NovelToon NovelToon
Pernikahan Rahasia Di Balik Seragam

Pernikahan Rahasia Di Balik Seragam

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Dunia Masa Depan / Idola sekolah
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Selenium Alchemy

Masa remaja Andini, seorang gadis SMA yang ceria, seharusnya dihabiskan dengan mengerjakan PR, tertawa bersama teman-teman, dan menikmati masa muda yang bebas. Namun, takdir berkata lain. Sebuah perjodohan mendadak menyeretnya ke dalam ikatan pernikahan yang tidak pernah ia bayangkan, dengan pria yang berada di dunia yang sangat jauh berbeda dari dunianya.

​Charles, seorang CEO muda yang dikenal dengan reputasi "es berjalan". Baginya, hidup adalah tentang keuntungan, strategi, dan kesempurnaan. Ia tidak pernah menginginkan pernikahan ini baginya, Andini hanyalah tanggung jawab yang harus ia jaga demi memenuhi wasiat sang kakek.

​Di sekolah, Andini adalah siswi biasa yang berusaha menjalani hari dengan tenang. Namun di balik pintu apartemen mewah, ia adalah istri dari pria yang paling disegani sekaligus ditakuti di dunia bisnis. Pernikahan ini harus dirahasiakan rapat-rapat; satu kesalahan kecil bisa menghancurkan reputasi Charles dan masa depan sekolah Andini...?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selenium Alchemy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 6

Apartemen itu selalu menyambutku dengan kesunyian yang mencekik. Begitu pintu tertutup di belakangku, kebisingan dunia luar deru klakson, teriakan teman-teman sekolah, dan hiruk-pikuk kehidupan remaja seolah-olah lenyap ditelan dinding marmer yang dingin. Di sini, segalanya rapi, teratur, dan begitu sunyi hingga aku bisa mendengar detak jantungku sendiri.

Aku melempar tas sekolahku ke atas sofa beludru. Seragam putih abu-abuku yang sudah sedikit kusut terasa seperti beban yang ingin segera kulepaskan. Di atas tempat tidur *king-size* di kamar utama, sudah tergeletak sebuah kotak besar berwarna hitam dengan pita perak. Aku tahu apa isinya.

Dengan langkah gontai, aku mendekati kotak itu. Gaun malam berwarna midnight blue dengan aksen perak di bagian pinggang. Bahannya sutra halus yang terasa seperti air. Saat aku memakainya, aku menatap pantulan diriku di cermin besar. Gadis di sana terlihat asing. Riasan tipis yang sengaja kusiapkan agar terlihat lebih dewasa, rambut yang ditata rapi, dan gaun elegan ini mengubahku dari Andini siswi kelas sebelas menjadi "Istri Charles Utama".

Aku menghela napas panjang, merapikan letak anting yang terasa sedikit berat. Aku merasa seperti boneka porselen yang dipajang di lemari kaca—indah, namun tak bernyawa.

Klik.

Suara pintu kamar terbuka. Aku menoleh dan mendapati Charles sudah berdiri di sana. Ia baru saja mengganti kemejanya dengan setelan jas *tuxedo* yang sangat pas di tubuhnya. Ia tampak luar biasa—terlalu tampan untuk ukuran pria yang memiliki hati sedingin es. Namun, tatapannya saat melihatku tidak berisi kekaguman. Ia menatapku seolah sedang menginspeksi aset berharga yang harus ia bawa ke sebuah lelang.

"Kau tepat waktu," suaranya datar, tanpa nada memuji.

"Aku selalu berusaha menepati janjiku," balasku, mencoba mempertahankan nada suara yang tenang meski jantungku berdegup kencang karena kehadirannya.

Charles berjalan mendekat. Langkahnya tenang, penuh percaya diri. Ia berhenti tepat di depanku, membuat aroma maskulin dari parfumnya—campuran *cedarwood* dan sedikit aroma tembakau—memenuhi indra penciumanku. Ia menunduk, memperbaiki letak kalung di leherku dengan jemarinya yang dingin. Sentuhan itu singkat, sangat formal, namun cukup untuk membuat bulu kudukku berdiri.

"Malam ini akan ada banyak petinggi perusahaan," bisiknya pelan, hampir di dekat telingaku. "Jangan bicara terlalu banyak. Cukup senyum, mengangguk, dan jika seseorang bertanya, katakan bahwa kau adalah keponakan jauh yang sedang belajar tentang manajemen bisnis. Jangan pernah sekali pun menyebutkan status pernikahan kita."

