NovelToon NovelToon
Sang Antagonis Cantik

Sang Antagonis Cantik

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Ketos
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Sunflower_Rose

Kata orang, dia manipulatif. Jahat. Perusak.
Katanya, dia menghancurkan cinta dan kepercayaan dari dua lelaki yang tulus padanya.
Dia dituduh memecah tiga bersaudara.
Dibilang merusak hubungan orang lain tanpa rasa bersalah.

Tapi hanya dia yang tahu bagaimana rasanya menjadi Bianca.
Tak seorang pun benar-benar paham bagaimana luka, keadaan, dan dunia yang kejam perlahan membentuknya menjadi seorang antagonis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sunflower_Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 13

Suasana kantin yang tadi sempat tegang perlahan mulai kembali tenang, meski bisikan-bisikan samar masih terdengar di kejauhan persis seperti dengungan lebah yang belum benar-benar pergi. Kiyo masih saja memperhatikan Bianca yang sedang mengunyah dimsum dengan pipi yang sedikit menggembung, pemandangan yang menurutnya jauh lebih menarik dan menyenangkan dibandingkan materi biologi apa pun yang pernah ia pelajari selama ini.

"Bi," panggil Kiyo pelan. Nada bicaranya kini terdengar jauh lebih lembut, sangat berbeda dan kontras dengan suara kerasnya beberapa menit lalu yang sempat membuat seisi kantin terdiam dan takut.

Bianca menelan makanannya lalu mendongak, menatap Kiyo dengan sorot mata yang terlihat polos dan lugu. "Iya, Kak?"

"Nanti pulang sekolah, kita bahas kerangka tugasnya jangan di perpus ya? Gue bosen di sana, auranya bikin ngantuk, belum lagi penjaganya galak kalau ada yang berisik dikit," ujar Kiyo sambil mengaduk jus jeruknya perlahan. "Kita ke cafe depan kompleks perumahan gue aja. Namanya The Gading's Lounge. Tempatnya lebih privat, kopinya juga oke banget buat nemenin nugas."

Bianca terdiam sejenak mendengar nama tempat itu. 'The Gading's Lounge? Itu kan tempat nongkrong mewah yang biasa dipakai para pejabat atau pengusaha buat pertemuan penting. Kiyo ini emang sengaja mau pamer atau memang cuma tau tempat mahal aja ya?' batinnya dengan nada sinis, namun di wajahnya tetap terlukis ekspresi ragu yang terlihat sangat wajar dan meyakinkan.

"Eh, apa nggak kemahalan di sana, Kak? Di perpus kan gratis, lagian aku nggak enak kalau Kakak bayarin terus," jawab Bianca dengan suara yang sengaja diperhalus dan diperkecil, memperkuat citra dirinya sebagai gadis penerima beasiswa yang sangat berhati-hati dalam mengeluarkan uang.

Kiyo terkekeh mendengar jawaban itu, lalu tangannya bergerak mengacak puncak kepala Bianca dengan gemas. Tindakan sederhana itu kembali memicu bisikan-bisikan baru dari siswa-siswa yang duduk di meja sekitar mereka. "Udah gue bilang kan, jangan mikirin soal duit kalau lagi sama gue. Lo cukup bawa otak lo dan fokus ke tugas—dan fokus ke gue juga boleh sih."

Bianca pura-pura tersipu malu lalu menundukkan kepala, berusaha menyembunyikan kilatan matanya yang tajam dan penuh perhitungan. "Ya sudah, kalau Kak Kiyo yang minta. Jam berapa kita berangkat?"

"Langsung setelah bel pulang. Gue tunggu di parkiran depan, jangan kabur lo ya," goda Kiyo dengan kerlingan mata yang sukses membuat Bianca makin ingin segera menyelesaikan seluruh misinya secepat mungkin.

Sore harinya, mobil sport berwarna hitam milik Kiyo sudah terparkir rapi di depan cafe The Gading's Lounge. Di dalam, suasana terasa sangat tenang dan eksklusif, berpadu dengan aroma biji kopi yang baru saja digiling serta alunan musik jazz yang mengalun pelan. Mereka memilih meja di sudut ruangan yang agak tersembunyi dan jauh dari jendela besar, supaya tidak terlalu menjadi perhatian orang-orang yang lalu lalang di luar maupun pengunjung lain.

"Lo mau pesen apa? Caramel Macchiato di sini juara," tawar Kiyo sambil membuka buku paket biologinya di atas meja.

