Bai Ren, transmigrator dari Bumi, dipindahkan ke dalam dunia novel beladiri yang penuh dengan para kultivator.
Di dunia yang asing namun familiar itu, Bai Ren diberikan misi untuk membangun sekte terkuat dengan cara membual.
[Ding!!]
[Hadiah penyelesaian tiba!]
[Satu bualan Anda akan dikonversi menjadi kenyataan!]
Apa yang akan kamu lakukan jika bualanmu menjadi kenyataan?
Tentu saja, aku akan semakin rajin membual!
Semakin banyak membual, semakin kuat jadinya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fat Kitten, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 : Keluarga Jiang (6)
Saat seremoni kedatangan keluarga Jiang di kediaman Keluarga Sun sedang berlangsung, seorang pria muda datang mengetuk pintu tanpa diundang.
"Siapa kau?! Beraninya kau mengganggu acara keluarga Sun-ku!"
Salah seorang tetua keluarga Sun turun tangan langsung menghalau pria muda tersebut.
Namun nahas...
*Bang!!
Hanya dalam satu tendangan, tetua itu terlempar jauh menabrak dinding dan langsung tak sadarkan diri. Tubuhnya penuh luka yang membutuhkan perawatan medis segera.
"Berani sekali orang yang mau mati menghalangi jalan Tuan mudaku!"
Kali ini, giliran seorang pria berbadan kekar yang mengucapkan kalimatnya.
Kericuhan yang terjadi di depan pintu, menarik perhatian semua orang, tak terkecuali dua orang yang akan segera bertunangan di hari itu.
Ketika semua orang bertanya-tanya siapa pihak yang berani mengacau di acara besar dua keluarga terpandang di Ibukota, salah seorang warga yang menyaksikan dari jauh, berteriak.
"B-Bukankah itu Wu Gou?! Tuan muda dari Heaven Splitting Sect!!"
Teriakan orang itu menyebabkan gemuruh, baik di kerumunan warga maupun di dalam kediaman keluarga Sun.
'Mengapa orang dari sekte itu ada di sini sekarang?'
Semua orang memiliki pertanyaan yang sama dalam benak mereka.
Meskipun acara pertunangan ini dilangsungkan secara meriah, tapi baik keluarga Jiang maupun keluarga Sun sama-sama tidak mengundang tamu dari sekte mana pun.
Namun di depan mata mereka semua, rombongan yang dikatakan berasal dari sekte terkuat dari lima sekte besar Kekaisaran, hadir dengan penuh arogansi.
Tidak hanya datang tanpa diundang, mereka juga berani menggerakkan tangan pada salah satu tetua keluarga Sun, jelas ini adalah tamparan di wajah bagi tuan rumah.
Pada saat itu, Patriark keluarga Sun muncul.
"Aku tidak mengingat pernah mengundang kalian dalam perjamuan keluargaku. Jadi, bisakah kalian jelaskan apa maksud kedatangan kalian kemari?"
Di hadapan tuan muda tersebut, Patriark keluarga Sun sama sekali tidak memberi salam ataupun menunjukkan penghormatan seolah ia sedang menghadapi anak nakal yang menerobos masuk ke rumahnya.
"Hehe, seorang patriark keluarga belaka berani tidak menunjukkan rasa hormat pada Tuan mudaku?!"
Pria kekar tadi tiba-tiba membocorkan auranya dan tekanan pun menyebar ke sekitarnya.
Menghadapi tekanan tersebut, banyak orang tidak mampu bernapas apalagi bergerak, seolah leher mereka tercekik dan tubuh mereka terikat.
Tapi tak berselang lama dari itu, Patriark keluarga Sun juga turut mengeluarkan auranya yang tak kalah hebatnya dengan pria kekar yang dihadapinya.
Benturan aura kedua orang itu berhasil menetralkan aura masing-masing dan membuyarkan tekanan yang menekan semua orang yang hadir.
Pria kekar itu mempertahankan senyumannya meski tubuh bagian dalamnya bergetar efek dari benturan tadi.
Hal yang sama juga terjadi pada Patriark keluarga Sun.
''Orang ini kuat!!'"
Dalam hati, keduanya sama-sama mengakui kekuatan lawan masing-masing.
Menilai bahwa tidak mungkin untuk mengacau lebih jauh lagi atau konsekuensinya akan tidak terduga, Wu Gou yang menyaksikan semuanya dari belakang, maju sambil menggulung lengan bajunya.
"Hahaha! Maaf karena bawahanku bersikap tidak sopan!"
Mata Patriark keluarga Sun mengkerut ketika ia mendengar pria muda itu menyebut orang yang mampu berdiri sejajar dengannya sebagai bawahannya.
Baginya, di penjuru Kekaisaran ini hanya ada sedikit orang yang mampu mengimbanginya, dan masing-masing dari mereka memiliki reputasi dan posisi yang tinggi, yang layak untuk dihormati.
Namun orang seperti itu dianggap sebagai bawahan?
Patriark keluarga Sun mencium ada sesuatu yang tak asin dengan latar belakang pemuda di depannya itu.
