NovelToon NovelToon
Api Di Brantas: Kisah Jatuhnya Singhasari

Api Di Brantas: Kisah Jatuhnya Singhasari

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Restu Agung Nirwana

Di lembah Brantas yang tenang, Wira hidup sebagai pemuda desa biasa, tanpa nama besar, tanpa warisan, dan tanpa tahu bahwa darah yang mengalir di tubuhnya menyimpan rahasia berbahaya. Ketika desa tempat ia tinggal dibakar dalam pusaran perebutan kuasa antara Gelang-Gelang, Singhasari, dan para penguasa yang saling mengkhianati, Wira kehilangan segalanya dalam satu malam. Dari reruntuhan itu, ia dipaksa melarikan diri, bertahan hidup, dan perlahan menapaki jalan yang mengubahnya dari anak desa menjadi pendekar yang disegani.

Di bawah bimbingan Ki Rangga, bersama sahabat setianya Panca, Wira melewati latihan keras, perburuan, pengkhianatan, dan pertarungan hidup-mati. Sementara itu, Jayakatwang dan kekuatan-kekuatan besar lain bergerak di atas panggung sejarah, menjatuhkan kerajaan dan membangun tatanan baru.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12: Jalur di Belakang Pondok

Pintu belakang pondok terbuka sempit, cukup untuk satu orang keluar lebih dulu.

Ki Rangga memberi isyarat dengan tangan, dan Wira segera merunduk lalu melangkah keluar ke semak basah di belakang bangunan. Tanah di sana lebih lembek daripada yang terlihat dari depan, penuh akar liar dan rumput tinggi yang menempel di kaki. Panca menyusul di belakangnya, sementara Jaya keluar paling akhir sambil menutup celah pintu agar tidak terlalu mencolok dari luar.

Di depan mereka, malam sudah benar-benar turun.

Cahaya bulan belum tinggi, hanya menyisakan warna pucat di atas pucuk pohon. Pondok tua itu kini tampak seperti bayangan gelap di tengah semak. Dari arah depan, terdengar suara orang-orang mendekat, makin jelas dari detik ke detik. Ada yang memanggil pelan, ada yang berjalan menyibak rumput, dan ada satu suara tegas yang memberi perintah pendek. Mereka tidak datang asal-asalan. Mereka tahu apa yang dicari.

Ki Rangga menahan mereka dengan satu gerakan tangan. “Jangan bergerak dulu.”

Wira berjongkok di belakang batang pohon kecil, jantungnya masih memukul keras. Di sampingnya, Panca menelan ludah, lalu berbisik, “Berapa banyak?”

Jaya menatap ke arah depan tanpa menjawab langsung. “Cukup untuk mengepung pondok kalau kita terlambat satu menit.”

Wira memejamkan mata sebentar. Satu menit. Angka itu terasa kecil, tapi dalam keadaan seperti ini, satu menit bisa menentukan hidup dan mati.

Ki Rangga menoleh ke Jaya. “Ada jalan lain?”

“Ada,” jawab Jaya. “Tapi sempit. Dan kita harus cepat.”

“Pimpin.”

Jaya mengangguk sekali, lalu berjongkok dan memisahkan semak di belakang pondok. Di sana ternyata ada jalur kecil yang hampir tertutup ilalang. Jalur itu menurun ke area yang lebih gelap, menyelinap di antara dua baris pohon yang tumbuh rapat. Wira tidak menyangka ada lintasan seperti itu di belakang pondok singgah tua ini.

“Dari mana kau tahu jalur ini?” tanya Panca sambil ikut menyusup.

“Karena dulu pernah dipakai orang untuk menghindari pemeriksaan,” jawab Jaya singkat.

Wira mengikuti dari belakang. “Dulu kapan?”

“Lama.”

Jawaban itu membuat Wira mengernyit, tetapi ia tidak sempat bertanya lagi. Ki Rangga sudah mendorongnya maju lebih dulu. Mereka bergerak cepat namun hati-hati, berusaha tidak mematahkan ranting atau menginjak batu yang bisa menimbulkan suara. Di belakang, suara di sekitar pondok mulai riuh. Ada orang yang menemukan pintu depan. Ada seruan pelan. Ada suara langkah mendekat ke sisi samping bangunan.

“Cepat,” bisik Ki Rangga.

Wira mempercepat langkah. Jalur di depan makin sempit, menyusup di antara akar pohon tua yang menjulur ke tanah. Dahan rendah beberapa kali menghantam bahunya. Ia menahan sakit tanpa suara. Panca di belakangnya sesekali mengumpat kecil karena kakinya tersangkut rumput. Namun mereka tetap bergerak.

Setelah beberapa puluh langkah, jalur itu berbelok tajam ke kiri dan turun ke cekungan kecil yang tertutup semak tinggi. Jaya berhenti di situ, lalu berlutut dan menoleh ke mereka.

