Di hari ulang tahun nyonya yang ke 35, kedatangan jenderal menjadi kabar yang sangat membahagiakan.
Siapa sangka, bukan hadiah yang dia dapatkan. Namun kedatangan seorang wanita muda seusia putra sulungnya. Dan bukan ucapan ulang tahun yang jenderal katakan pada nyonya, tapi keinginannya menjadikan wanita itu sebagai istri keduanya.
Tanpa jenderal sadari, nyonya yang selama ini menciptakan hal-hal luar biasa untuk membantunya naik pangkat dan disegani itu, sama sekali tidak berasal dari tempat ini. Dia datang dari masa depan, dan karena jenderal telah berkhianat, sesuai janji mereka ketika menikah dulu, nyonya akan pergi meninggalkan jenderal.
Nama besar yang diperoleh atas dukungan nyonya, tidak mungkin akan bertahan ketika sang nyonya meninggalkannya bukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22. Permintaan Maaf Ditolak
Sudah beberapa menit berlalu, tapi di dalam kereta, Kaisar Xuan Jinhuan sama sekali tidak mengatakan apapun.
Mei Huarin malah hari tidak tenang.
"Katamu tadi mau bicara?" tanya Mei Huarin.
"Aku sedang berpikir!"
Mei Huarin mengernyitkan keningnya.
"Ada apa denganmu? ada masalah di pengadilan? atau kerajaan lain ada yang mengirimkan surat..."
"Tidak ada, diam lah! aku hanya ingin bersamamu sebentar. Kamu tahu aku sangat sibuk di siang hari. Di malam hari, kamu yang tidak bisa keluar. Jadi diam, biar aku mengenang kenangan ini sebelum kamu pergi dan tak pernah kembali lagi"
Mei Huarin terdiam. Itu memang kalimat paling panjang yang pernah Mei Huarin dengar, diucapkan oleh Xuan Jinhuan. Seorang Kaisar yang kesepian, yang harus bertarung dengan keluarga dan saudara kandungnya sendiri untuk tahta. Di usia 14 tahun dia sudah menjadi raja karena pembelotan dari kakaknya yang tidak terima dirinya menjadi putra mahkota.
Meski memiliki ratusan wanita di hareem, tapi hanya ada tiga orang pangeran dan satu putri saja sebagai penerus. Trik dan intrik di istana dalam terkadang membuatnya muak. Bahkan dia harus sering bersedih mendengar selirnya keguguran dan keguguran lagi. Semua hanya intrik pada pejabat dan para selir untuk saling memperebutkan kekuasaan.
Hanya Mei Huarin yang tak pernah mengatakan sesuatu yang membuat Xuan Jinhuan tertekan. Merasa memiliki teman, dan seseorang yang bahkan akan selalu memberinya banyak kejutan. Siapa sangka pemikiran untuk membuat alat bajak tanah akan tergambar darinya. Juga busur pelontar panah yang bisa melontarkan puluhan anak panah.
Di musim hujan, perang benar-benar sesuatu yang berat. Di saat itu bahan pangan akan mudah busuk. Tapi Mei Huarin menemukan ragi dari sisa fermentasi arak beras. Membuatnya bisa menciptakan roti panggang kering yang lebih awet dari bakpau atau mantau.
Kaisar Jinhuan sudah terbiasa dengan Mei Huarin. Memikirkan Mei Huarin tak akan kembali. Dia benar-benar merasa akan kembali pada kesepian itu lagi.
"Yang mulia, sudah sampai kediaman Jinxi!"
Mei Huarin menoleh ke arah Kaisar Jinhuan.
"Aku turun, terima kasih sudah mengantarku pulang...!"
"Besok mau kemana lagi?" tanya Kaisar.
"Tidak ada, aku hanya akan mengajarkan beberapa hal pada Yan'er!"
"Kalau begitu datang ke ruang belajar setelah tengah hari. Ada masalah yang ingin aku bahas denganmu! sekarang kamu bisa turun!"
Mei Huarin mengangkat kedua alisnya sedikit. Tapi kemudian, dia menurunkannya lagi.
"Baiklah!"
Mei Huarin turun dari kereta. Xueyao sudah ada di depan pintu gerbang kediaman Jinxi.
"Nyonya!"
"Ada apa?" tanya Mei Huarin.
"Jenderal, sejak tadi ada di kediaman!"
Mei Huarin menoleh ke arah kereta yang sudah mulai bergerak pergi.
"Kita masuk!"
Mei Huarin dan Xueyao masuk ke kediaman Jinxi. Dan benar saja, jenderal sudah ada di ruangan utama. Duduk bersama dengan Lu Yanzhi.
"Yan'er, sudah makan malam?" tanya Mei Huarin.
Lu Yanzhi segera berdiri dan menghampiri ibunya.
"Ibu, kata ayah kita baru akan makan malam kalau ibu sudah pulang!"
Mei Huarin menghela nafas panjang. Sejak jenderal kembali, dia bahkan tidak pernah mengajak Lu Yanzhi bicara. Sekarang malah menunda makan malam anaknya.
"Jenderal, mungkin jenderal sudah terbiasa kelaparan di medan perang. Tapi Yan'er tidak pernah aku biarkan kelaparan. Cepat makan malam dulu, Xueyao suruh Yao Yao menyiapkan makan malam untuk Yan'er di kamarnya. Aku sudah makan, dan akan istirahat!"
"Nyonya!"'
Lu Yansheng berdiri dan segera menghampiri Mei Huarin.
