Zayyan Mahendra membawa Lolly ke Swiss untuk merayakan kelulusannya sekaligus melamar wanita itu. Namun di saat Zayyan berharap cinta mereka berakhir bahagia, Lolly justru memilih pria lain.
Dengan hati hancur, Zayyan memutuskan pulang ke Indonesia. Tak disangka, di bandara ia bertemu kembali dengan teman lamanya dan membuat keputusan gila. Dia menikah Alin, teman lamanya itu.
Pernikahan tanpa cinta itu awalnya hanya pelarian. Tapi siapa sangka, takdir justru mempertemukan mereka pada cinta yang sebenarnya. Namun, keberadaan Lolly selalu mengganggu rumah tangganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16
Jantung Alin berdetak begitu cepat hingga rasanya memenuhi seluruh isi kepalanya. Suasana kamar yang tadinya terasa biasa saja mendadak berubah menegangkan baginya. Ini adalah malam pertama setelah pernikahan mereka, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya dia akan tidur satu ranjang dengan seorang laki-laki, yang saat ini sudah resmi menjadi suaminya.
Pikiran itu saja sudah cukup membuat wajah Alin memanas sejak tadi.
Perempuan itu merebahkan tubuhnya di atas ranjang sambil meremas selimutnya. Tatapannya terus lurus ke langit-langit kamar, meski sebenarnya pikirannya ke mana-mana. Bahkan suara air dari kamar mandi saja berhasil membuat dirinya semakin gugup.
Bagaimana kalau nanti suasananya jadi canggung? Bagaimana kalau dia salah tingkah?
Bagaimana kalau Zayyan menertawakannya?
Semakin dipikirkan, semakin tidak tenang hati Alin dibuatnya.
Ceklek.
Pintu kamar mandi terbuka.
Alin refleks menoleh, namun detik berikutnya matanya langsung membesar sempurna.
Zayyan keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk putih yang dililit rendah di pinggangnya. Rambut pria itu masih basah dengan beberapa tetes air mengalir turun melewati leher hingga dada bidangnya.
Perut kotak-kotaknya terlihat jelas. Kulitnya yang masih sedikit basah membuat penampilannya semakin... berbahaya.
Alin spontan menahan napas. Wajahnya langsung berubah merah padam. Tanpa pikir panjang dia buru-buru memalingkan wajah lalu membelakangi suaminya dengan panik.
“Kamu kenapa, sayang?” tanya Zayyan sambil terkekeh geli melihat reaksinya.
Alin menggigit bibirnya malu. “Tidak apa-apa! Buruan pakai bajumu, Zay!” serunya cepat.
Bukannya menurut, Zayyan justru semakin gemas melihat telinga istrinya yang sampai merah.
“Memangnya kenapa? aku kan suamimu. Nanti kamu juga akan melihat seluruh tubuhku" goda Zayyan
“Pokoknya pakai baju dulu!”
“Tapi kamu bahkan belum lihat semuanya.”
“ZAYYAN!”
Pria itu tertawa puas menggoda istrinya. Dia melangkah mendekat dengan santai sementara Alin malah makin panik.
“Jangan dekat-dekat dulu...” gumam Alin lirih.
“Loh? Kenapa?”
“Kamu bikin aku salah tingkah.”
Ucapan jujur itu justru membuat senyum Zayyan perlahan berubah lembut. Biasanya Alin selalu berusaha terlihat tenang di depannya, jadi melihat istrinya gugup seperti ini terasa sangat lucu sekaligus menggemaskan.
Zayyan akhirnya mengambil kaus dan celana pendeknya lalu mulai memakainya.“Nah, sudah. Aman sekarang?” tanyanya setelah selesai berpakaian.
Alin perlahan menoleh. Setelah memastikan suaminya benar-benar sudah memakai baju, dia baru menghela napas lega. “Kenapa tidak dari tadi sih...” gerutu Alin.
Zayyan langsung tertawa kecil.
“Kamu lucu banget sih.”
Alin cemberut malu.
“Ini salah kamu.”
“Salah aku kenapa?”
“Kamu keluar begitu saja tanpa bilang-bilang.”
“Memangnya harus izin dulu?”
“Iya!”
Zayyan kembali tertawa. Rasanya menyenangkan sekali menggoda istrinya yang polos itu. Pria itu kemudian merebahkan tubunya di samping Alin. Jarak mereka yang dekat kembali membuat Alin menegang.
Zayyan melirik wajah istrinya yang masih terlihat gugup.“Kamu takut sama aku?” tanyanya pelan.
Alin buru-buru menggeleng.
“Bukan takut... cuma... malu.”
“Malu kenapa? Kita kan sudah menikah.”
Kalimat itu sukses membuat jantung Alin kembali tidak karuan. Benar juga. Mereka sekarang sudah menjadi suami istri. Namun tetap saja semuanya terasa begitu baru baginya.
Melihat Alin diam, Zayyan akhirnya mengusap pelan kepala istrinya. “Tenang aja,” ucapnya lembut. “Aku tidak akan bikin kamu tidak nyaman.”
Alin perlahan mengangkat wajahnya. Tatapan mata Zayyan yang biasanya jahil kini terlihat begitu hangat dan menenangkan. Entah kenapa rasa gugup di dadanya sedikit demi sedikit mulai berkurang.
“Aku cuma belum terbiasa...” bisiknya pelan.
“Aku juga belum terbiasa punya istri secantik ini di kamar.”
“Zay...” Alin langsung salah tingkah lagi.
“Tidur yuk. Hari ini capek banget.”
