Cery Vanesa Chaseiro, gadis mungil berusia delapan belas tahun, saat ini ia baru menduduki bangku kelas sebelas SMA, namun tingkah nya masih seperti anak kecil, begitu juga dengan penampilan nya.
Bagi yang tidak tau bagaimana cerita hidup Cery yang sebenarnya, mereka mengatakan kalau Cery adalah gadis paling ceria. Itu karena Cery sangat baik dengan semua orang dan selalu membantu mereka yang kesulitan. Meskipun kenyataannya dia tidak punya teman dan sering di cemooh anak-anak di sekolah nya.
Kenapa ia di cemooh? Ya karena penampilan nya yang kusut dan terlihat sangat miskin, bukan hanya itu banyak yang mengatakan kalau Cery tidak tahu diri?
Kenapa begitu? Ya karena meskipun Cery seperti anak-anak dia tetap lah gadis remaja yang punya perasaan seperti gadis remaja pada umumnya, dia naskir dengan laki-laki tertampan di sekolah Mawar Mekar. Linus Caesar Pratama, kakak kelas sekaligus ketua tim basket di sekolah Cery, ya sekaligus anak seorang CEO kaya. Seperti raja di sekolah, Linus
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosemary Mary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
"mas, apa aku boleh bertanya tentang mama kandung nya Clara?" tanya Tara kepada suaminya.
"Iya, tentu saja boleh apa yang ingin kau tau soal mama kandung nya Clara?" jawab Tian.
"Kenapa dia meninggalkan kalian berdua?"
Tian menarik nafas panjang, lalu menghembuskan nya dengan senyum tipis di bibir nya.
"Itu semua karena perusahaan ku bangkrut, setelah kepergian mama nya dengan laki-laki lain, Clara jatuh sakit dan harus melakukan pengobatan di luar negeri, mental nya terguncang karena usia Clara pada saat itu masih delapan tahun.
Tara terdiam, ia membayangkan bagaimana sakitnya Clara di tingal sosok paling penting dalam hidupnya. Ya itu seorang mama.
"Aku gak nyangka, kok ada ya ibu kandung seperti dia, benar-benar tidak punya hati," Tara yang punya jiwa kasih sayang cukup besar merasa kalau perbuatan mama kandung Clara sangat lah kejam.
"Sudah jangan di pikirkan lagi, sekarang Clara sudah punya kamu dan Raja kalian adalah bagian dari keluarga nya sekarang dia pasti sangat bahagia memiliki saudara laki-laki dan seorang mama," Tian tersenyum sambil mengengam tangan Tara.
Beberapa jam pun akhirnya berlalu.
Kini tepat pukul delapan lewat dua puluh menit Clara dan Raja sudah tiba di bandara, mereka menunggu mama dan papa turun dari pesawat.
"Kak, kok gak ada sih mama sama papa," ujar Clara tidak sabar karena sudah sangat merindukan kedua orang tua nya.
"Apanya yang gak ada, coba lihat ke sana," Raja mengarahkan kepala sang adik untuk menoleh ke arah yang di tunjukkan nya.
Benar saja terlihat papa Tian dan mama Tara tersenyum lebar kepada kedua anak mereka.
"Mama! Papa!" Clara yang tidak bisa menyembunyikan rasa rindu sekaligus manja nya segera berlari menghampiri kedua orang tua nya itu.
"Sayang sini peluk papa!" Tian melepaskan koper yang ia bawa dan merentangkan kedua tangan untuk bersiap-siap menangkap sang putri untuk memeluk.
"Mama!" ujar Clara memeluk Tara dengan erat, Tara bahkan hampir terjatuh dan mundur beberapa langkah.
"Sayang mama merindukanmu," lirih Tara lembut sambil menjulurkan lidahnya ke Tian mengejek nya.
Tian masih dengan posisi awal ia kaget bukan main karena putrinya sama sekali tidak mempedulikan nya.
Tepat di saat itu Raja datang lalu memeluk Tian.
"Ayo lah pa, jangan sedih masih ada aku kan," ujar Raja memeluk erat Tian.
Seketika semuanya tertawa dan kemudian saling berpelukan, kelaurga itu sudah cukup sempurna sekarang.
Usai bercengkrama sebentar, Raja pun langsung memasukkan koper papa dan mama nya ke dalam mobil, mereka pun segera pergi dari bandara untuk kembali ke rumah.
