Airellia Kaivena hidup dalam penantian yang tak pernah benar-benar ia pahami. Selama tujuh tahun, ia setia menunggu seseorang dari masa kecilnya yang berjanji akan kembali.
Ketika akhirnya sosok itu muncul kembali dalam wujud Zevarion Hale, harapan yang lama terkubur perlahan tumbuh menjadi sesuatu yang lebih dalam.
Namun di balik pertemuan yang seharusnya indah, tersembunyi kebenaran yang mampu menghancurkan segalanya, mengubah penantian menjadi luka yang tak pernah ia bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33 - Nama Yang Tak Pernah Disebut
Sejak kemunculan Naresta, suasana hati Airel Virellia berubah seperti langit menjelang hujan. Dari luar semuanya masih tampak biasa, bahkan nyaris tak ada yang berbeda jika dilihat sekilas. Ia tetap datang ke kampus, menghadiri kelas, menjaga stand festival, dan masih sempat membalas candaan Kalista seperti hari-hari sebelumnya.
Namun di dalam dirinya ada sesuatu yang terus bergerak gelisah. Rasa ganjil itu sulit dijelaskan, karena bukan semata soal perempuan cantik yang berdiri dekat Zev. Bukan juga hanya karena kedekatan yang tampak jelas di mata siapa pun.
Naresta membawa hal yang lebih mengusik.
Ia membawa bukti bahwa Zevarion Hale memiliki bagian hidup yang sama sekali tidak Airel kenal. Ada masa-masa panjang, kebiasaan lama, cerita yang sudah berjalan sebelum Airel hadir. Dan kesadaran itu membuat jarak yang selama ini terasa dekat mendadak terlihat panjang.
Pagi berikutnya festival kampus masih berlangsung. Halaman depan penuh mahasiswa dengan kaus panitia, musik terdengar dari panggung utama, dan suara tawa datang dari berbagai sudut. Beberapa stand mulai buka sejak pagi, sementara panitia lain sibuk membawa kardus atau merapikan dekorasi yang sempat berantakan karena hujan semalam.
Airel datang lebih awal dari biasanya. Ia sengaja membantu menata buku di stand komunitas agar tangannya sibuk dan pikirannya tidak sempat berkelana ke hal-hal yang tidak perlu.
Sayangnya, pikiran jarang mau diatur.
Ia menyusun buku berdasarkan genre, lalu memindahkan lagi sesuai ukuran. Setelah itu ia meluruskan tumpukan pembatas buku, merapikan pena di gelas plastik, lalu membenarkan posisi daftar harga yang sebenarnya sudah lurus.
“Kalau kamu susun buku itu terus, raknya bisa trauma.”
Airel menoleh. Kalista berdiri sambil membawa dua gelas kopi dingin dengan ekspresi puas seperti orang yang baru datang menonton drama favoritnya.
“Aku cuma ngerapiin.”
“Itu buku udah rapi dari lima menit lalu.”
Kalista menyerahkan satu gelas padanya lalu duduk di kursi plastik sebelah meja. Ia membuka sedotan dan menatap Airel lekat-lekat.
“Masih kepikiran cewek kemarin?”
Airel membuka tutup minumannya. “Enggak.”
“Kalau bohong, kamu jawabnya pendek.”
“Aku emang lagi pendek sabarnya.”
Kalista tertawa kecil. “Santai aja. Bisa jadi cuma teman lama.”
“Bisa jadi juga lebih dari itu.”
“Terus kalau lebih dari itu?”
Airel diam sejenak. Matanya menatap lapangan depan yang mulai ramai, tetapi fokusnya entah ke mana.
“Berarti aku yang salah paham.”
Nada suaranya terdengar lebih tenang daripada isi dadanya. Kalista hendak membalas, tetapi suara riuh dari sisi gedung membuat keduanya menoleh bersamaan.
Beberapa panitia datang bersama tim dokumentasi. Di tengah mereka ada Zev dengan kamera di tangan, langkah santai, wajah datar seperti biasa, dan rambut sedikit berantakan diterpa angin pagi. Ia tampak seperti seseorang yang tidak pernah benar-benar tergesa meski dikelilingi orang sibuk.
Dan di sampingnya, Naresta.
Perempuan itu mengenakan jaket panitia biru tua. Ia berbicara sambil tersenyum, tangannya bergerak ringan ketika menjelaskan sesuatu. Zev mendengarkan setengah hati, sesekali menanggapi pendek, tetapi tetap berjalan sejajar dengannya.
Airel buru-buru menunduk menata pena di meja.
Ia tidak ingin terlihat memperhatikan. Namun tubuh manusia sering mengkhianati niatnya sendiri. Telinganya justru semakin peka pada suara dari kejauhan.