"Maaf juga jika bawahanku ini melukai salah satu orangmu, lagi pula kami tidak menyangka jika dia selemah itu karena faktor usia, padahal kami hanya ingin menakutinya."
Kata-kata pemuda itu penuh dengan sarkasme meski disampaikan dengan nada yang begitu bersahabat.
Hal ini membuat otot di wajah patriark keluarga Sun menegang.
Ketika Patriark keluarga Sun hendak mengeluarkan auranya lagi, sebuah suara terucap.
"Jika kau berani menyentuh anak ini, maka aku akan menghapus seluruh keluargamu dari tanah ini."
Ucapan itu dikeluarkan dengan nada rendah, tapi berat dari ucapannya begitu mencekik hingga Patriark keluarga Sun mau tak mau menatap ke arah di mana suara itu berasal.
Di atas kediaman keluarga Sun, seorang pria tua dengan pakaian serba putih dan pedang di pelukannya, melayang dan menatap tajam ke bawah seperti ia sedang melihat semut yang ingin diinjaknya.
Dengan banyaknya pengalaman tempur di medan perang, mudah bagi Patriark keluarga Sun menebak kekuatan dari pria tua yang melayang itu.
"Martial Soul..."
Menghadapi satu orang dengan kekuatan yang sama adalah satu hal, namun kini muncul seorang monster lagi entah dari mana.
Pikiran Patriark keluarga Sun bergejolak memikirkan peristiwa apa yang akan terjadi hari ini.
"Mari kita singkirkan basa-basi yang tak perlu itu. Sekarang katakan padaku, apa maksud kedatangan kalian kemari?"
Di bawah tekanan kehadiran seorang Martial Soul, Patriark keluarga Sun tetap menunjukkan kewibawaannya, seolah ia sama sekali tidak terganggu oleh orang yang jauh lebih kuat darinya itu.
Mengamati ini semua, Wu Gou tersenyum puas seakan-akan ia sedang melakukan penilaian kepada Patriark keluarga Sun.
"Tujuanku datang ke sini sama dengan bocah yang duduk di sana itu."
Wu Gou menunjuk Jiang Diyi yang duduk bersama Sun Meili di kejauhan.
Mendengar perkataan Wu Gou, semua orang langsung memahami apa yang diincar olehnya.
"Aku menginginkan anakmu, Sun Meili, sebagai wanitaku!"
Sebuah pernyataan tegas dilontarkan oleh Wu Gou tanpa memandang di mana ia sedang berdiri saat ini.
Secara terang-terangan ingin merebut wanita orang lain tepat di hari pertunangan mereka, jelas membutuhkan nyali yang sangat besar untuk melakukannya.
Wu Gou tidak hanya memiliki nyali itu, tapi ia juga memiliki kekuatan dan dukungan dari orang-orang yang dibawanya.
Perkataan Wu Gou sekali lagi menampar wajah sang tuan rumah, dan bukan itu saja, kali ini tamparan itu juga ikut menyambar pihak tamu, keluarga Jiang.
Ketika itu, Patriark keluarga Jiang hendak berdiri sebelum ditahan oleh Patriark keluarga Sun.
"Kau cukup berani menginginkan putriku yang sudah kupercayakan pada orang lain untuk menjadi suaminya."
Patriark keluarga Sun mencibir sikap tak masuk akal Wu Gou.
Tapi Wu Gou tidak mau mundur, ia terus memaksakan kehendaknya seolah ialah hukum di dunia ini.
"Meskipun aku bilang aku menginginkannya, tapi aku tak bilang aku membutuhkan persetujuanmu untuk membawanya ke kamarku."
*Bang!!
Kalimat yang dilontarkan Wu Gou berhasil memprovokasi semua orang baik dari keluarga Sun maupun keluarga Jiang.
Merebut wanita pria lain adalah sesuatu, tapi membawa kabur putri orang adalah hal yang memiliki tabu lebih tinggi.
Inilah yang membakar amarah semua orang yang mendengar perkataan arogan Wu Gou.
Semua orang mengeluarkan senjata mereka, bersiap mengusir Wu Gou dan rombongannya.
Patriark keluarga Sun yang ditampar secara langsung di wajahnya berkali-kali, juga tidak bisa menahan emosinya lagi.
Patriark keluarga Jiang di sampingnya juga sudah berdiri di sampingnya, menunggu aba-aba.
Pada momen itu, sekali lagi sebuah suara mendistrupsi semua orang.
*Tak!
Suara kipas lipat yang terbuka mengalihkan perhatian semua orang.
Saat ratusan mata menatapnya, pria yang memegang kipas itu pun bicara.
"Bukankah situasi di sini cukup panas? Mengapa kita tidak mencoba menurunkan suhunya sedikit?"
Pria cantik dengan senyum licik di wajahnya, menawarkan sebuah solusi yang tak tampak seperti solusi.
"Karena di sini ada dua pria yang menginginkan wanita yang sama, mengapa kita tidak menentukan siapa yang layak lewat sebuah duel? Bukankah ini cara yang paling laki?"
Pria cantik itu, menutup separuh wajahnya dengan kipas lipatnya, yang menyembunyikan senyum lebar di baliknya.