Alin mengangguk pelan. Dengan canggung dia ikut berbaring di sisi lain ranjang, menjaga jarak cukup jauh sampai membuat Zayyan melirik heran.
“Kamu jauh banget tidurnya.”
“Biar aman.”
“Aman dari apa?”
“Kamu.”
“Ya ampun...” Zayyan sampai geleng-geleng kepala sambil tertawa kecil.
Beberapa menit suasana kamar berubah hening. Hanya suara pendingin ruangan yang terdengar samar.
Alin mencoba memejamkan mata, namun jantungnya masih terus berdebar karena sadar ada Zayyan di sampingnya.
Tiba-tiba...
Bruk.
Alin terkejut saat sebuah tangan melingkar di pinggangnya.
“Za-Zayyan?”
“Aku cuma meluk istriku,” jawab pria itu santai dengan mata masih terpejam.
“Tapi aku belum tidur...”
“Makanya tidur.”
Alin mematung sejenak. Wajahnya kembali memanas ketika merasakan tubuh mereka yang kini jauh lebih dekat.
Namun anehnya...pelukan itu justru terasa hangat dan nyaman. Perlahan tubuh Alin yang semula tegang mulai mengendur. Untuk pertama kalinya sejak malam itu dimulai, dirinya akhirnya benar-benar merasa tenang.
Sementara Zayyan tersenyum kecil dalam diam.
Malam pertama mereka mungkin dipenuhi rasa canggung dan malu-malu. Tetapi justru itulah yang membuat semuanya terasa manis.
“Zay... ini kan malam pertama kita...” ucap Alin lirih dengan wajah memerah.
Zayyan yang sejak tadi memeluknya dari belakang hanya membuka sedikit matanya lalu tersenyum kecil.“Eum, terus kenapa?” tanyanya santai.
Alin menggigit bibirnya malu. Dia sendiri bingung kenapa mengatakan itu. Mungkin karena suasana malam ini terasa berbeda. Terlalu dekat. Terlalu membuat jantungnya tidak tenang.
“Tidak kenapa-napa sih...” jawabnya salah tingkah. Dia buru-buru memejamkan mata, mencoba berpura-pura tenang meski kenyataannya detak jantungnya semakin kacau.
Zayyan yang menyadari kegugupan istrinya justru semakin gemas. Perlahan pria itu mendekatkan wajahnya ke leher jenjang Alin.
“Kamu mau, hmm?” bisiknya pelan.
Bersamaan dengan itu, bibirnya mulai mengecup lembut leher Alin. Alin langsung mengeliat kecil.
“Zaayy...” keluhnya lirih sambil menahan geli.
Sentuhan bibir Zayyan terasa hangat di kulitnya, membuat bulu kuduknya meremang. Tangannya refleks mencengkeram ujung selimut karena gugup.
Zayyan terkekeh pelan saat melihat reaksi istrinya.“Kok malah geli?” godanya.
“Karena memang geli...” jawab Alin pelan sambil menahan malu.
Pria itu kembali mengecup leher Alin beberapa kali dengan sengaja, membuat perempuan itu semakin tidak bisa diam. Sedangkan tangannya sudah menyusup masuk kedalam gaun malam istrinya.
“Zayyan...” Alin mulai mendorong pelan dada suaminya. “Jangan begitu terus...”
“Kenapa? Aku suka lihat kamu salah tingkah.”
“Kamunya jahil.”
“Iya.”
Jawaban tanpa dosa itu membuat Alin langsung cemberut kecil.
Zayyan akhirnya memutar tubuh Alin perlahan hingga kini mereka saling berhadapan. Jarak wajah mereka begitu dekat sampai Alin bisa merasakan embusan napas suaminya sendiri.
Perempuan itu langsung gugup lagi. Matanya bahkan tidak berani menatap lama-lama.
Zayyan memperhatikan wajah Alin yang memerah dengan tatapan lembut. Hatinya terasa hangat melihat istrinya yang begitu polos dan malu-malu di hadapannya. Perempuan itu tampak cantik dan menggemaskan.
Tangannya perlahan menyelipkan rambut Alin ke belakang telinga.“Kamu tegang banget dari tadi,” gumamnya pelan.
“Aku kan belum terbiasa...”
“Aku juga belum terbiasa.”
Alin akhirnya mengangkat pandangannya pelan. “Bohong.”
“Serius.”
“Kamu kelihatannya santai sekali.”
Zayyan tersenyum kecil.“Padahal dari tadi aku juga berusaha nahan diri supaya tidak bikin kamu makin gugup.” Ucapan itu justru membuat wajah Alin semakin panas.
Zayyan benar-benar terlalu terus terang. Pria itu lalu mengusap pipi Alin lembut dengan punggung tangannya.
“Dengar ya,” ucapnya pelan. “Aku tidak mau malam ini malah bikin kamu takut atau tidak nyaman.”
Tatapan Alin perlahan melembut mendengar itu.
“Jadi kita jalani pelan-pelan aja.”
Alin terdiam beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk kecil.
Senyum Zayyan langsung terbit lagi.
“Nah gitu dong.”
Pria itu kemudian mencium kening Alin lama, penuh kelembutan, berbeda jauh dari sikap jahilnya tadi.
Alin memejamkan mata perlahan. Entah kenapa rasa gugupnya sedikit demi sedikit berubah menjadi rasa hangat yang nyaman.
Malam itu mungkin dipenuhi rasa malu dan canggung. Namun justru dalam kesederhanaan momen itu, keduanya mulai belajar saling memahami sebagai sepasang suami istri.
"Jadi mau atau tidak?" tanya Zayyan.
lanjut Thor 💪💪💪
lanjut Thor 🔥🔥🔥