Rosline gadis berusia 20 tahun yang terlahir bukan dari keluarga berada. Dia memiliki hidup yang sulit, bukan hanya menanggung beban hidupnya sendiri, tapi juga menanggung beban keluarganya. Suatu ketika Rosline mendapat tawaran kerja partime di salah satu rumah mewah untuk menjaga kakek tua, tapi tanpa diduga rumah itu ternyata rumah seorang Mafia kejam...
Rosline semakin bingung harus bertahan atau harus pergi dari sana. Sementara dia sangat butuh uang untuk keluarganya....
Apa yang terjadi selanjutnya dengan Rosline?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13 : Masih di Jaga Pengawal
Sore mulai berubah menjadi malam perlahan. Lampu-lampu minimarket sudah menyala terang, sementara pelanggan mulai ramai berdatangan setelah jam pulang kerja.
Rosline sibuk merapikan rak minuman sambil sesekali melayani pelanggan di kasir. Namun anehnya… setiap beberapa menit sekali matanya selalu melirik ke arah luar kaca minimarket.
Dan Daniel masih ada disana. Pria itu bahkan tetap berdiri tegak di dekat mobil hitamnya dengan ekspresi datar seperti patung penjaga istana.
Rosline sampai menghela napas pasrah sendiri. “Dia benar-benar serius menunggu aku sampai jam sebelas…” gumamnya kecil.
“Siapa?” tanya salah satu temannya penasaran.
“Itu…” Rosline menunjuk malas ke arah luar.
Temannya langsung melirik lagi lalu berbisik kagum. “Ros… serius deh. Aku malah iri sama kamu.”
“Iri apanya?”
“Dijemput mobil mewah. Dijaga bodyguard, terus tinggal di mansion.”
Rosline langsung mendengus pelan. “Kamu coba aja dulu hidup sehari disana.”
“Memangnya seseram itu?”
Rosline langsung menatap temannya dramatis. “Aku bahkan takut salah setiap kali bergerak.”
Temannya langsung tertawa keras.
Namun di saat yang sama…
Ting!
Pintu minimarket otomatis terbuka.
Rosline refleks menoleh sambil tetap memegang mesin scanner barang. Namun detik berikutnya, matanya langsung membesar.
Daniel masuk ke dalam minimarket.
Beberapa pegawai langsung otomatis diam karena aura pria itu terlalu formal dan serius untuk tempat kecil seperti minimarket mereka.
Daniel berjalan tenang mendekati meja kasir Rosline.
“Pa-Pak Daniel?” Rosline langsung gugup sendiri. “Ada apa?”
Daniel menyerahkan sebuah paperbag kecil ke atas meja kasir. “Nona belum makan sejak siang.”
Rosline berkedip bingung. “Hah?”
“Tuan Bara meminta saya untuk membelikan makanan untuk Nona.”
Rosline langsung terdiam.
Teman-temannya di belakang langsung mulai saling sikut pelan sambil menahan jeritan heboh. “Astaga…” salah satu dari mereka berbisik kecil. “Sweet juga…”
Rosline langsung panik mendengar itu. “Ti-tidak seperti itu!”
Daniel tetap tenang seolah tidak peduli suasana sekitar. “Tuan Bara bilang kalau Nona sakit saat bekerja, itu akan merepotkan.”
Dan entah kenapa, kalimat itu justru terdengar semakin aneh di telinga Rosline.
“Merepotkan…” ulang Rosline pelan.
“Iya.”
Rosline langsung mengerucutkan bibir kecil kesal. “Sepertinya dia memang tidak bisa bicara baik sedikit ya…”
Namun Daniel tiba-tiba berkata pelan. “Sebenarnya Tuan Bara tidak pernah peduli sampai seperti ini pada perawat sebelumnya.”
Rosline langsung terdiam. “Hah?”
Daniel langsung kembali datar. “Tidak ada apa-apa.”
Lalu pria itu membungkuk kecil sopan sebelum kembali berjalan keluar minimarket.
Rosline masih berdiri bengong sambil memegang paperbag makanan itu. Sedangkan teman-temannya langsung menyerbu mendekat.
“Rosline!”
“Apa itu?”
“Dia perhatian banget sih!”
Rosline langsung panik. “Bukan begitu!”
“Terus apa dong?”
“Itu hanya karena aku bekerja di mansion!”
Namun pipi Rosline mulai memanas sendiri tanpa sadar. Dan dari luar minimarket, Daniel kembali berdiri di dekat mobil sambil melirik sekilas ke arah Rosline di dalam toko.
***
Suasana mansion Alexander malam itu kembali terasa sunyi.
Lampu-lampu taman belakang menyala redup menerangi halaman luas yang dipenuhi angin malam dingin. Di tengah taman, Kakek Alberto duduk di kursi rodanya sambil memandang kolam kecil dengan wajah bosan.
Bibi Rena berjalan pelan mendekati Kakek Alberto sambil membawa selimut tipis.
