Selena selalu tahu bahwa dia berbeda. Sejak kecil, ia bisa merasakan sesuatu yang mengalir dalam darahnya, sesuatu yang lebih dari sekadar kekuatan seorang werewolf biasa. Namun, hidupnya berubah drastis ketika sebuah serangan brutal menghancurkan kawanan tempatnya dibesarkan.
Ditemani oleh Joan, seorang Alpha misterius yang menyimpan rahasia kelam, serta Riven, seorang pejuang yang setia tetapi penuh teka-teki, Selena harus menghadapi kenyataan pahit bahwa ada seorang pengkhianat di antara mereka. Seseorang yang menginginkannya untuk tujuan yang jauh lebih berbahaya.
Saat rahasia asal-usulnya mulai terkuak, Selena mendapati dirinya terjebak di antara dua pilihan, menerima kegelapan yang mengintainya atau bertarung demi cahaya yang hampir padam. Dengan dunia yang berada di ambang kehancuran dan hatinya yang terombang-ambing di antara kepercayaan dan pengkhianatan, Selena harus memilih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miarosa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Selena menelan ludah dan tubuhnya masih gemetar.
"Kalau aku bukan manusia, lalu apa aku sebenarnya?"
Lucian tersenyum tipis. "Itulah pertanyaan yang ingin kita cari tahu."
Ia berdiri, lalu mengulurkan tangannya seolah menawarkan bantuan.
"Tapi satu hal yang pasti, jika Joan melindungimu dengan begitu gigih, itu berarti kamu lebih berharga dari yang kamu kira dan jika aku bisa menemukanmu lebih dulu ...."
Ia membungkuk sedikit dan suaranya menjadi lebih rendah dan berbahaya.
"Maka kamu adalah milikku sekarang."
Selena tersentak. Ia menepis tangan Lucian dan mundur dengan cepat dan jantungnya berdegup kencang.
"Aku bukan milik siapa pun!"
Lucian hanya terkekeh, tetapi matanya menggelap. "Kita lihat saja nanti."
Selena berbalik, lalu matanya mencari-cari jalan keluar, tetapi ia sudah tahu tidak ada cara mudah untuk kabur.
Marcus masih berjaga di depan pintu dan bahkan jika ia berhasil melewatinya, Lucian bisa menangkapnya dalam sekejap, lalu sesuatu terjadi. Telinganya menangkap suara samar dari kejauhan.
Selena mendengar langkah kaki dengan irama cepat dan kuat yang disertai dengan geraman yang dalam.
Selena menahan napas. Itu bukan langkah kaki biasa. Itu adalah seseorang atau sesuatu yang sedang mendekat dengan kecepatan tinggi.
Lucian juga mendengarnya. Ekspresinya berubah sedikit, tetapi bukannya terlihat terganggu, ia justru tersenyum tipis.
"Sepertinya tamu kita akhirnya tiba," katanya dengan nada santai.
Selena merasa jantungnya melonjak, tetapi apakah itu berarti keselamatannya terjamin atau justru perang baru akan dimulai? Sebelum ia bisa berpikir lebih jauh, suara benturan keras menggema di lorong, lalu pintu baja itu terhempas terbuka dengan kekuatan yang mengerikan.
Selena tersentak mundur saat sosok besar melangkah masuk. Matanya langsung bertemu dengan sepasang mata gelap yang penuh dengan kemarahan.
Joan datang bukan dalam wujud manusianya. Ia telah berubah. Bulu hitam pekat menutupi tubuhnya yang sekarang jauh lebih besar, giginya yang tajam menyeringai dalam ancaman, dan cakarnya menggenggam udara dengan gemetar menahan amarah. Ia bukan hanya marah, tapi juga murka dan tatapan itu hanya tertuju pada satu orang, yaitu Lucian.
Lucian tersenyum kecil dan melangkah santai mendekati serigala raksasa di depannya.
"Ah, akhirnya kamu datang juga. Kamu memang selalu lambat, Joan," katanya dengan nada mengejek.
Joan menggeram keras dan suaranya terdengar lebih seperti kilatan petir yang akan meledak kapan saja.
Lucian tidak gentar. Ia justru terlihat menikmati situasi ini.
Selena, di sisi lain, merasa dirinya terjebak dalam badai yang akan segera meledak.
Jika Joan dan Lucian bertarung di sini tidak ada yang tahu siapa yang akan menang, tetapi satu hal pasti, ia tidak akan bisa keluar dari sini tanpa pertumpahan darah.
Udara di dalam ruangan berubah drastis.
Aura kekuatan dari dua Alpha memenuhi tempat itu dan menciptakan tekanan yang begitu kuat hingga Selena hampir sulit bernapas.
Lucian tetap berdiri tegak dengan sikap santai, meskipun di hadapannya, Joan sudah berubah menjadi wujud serigalanya.
Taring Joan menyeringai dalam ancaman dan bulunya yang gelap tampak berkilauan di bawah cahaya remang. Napasnya berat dan setiap hembusannya terdengar seperti gemuruh peringatan.
