Di bawah kilau kemewahan, Sherina Mutiara tetap berpijak sederhana, mengubur rasa cinta pada Darren Mahendra yang kandas oleh perbedaan. Ia lalu meniti jalan hidupnya sendiri di Mutiara Group, tempat ia bertemu Arsya Abrisam—pemuda jenius yang melepas jas dokter akibat luka masa lalu, dingin dan tertutup. Di antara tantangan kerja dan konflik perbedaan pendapat, benih rasa tumbuh di antara mereka, menyembuhkan luka dan mengajarkan arti bangkit. Namun, takdir membawa Darren Mahendra kembali dengan penyesalan, sementara Arsya diuji oleh pilihan tentang menegakkan keadilan atau tetap di tempat. Di persimpangan jalan, Sherina juga harus memilih: kembali pada mimpi lama, atau melangkah maju bersama sosok yang mengajarkannya bahwa cinta sejati adalah tentang tumbuh, bersinar, dan berani menjadi diri sendiri. Sebuah kisah tentang hati yang belajar memilih, dan jiwa yang menemukan cahayanya di balik luka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Di balik tatapan mata yang selalu tajam dan dingin, di balik sikap angkuh yang seolah memisahkannya dari siapa pun, serta di balik kejeniusan yang membuatnya dikagumi sekaligus ditakuti oleh seluruh karyawan di Mutiara Group, tersimpan sebuah kisah masa lalu yang kelam dan penuh kepedihan.
Arsya Abrisam bukanlah sosok yang lahir dengan sifat tertutup dan keras hati seperti yang terlihat sekarang. Dulu, bertahun-tahun silam, ia adalah pemuda yang ceria, penuh harapan, dan memiliki masa depan yang begitu cerah hingga terlihat nyata di depan mata.
Kilas balik waktu membawa kita kembali ke masa di mana hidupnya masih berwarna, sebelum takdir menamparkan kenyataan pahit yang mengubah seluruh jalan hidupnya selamanya.
Saat itu, Arsya masih berstatus sebagai dokter muda yang baru saja mengukir namanya dengan tinta emas. Ia adalah kebanggaan kedua orang tuanya, pasangan suami istri yang sama-sama mengabdi sebagai tenaga medis yang sangat dihormati di kota itu.
Ayahnya adalah seorang dokter bedah ternama, sementara ibunya mengabdikan diri sebagai dokter spesialis penyakit dalam. Di rumah itu, ilmu pengetahuan, kepekaan, dan kasih sayang terhadap sesama adalah nilai utama yang ditanamkan sejak dini. Tumbuh di lingkungan yang dipenuhi semangat menyembuhkan dan menolong, Arsya secara alami mengikuti jejak langkah kedua orang tuanya. Ia belajar dengan tekun, menyerap setiap ilmu laksana tanah kering menyedot air hujan, dan lulus sebagai mahasiswa terbaik dengan segudang penghargaan.
Bagi Arsya, menjadi dokter bukan sekadar profesi atau warisan keluarga. Itu adalah panggilan jiwa. Ia sangat mencintai dunia medis, mencintai aroma obat-obatan yang menenangkan, mencintai suasana rumah sakit yang sibuk namun penuh harapan, dan yang paling utama, ia mencintai kemampuan tangannya yang lihai dan presisi.
Tangan kanannya itu, yang kini selalu tersembunyi dan dijaga rapat dari pandangan orang lain, dulunya adalah kebanggaan terbesarnya. Tangan yang mampu memegang pisau bedah dengan kestabilan luar biasa, tangan yang dengan lembut meraba denyut nadi pasien, tangan yang diharapkan banyak orang untuk menjadi penolong dan penyelamat. Orang tua Arsya sering kali memandangi tangan anak mereka dengan bangga, berkata bahwa tangan itu kelak akan menolong ribuan nyawa, sama seperti apa yang telah mereka lakukan seumur hidup.
“Ketepatan, kehati-hatian, dan ketulusan,” begitu pesan ayahnya selalu mengulang,
“Itulah yang membuat tangan seorang dokter menjadi berharga, Nak. Jagalah kemampuan itu baik-baik, karena itu adalah amanah dari Tuhan.”
