Aira dan Airin adalah kembar yang tak pernah serupa. Airin adalah "Permata Maheswari"—cantik, cerdas, dan dicintai. Sementara Aira hanyalah "Cacat Produksi"—kusam, bodoh, dan terbuang di gudang belakang karena tak mampu bersaing dengan standar keluarga yang gila gelar.
Satu-satunya cahaya dalam hidup Aira adalah ingatan tentang Alvaro, bocah laki-laki kumal yang dulu ia selamatkan dan ia beri seluruh hatinya. Namun, ketika Alvaro kembali sebagai pewaris tunggal konglomerat yang tampan dan berkuasa, takdir mempermainkan Aira dengan kejam.
Alvaro salah mengenali "Ai" sahabat kecilnya. Berkat kelicikan dan nama mereka yang hampir mirip, Airin dengan mudah mencuri identitas Aira. Kini, pria yang paling dicintai Aira justru menjadi orang yang paling rajin menghina dan merundungnya demi membela sang kembaran palsu.
Di tengah luka yang menganga, muncul Bara—sang bad boy penguasa sekolah yang menolak tunduk pada siapa pun. Bara berjanji akan memberikan dunia pada Aira.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widia ayu Amelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15
"Naik. Jangan banyak tanya kalau lo nggak mau gue gendong paksa ke atas jok ini."
Suara Bara yang berat dan parau membelah sunyinya area parkiran belakang sekolah yang hanya diterangi satu lampu merkuri yang berkedip-kedip. Aku berdiri mematung di samping sebuah motor besar berwarna hitam legam yang tampak sangat mengintimidasi—sama seperti pemiliknya. Jaket kulit milik Bara yang masih melingkar di bahuku terasa sangat berat, namun hangatnya masih tersisa, menjadi satu-satunya penghalang antara kulitku dan angin malam yang menusuk.
Aku menatap jok motor yang tinggi itu dengan ragu. "Tapi... aku harus pulang, Bara. Kalau orang tuaku tahu aku pergi dengan—"
"Dengan preman kayak gue?" Bara memotong kalimatku, sebuah seringai miring yang tampak berbahaya sekaligus sangat tampan terukir di wajahnya yang tegas. Ia mengenakan helmnya, namun membiarkan kaca depannya terbuka, memperlihatkan mata elangnya yang berkilat liar. "Loe sudah dikunci di perpustakaan sampai jam segini, Ra. Mereka bahkan nggak telepon sekolah buat nanya loe di mana. Lo pikir mereka peduli kalau loe telat satu jam lagi?"
Kalimat itu menghantamku telak. Rasa perih menjalar di dadaku karena kenyataan yang ia lontarkan begitu jujur. Benar. Ayah, Ibu, bahkan Airin... mereka mungkin sedang tertawa di meja makan sekarang, tanpa menyadari atau mungkin sengaja melupakan bahwa ada satu anggota keluarga yang tertinggal di kegelapan.
Tanpa kata lagi, aku naik ke atas jok belakang dengan susah payah. Bara tidak membantuku, tapi ia membiarkan lenganku berpegangan pada pinggangnya saat motor itu tiba-tiba menggerung keras, memecah kesunyian malam dengan suara mesin yang jantan.
Kami membelah jalanan kota yang mulai sepi. Angin malam menerpa wajahku, membuat air mata yang tersisa di pipiku mengering seketika. Aku memejamkan mata, membenamkan wajahku di punggung lebar Bara. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, aku merasa... bebas. Tidak ada bayang-bayang Airin, tidak ada tatapan benci Alvaro, dan tidak ada tuntutan Ayah yang mencekik. Hanya ada aku, Bara, dan deru mesin yang seolah meneriakkan pemberontakan.
Bara membawaku ke sebuah jalan layang yang sepi, tempat lampu-lampu kota tampak seperti hamparan berlian di bawah sana. Ia mematikan mesin motornya, membiarkan kesunyian kembali menyelimuti kami, hanya diselingi suara angin yang menderu pelan.
Ia turun dari motor, melepas helmnya, dan mengacak rambut hitamnya yang berantakan. Di bawah cahaya bulan, Bara tampak begitu tidak nyata. Garis rahangnya yang kokoh, tatapan matanya yang intens, dan luka kecil di sudut bibirnya memberikan kesan 'bad boy' yang sempurna.
"Gue nyari loe berbulan-bulan, Ra," ucapnya tiba-tiba, memecah keheningan. Ia menyandarkan tubuhnya di pagar pembatas jalan layang, menatap lurus ke arah cakrawala.
Aku mengerutkan kening, berdiri di sampingnya dengan jaketnya yang kebesaran. "Mencariku? Kenapa?"
Bara menoleh, menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. "Nyokap gue sembuh. Operasinya lancar. Sekarang dia sudah bisa jalan lagi meskipun pelan."
Jantungku berdegup kencang. Bayangan amplop cokelat berisi tabungan mesin jahitku melintas di kepala. "Aku... aku senang mendengarnya."
"Loe tahu nggak apa yang paling gila?" Bara melangkah mendekat, menghapus jarak di antara kami. "Waktu itu gue sudah siap mau ngerampok apotek. Gue sudah bawa pisau di balik jaket gue. Gue sudah nggak punya otak lagi karena liat Nyokap sesak napas di depan RS. Terus loe datang. Badan loe kecil, kacamata loe melorot karena hujan, dan loe naruh amplop itu di tangan gue seolah-olah itu cuma sekadar kembalian belanjaan."
