AKU ADALAH KEY.
AKU HIDUP BERSAMA TUKANG KAYU DARI PENJAG KUIL
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DAN DM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PEDANG HIJAU
Satu per satu blok batu Giok Zamrud raksasa itu berhasil dibelah. Keajaiban terus terjadi. Di dalamnya terdapat rongga-rongga kristal yang indah, ada yang berbentuk air terjun beku, ada yang seperti bunga mekar, dan yang terakhir mereka sebut "Naga Kucing" yang kini makin jelas bentuknya.
Namun, antusiasme Deon Key belum surut. Matanya masih tertuju pada satu blok batu terakhir yang paling kecil namun paling padat.
"Kek, yang ini terakhir! Ayo kita buka juga! Rasanya energinya beda," seru Deon sambil mengelap keringat.
"Ya ampun... kamu ini memang tidak kenal lelah. Sudah segini banyak masih kurang," gumam Genpo tapi tetap membantu mempersiapkan alat. "Hati-hati ya, batu ini terasa lebih berat dan dingin dari yang lain."
Deon tidak menjawab. Ia fokus total. Matanya memindai permukaan batu hijau itu. Ia menemukan garis retakan mikro yang sangat halus, hampir tak terlihat.
"Ini dia... titik lemahnya."
TING!
Satu pukulan presisi dari pahat.
Suaranya berbeda. Bukan suara batu pecah, melainkan suara logam berdentang nyaring yang menusuk telinga.
TRANG!!!
Batu itu terbelah sempurna menjadi dua.
Dan saat kedua sisi batu terbuka...
Mata Deon dan Genpo seketika membelalak. Napas mereka tertahan di tenggorokan.
Di tengah rongga batu itu, tidak ada kristal, tidak ada harta karun. Yang ada hanyalah sebuah pedang.
Sebilah pedang yang seluruhnya terbuat dari Giok Zamrud murni! Bilahnya panjang, lurus, dan sangat tajam, memancarkan cahaya hijau yang terang benderang. Gagangnya diukir dengan motif rumit yang terlihat sangat kuno dan megah. Pedang itu tampak seperti baru dibuat semalam, bersih, berkilau, dan terasa sangat hidup.
"Wahai Bapa... itu... itu pedang?" Genpo berbisik tak percaya.
"Indah sekali..." Deon terpesona, tangannya terangkat ingin menyentuh.
Namun, sebelum tangan Deon sempat menyentuhnya...
SYUUUUUUUUUUUUUUU!!!
Tiba-tiba pedang itu bergetar hebat! Ia melepaskan diri dari cengkeraman batunya sendiri! Seolah memiliki sayap dan nyawa sendiri, pedang itu melesat cepat seperti anak panah!
WUSH!
Dengan kecepatan luar biasa, pedang hijau itu terbang melintasi halaman kuil, menembus masuk ke dalam bangunan utama yang sudah hancur dan runtuh!
Saat pedang itu masuk ke dalam reruntuhan...
BRAAAAAAK!!! DUG DUG DUG!
Dunia seakan berbalik!
Gempa bumi kecil terjadi! Tanah bergetar hebat! Dari segala arah, batu-batu besar yang tadinya berserakan di tanah, yang jatuh dari dinding, bahkan batu-batu kerikil... tiba-tiba melayang ke udara! Seolah ada badai tak kasat mata yang menarik segalanya!
Suaranya menderu kencang seperti angin topan! WUUUUUUUUUUUUUUUMMMM!
Astagaaa! Ini apa ini! Gila! Gila!
Aku langsung jongkok memeluk kepala, tubuhku gemetar hebat. Mataku tak percaya dengan apa yang kulihat.
"Kiamat! Kiamat sudah dekat! Batu-batu terbang! Ada setan! Ada hantu! Aduh Gusti ampunilah hamba! Hamba cuma mau bantu cucu hamba! Jangan dimakan arwah penasaran!" aku meracau tak jelas, mataku terpejam kuat-kuat tak berani melihat.
"DEON! LARI NAK! KITA LARI! RUMAH KITA HANCUR LAGI! INI SIHIR! SIHIR HITAM!" teriakku histeris.
Berbeda dengan Kakek yang panik setengah mati, aku justru berdiri tegak mematung. Mataku tak berkedip sedikitpun. Jantungku berdegup kencang bukan karena takut, tapi karena kekaguman yang luar biasa.
Ini... sungguh luar biasa.
Aku melihatnya dengan jelas. Batu-batu yang melayang itu tidak menghantam apa pun. Mereka bergerak dengan teratur! Seperti ada tangan raksasa tak terlihat yang sedang menyusun puzzle raksasa!
Batu yang tadinya pecah, kembali menyatu. Dinding yang roboh, berdiri tegak kembali. Pilar-pilar yang patah, menyambung dengan sendirinya!
Cahaya hijau keemasan memancar keluar dari dalam kuil! Terang sekali, menyilaukan mata tapi tidak menyakitkan. Cahaya itu menyelimuti seluruh bangunan tua itu, memolesnya, memperbaikinya, dan... membangunkannya dari kematian.
Suara gemuruh itu perlahan mereda. Angin menderu berhenti seketika. Batu-batu yang melayang perlahan turun dan menempati posisi mereka yang semula dengan sempurna.
Dan...
SELESAI.
Hening.
Hening yang megah.
Aku mengerjap-ngerjap membersihkan debu di mataku.
Di hadapanku sekarang... bukan lagi reruntuhan kuil yang kumuh dan hancur.
Yang ada sekarang adalah sebuah Kuil Megah dan Indah!
Dinding-dindingnya berdiri kokoh, ukiran-ukirannya terlihat jelas dan tajam, atapnya utuh, dan seluruh bangunan bersih dari lumut dan debu. Warnanya kembali ke warna aslinya, terawat, dan memancarkan aura agung yang tak terlukiskan.
Simbol Pohon Beringin di gerbang utama kini bersinar terang, seolah baru saja dipahat kemarin sore.
"Kek..." panggilku pelan, suaraku bergetar.
Genpo masih memeluk kepala, matanya terpejam. "Jangan makan aku! Jangan makan aku! Pedangnya ambil saja! Batu-batunya ambil saja!"
"Kek... bangun. Lihat."
Dengan ragu-ragu Genpo membuka satu matanya, lalu membuka kedua matanya lebar-lebar.
Mulutnya terbuka lebar, tapi tidak ada suara yang keluar. Wajahnya pucat pasi melihat kuil yang kini berdiri gagah dan megah seperti di masa kejayaannya.
"Ku... kuilnya..." Genpo tergagap. "Kuilnya... jadi baru lagi?"
Aku tersenyum lebar, menatap bangunan yang kini terlihat sempurna itu.
"Iya Kek... Kita tidak cuma nemu batu. Kita baru saja... membangunkan tempat ini dari tidur panjangnya."
Dan di puncak atap kuil yang tertinggi, terlihat seberkas cahaya hijau kecil berhenti di sana. Itu adalah Pedang Zamrud tadi, kini berdiri tegak menjulang seperti tiang penyangga langit.