"Nyonya, kita sudah lama tidak makan malam bersama. Sudah tiga tahun, aku sudah minta Fu Mama menyiapkan makanan kesukaan nyonya. Bagaimana kalau kita makan bersama?" tanya Lu Yansheng.
Mei Huarin menepuk punggung tangan anaknya.
"Yan'er, pergilah dengan Xueyao!"
"Baik ibu!"
Lu Yanzhi bahkan tidak menyapa ayahnya sebelum pergi. Semenjak ayahnya mengurungnya, rasa hormat Lu Yanzhi sungguh telah hilang.
"Yan'er..."
"Aku sudah peringatkan jenderal. Jangan ganggu putriku. Membuatnya menahan lapar sampai malam begini. Aku tidak suka dengan tindakanmu, jenderal. Jika tidak ada hal penting, maka silahkan jenderal tinggalkan kediaman Jinxi!"
"Nyonya, aku tahu nyonya masih marah. Tapi kita tetap suami istri. Nyonya tuan bisa mengabaikan kewajiban nyonya sebagai seorang istri!"
Mei Huarin ingin sekali menampar pria di depannya itu. Bisa-bisanya Lu Yansheng bicara tentang kewajiban padanya.
"Jenderal mengatakan apa? kewajiban? kewajiban yang mana yang menurut jenderal tidak aku lakukan. Justru aku tanya pada jenderal, sebelum mempertanyakan kewajibanku. Apa jenderal sudah merasa melakukan kewajiban jenderal?" tanya Mei Huarin.
Lu Yansheng ingin menyela. Tapi Mei Huarin kembali bicara.
"Tiga tahun... ah tidak, aku salah. Bertahun-tahun ketika jenderal berperang. Aku yang mengurus dua kediaman sekaligus. Terakhir kali pernikahan Lu Chengyan, aku juga yang mengurusnya. Melindungi kediaman Jinxi dan kediaman jenderal. Aku yang melakukannya. Aku tanya, kewajiban mana yang tidak aku kerjakan. Bahkan selama 18 tahun, pernahkah aku bicara dengan jarak dekat pada seorang pria kecuali yang mulia Kaisar. Kewajiban mana yang jenderal bicarakan?" nada suara Mei Huarin meninggi.
Posisinya saat ini adalah seorang istri yang dikhianati oleh suaminya. Namun sang suami mengatakan tentang kewajiban yang harus dia lakukan? rasanya sangat konyol.
"Nyonya, kita suami istri..."
"Sejak jenderal ingkar janji. Jenderal sudah kehilangan hak sebagai suami Mei Huarin!" tegas Mei Huarin.
"Nyonya! tidak bisa begitu. Sekarang siapa pria di dinasti ini yang tidak punya selir. Shen Meiren sedang hamil, dia menyelamatkan aku saat aku terluka...!"
"Zhang Xin juga menyelamatkan jenderal saat terluka. Tapi dia bisa jadi sebatas tangan kanan jenderal. Sebelum menikah, aku sudah katakan padamu. Jika jenderal ingkar janji, maka aku akan pergi! dan jenderal, tidak akan pernah menemukan aku lagi!"
Mei Huarin segera meninggalkan ruang utama itu setelah mengatakan semua yang ingin dia katakan pada jenderal.
"Nyonya..."
Mei Huarin tidak menoleh. Dia terus berjalan menuju kamarnya yang dijaga ketat oleh para penjaga.
Baginya, mau jenderal memohon berapa kali pun. Keputusannya tetap sama. Memaafkan seorang pengkhianat, hanya akan membuka peluang bagi diri sendiri untuk merasakan rasa sakit kedua kalinya, ketiga kalinya, dan seterusnya. Karena seorang pengkhianat, tidak akan pernah betul-betul menyadari kesalahannya. Sekali dimaafkan, dia akan merasa yang dia lakukan itu tidak masalah, toh tinggal meminta maaf lagi, maka akan dimaafkan lagi. Main set seperti itu lah yang biasa ada di otak para penghianat.
Karena tidak mendapatkan kesempatan meminta maaf. Lu Yansheng kembali ke kediaman jenderal.
"Bagaimana Yansheng?" tanya nyonya tua Wang yang sudah tidak sabar. Dia sudah mulai tidak nyaman tinggal di kediaman jenderal yang kecil dan kokinya koki biasa. Kalau di kediaman Jinxi, kokinya adalah koki dari istana.
"Mei Huarin tidak memaafkan aku!"
Duk
Nyonya tua membanting tongkatnya.
"Tidak bisa begini, kalau tidak bisa meminta maaf cara begini, maka paksa saja dia!"
***
Bersambung...
nanti aku pula lama naik tensi🤦🏻♀️🤦🏻♀️
kayaknya dia pengen mepet sawah terus🤭
Siapa yang mau di paksa..?
Mei Huarin yg bersujud pada kalian semua..?
Yang benar saja.. 🤭
Meski kalian yg bersujud pada nya, Mei Huarin tak kan luluh dengan air mata buaya.. 😏
Karena Mei Huarin sangat tau, kalian adalah orang² yg bermuka dua..
Jadi, buang jauh² mimpi mu Nyonya Tua.. 😝😏
Apalagi kalian memanjakan nya dgn manja² gak menentu, gak terdidik adab & akhlak nya.. habislah.. 🤣🤣
Karena apa yg kau tanamkan sejak dini, seperti itulah kelak anak² akan mencontoh perilaku orang tua nya..
Dan kau lu Yansheng, ortu mu itu ada kurang²nya kalau kulihat.. Seperti orang gila harta, makanya anak lelaki mu punya prinsip yang sama dengan nyonya tua.. 🤦🏻♀️