“Tuan Besar, anginnya sangat dingin.” ucapnya lembut sambil menyampirkan selimut ke kaki pria tua itu.
Kake Alberto hanya mendengus pelan.
Bibi Rena lalu bertanya hati-hati. “Apa Tuan Besar ingin cemilan atau jus?”
Namun Alberto malah bertanya datar.
“Bi…”
“Ya?”
“Kapan gadis kurus itu pulang?”
Bibi Rena langsung menahan senyum kecil. “Nona Rosline?” tanyanya memastikan.
“Hm.”
“Sepertinya tengah malam, Tuan Besar.” jawab Bibi Rena tenang. “Dia masih bekerja di minimarket.”
Alberto langsung menghela napas panjang penuh drama. “Tidak ada dia dan Edwin…” gerutunya pelan. “Mansion ini kembali sepi.”
Bibi Rena hanya diam mendengar keluhan itu.
“Sedangkan Bara memang ada dirumah…” lanjut Alberto kesal kecil. “Tapi dia tetap saja sibuk dengan pekerjaannya.”
Pria tua itu mendecak pelan. “Aku lagi-lagi sendirian.”
Bibi Rena langsung bingung harus menjawab apa. Karena memang kenyataannya begitu. Selama bertahun-tahun mansion Alexander selalu dingin dan sunyi.
Edwin sibuk dengan pekerjaannya, Bara lebih sering menghilang keluar kota atau mengurung diri di ruang kerja, sementara Kakek Alberto hanya ditemani perawat yang datang dan pergi.
Namun sejak Rosline datang, suasana mansion perlahan berubah. Ada suara panik kecil, wajah polos yang mudah ketakutan, dan kini ada seseorang membuat Kakek Alberto tertawa berkali-kali dalam sehari.
Dan sekarang saat gadis itu tidak ada, mansion itu terasa kembali kosong. Bibi Rena sampai tersenyum sendiri menyadari perubahan itu. Namun tepat saat suasana kembali hening…
Suara langkah kaki terdengar dari arah dalam mansion.
Tak lama kemudian, Bara keluar dari lorong menuju taman belakang sambil memegang tablet hitam di tangannya. Kemeja hitam pria itu sedikit terbuka di bagian atas, sementara wajahnya terlihat lelah karena terlalu lama bekerja.
Tatapan tajamnya langsung jatuh ke arah Kakek Alberto dan Bibi Rena. “Opa belum tidur?”
Alberto langsung mendengus malas. “Percuma tidur. Mansion ini membosankan.”
Bara mengernyit kecil. “Membosankan?”
“Iya.” Pria tua itu lalu melirik Bara tajam. “Mana gadis kurus itu?”
Bara langsung terdiam beberapa detik.
Bibi Rena yang melihat reaksi itu langsung menunduk kecil menahan senyum.
“Dia masih bekerja.” jawab Bara datar sambil kembali melihat tabletnya.
“Aku tahu.” gerutu Alberto cepat. “Justru karena itu mansion ini jadi sepi.”
Bara tidak langsung menjawab. Namun beberapa detik kemudian… Pria itu justru melirik jam di pergelangan tangannya pelan.
Gerakan kecil itu langsung disadari Alberto. Dan detik berikutnya…
“Hoh?” Alberto menyipit jahil. “Kau juga menunggu dia pulang rupanya.”
Tatapan Bara langsung terangkat dingin. “Opa terlalu banyak bicara.”
Alberto malah tertawa puas.
Sedangkan Bara hanya mendecak kecil lalu berjalan menuju kursi taman. Namun entah kenapa, kali ini Pria itu ikut merasa mansion besar ini memang terlalu sunyi malam ini.
***
Kini tanpa terasa jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Minimarket mulai jauh lebih sepi dibanding beberapa jam sebelumnya. Hanya tersisa beberapa pelanggan terakhir yang datang membeli makanan instan atau minuman dingin sebelum pulang.
Rosline berdiri di depan kasir sambil meregangkan bahunya pelan.
“Capek juga…” gumamnya kecil.
Sejak sore tadi pikirannya benar-benar tidak tenang karena terus mengingat mansion Alexander. Bahkan beberapa kali ia salah menghitung kembalian pelanggan karena memikirkan Bara dan aturan-aturannya yang aneh.
“Ros, kamu melamun lagi.” tegur salah satu teman kerjanya.
Rosline langsung tersadar cepat. “Eh? Ah iya maaf…”
Temannya malah menyeringai jahil. “Jangan-jangan kepikiran Tuan Bara ya?”
“Apaa?!” Rosline langsung melotot panik sampai hampir menjatuhkan struk belanja.
Teman-temannya langsung tertawa keras menggoda. “Mukamu merah tuh!”
“Tidak merah!”
“Kamu dari tadi melamun terus.”
Rosline langsung buru-buru memalingkan wajah malu. “Sudah ah! Kalian kerja sana!”
Namun sebelum teman-temannya sempat menggoda lagi…
Ting!
Pintu minimarket otomatis terbuka...