Sementara itu di sisi lain.
"Ada apa Lo nyuruh gue datengin Lo ke sini?" tanya Della yang saat itu baru tiba di rumah Linus.
"Duduk dulu, ada yang pengen gue omongin ke Lo," ucap Linus.
Mereka duduk berhadapan di sofa ruang tamu rumah Linus.
"Lo kenal Tara gak?" Linus mulai membuka percakapan pertama.
"Tara? Maksud Lo Tante Tara mama nya Raja?" Della mengerutkan keningnya sembari menatap Linus.
"Iya,"
"Terus kenapa? Ada apa dan apa hubungannya sama kita?" Della mulai penasaran.
"Tadi siang Clara kayak gak sengaja cerita sesuatu sama gue, dia bilang soal dia yang punya mama tiri namanya Tara, karena mama kandungnya ningalin dia pas umur delapan tahun, apa Lo pikir itu Tara yang sama sama mama nya Raja?" jelas Linus.
"Hah? Tunggu-tunggu, Lo bilang apa barusan? Clara punya mama tiri namanya Tara? Dan dia di tinggalin mama kandung nya pas umur delapan tahun?" Perbincangan mereka mulai semakin serius.
Linus mengangguk kan kepala nya untuk mengiyakan pertanyaan Della.
"Kok bisa sama ya,kayak yang di ceritain sama ibu pemilik kos tempat tinggal Cery dan bi Suni? Lo ngeh gak sih? Kan dia juga bilang kalau anak asuhnya bi Suni emang di tinggalin pas usia delapan tahun sama mama kandung nya. Dan pas ngomongin ini, reaksi Clara kayak gimana?" Della semakin yakin kalau Clara ada hubungannya dengan Cery.
"Astaga kok gue gak kepikiran soal apa yang di bilang ibu kos itu ya, yang gue ngeh cuma soal mama tirinya yang bernama Tara, rekasi dia ya agak aneh sih, kayak kaget keceplosan gitu dan tiba-tiba sampe rumah terus dia ngalahin pembicaraan nya." tutur Linus yang membuat Della makin penasaran.
"Fiks kita harus cari tau alamat rumah Clara untuk mastiin ini, gue jadi penasaran tapi menurut gue nama orang bisa aja sama, cuman yang gue pikirin itu soal di tingal pas umur delapan tahun itu persis banget kayak Cery kan?" Della tidak terlalu memikirkan soal nama Tara, karena merasa bisa saja hanya kebetulan dan namanya sama.
Namun yang mereka pikirkan saat ini adalah apa yang di katakan oleh ibu kos bi Suni kemarin yang sama akan cerita nya Clara kepada Linus.
"Sekarang gimana menurut Lo? Clara gak bakal ngasih tau alamat rumah nya ke siapapun dan gak ada yang tau rumah nya Clara Itu di mana," ungkap Linus furstasi.
"Udah, pelan-pelan aja, serahin semuanya sama gue, Lo cukup deketin dan cari tau soal siapa dia sebenarnya," jawab Della.
Keesokan harinya ...
"Clara kamu mau ke mana? udah rapih dan cantik banget," tanya Tara yang saat itu sedang menyiapkan sarapan.
"Aku mau keluar jalan ma, ini kan hari Minggu bosen aja di rumah," jawab Clara dengan senyum tipis nya.
"Lo mau jalan ke mana?" ucap Raja yang baru tiba di ruang makan.
Clara terdiam ia barusan mendapat SMS dari Linus yang meminta nya datang pagi-pagi ke rumah nya hari ini.
Clara memberikan ponselnya kepada Raja. Raja menerima dan membaca pesan dari Linus yang ada di ponsel tersebut.
Clara tidak enak bicara karena ini urusan ia Linus dan hanya Raja yang boleh tau.
"Kalian kenapa?" Tara lagi-lagi kebingungan menatap dua orang anak yang sedang saling pandang itu.
Raja menyerahkan kembali ponsel Clara ke tangan sang pemilik.
"Sarapan dulu baru keluar," ujar Raja lagi.
Clara meneguk paham dan kemudian duduk di sebelah Raja, menikmati makanan yang di masak Tara pagi ini.
Setelah beberapa puluh menit, mereka pun selesai sarapan.