“Reyan, kamu denger enggak sih?”
Tangan Airel berhenti di atas meja.
Suara itu milik Naresta.
Ia mengangkat kepala refleks. Zev juga berhenti sepersekian detik, lalu menoleh pada Naresta dengan ekspresi tipis yang sulit dibaca.
“Jangan panggil gitu di sini,” katanya pelan.
Naresta tertawa ringan. “Refleks. Maaf.”
Mereka lalu berjalan lagi seolah tak ada yang penting terjadi.
Namun bagi Airel, satu kata itu jatuh seperti batu ke permukaan air tenang.
Reyan.
Nama itu jelas bukan Zevarion Hale.
Kalista ikut mengernyit. “Aku salah dengar?”
“Kamu dengar juga?”
“Iya.”
Airel menelan ludah. Nama itu memukul sesuatu di kepalanya. Bukan karena ia mengenalnya, tetapi karena bunyinya terasa asing sekaligus dekat, seperti kata yang pernah lewat di ujung ingatan lalu menghilang sebelum sempat ditangkap.
Kalista memicingkan mata. “Mungkin nama panggilan.”
“Mungkin.”
Namun suara Airel sendiri terdengar ragu.
Sepanjang pagi, nama itu berputar di kepalanya. Saat melayani pembeli, saat menghitung uang kembalian, saat menuliskan daftar stok buku, kata itu terus muncul tanpa diundang.
Reyan.
Bukan Zev.
Bukan Zevarion.
Lalu siapa sebenarnya pria yang selama ini berdiri di dekatnya, menunggu di halte, memanggil namanya dengan suara rendah, dan perlahan mengambil tempat paling tenang di hidupnya?
Siang hari stand mulai sepi. Matahari tertutup awan tipis, membuat udara terasa hangat tapi tidak menyengat. Kalista pergi sebentar membantu teman panitia lain, meninggalkan Airel sendiri di meja.
Beberapa menit kemudian Zev datang membawa dua kotak makan.
“Belum makan kan?”
Airel menatap kotak itu lalu ke wajahnya. Ia mencoba mencari tanda-tanda sesuatu yang berbeda, tetapi seperti biasa ekspresi pria itu tenang dan sulit dibaca.
“Beli dari mana?”
“Kantin belakang.”
“Kamu nanya dulu enggak?”
“Aku tahu jawabannya.”
Ia duduk di kursi samping meja seolah tempat itu memang miliknya. Gerakannya natural, terlalu terbiasa untuk disebut nekat.
Airel menerima kotak makan perlahan. Biasanya perhatian kecil seperti ini akan membuat hatinya diam-diam lunak. Hari ini ada hal lain yang mengganjal lebih dulu.
Zev membuka sumpitnya. “Kamu dari tadi aneh lagi.”
“Kamu sering ngomong gitu.”
“Karena sering kejadian.”
Airel menarik napas pendek. Ia tahu jika terus diam, rasa penasarannya hanya akan tumbuh semakin buruk.
“Tadi pagi,” katanya pelan. “Naresta manggil kamu apa?”
Gerakan tangan Zev berhenti.
Hanya sesaat, tetapi cukup jelas untuk ditangkap.
“Kenapa?”
“Aku nanya aja.”
“Nama lama.”
“Nama siapa?”
“Enggak penting.”
Ia mulai makan seolah percakapan selesai begitu saja.
Airel menatapnya tak percaya.
“Kalau enggak penting, kenapa kamu bilang jangan dipanggil begitu?”
Zev tidak langsung menjawab. Angin siang membawa suara musik dari panggung utama dan tepuk tangan dari arah lomba games, membuat jeda di antara mereka terasa makin panjang.
“Karena aku enggak suka,” katanya akhirnya.
“Kenapa enggak suka?”
“Airel.”
Nada suaranya berubah rendah. Biasanya nada itu menenangkan. Kali ini terdengar seperti pintu yang ditutup perlahan.
“Enggak semua hal harus dibahas.”
Airel menahan diri agar tidak tersinggung.
“Aku cuma tanya.”
“Iya. Dan aku jawab secukupnya.”
“Secukupnya buat siapa?”
Tatapan Zev beralih padanya. Wajahnya tampak lebih lelah dari biasanya, seolah topik itu menguras tenaga hanya dengan disebut.
“Buat sekarang.”
Jawaban itu tidak menjelaskan apa pun. Justru menambah banyak pertanyaan.
Airel mendadak kehilangan selera makan. Ia menutup kotak nasinya lalu berdiri.
“Aku mau ke belakang dulu.”
Ia berjalan menjauh sebelum pria itu sempat menahan.