Dan Arsya menjalani amanah itu dengan sepenuh hati. Di usia yang masih sangat muda, ia telah dipercaya membantu dalam operasi-operasi besar, menjadi andalan di rumah sakit tempat kedua orang tuanya bekerja. Semua orang memuji kecemerlangannya, meramalkan bahwa nama Arsya Abrisam kelak akan melampaui nama kedua orang tuanya, menjadi legenda baru dalam dunia kedokteran.
Kebahagiaan terasa begitu lengkap, langit hidupnya tampak biru bersih tanpa sedikit pun awan kelabu yang mengganggu. Namun, takdir memiliki skenario yang berbeda, skenario yang begitu kejam hingga membuatnya mempertanyakan makna hidup itu sendiri.
Suatu sore, di hari ulang tahun ibunya, mereka bertiga pulang bersama setelah menyelesaikan tugas di rumah sakit. Langit di luar sedang mendung pekat, hujan turun sangat deras membasahi jalan raya hingga permukaannya licin dan berkilau terkena sorot lampu kendaraan.
Ayahnya menyetir dengan hati-hati, Ibunya duduk di sampingnya, sementara Arsya duduk di kursi penumpang belakang, mereka bercanda dan membicarakan rencana makan malam sederhana untuk merayakan hari bahagia itu. Suasana di dalam mobil terasa hangat dan penuh tawa, tidak ada yang menyangka bahwa detik-detik berikutnya akan menjadi detik-detik terakhir kebahagiaan mereka.
Tiba-tiba, dari arah berlawanan, sebuah truk besar melaju dengan kecepatan tinggi, kehilangan kendali karena jalanan yang becek dan licin. Tubuh raksasa kendaraan itu meluncur menyerempet mobil keluarga Abrisam dengan kekuatan dahsyat. Suara benturan keras yang memekakkan telinga menggema, disusul suara kaca yang pecah berhamburan dan logam yang berkerut hancur.
Mobil kecil itu terlempar jauh, berputar beberapa kali di tengah hujan deras sebelum akhirnya terhenti tak berdaya di pinggir jalan yang basah. Keheningan mencekam sejenak menyelimuti suasana, hanya terdengar suara rintik air yang terus turun, seolah langit pun menangis menyaksikan tragedi itu.
Arsya terbangun dari pingsan karena rasa sakit yang luar biasa di sekujur tubuhnya. Kepalanya berdenyut hebat, darah mengalir turun dari pelipisnya, membasahi wajahnya yang pucat. Pandangannya kabur, namun ia masih bisa melihat sekelilingnya dengan sisa kesadaran yang ada.
Di hadapannya, ibunya tergeletak diam, tak bergerak sedikit pun, wajahnya tertutup serpihan kaca dan darah. Di kursi pengemudi, ayahnya terjepit di antara kemudi dan kursi, napasnya telah berhenti total. Jeritan panjang keluar dari mulut Arsya, seruan nama ayah dan ibunya yang memilukan hati, namun tak ada jawaban. Yang menjawab hanyalah suara hujan dan rasa sakit yang menyayat hati.
Namun, penderitaan Arsya belum berakhir. Saat ia mencoba menggerakkan tubuhnya untuk mendekap tubuh orang tuanya yang telah membeku dingin, rasa sakit yang tajam dan membakar menyambar di lengan kanannya. Ia menundukkan pandangan, dan detik itu juga, dunia seolah runtuh sepenuhnya di hadapan matanya.
Tangan kanannya, tangan yang menjadi kebanggaan, tangan yang menjadi harapan masa depan, tangan yang dididik untuk menyelamatkan nyawa, kini terluka parah. Di antara sela-sela besi yang menghimpit dan pecahan kaca yang tajam, jari manis di tangan kanannya terputus, hilang, hancur tak berbentuk, tertinggal di antara puing-puing kecelakaan itu. Darah mengalir deras, merah menyala membasahi kulit putihnya, dan rasa sakit itu bukan hanya fisik, tetapi rasa sakit yang menusuk hingga ke dalam jiwanya yang paling dalam.
Kecelakaan parah itu telah merenggut segalanya darinya. Ia selamat secara fisik, namun ia merasa dirinya telah mati bersama kedua orang tuanya sore itu. Kebahagiaannya hilang, masa depannya hancur, dan mimpinya pupus seketika. Setelah melewati masa pemulihan yang panjang dan menyakitkan, baik secara raga maupun batin, Arsya akhirnya sadar akan satu kenyataan pahit bahwa ia tidak bisa kembali menjadi dokter lagi.