"Ma, Clara pergi main dulu ya, nanti kalau papa nanya bilang Clara pergi main sama temen," ujar Clara kepada Tara.
"Iya sayang, ingat pulang tepat waktu dan jangan malam-malam oke," Tara mewanti-wanti Clara.
"Iya ma," Clara bergegas meninggalkan rumah setelah mendapat ijin dari sang mama.
Ia masuk ke dalam mobil nya dan kemudian segera melaju keluar dari halaman rumah.
Sementara itu Raja hanya melihat dari balkon kamar nya.
"Seminggu lagi, hanya seminggu lagi,abis itu gue gak bakal biarin Linus deketin Clara," ia mengepalkan tangannya yang memegang besi pagar balkon untuk menahan emosi.
Sementara itu di sisi lain.
"Mana sih tu anak? Kok lama banget gak nyampe jugak," ujar Linus yang sudah menunggu di depan gerbang rumah nya dengan pakaian rapih.
Ia sudah menunggu Clara di depan gerbang rumah dalam waktu tiga puluh menit, kaos lengan pendek, celana lepis pendek adalah stelan nya saat ini.
Entah kemana tujuan mereka sekarang.
Tidak lama kemudian, mobil Clara berhenti tepat di depan Linus.
"Udah lama nunggu?" ujar Clara sambil membuka pintu mobil untuk Linus.
"Menurut Lo?!" jawab Linus segera masuk ke dalam mobil dan menutup kembali pintu.
"Maaf tadi gue ijin dulu soalnya," Clara kembali menyalakan mesin mobil nya dan segera melaju meninggalkan tempat itu.
"Gak apa-apa," dingin Linus.
"Kita mau ke mana sih ini? Gue gak tau jalan nya sekarang," Clara mulai ngedumel.
"Ikutin aja arahan gue tar juga nyampe," jawab Linus santai.
Clara pun diam ia memilih untuk tidak banyak berkelahi hari ini dengan Linus. Ia terus mengikuti jalan yang di katakan Linus sampai satu jam pun berlalu.
"Makin lama kok kita kayak makin masuk ke tempat yang rumah nya cuman beberapa biji ya, ini kayak hutan deh, kita mau ke mana sih?" Clara mulai penasaran.
"Tenang aja gue gak bakal bawa Lo ke hutan kok, ini itu jalan menuju villa gue," jelas Linus.
"Hah? Villa Lo?"
Linus mengganguk kan kepala nya." Iya villa gue, udah lama gak ke sana."
"Oh oke," singkat padat jelas.
"Stop! Kita udah nyampe!"
Asik berbicara, mereka hampir melewati villa nya Linus, dan hal ini membuat Clara kembali mengerem mobil secara mendadak.
Kali ini Linus bertahan namun Clara malah kejedot sendiri di ring kemudi.
"Ahhh, aduh sakit banget," leguh Clara sambil memegang kepalanya yang terasa hampir retak.
"Lo gak apa-apa kan? Sini gue lihat," Linus refleks karena khawatir buru-buru memegang jidat Clara dengan tangan kirinya.
Clara membiarkan Linus memeriksa takut kalau-kalau kepala nya memang sudah berdarah sekarang.
"Lain kali Lo harus lebih fokus meggang kemudi jadi benjol gini kan, untuk gak luka," kemudian Linus meniup-niup jidat Clara.
"Lagian Lo sih, ngajak ngobrol terus, sakit tau," ujar Clara memegang kepala nya.
"Ya maaf kan Lo nya yang nanya-nanya," mulai saling menyalahkan kembali dan tidak ada yang namanya akur.
"Tau ah," gerutu Clara memilih untuk turun duluan.
Namun saat melihat keindahan pemandangan di tempat itu, rasa denyut di kepala nya seketika hilang begitu saja, burung-burung berkicau dengan gembira di atas pepohonan hijau yang begitu indah dan padat, rumput hijau yang penuh dengan bunga-bunga liar seolah menjadi taman tampa perawat sama sekali.
"Wahhhh, beneran indah banget tempat nya," Clara benar-benar terpesona akan tempat itu dan menghirup udara segar di sana adalah hal paling membuat nya bahagia
"Jangan lari-lari, buruan masuk," Linus yang berjalan di belakang Clara mengintruksikan kepada sang wanita untuk masuk ke villa bersama nya.