"Aku cokelat hangat saja, Kak. Lagi nggak pengen kopi," jawab Bianca dengan nada lembut.

Setelah pesanan mereka datang, keduanya mulai sibuk dengan buku dan catatan masing-masing. Kiyo sesekali menjelaskan bagian materi yang sulit dengan bahasa sederhana dan mudah dimengerti, sementara Bianca berakting seolah sedang berjuang keras memahami penjelasan itu, padahal sebenarnya ia sudah hafal dan paham betul materi tersebut bahkan sebelum guru menjelaskannya di kelas.

"Lo pinter ya, Bi. Gue cuma jelasin sekali lo langsung nyambung," puji Kiyo dengan tulus, matanya tak lepas menatap wajah Bianca yang tampak serius mencatat hal-hal penting.

"Karena Kak Kiyo jelasinnya enak. Kalau di kelas aku sering nggak fokus karena suasananya berisik," jawab Bianca memberikan alasan yang terdengar sangat masuk akal.

Di tengah diskusi yang mulai melambat, Kiyo tiba-tiba meletakkan pulpennya ke atas meja. Ia menatap Bianca dengan pandangan yang sangat dalam dan serius, membuat Bianca seketika meningkatkan kewaspadaannya ke tingkat tertinggi.

"Bi, gue mau jujur soal sesuatu. Dan ini bukan soal tugas biologi kita," ucap Kiyo dengan nada yang agak berat. Suaranya terdengar sedikit serak, menunjukkan adanya rasa gugup yang berusaha ia sembunyikan sekuat tenaga.

'Sial, apa dia mulai curiga sama gue? Jangan sampai dia nanyain soal keberadaan gue di sayap kiri rumahnya waktu itu ya,' batin Bianca yang mulai waspada. Di bawah meja, tangannya diam-diam meremas ujung rok yang ia pakai.

"Jujur soal apa, Kak?"

Kiyo menarik napas panjang lalu mengembuskannya perlahan, matanya menatap tepat ke dalam mata Bianca. "Gue tahu ini mungkin kedengeran terlalu cepet. Kita baru kenal sebentar, dan pertemuan kita juga diawali sama kejadian yang nggak enak. Tapi... gue nggak bisa nahan perasaan ini lebih lama lagi."

Kiyo berhenti sejenak, lalu meraih tangan Bianca yang ada di atas meja dan menggenggamnya dengan lembut namun erat. "Gue jatuh cinta sama lo, Bi. Gue serius. Sejak hari pertama gue bawa lo ke rumah, gue ngerasa hidup gue yang ngebosenin ini jadi beda. Gue pengen jadi orang yang selalu ada buat jagain lo."

Bianca tersentak kaget. Matanya membelalak lebar, dan kali ini rasa terkejutnya itu murni kenyataan, bukan lagi akting. Ia sama sekali tidak menyangka Kiyo akan mengungkapkan perasaannya secepat ini, di sebuah kafe, dan di tengah pembahasan tugas kelompok.

'Hah? Dia beneran nembak gue sekarang? Gila, secepat ini kah dia masuk ke dalam rencana yang gue susun?' batin Bianca yang tertegun tak bisa berkata-kata. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena rasa suka, melainkan karena ia sadar rencananya berjalan jauh lebih cepat dan mulus daripada perkiraan semula.

"Kak Kiyo... aku..." Bianca terbata-bata. Ia menatap genggaman tangan Kiyo, lalu beralih menatap wajah cowok itu yang penuh harap. "Aku... aku bener-bener terkejut. Aku nggak tau harus ngomong apa."

"Gue nggak maksa lo buat jawab sekarang, Bi," potong Kiyo cepat, seolah ia bisa membaca kegelisahan yang terlihat jelas di wajah gadis itu. "Gue cuma pengen lo tau gimana perasaan gue yang sebenernya. Gue paham kalau lo butuh waktu. Gue bakal nunggu sampe lo siap."

Bianca menundukkan wajah, berusaha mengatur napas dan menenangkan dirinya. "Maafin aku, Kak. Aku... aku belum bisa kasih jawaban sekarang. Semuanya kerasa mendadak banget buat aku."

Kiyo tersenyum tipis, meski terlihat ada sedikit kekecewaan di balik sorot matanya, ia tetap berusaha tampil tegar dan tenang. "Nggak apa-apa, Bi. Gue ngerti kok. Yang penting sekarang lo udah tau gimana posisi gue."

