali dengan sangat deras, membasahi seluruh kota dan membuat suasana semakin kelam. Vira duduk diam di dekat jendela kamar, menatap butiran-butiran air yang mengalir turun di kaca jendela.
Rasanya hampa.
Rasanya ada sesuatu yang hilang, ada bagian yang kurang sekali dalam hidupnya.
"Aku kenapa sih?" gumam Vira pelan, matanya menerawang jauh ke kegelapan di luar sana. "Dulu kan aku sering sekali berharap dia pergi atau jarang ada di rumah. Biar aku tenang, biar aku bebas. Tapi sekarang... kenapa rasanya dada ini terasa sesak dan berat sekali ya?"
Di dalam benaknya, ia mulai mengingat-ingat wajah dan segala tingkah Farzhan.
Teringat saat Farzhan marah-marah tapi sebenarnya tujuannya hanya ingin melindungi dan peduli.
Teringat tatapan matanya yang tajam dan dingin itu, yang ternyata menyimpan rasa sayang yang meluap-luap.
Teringat suara bicaranya yang serak, tawanya yang jarang tapi berkesan, hingga cara jalannya yang tegap dan gagah itu.
Dan tepat saat itu, sebuah kesadaran besar dan nyata menghantam hati dan pikiran Vira.
Jadi... inilah rasanya... RINDU.
Ia merindukan suaminya.
Ia merindukan sosok laki-laki yang galak, dingin, tegas, tapi sebenarnya sangat lembut dan penuh perhatian itu.
Mulutnya mungkin sering membantah, sering bilang "ah biasa saja", atau "tidak ada yang kurang", tapi hatinya sudah meronta-ronta sejak lama, ingin segera bertemu kembali.
"Ya Allah... aku kangen dia," bisik Vira lirih, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya dan jatuh menetes perlahan. "Kangen sekali rasanya. Padahal baru berpisah beberapa hari saja, tapi rasanya sudah seperti satu tahun lamanya."
Vira memeluk kedua lututnya sendiri yang ditekuk di dada. Ia sadar betul sekarang. Kehadiran Farzhan sudah menjadi bagian yang paling penting dan tak terpisahkan dari hidupnya. Rumah sebesar, semewah, dan senyaman apa pun ini, tidak akan pernah terasa seperti sebuah "rumah" yang sesungguhnya, jika tidak ada sosok Farzhan Ibrahim di dalamnya.
"Pulanglah lebih cepat ya, Zhan... aku menunggu kamu di sini," bisiknya pelan pada heningnya malam, sambil memeluk dirinya sendiri berharap rasa rindu itu segera berakhir.