Namun Clara tidak mendengar ucapan Linus ia malah menikmati halaman villa yang luas dan sangat indah, aroma bunga yang ada di sana benar-benar menghipnosis dirinya.
Apalagi Clara yang sangat menyukai bunga, melihat bunga ia sangat antusias.
"Clara jangan pegang bunga mawar!" ujar Linus seolah ia sedang membawa anak kecil di sana.
Ia segera berlari menghampiri Clara yang Tengah berusaha memetik setangkai bunga mawar merah yang kelihatan nya sangat di jaga dan di rawat oleh tukang kebun di villa tersebut.
"Loh kenapa gak boleh? Satu doang kok," Clara kesal tiba-tiba Linus menariknya pergi dari area taman villa.
"Itu banyak durinya, gak bisa di pegang sembarangan duri mawar berbisa, sekarang ayo ikut gue masuk jangan bandel ini villa gue Lo gak boleh sembarang sentuh barang di sini," Linus mengomeli Clara sambil memegang pergelangan tangan nya menyeret wanita itu masuk ke dalam villa.
"Ngeselin banget tau gitu gak usah ajak gue dong apa-apa gak boleh," omel Clara balik.
Saat ini mereka tiba di ruang tengah villa, di sana tidak ada siapapun yang terlihat, villa tersebut terlihat sangat megah dari luar dan ketika masuk ke dalam juga sangat menghipnotis sekali.
Ruangan luas yang di penuhi dengan barang-barang bernilai ratusan bahkan miliaran rupiah terpanjang di dalam nya.
"Wahhh," Clara berhenti mengomel saat tiba di ruang tengah villa, ia benar-benar terpesona akan keindahan tata ruang tengah villa itu.
Sementara melihat Clara yang masih terkagum-kagum dengan villa tersebut, Linus berjalan dan duduk di sofa yang ada di tengah-tengah ruangan.
"Linus, Lo kok bisa punya villa semewah ini?" Clara menghampiri Linus setelah ia puas melihat-lihat.
"Ini hadiah dari bokap sama nyokap pas ulang tahun gue yang ke lima belas tahun, karena pada saat itu mereka mendapatkan bisnis besar dan berhasil mendapatkan uang miliaran rupiah." jelas Linus.
Saat Linus menjelaskan hal itu, ada yang aneh menurut Clara, iya, wajah nya terlihat datar dan bias saja dia tidak terlihat bahagia sama sekali.
Clara pun menghampiri dan kemudian duduk di sebelah nya."Tapi kenapa kayaknya Lo sama sekali gak bahagia punya ini semua?"
"Iya, gue gak bahagia, gimna gue mau bahagia Lo lihat sendiri sekarang, apa selama Lo jadi perawat gue Lo lihat dan dengar mereka nelpon gue? Nanyain kabar gue? Gak ada kan? Sejak kecil emang gue punya segalanya, teman-teman bilang kalau gue beruntung karena bergelimang harta, tapi yang mereka gak tau kedua orang tua gue gak punya waktu buat gue, gak ada perhatian, lebih tepatnya gue gak nerima kasih sayang yang cukup," Linus menceritakan apa yang ia rasakan seluruh nya kepada Clara saat ini.
Clara terdiam, ia tidak tau harus bagaimana menangapi cerita Linus, yang jelas ia tau betul bagaimana perasaan Linus sekarang, hidup serba berkecukupan namun minus kasih sayang orang tua.
"Lo gak boleh mikir kalau mereka gak peduli atau gak sayang sama Lo, mereka kerja juga ngasih semua kebutuhan Lo kan," Clara mencoba menyemangati Linus dan membuat ia agar tidak berfikir negatif terhadap mama dan papa nya.
"Gak Clara, Lo gak tau gimana rasanya serba ada tapi gak pernah ngerasain yang namanya sakit di rawat mama, main sama papa dari kecil, jalan-jalan keluarga, semua itu gak ada, sejak kecil yang jagain dan ngelakuin tugas mereka jugak kepala pelayan di rumah," Linus terlihat memiliki tekanan batin saat menceritakan hal ini kepada Clara.
Dari sini Clara mulai memahami, kenapa Linus memiliki sifat sombong, angkuh dan juga kasar, itu semua datang dari hatinya yang sepi akan kasih sayang, tidak mendapatkan perhatian dari kedua orang tua adalah hal yang membuat seorang anak memiliki kepribadian berbeda.
Bersambung ....