Suasana di antara mereka setelah pengakuan itu terasa sedikit canggung, namun Kiyo berusaha mencairkan kembali dengan kembali membahas materi pelajaran selama beberapa menit, sebelum akhirnya mereka sepakat untuk mengakhiri pertemuan sore itu dan pulang.

Di dalam mobil sport hitamnya, Kiyo melajukan kendaraan dengan tenang menuju kompleks apartemen tempat Bianca tinggal. Sepanjang perjalanan, Bianca lebih banyak diam dan menatap ke luar jendela, pikirannya sibuk memikirkan langkah apa yang harus diambil selanjutnya.

'Kiyo jatuh cinta sama gue. Ini adalah senjata yang sangat hebat, tapi sekaligus beban yang berat juga. Kalau gue salah langkah sedikit saja, perasaan tulus dia itu bisa berubah jadi bumerang yang berbahaya buat diri gue sendiri,' pikir Bianca dalam hati dengan perhitungan yang matang.

Sesampainya di lobi gedung apartemen, Bianca melepas sabuk pengamannya. "Makasih ya, Kak, buat makan siang dan es cokelatnya. Dan... makasih juga buat kejujuran Kakak tadi."

Kiyo mengangguk pelan sambil tersenyum ramah, tatapannya kembali terlihat tulus dan hangat. "Istirahat yang cukup, Bi. Jangan terlalu banyak pikiran. Besok gue jemput lagi kayak biasa, ya?"

"Iya, Kak. Hati-hati di jalan."

Bianca turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam gedung tanpa menoleh ke belakang lagi. Begitu pintu lift tertutup rapat, ia menyandarkan punggung dan kepalanya ke dinding besi yang dingin itu.

"Secepat itu ya, Kiyo?" bisiknya pelan pada diri sendiri. "Lo beneran mau menyerahkan seluruh hati lo ke orang yang justru datang cuma buat ngancurin hidup lo dan keluarga lo."

Bianca tersenyum miring saat lantai demi lantai dilewati lift menuju ke atas. Baginya, pengakuan Kiyo sore ini bukanlah awal dari sebuah kisah cinta, melainkan tanda pasti bahwa bidak catur terkuat dari pihak keluarga Anderson kini sudah sepenuhnya berada di bawah kendalinya.

1
Tab Adrian
nexttt lahhh... aku kasian sma semuanyaaa
Tab Adrian
dag dig duggg antara apa nihhhh🔥🔥
Tab Adrian
biii.. bales dendam itu sakitt lohhh.. 🥺😐
Tab Adrian
kerasaa bgt centill nya si tuan putri Anderson ituu
Tab Adrian
nyesekk.. semuanya nyesekk.. jiejie ini kalok bikin cerita gk pernah gagal.. selalu bisa bikin pembacaannya masuk ke dalam ceritaaa😍😍😍
Tab Adrian
banyak bgt ya, peluang Bianca buat hancurin keluarga itu
Tab Adrian
jdi semuanya nyakittttt😭
Tab Adrian
😍sakit bgt jdi Bianca banyak beban yg dy tanggung.. pdhl dy cuma pengen bebas hidup kyk remaja biasa pada umumnya tanpa memikirkan dendam dendam dn dendam.. tp aku juga pendendam sihh😅
Tab Adrian
hati hati bi..
Tab Adrian
tuan muda Anderson yg malang ututuru~
Tab Adrian
klok kiyo tau kebenarannya akankah dy terus berjuang demi cintanya atau malah milih untuk berperang
paijo londo
kurang ajar si Jo itu membuat trauma dan dendam banget ayo bec ancurin si Jon tor itu
Reva Reva nia wirlyana putri
wihhh udh lanjut
Reva Reva nia wirlyana putri
bagus kaliii
Reva Reva nia wirlyana putri
kasian biancaaa
Reva Reva nia wirlyana putri
joy tukeran tempet tok atau enggak kan cjm yg jadi pemeran joy, joy nya jdi cwo aja biar pasangan nya sama aku🤭
Reva Reva nia wirlyana putri
agak kasihan sama joy
Kalief Handaru
baru kali ini baca mlnya antagonis khusus ngancurin musuh👍👍 damage banget jos jis
Kalief Handaru
mampir thor kyaknya seru nih
Awe Jaya
lanjut jie
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!