“Dari sini kita pecah pandangan mereka,” katanya pelan. “Kalau mereka datang mengejar, kita ambil arah kanan. Ada aliran air kecil di bawah. Itu akan menutupi jejak.”

Ki Rangga mengamati tanah. “Kau yakin?”

“Tidak ada yang benar-benar yakin malam ini,” jawab Jaya.

Panca mendecak pelan. “Aku mulai tidak suka kebiasaanmu menjawab seperti itu.”

“Bagus,” balas Jaya singkat. “Berarti kau masih sadar.”

Wira hampir berkata sesuatu, tetapi suara dari belakang membuat semua orang membeku.

“Di sana!”

Seseorang melihat gerakan mereka.

Tanpa menunggu, Ki Rangga mendorong Wira ke kanan. “Lari!”

Mereka semua bergerak serempak. Wira menerjang semak, merunduk di bawah cabang rendah, lalu terus turun mengikuti lereng kecil. Di belakang, teriakan mulai pecah. Langkah kaki bertambah banyak. Ada yang berlari mengejar. Ada yang memanggil nama yang tak terdengar jelas. Suasana malam berubah menjadi kacau dalam sekejap.

Wira tidak punya waktu untuk memikirkan apa pun selain melangkah. Kakinya terpeleset di tanah berlumut, tetapi ia berhasil menahan diri sebelum jatuh. Di depan, Jaya membelah semak lebat dengan tangan kosong, membuka jalan sesingkat mungkin. Ki Rangga tetap di tengah, memastikan mereka tidak terpisah.

Panca berlari sambil mengatur napas. “Aku benci ini!”

“Jangan bicara!” hardik Ki Rangga.

Panca langsung diam, walau wajahnya jelas kesal.

Mereka akhirnya tiba di dasar lereng kecil, dan benar saja, di sana terdapat aliran air dangkal yang mengalir tenang di atas batu-batu licin. Tidak lebih dari parit alami, tetapi cukup untuk menghapus jejak jika mereka menyeberang dan bergerak menyamping.

Jaya berhenti sesaat. “Kita lewat sini.”

Wira menatap air yang gelap. “Airnya dingin?”

“Kalau kita selamat, kau boleh mengeluh soal dingin nanti,” kata Jaya.

Mereka menyeberang tanpa banyak bicara. Air memang dingin dan membuat kaki Wira seperti ditusuk jarum kecil, tetapi ia menggigit bibir agar tidak mengeluarkan suara. Begitu sampai di sisi seberang, mereka bergerak menyusuri tepian berbatu yang lebih aman. Di belakang, suara orang-orang kini terdengar lebih jauh. Tampaknya para pengejar sempat bingung kehilangan jejak di jalur sempit itu.

Wira menoleh cepat. Di balik semak, samar-samar ia melihat cahaya kecil bergerak di arah pondok. Mereka memang sudah menggeledah tempat itu.

“Apa mereka tahu kita bersama Jaya?” tanya Wira sambil terus berjalan.

“Kalau mereka cerdas, ya,” jawab Jaya. “Kalau belum, sebentar lagi tahu.”

Ki Rangga menatapnya. “Kau bicara seolah mereka mengenalmu.”

Jaya tidak menjawab cepat. Setelah beberapa langkah, ia berkata, “Mereka mungkin mengenali orang yang pernah membantu memindahkan sesuatu.”

Wira langsung menoleh. “Memindahkan apa?”

Jaya tetap memandang ke depan. “Bukan saat ini.”

Panca menggeram pelan. “Kau ini benar-benar punya bakat membuat orang ingin mencekikmu.”

“Kebiasaan yang bagus untuk bertahan hidup,” sahut Jaya.

Wira melirik Ki Rangga. Gurunya tampak tenang, tetapi Wira menangkap satu hal: Ki Rangga tidak tampak terkejut oleh jawaban Jaya. Berarti lelaki itu memang sudah menduga bahwa Jaya bukan sekadar pengantar kabar. Ia bagian dari sesuatu yang lebih besar.

Mereka terus berjalan hingga suara dari pondok menghilang di belakang. Hutan menjadi lebih rapat dan lembap. Cahaya malam tersaring oleh daun-daun tinggi, membuat jalur tampak seperti lorong gelap. Setelah sekitar seperempat jam, Jaya mengangkat tangan dan memberi tanda berhenti.

“Cukup,” katanya pelan.

Panca langsung membungkuk dan memegang lutut. “Kita lari terlalu jauh.”

“Belum,” kata Jaya. “Tapi mereka akan menyebar. Kita harus menunggu.”

Ki Rangga menatap sekeliling. “Tempat ini tidak aman untuk diam terlalu lama.”

