Black Rose julukannya, ada tatto mawar hitam di punggungnya. Dia agen rahasia XpostOne 06 yang paling ditakuti. Sepak terjangnya terdengar sampai belahan dunia. menyamar sebagai jurnalis dan presenter hot news di sebuah televisi swasta milik ayahnya.
Kini ia ditugaskan untuk menangkap seorang pemb*nuh bayaran yang lari ke luar negeri. Konon pemb*nuh ini sangat licik dan dilindungi oleh sindikat bawah tanah.
Mampukah dia menangkap pemb*nuh itu atau dia malah terb*nuh?
*****
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.07. ASRAM GURU BIMA.
Sepanjang jalan menuju asram Bima Arya, tidak terdengar suara dari mulut Edoardo dan bodyguardnya. Ntah apa yang terjadi, apa bodyguard itu merasa Edoardo terlalu gegabah membiarkan Qai ikut ke asram.
Sampai di asram, Qai di sambut seorang pelayan dan di arahkan menuju ruang belakang. Ia melirik dengan ujung matanya kemana Edoardo dan pria itu pergi.
Rupanya disini banyak ruangan dan kamar kosong. Tidak sesuai ekspetasi, dalam perkiraannya disini akan ramai turis asing melakukan yoga semadi.
"Mari nona, saya akan tunjukin tempatnya." ucap pelayan itu ramah membuyarkan lamunannya.
Qai mengibaskan rambutnya pura-pura gerah. Wajahnya mendongak, matanya jeli melihat ada cctv tersembunyi, rupanya ia di awasi. Pasti bodyguard itu sedang sibuk mengawasinya.
"Kenapa sepi, katanya disini tempat beryoga dan pengobatan alternatif."
"Kegiatan Guru Bima dihentikan untuk sementara waktu. karena nona memaksa datang kesini, saya izinkan untuk istirahat beberapa hari disini.
"Trimakasih, Guru Bimanya ada dimana? Boleh aku bertemu?"
"Tidak boleh nona, beliau sedang tirakat dan menjalankan puasa ngebleng."
"Oh begitu...padahal aku ingin berobat...."
"Jangan khawatir nona, ada orang lain yang akan mengobati nona."
"Aku tunggu orangnya." ucap Qai waspada.
Rupanya ia di sandra secara halus, pria itu ingin menahannya, mungkin bodyguard itu tahu ada penyusup atau mereka punya maksud lain. Misalnya Edoardo ingin memakainya, tapi kalau itu keinginannya ajalnya berarti sudah dekat.
"Aku mendengar ada suara air terjun."
"Saya antarkan nona kesana.."
Qai mengikuti pelayan itu menuruni tangga menuju ke belakang. Ia takjub dengan pemandangan disini yang sangat indah. Ada taman bunga dan buah, yang lebih memukau ada air terjun.
Pantas saja di google, asram Bina Arya ratingnya lima, begitu indah seperti di surga, tidak bisa di lukiskan dengan kata-kata.
"Nona boleh tinggal disini sesuka hati, setelah sembuh boleh pergi."
"Apakah disini ada kamar untuk ku?"
"Ada nona, saya antarkan, tapi ada larangan. Nona tidak boleh berkeliaran kecuali dipanggil untuk melakukan yoga dan pijat. Kalau mau keluar belanja bisa di antar."
"Oke tidak masalah, aku tidak selera untuk keluar, aku fokus ingin sembuh."
"Kalau mau mandi di air terjun apa boleh?"
"Setiap hari boleh asal jaga kebersihan, asal jangan air terjun di samping karena disitu banyak ularnya."
"Samping mana, apa.jauh dari sini?"
"Sedikit jauh dan kalau kesana sangat berbahaya."
"Aku faham. Bagaimana makanannya, berapa aku harus bayar?"
"Di total di akhir, tapi Guru Bima berpesan kalau sebulan ini gratis karena beliau sedekah..."
Qai mengangguk setuju berharap misi dan penyamarannya berjalan lancar. Ia kemudian masuk ke kamar yang sudah di siapkan.
Suara alarm dari TSC yang terpasang di bajunya, menyerupai kancing baju, bergetar hebat. Qai tahu bahwa kamar ini di awasi, ada cctvnya lebih dari satu. Ia tahu kalau bodyguardnya Edoardo pasti bukan orang sembarangan.
Ia pura-pura tidak tahu dan melakukan aktivitas seperti biasa. Hari ini ia harus pergunakan dengan baik.
Dengan gaya santai ia membuka topi, kaca mata, jaket, masker dan melempar ke sofa. Kini tinggal baju dan celana panjang, ia lalu membuka perlahan dan tersisa bra dan cel*na dalam. Sanggupkah pria itu melanjutkan melihat cctv?
Edoardo dan bodyguardnya menelan salivanya, jakunnya naik turun.
"Ternyata gadis itu good looking." ucap Edoardo menggeser tempat duduknya.
Ia anak seorang menteri yang dimanja, setiap saat bisa memanggil wanita, uang tidak berarti. Semenjak ia kesandung masalah dan menjadi tahanan kota ia tidak bisa lagi dugem dan menyentuh wanita. Tentu saja tersiksa.
Apalagi ada orang tertentu yang ingin memb*nuhnya, untunglah orang tuanya menyewa bodyguard yang paling sadis dari luar negeri, jiwanya bisa selamat dari beberapa kali pemb*nuhan.
"Aku ingin tidur dengannya." ucap Edoardo matanya tidak lepas dari body goals Qai.
"Tidak segampang itu bos, wanita itu hanya pura-pura ia pasti mengincar ny*wa bos."
"Ngapain takut, ada kau yang menjagaku. Lagian seorang wanita, tinggal dikasi obat per*ngsang beres sudah."
"Jangan menambah masalah, kita tidak tahu identitas gadis itu. Aku sarankan supaya bos mengurungkan niatnya."
"Kau payah, aku naksir gadis itu." ucap Edoardo berdiri. Dengan entengnya ia membuka dompet dan melempar black card ke hadapan bodyguardnya.
"Ambil itu ada satu miliar, malam ini aku ingin gadis itu, dia pantas jadi istriku."
Rahang pria itu mengeras, ia tidak menyangka pemuda br*ngsek ini begitu sombong.
Melempar black card cuma isi satu miliar sudah merasa kaya, jika pemuda ini tahu siapa bodyguardnya mungkin ia akan berlutut.
****