Di belakang gedung aula ada taman kecil dengan bangku semen yang jarang dipakai orang. Pohon flamboyan di sana sedang berbunga, beberapa kelopaknya rontok tertiup angin dan menempel di lantai basah sisa hujan malam. Tempat itu cukup sepi untuk bernapas tanpa harus pura-pura baik-baik saja.
Airel duduk sambil menatap pohon di depannya.
Ia merasa bodoh karena terusik hanya oleh sebuah nama. Namun yang menyakitkan bukan nama itu. Melainkan cara Zev menutup diri, seolah ada bagian hidup yang sama sekali tak boleh disentuh.
Selama ini mereka semakin dekat. Ia mulai percaya bahwa sedikit demi sedikit Zev membuka ruang untuknya. Ternyata masih ada pintu-pintu lain yang terkunci rapat.
Dan di balik salah satunya mungkin tersimpan identitas yang bahkan belum pernah ia dengar.
Langkah kaki mendekat dari belakang.
Airel tidak menoleh. Ia sudah tahu siapa yang datang.
Zev duduk di sebelahnya, memberi jarak satu telapak tangan. Tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh.
“Aku enggak suka kalau kamu pergi pas lagi ngomong.”
“Aku enggak suka ditinggal di tengah jawaban.”
“Kamu dramatis.”
“Kamu misterius.”
Sudut bibir Zev bergerak tipis, nyaris menjadi senyum. Namun kali ini Airel tidak ikut luluh.
“Apa Reyan itu nama kamu?” tanyanya langsung.
Zev menatap lurus ke depan. Beberapa detik ia hanya diam, seolah memilih kata yang tidak melukai siapa pun.
“Pernah.”
“Pernah?”
“Hm.”
“Artinya?”
“Artinya dulu pernah dipakai.”
“Aku makin bingung.”
“Aku tahu.”
“Terus kenapa enggak jelasin?”
Ia mengembuskan napas panjang dan menunduk sebentar sebelum kembali menatap lapangan kosong.
“Karena aku sendiri belum selesai sama itu.”
Kalimat itu membuat Airel menoleh. Ada sesuatu di wajah Zev yang jarang terlihat. Bukan dingin, bukan datar.
Melainkan beban yang sudah lama dibawa sendirian.
“Airel,” katanya pelan. “Kalau ada bagian hidupku yang berantakan, bukan berarti aku sengaja nyembunyiin dari kamu.”
“Terus?”
“Aku cuma belum tahu cara nyeritainnya.”
Suara itu jujur. Tidak dibungkus candaan, tidak diselamatkan dengan senyum tipis seperti biasanya. Hanya kejujuran yang terdengar berat.
Airel menatap tangannya yang terlipat di atas lutut. Jemari Zev menegang tipis, tanda kecil yang menunjukkan ia tidak setenang kelihatannya.
Ia teringat semua hal kosong yang pernah diceritakan pria itu. Ingatan samar. Masa lalu berlubang. Rasa familiar yang tak jelas sumbernya.
Mungkin nama itu bukan sekadar rahasia.
Mungkin luka.
Namun rasa asing di dada Airel belum hilang sepenuhnya.
“Naresta tahu ya?” tanyanya.
Zev diam sejenak lalu mengangguk.
“Beberapa hal.”
Jawaban itu menusuk lebih dalam dari seharusnya. Karena artinya benar, ada orang lain yang mengenal sisi Zev lebih dulu daripada dirinya.
Zev menoleh padanya.
“Kamu cemburu?”
Airel langsung berdiri.
“Enggak lucu.”
Ia hendak pergi, tetapi Zev menangkap pergelangan tangannya sebentar. Tidak keras, hanya cukup untuk menghentikan langkah. Saat Airel menoleh, pria itu sudah melepaskan.
“Aku cuma nanya.”
“Dan aku enggak jawab.”
“Kamu udah jawab.”
“Aku belum.”
“Kamu keliatan.”
Airel memalingkan wajah karena telinganya mulai panas. Di tengah kekacauan ini, pria itu masih sempat menggodanya.
Zev berdiri lalu mengambil satu langkah mendekat.
“Nama itu nanti aku jelasin,” katanya rendah. “Kalau aku udah bisa.”
“Kapan?”
“Aku enggak tahu.”
“Jawaban kamu ngeselin.”
“Iya.”
“Dan kamu sadar.”
“Iya.”
Airel ingin kesal, tetapi melihat mata pria itu, ia tahu satu hal yang lebih mengganggu daripada semua rasa penasaran tadi.
Zev memang menyembunyikan sesuatu.
Namun bukan karena ingin menjauh.
Ia justru terlihat takut bahwa hal itu akan mengubah jarak di antara mereka.
Dan jika satu nama saja sudah mengguncang semuanya, Airel tak berani membayangkan apa yang akan terjadi ketika seluruh kebenaran akhirnya benar-benar terbuka.