“Benar,” kata Jaya. “Karena itu kita hanya berhenti sebentar.”

Wira menatap mereka bergantian. Di tengah nafas yang belum pulih, ia akhirnya memberanikan diri bertanya pada Jaya, “Kau bilang ibu saya dulu diburu. Lalu kenapa kau membantu sekarang?”

Jaya diam sejenak. Angin malam bergerak melewati dedaunan, menimbulkan suara seperti bisikan panjang. “Karena aku merasa punya utang.”

“Utang?” Wira mengulang.

“Dulu aku tidak cukup berani.”

Ki Rangga meliriknya sekilas. “Terhadap ibumu?”

Jaya mengangguk. “Dan terhadap seseorang yang mengorbankan diri agar rahasia itu tidak jatuh ke tangan yang salah.”

Wira merasa kepalanya seperti dipukul halus. Seseorang yang mengorbankan diri. Ia belum tahu siapa yang dimaksud, tetapi dari nada suara Jaya, itu bukan cerita kecil. Ia ingin mendesak lebih jauh, namun wajah Jaya tampak mengeras seolah tidak ingin membuka lebih banyak di tempat itu.

Panca duduk di batu rendah. “Kalau begitu katakan satu hal saja. Mereka ini siapa?”

Jaya menatapnya. “Orang-orang yang percaya bahwa masa lalu harus dipakai untuk menguasai masa depan.”

“Jawaban yang bagus untuk pidato,” gumam Panca.

“Dan cukup untuk malam ini,” kata Jaya.

Ki Rangga akhirnya mengangkat tangan, meminta semua diam. “Ada yang mendekat.”

Wira langsung menoleh ke arah jalur sempit di belakang mereka. Awalnya ia tidak mendengar apa-apa. Namun beberapa detik kemudian, suara ranting patah terdengar sangat pelan. Lalu satu lagi. Dan satu lagi.

Mereka tidak sendirian.

Jaya langsung meraih senjata pendek di pinggangnya. “Mereka menyisir dengan cepat.”

Ki Rangga menatapnya. “Bisa bertarung di sini?”

“Bisa, tapi jejak kita akan lebih mudah ditemukan.”

Wira merasa mulutnya kering. “Jadi kita lari lagi?”

“Tidak,” kata Ki Rangga tegas. “Kita tunggu.”

Panca memandangnya tidak percaya. “Tunggu?”

“Kalau kita berlari sekarang, mereka akan tahu arahnya. Kalau kita diam, mereka mungkin lewat.”

Wira mengerti logikanya, tetapi jantungnya tetap berdebar keras. Ia menunduk di balik semak rendah, mencoba menenangkan napas. Suara langkah makin dekat. Sesekali terdengar bisik-bisik pendek. Pencarian berlangsung tanpa suara keras, tanda bahwa orang-orang itu memang terlatih atau setidaknya sudah diberi perintah tegas.

Jaya menoleh pada Wira, lalu pada lempeng kayu di pinggangnya. “Kalau nanti mereka melihat benda itu, jangan lepaskan.”

Wira mengangguk tanpa berpikir. “Apa yang terjadi kalau mereka merebutnya?”

“Banyak hal buruk,” jawab Jaya.

“Coba lebih spesifik,” desis Panca.

Jaya menatapnya datar. “Kau benar-benar ingin daftar panjang malam ini?”

Panca menutup mulut dan mengangkat kedua tangan sedikit. “Tidak perlu. Aku paham.”

Ki Rangga menyipitkan mata ke arah gelap. Sesaat kemudian, bayangan seseorang tampak melewati jalur beberapa langkah dari posisi mereka. Orang itu berjalan pelan, berhenti, lalu memeriksa tanah. Wira menahan napas. Jaraknya tidak sampai sepuluh langkah. Ia bisa mendengar napas orang itu yang berat dan teratur.

Lalu suara lain terdengar dari kejauhan. “Apa yang kau lihat?”

“Tidak ada. Jejak hilang di sini.”

“Teruskan menyisir!”

Bayangan itu perlahan menjauh. Wira tetap diam sampai suara langkah benar-benar hilang. Setelah beberapa detik lagi, Ki Rangga memberi isyarat agar mereka bergerak pelan ke arah berlawanan.

Jaya memimpin dengan sangat hati-hati. Mereka menggeser posisi, menjauh dari jalur utama dan masuk ke celah batu yang sempit. Celah itu nyaris tidak terlihat dari jauh. Di dalamnya, batu-batu besar menahan pandangan dan membuat mereka seperti tenggelam ke dalam ruang gelap kecil. Wira merasa bahunya menyentuh dinding batu yang lembap. Tempat itu sempit, tetapi setidaknya memberi perlindungan sementara.