Dunia medis yang ia cintai sangat menuntut ketelitian dan kesempurnaan. Bagi seorang dokter bedah, setiap jari adalah anugerah yang tak tergantikan, alat kerja yang paling utama dan berharga.
Kehilangan satu jari manis, jari yang berfungsi menopang keseimbangan dan kekuatan cengkeraman, berarti hilangnya kemampuan untuk melakukan pekerjaan yang presisi. Ia tidak akan pernah bisa lagi memegang pisau bedah dengan kestabilan yang sama. Ia tidak akan pernah bisa lagi merasakan kepuasan menyembuhkan orang lain seperti dulu. Tangan yang dulunya dianggap suci dan berharga itu, kini menjadi bukti bisu kehancurannya, menjadi hal yang ingin ia sembunyikan selamanya dari pandangan manusia mana pun.
Kepahitan itu mengubah dirinya drastis. Pemuda yang dulu ramah, terbuka, dan penuh senyum, berubah menjadi sosok yang dingin, tertutup, dan sulit didekati. Ia memendam rasa duka yang mendalam, rasa bersalah yang tak berkesudahan, serta kekecewaan yang besar terhadap takdir.
Arsya pun memutuskan pergi dari lingkungan tempat ia tumbuh, meninggalkan rumah sakit, meninggalkan dunia medis, dan berusaha menghapus jejak masa lalunya yang indah namun menyakitkan itu.
Ia membenci segala sesuatu yang berhubungan dengan kesempurnaan, ia membenci orang-orang yang hidupnya mudah dan penuh kemewahan tanpa pernah merasakan pahitnya kehilangan dan perjuangan, dan itulah sebabnya ia selalu memandang rendah orang-orang yang ia anggap hanya hidup menumpang nama atau kekayaan orang lain, persis seperti pandangannya kepada Sherina.
Arsya kemudian menemukan jalan baru di dunia bisnis dan usaha. Ia menyalurkan segala kejeniusan, ketajaman pikiran, dan kedisiplinan yang dulu ia gunakan dalam dunia medis ke dalam bidang riset dan pengembangan produk. Ia bekerja dengan ketat, kritis, dan tak kenal ampun, seolah-olah kerja keras adalah satu-satunya cara untuk menebus dosa atau menghapus rasa sakit di hatinya.
Di Mutiara Group, ia naik jabatan dengan cepat berkat kemampuannya yang luar biasa, namun ia tetap hidup dalam kesendirian. Ia selalu menyembunyikan tangan kanannya yang cacat itu, bukan hanya karena fisiknya yang berubah, tetapi karena baginya, tangan itu adalah simbol kegagalannya, simbol dari apa yang telah direnggut darinya secara paksa.
Kini, di balik tatapan tajam yang ia lemparkan kepada Sherina, tersembunyi luka lama yang belum sembuh sepenuhnya. Ketika ia melihat gadis itu, ia tidak hanya melihat anak orang kaya yang beruntung. Ia melihat sesuatu yang membuatnya iri dan marah secara bersamaan. Seseorang yang memiliki segalanya, memiliki kesempatan, memiliki kemampuan fisik yang utuh, namun seolah-olah tidak menyadari betapa berharganya semua itu, seolah-olah hanya bermain-main dengan kehidupan.
Arsya tidak tahu perjuangan apa yang telah dilalui Sherina, sama seperti Sherina yang belum tahu betapa dalam luka yang dipendam Arsya.
Di ruangan kantor yang dingin itu, di antara tumpukan berkas dan gagasan besar, berdiri dua manusia yang sama-sama terluka dan berjuang, namun dengan cara dan pandangan yang berbeda. Arsya terus menyembunyikan tangannya, menyembunyikan kisahnya, dan membentengi hatinya rapat-rapat, takut jika ia membukanya sedikit saja, rasa sakit itu akan kembali membanjiri dan menenggelamkannya kembali ke dalam jurang masa lalu yang kelam.
Dan kisah kecelakaan itu, serta hilangnya mimpinya, tetap menjadi rahasia besar yang terkunci rapat di balik tatapan mata dingin sang jenius, menunggu waktu yang tepat untuk terungkap dan menjembatani jurang pemisah yang kini semakin lebar di antara dirinya dan Sherina.