Lucian justru tersenyum. "Kamu datang cepat juga. Aku kira kamu akan membuatku menunggu lebih lama."
Joan menggeram dan cakarnya mencengkeram lantai batu dengan kuat.
“Lepaskan dia!"
Lucian tertawa kecil, ekspresinya seolah mengejek. "Lepaskan? Kamu tahu aku tidak akan melakukannya begitu saja."
Selena bisa melihat tubuh Joan semakin tegang dan bulunya berdiri tegak seolah siap menerkam kapan saja.
Marcus yang masih berdiri di dekat pintu tampak gelisah. Ia tahu betul bahwa Joan bukan lawan yang bisa diremehkan, tapi Lucian tetap tenang.
"Kenapa kamu begitu protektif terhadapnya, Joan? Apa kamu benar-benar peduli padanya? Atau kamu hanya takut kehilangan sesuatu yang berharga?" Lucian bertanya dan nada suaranya terdengar penuh rasa ingin tahu.
Joan menggeram lebih keras dan suaranya beresonansi di seluruh ruangan.
“Aku tidak akan mengulangnya lagi. Lepaskan dia!"
Selena menatap Joan, ada sesuatu dalam sorot matanya yang berbeda kali ini, tapi di balik kemarahan itu, ada sesuatu yang lebih dalam. Sesuatu yang mendekati ketakutan.
Lucian menghela napas dramatis. "Baiklah, kalau begitu."
Ia menoleh ke arah Marcus. "Bawa dia keluar!"
Marcus terlihat terkejut. "Tuan, Anda serius."
Lucian menatapnya dengan dingin. "Kamu mempertanyakan perintahku?"
Marcus langsung menunduk. "Tidak, Tuan."
Tanpa banyak bicara, Marcus berjalan menuju Selena dan meraih lengannya dengan kasar, tapi sebelum ia sempat menarik Selena keluar, Joan bergerak.
Dalam hitungan detik, ia menerjang ke arah Marcus dengan kecepatan yang tidak mungkin dihindari.
Marcus terhempas ke dinding dengan keras dan tubuhnya menghantam batu dengan suara retakan yang mengerikan. Ia jatuh ke lantai, terbatuk darah, sebelum akhirnya pingsan.
Selena tersentak. Itu terjadi begitu cepat, bahkan ia hampir tidak bisa melihat gerakan Joan.
Lucian menghela napas tampak tidak terpengaruh sama sekali dengan kejadian itu. "Kamu memang tidak pernah sabaran, Joan."
Joan tidak menjawab. Ia hanya berdiri di depan Selena, tubuhnya tegang seolah siap bertarung habis-habisan jika Lucian mencoba sesuatu.
Lucian menatap keduanya selama beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum kecil.
"Aku bisa saja menahan Selena lebih lama, tapi aku punya rencana yang lebih besar daripada sekadar bermain-main denganmu di sini."
Tatapannya beralih ke Selena dan seketika bulu kuduknya meremang.
"Aku akan membiarkanmu pergi hari ini, Selena, tapi ini belum berakhir."
Ia mencondongkan tubuhnya sedikit lebih dekat dan matanya bersinar dengan warna emas yang sama seperti milik Selena.
"Kamu akan kembali padaku. Cepat atau lambat."
Selena merasa darahnya membeku. Sebelum ia bisa merespons, Lucian sudah berbalik dan berjalan keluar, meninggalkan mereka berdua di dalam ruangan yang masih dipenuhi ketegangan.
Ketika suara langkahnya menghilang di kejauhan, Joan akhirnya kembali ke wujud manusianya. Nafasnya masih berat, keringat membasahi dahinya, dan matanya masih dipenuhi kemarahan yang belum sepenuhnya reda.
Ia berbalik menghadap Selena dan menatapnya dengan tatapan intens.
"Apakah kamu baik-baik saja?"
Selena tidak langsung menjawab, karena terlalu banyak hal yang baru saja terjadi dan terlalu banyak pertanyaan yang berputar di kepalanya, tapi ada satu hal yang akhirnya keluar dari bibirnya.
"Apa yang dia maksud?"
Joan terdiam. "Maksudnya apa?"
Selena menatapnya tajam. "Lucian bilang aku bukan manusia biasa dan mataku ...."
Ia menelan ludah dan suaranya gemetar saat melanjutkan. "Joan, aku bukan manusia, kan?"
Joan tidak langsung menjawabnya. Ekspresinya berubah tidak lagi hanya marah, tetapi juga ragu.
Selena berdiri diam dan tubuhnya masih bergetar akibat semua yang baru saja terjadi. Ia menatap Joan dan mencoba mencari jawaban di matanya, tetapi yang ia temukan hanyalah keheningan. Keheningan yang berbicara lebih banyak dari kata-kata.
"Joan."
Suara Selena terdengar lebih tajam sekarang, meskipun masih bergetar.
"Apa yang kau sembunyikan dariku?"