Ia tertawa hambar, namun matanya tampak berkaca-kaca. "Gue nggak tahu siapa loe. Gue cuma tahu loe malaikat yang nyasar di trotoar malam itu. Gue nyari loe ke tiap sudut kota, tiap sekolah, sampai akhirnya gue liat loe di koridor SMA Garuda minggu lalu. Gue hampir nggak percaya kalau cewek jenius yang bikin Nyokap gue tetap hidup, ternyata diperlakukan kayak sampah di tempat ini."
Aku menunduk, tidak tahu harus menjawab apa. "Aku cuma... aku nggak mau lihat orang lain kehilangan ibunya, Bara. Itu saja."
Bara mengulurkan tangannya, bermaksud merapikan rambutku yang tertiup angin. Namun, saat tangannya bergerak, tanpa sengaja ia menyibak lengan seragamku yang sedikit tersingkap di balik jaket kulitnya.
Gerakannya terhenti seketika.
Mata Bara terpaku pada pergelangan tanganku. Di sana, di atas kulitku yang pucat, terdapat bekas memar keunguan berbentuk jari tangan—bekas tarikan kasar Alvaro saat ia menyeretku di koridor dan memaksaku melepas sepatu kemarin. Memar itu tampak sangat kontras dan menyakitkan di bawah cahaya lampu jalan.
Suasana di sekitar kami mendadak berubah menjadi sangat dingin. Aku bisa merasakan aura beringas Bara yang tadinya tenang, kini meledak dalam diam.
"Siapa..." suara Bara merendah, nyaris seperti geraman serigala yang sedang terluka. Ia meraih lenganku dengan sangat lembut, seolah-olah kulitku terbuat dari kaca yang mudah pecah. Ibu jarinya mengusap pinggiran memar itu dengan tatapan mata yang berkilat penuh amarah. "Siapa yang bikin loe kayak gini, Ra?"
Aku mencoba menarik tanganku kembali, merasa malu karena kelemahanku terlihat. "Bukan apa-apa, Bara. Ini cuma... aku tidak sengaja menabrak pintu."
"Jangan bohong sama gue!" Bara membentak, membuatku tersentak. Ia menatap mataku, mencari kejujuran yang kupendam. "Si pangeran kaya itu? Si Alvaro bajingan itu yang ngelakuin ini sama loe?"
Aku terdiam, air mataku mulai menggenang lagi. Tatapan Bara yang penuh kepedulian justru membuat pertahananku runtuh. Aku mengangguk pelan, nyaris tak terlihat.
Bara melepaskan lenganku, namun ia langsung meninju pagar pembatas jalan layang dengan keras. Brak! Suara hantaman logam itu bergema keras. Rahangnya mengeras, dan napasnya memburu.
"Gue bakal habisin dia besok," desis Bara. Suaranya dingin, tanpa nada bercanda sedikit pun. "Gue bakal bikin dia ngerasain rasa sakit yang sepuluh kali lipat lebih parah dari apa yang loe rasain malam ini. Nggak ada satu orang pun yang boleh nyentuh loe kayak gini, Ra. Nggak satu pun."
Ketakutan menyergapku. Aku tahu Bara tidak pernah main-main dengan ucapannya. Jika ia bilang akan menghabisi seseorang, ia benar-benar akan melakukannya. Aku tidak mau Bara kembali masuk penjara atau dikeluarkan dari sekolah hanya karena membelaku.
"Bara, tolong... jangan," aku meraih telapak tangannya yang masih mengepal keras. Jemariku yang kecil mencoba membuka kepalan tangannya yang kasar. "Aku mohon. Jangan ada kekerasan. Kalau kamu melakukan itu, kamu akan berada dalam masalah besar. Aku tidak mau kehilangan satu-satunya orang yang membelaku."
Bara menatapku. Matanya yang tadi liar kini meredup sesaat saat bersentuhan dengan tanganku. Namun, kemarahan di sana tidak hilang, hanya terpendam di bawah lapisan es yang sangat dingin.
Ia tidak menjawab permohonanku. Sebaliknya, ia justru menyeringai—sebuah seringai dingin yang membuat bulu kudukku meremang. Ia menarik tangannya dari genggamanku, lalu kembali menghidupkan mesin motornya dengan satu sentakan kuat.
"Loe terlalu baik, Aira. Dan orang baik kayak loe, nggak pantes hidup di dunia yang isinya iblis kayak mereka tanpa ada pelindung," Bara berkata sembari memakai helmnya. Suaranya terdengar sangat yakin, seolah ia sudah memutuskan sesuatu yang tidak bisa diganggu gugat.
"Bara, janji padaku kamu tidak akan melakukan hal bodoh besok?" tanyaku lagi saat aku naik ke jok belakang.
Bara tidak menjawab. Ia hanya menarik gas motornya dalam-dalam, membuat suara knalpotnya meraung membelah malam. Melalui kaca spion, aku bisa melihat matanya yang berkilat berbahaya.
Besok, SMA Garuda tidak akan pernah sama lagi. Sang Serigala telah menemukan alasannya untuk bertarung, dan kali ini, ia tidak akan membiarkan mangsanya lolos begitu saja.```