Mereka diam cukup lama.

Wira bisa mendengar detak jantungnya sendiri. Ia menatap Jaya yang berdiri di pintu celah batu, mengawasi luar dengan teliti. Ada kesan asing sekaligus akrab pada lelaki itu. Seperti seseorang yang pernah berada di lingkaran yang sama dengan ibunya, tetapi kemudian terlempar jauh oleh keadaan.

Akhirnya, setelah suara di luar mereda, Jaya menoleh.

“Mereka tidak akan berhenti malam ini,” katanya. “Kalau kita tetap di sini, mereka bisa kembali kapan saja.”

Ki Rangga mengangguk. “Jadi?”

Jaya menarik napas. “Ada satu tempat lagi. Lebih jauh ke barat. Tempat lama yang dulu dipakai untuk menyimpan orang sebelum dipindahkan.”

Wira mengernyit. “Menyimpan orang?”

“Bukan kata yang bagus,” kata Jaya. “Tapi itulah yang terjadi.”

Panca terlihat tidak nyaman. “Kau semakin bicara aneh.”

“Karena memang malam ini semua aneh.”

Ki Rangga menatap Jaya, lalu bertanya, “Tempat itu aman?”

“Tidak sepenuhnya. Tapi lebih aman daripada pondok.”

Wira menatap kedua lelaki itu, lalu bertanya dengan suara pelan, “Kalau kita ke sana, apa yang akan kita temukan?”

Jaya menatapnya lama. “Jawaban pertama yang lebih jujur.”

Wira menggenggam lempeng kayu di pinggangnya. Malam ini ia tidak mendapatkan ketenangan. Tidak ada rasa aman. Yang ada justru rasa bahwa ia semakin dekat pada sesuatu yang selama ini sengaja ditutup rapat. Namun anehnya, ia juga merasa lebih siap dari sebelumnya. Bukan karena ia sudah mengerti semuanya, melainkan karena ia tahu sekarang bahwa ia tidak berjalan sendirian.

Ki Rangga memberi isyarat. “Kita bergerak.”

Panca menghela napas panjang, lalu berdiri. “Semoga tempat barumu tidak ada orang yang lagi-lagi bilang ‘aku sudah menunggu kalian’.”

Jaya meliriknya sekilas. “Aku tidak berjanji.”

Panca langsung menatap langit gelap. “Aku resmi menyerah pada malam ini.”

Wira hampir tersenyum. Hampir. Tetapi langkah mereka harus dimulai lagi. Mereka keluar dari celah batu satu per satu, lalu menyusuri jalur gelap di barat, meninggalkan pondok singgah tua dan para pengejar di belakang. Di depan sana, Jaya membawa mereka menuju tempat yang katanya menyimpan jawaban pertama.

Dan Wira, untuk pertama kalinya sejak kabur dari rumah, merasa bahwa langkahnya benar-benar memasuki cerita yang lebih besar daripada dirinya sendiri.

1
baca yg gue suka
nyampe chap ni isinya cuman kabur mlulu.
bukin pusing aja
baca yg gue suka
kalimat yg sama diulang2 terus
Filan
yang panggil itu bertentangan sama orang-orang yang datang kan?
Filan
kejam juga. mereka yang bakar kan?
Elisabeth Pasaribu
seru banget Thor, jangan lupa mampir ya di karya ku
B. Toon
Wah, mantap. Cerita baru lg, ini gak kalah seru sama 'Badai Pusaka di Tanah Gadhing'. Yang ini cerita fiksi di campur sejarah Kerajaan Nusantara. Smangat thor, ditunggu bab-bab selanjutnya /Good//Good/
Restu Agung Nirwana: Makasih bang, siap. Saya usahakan, ikutin trs petualangan Wira sama Panca bang. Jgn sampe ketinggalan 😄😄🙏🙏
total 1 replies
B. Toon
Wah, si Wira udah mulai nunjukin benih-benih calon pendekar 👍👍
Restu Agung Nirwana: Hehehe... iya donk 😄
total 1 replies
B. Toon
Makin menarik, dibikin penasaran trs 😄
Restu Agung Nirwana: makasih bang, baca sampai tamat ya 👍👍
total 1 replies
B. Toon
Seru thor, baru bab 1 udah di suguhi tragedi di desanya MC . Penasaran giman nasibnya Wira sama Panca nanti. Lanjut, jgn berhenti di tengah jalan thor 😄😄👍👍
Restu Agung Nirwana: iya bang, sat-set 😄😄😄😄
total 1 replies
Slow ego
wira... panca👍
Restu Agung Nirwana: 😄😄😄 terimakasih dukungannya,
ini komen pertama. Gimana kak ceritanya? minta pendapatnya. Kalau ada yg kurang, sebisa mungkin saya perbaiki 🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!