Di sebuah kampung tua di pinggiran Jawa Barat, muncul teror mengerikan dari sosok makhluk yang dipercaya sebagai Jurig Jarian — hantu penghuni tempat sampah yang lahir dari kebencian, keserakahan, dan sampah manusia yang menumpuk selama puluhan tahun. Siapa pun yang membuang sesuatu sembarangan pada malam tertentu akan mendengar suara garukan dari tong sampah… sebelum akhirnya menghilang tanpa jejak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Lullaby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebersamaan Yang Mengurangi Rasa Takut
Lampu-lampu bohlam baru yang berdaya tinggi kini menyala dengan terang, mengusir bayangan gelap di sudut-sudut yang seolah menyimpan sesuatu. Cahaya putihnya memantul di lantai tegel yang bersih, memberikan kesan bahwa rumah ini kembali hidup. Nuansa menakutkan yang mereka rasakan saat beribadah sebelumnya perlahan-lahan tertutupi oleh terang cahaya listrik.
"Nah! Begini dong! Kalau terang begini, rumah ini kelihatan lebih manusiawi, bukan seperti rumah hantu,". Bagas mengeluarkan napas lega sambil mengusap keringat di dahi. Dia berdiri di tengah ruang tamu, melihat sekeliling dengan tangan di pinggang, mencoba mengembalikan kepercayaan dirinya yang sempat memudar.
"Kalau kondisi terang, mataku bisa menangkap dengan jelas jika ada yang aneh. Nggak perlu lagi nebak-nebak dalam gelap.". Teriak Bagas.
"Iya, situasinya terasa jauh berbeda. Ternyata pencahayaan benar-benar memengaruhi psikologi kita, ya.". Dinda yang baru selesai membereskan mukenanya mulai merasakan sedikit ketenangan, walaupun dia masih ragu untuk melihat ke lorong belakang.
"Secara teknis, cahaya yang terang memang mengurangi ilusi visual. Otak kita gak lagi memproses bayangan samar menjadi sosok tertentu. Itu sebabnya aku mendesak kita harus membeli bohlam dengan daya watt tinggi. ". Adrian yang sedang merapikan tangga lipat milik warga yang dipinjam, menjawab dengan nada lebih santai.
"Tapi Yan. Lampu terang memang buat mata lebih nyaman, tapi bagaimana dengan suara tawa itu? Itu kan bukan masalah pandangan," Dinda memotong, suaranya kembali pelan.
"Begini, rumah ini sudah lama gak dihuni. Struktur kayunya banyak yang longgar. Angin yang masuk lewat celah di plafon atau jendela yang gak rapat bisa buat suara yang terdengar menyerupai suara manusia. Itu fenomena yang biasa terjadi di rumah tua. ". Adrian berhenti sejenak, lalu menatap Dinda dan Bagas secara bergantian.
"Argumenmu logis, Yan. Tapi jujur saja, aku lebih suka menganggap itu suara angin ketimbang suara Nyai atau siapapun yang ikut sholat bersama kita tadi. Yang terpenting sekarang adalah cahaya terang, aku kelaparan, dan aku ingin kita masak malam ini bersama di dapur. Jangan ada yang sendirian! ". Bagas membuat ekspresi sinis sambil mulai membuka kantong plastik berisi mi instan.
"Setuju! Ayo ke dapur, aku akan memotong sayuran, kalian urus kompor dan airnya. ". Seru Dinda dengan cepat. "
Mereka bertiga pun melangkah menuju dapur, berusaha menertawakan ketakutan mereka di bawah cahaya lampu yang terang, seolah-olah kegelapan yang mereka hadapi sebelumnya hanyalah sebuah ilusi yang sudah berlalu. Namun di balik suasana ceria itu, Adrian sesekali melirik ke arah bohlam yang baru dipasang, seolah berharap cahaya itu tidak akan berkedip sedikit pun malam ini.
Aroma mi instan yang lezat dan telur goreng mulai memenuhi dapur, menutupi bau lembap dan wangi melati kering yang sebelumnya tercium. Adrian sibuk menjaga api kompor minyak agar tetap stabil, sementara Dinda dan Bagas berbagi tugas menyiapkan piring dan gelas.
"Benar-benar, ini adalah mi instan paling enak yang pernah kutunggu. Perutku sudah keroncongan dari tadi, karena tegang sampai lupa bahwa kita belum makan sejak siang,". Ujar Bagas sambil menata kerupuk yang dibeli dari Teh Imah ke dalam piring.
"Benar, Gas. Ternyata rasa takut itu membutuhkan banyak energi. Tadi, ketika kita bersih-bersih, aku gak merasa lapar sama sekali karena otak aku hanya fokus pada jangan sampai ada yang muncul”. Dinda menuangkan air panas ke gelas yang berisi teh manis yang hangat.
"Itu reaksi tubuh untuk melawan atau melarikan diri, Din. Tubuhmu lebih memprioritaskan keselamatan dari pada rasa lapar. Tapi sekarang, karena rumah sudah terang dan perut sudah terisi, seharusnya logika kita kembali normal. ". Adrian mengaduk mie di panci dengan tenang.
"Tapi jujur saja, Yan. Setelah makan ini, aku masih memikirkan tentang gerbang besar itu. Kenapa baunya bisa sangat menyengat jika itu hanya tempat sampah warga? Padahal desanya sangat bersih.". Dinda duduk di kursi kayu yang agak goyang.
”Besok pagi kita akan melakukan pengamatan lagi. Sebagai tim, kita tidak boleh hanya berspekulasi. Jika memang itu merupakan pusat limbah, kita perlu mencari tahu kenapa pengelolaannya bisa sebegitu buruk. Mungkin ada masalah dengan sistem drainasenya, atau ada limbah organik tertentu yang tidak terurai.". Adrian mematikan kompor dan mulai membagi mie ke dalam tiga piring.
"Semoga besok matahari bersinar dengan cerah. Aku ingin kita bekerja cepat, jika memungkinkan, malam nanti kita gak perlu sholat dalam keheningan seperti tadi. Kita bisa memutar musik atau sesuatu agar suasananya gak terlalu sepi. ". Bagas menyeruput teh hangatnya lalu menghela napas dalam-dalam.
"Jangan putar musik terlalu keras, Gas. Kita tamu di sini, jadi harus jaga etika kepada warga. Yang penting malam ini kita makan, kemudian istirahat. Kita butuh tenaga untuk survei lapangan pertama kita besok,". Kata Adrian sambil menyodorkan piring kepada Bagas.
Saat mereka menikmati makanan sederhana di bawah cahaya lampu yang terang, ketiganya merasakan ikatan yang sedikit lebih kuat. Meskipun rumah kolonial itu masih terasa asing dan penuh misteri, setidaknya untuk saat ini, kehangatan dari makanan dan kebersamaan mereka cukup untuk meredakan rasa cemas yang ada di dalam hati masing-masing.