Punya ijazah S1 Akuntansi dengan predikat Cum Laude ternyata tidak berguna di hadapan tagihan rumah sakit yang mencapai ratusan juta. Demi menyelamatkan nyawa ibunya, Arini terpaksa membuang gengsinya dalam-dalam dan melamar menjadi kepala pelayan di penthouse mewah milik Adrian—seorang CEO muda kaya raya yang terkenal sedingin es kutub utara.Kerja keras Arini yang super rapi dan cerdas perlahan menarik perhatian sang Kakek pemilik takhta konglomerasi. Salah paham pun terjadi. Demi mempertahankan posisinya sebagai pewaris tunggal, Adrian terpaksa berbohong dan mengenalkan pelayannya itu sebagai calon istri.Sebuah kontrak pernikahan satu tahun akhirnya disodorkan di atas meja marmer.Gaji ratusan juta, seluruh utang lunas, dengan satu syarat mutlak: Dilarang saling jatuh cinta.Mampukah Arini bertahan menghadapi sikap dingin sang konglomerat di bawah satu atap yang sama? Ataukah pernikahan pura-pura ini justru akan mencairkan hati sang es kutub utara yang selama ini membeku?
Bab 25 (Operasi Mangga Tengah Malam)
Suara deru baling-baling helikopter Eurocopter EC145 milik keluarga Wijaya membelah kesunyian malam yang gerimis di atas langit Jakarta. Di dalam kabin yang kedap suara dan super mewah, Adrian duduk bersandar dengan wajah tegang. Tangannya terus bergerak gelisah, menatap layar gawai yang menampilkan koordinat pekarangan rumah lama Arini di salah satu desa di Jawa Tengah.
Di seberangnya, Yudha duduk dengan kacamata yang sedikit miring, memegang sebuah tangga lipat aluminium portabel dan sebuah senter taktis berdaya tinggi. Wajah sekretaris pribadi itu tampak pasrah pada garis takdirnya malam ini.
"Pak Adrian, koordinat sudah dikunci oleh pilot," lapor Yudha, suaranya terpaksa agak ditinggikan demi mengalahkan dengung samar mesin helikopter. "Tim lapangan kita di daerah setempat juga sudah mengondisikan pekarangan rumah Nona Arini agar steril saat kita mendarat darurat di lapangan bola desa sebelah."
"Bagus. Pastikan tidak ada satu pun warga desa yang terbangun dan memotret kegiatan ini," jawab Adrian dingin. Aura tegasnya kembali muncul, seolah-olah ia sedang memimpin operasi akuisisi perusahaan asing, bukan operasi memetik buah mangga tua yang asam.
Satu jam penerbangan darat yang dipangkas lewat jalur udara akhirnya membawa mereka tiba di lokasi. Setelah helikopter mendarat mulus di lapangan desa, Adrian dan Yudha langsung bergegas menerobos rintik hujan malam menggunakan mobil jip pengawal menuju pekarangan rumah Arini.
Suasana pekarangan rumah tua itu sangat gelap, hanya diterangi oleh sorot lampu senter taktis milik Yudha. Di sudut halaman, sebuah pohon mangga harumanis yang rimbun berdiri dengan kokoh. Di dahan-dahan tingginya, tampak bergantungan beberapa buah mangga muda yang masih hijau dan keras."Buka tangganya, Yudha," titah Adrian sembari melepas jubah wol hitam mahalnya, menyisakan kemeja hitam yang langsung basah kuyup terkena gerimis.
"Biar saya saja yang memanjat, Pak Adrian. Anda bisa menunggu di mobil," tawar Yudha cemas melihat bos besarnya yang biasa duduk di kursi empuk direksi kini bersiap memanjat pohon.
"Tidak boleh," potong Adrian cepat dengan nada posesif yang mutlak. "Arini bilang, bayinya mau mangga yang dipetik langsung oleh tangan ayahnya sendiri. Jika kamu yang memetiknya, nilainya akan berkurang di mata anakku. Pegang saja tangganya dengan kuat."
Dengan nyali yang biasa ia gunakan untuk menaklukkan para investor raksasa, sang CEO muda itu mulai menapakkan kakinya di anak tangga aluminium. Gerakan Adrian tampak sangat berhati-hati namun cekatan. Ia memanjat hingga ke dahan tengah, mengabaikan rintik hujan yang menusuk kulit dan lumut pohon yang licin.
"Senter ke arah dahan kanan, Yudha! Sedikit ke atas!" seru Adrian.
Sorot lampu senter Yudha bergeser, menampilkan sebuah mangga muda berukuran kepalan tangan yang tampak sangat segar. Adrian menjulurkan lengan kekarnya, mencengkeram tangkai buah tersebut, dan dengan satu hentakan kuat—prak!—buah mangga muda itu berhasil ia petik dengan tangannya sendiri.
Adrian tidak hanya memetik satu. Demi memastikan istrinya puas, ia memetik tiga buah mangga muda terbaik lalu memasukkannya ke dalam kantong kain yang sudah ia siapkan, sebelum akhirnya turun kembali ke bawah dengan pakaian yang sudah kotor terkena noda getah dan tanah pekarangan.
Tepat pukul tiga pagi, pintu ganda penthouse Sudirman kembali terbuka. Arini yang ternyata tidak bisa tidur karena mengkhawatirkan suaminya, langsung berdiri dari sofa saat melihat Adrian melangkah masuk.
Kondisi sang konglomerat tampak sangat berantakan. Rambutnya basah, kemeja hitam premiumnya kotor penuh noda getah pohon, dan wajah tampannya tampak kelelahan. Namun, di tangan kanannya, Adrian menggenggam sebuah kantong kain dengan senyuman kemenangan yang sangat lebar.
"Mas Adrian! Kamu basah kuyup!" seru Arini panik, langsung berlari mengambil handuk bersih.
Adrian tidak memedulikan kondisinya sendiri. Ia langsung menarik tubuh ramping Arini ke dalam dekapannya yang hangat dan posesif, menghirup dalam-dalam aroma melati yang selalu ia rindukan. Ia membuka kantong kain itu dan mengeluarkan tiga buah mangga muda yang masih segar di hadapan Arini.
"Ini... pesanan anak kita, Sayang. Dipetik langsung oleh tangan Mas dari pohon rumahmu," bisik Adrian rendah dengan suara serak yang seksi, matanya memancarkan rasa sayang yang teramat mendalam.
Arini menatap tiga buah mangga di tangannya, lalu menatap wajah Adrian yang kotor demi menuruti keinginan konyolnya tengah malam begini. Air mata haru seketika menggenang di pelupuk mata Arini. Ia membuang mangga tersebut ke atas meja, lalu menghamburkan tubuhnya, memeluk leher kokoh Adrian dengan sangat erat sembari menangis bahagia.
"Terima kasih banyak, Mas... Kamu suami terbaik di dunia," isak Arini tulus di ceruk leher Adrian.
Adrian tersenyum sangat puas, mendekap tubuh istrinya semakin erat di bawah temaram lampu tawang pagi buta itu. "Apapun untukmu dan masa depan kita, Baby. Sekarang, biarkan Mas membersihkan diri, lalu aku akan mengupas buah ini secara presisi untukmu."