Aku menatap matanya, mencoba mencari celah untuk membantah, namun ia sudah memalingkan wajah. "Mengerti?"

"Aku mengerti, Charles," jawabku dengan nada sedikit lebih tajam dari yang seharusnya. "Aku bukan anak kecil yang butuh pengarahan terus-menerus. Aku tahu apa yang harus kulakukan untuk menjaga reputasimu."

Charles terdiam. Ia menoleh kembali padaku, kali ini dengan tatapan yang sedikit lebih dalam. Ada kilatan aneh di matanya, seperti rasa terkejut karena keberanianku. "Bagus. Karena satu kesalahan kecil malam ini bisa berdampak pada posisimu di sini."

Kalimat itu terdengar seperti ancaman, tapi entah kenapa, saat ia mengucapkannya, tidak ada niat jahat di sana. Itu hanya... Charles. Pria yang hanya tahu cara memproteksi dunianya dengan dinding pertahanan yang tinggi.

Kami berjalan keluar dari apartemen menuju basement. Mobil sudah menunggu. Di dalam perjalanan, suasana di dalam mobil jauh lebih hening dari biasanya. Charles sibuk dengan ponselnya, menanggapi email-email penting, sementara aku menatap lampu kota yang melesat cepat di luar jendela.

"Kau belum makan, kan?" tanya Charles tiba-tiba, tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponsel.

Aku menoleh, kaget. "Belum. Memang kenapa?"

Charles menggeser ponselnya ke samping, lalu mengambil sebuah kantung kertas dari kursi sampingnya. "Gunawan membelikan roti isi di perjalanan tadi. Makanlah sedikit. Acara nanti malam akan panjang dan kau akan butuh stamina agar tidak pingsan di depan klienku."

Aku menatap kantung kertas itu, lalu menatap Charles yang sudah kembali sibuk dengan pekerjaannya. Roti isi? Pria sedingin dia, yang sangat mementingkan efisiensi dan kesempurnaan, ternyata sempat memikirkan bahwa aku belum makan?

Sebuah senyum kecil muncul di sudut bibirku tanpa kusadari. Mungkin, di balik lapisan es yang ia bangun, ada sesuatu yang masih bisa mencair.

"Terima kasih," bisikku pelan.

Charles tidak menjawab, namun aku melihat jemarinya yang mengetik di ponsel sempat berhenti sejenak. Ia tidak melihat ke arahku, namun raut wajahnya yang biasanya kaku sedikit melunak.

"Hanya jangan sampai remahannya mengotori gaunmu," katanya datar.

Aku tertawa pelan. "Iya, Pak CEO yang cerewet."

Charles mendengus pelan bukan dengusan kesal, melainkan sesuatu yang terdengar seperti... tawa tertahan?

Mobil berhenti di depan sebuah hotel mewah tempat jamuan bisnis akan diadakan. Para wartawan dan fotografer sudah berkerumun di depan karpet merah. Charles menoleh padaku, memberikan tangannya.

"Siap untuk sandiwara malam ini, Andini?"

Aku menarik napas dalam, memantapkan hati, dan meraih tangannya. "Lebih siap dari yang kau bayangkan, Charles."

Saat kami melangkah keluar dari mobil, kilatan lampu kamera mulai menyambar-nyambar. Charles menggenggam tanganku dengan erat—genggaman yang terasa protektif, bukan sekadar sandiwara. Di bawah sorotan lampu dan perhatian publik, kami melangkah masuk.

Dan untuk pertama kalinya, aku tidak merasa takut. Mungkin, menjadi istri dari pria yang menyebalkan ini tidak seburuk yang kubayangkan. Setidaknya, malam ini, kami adalah satu tim. Dan aku akan memastikan, tidak ada satu pun orang yang bisa melihat keretakan di balik topeng yang kami pakai.

Malam ini, Andini si siswi SMA akan menghilang. Dan Andini, sang Nyonya Utama, akan menunjukkan pada dunia bahwa dia bisa lebih kuat dari siapa pun.

1
Eni Wati
sll menunggu
R.A Naimah
nggak faham alur ya selalu berputar
Eni Wati
Lanjut
Eni Wati
sll menuggu
Eni Wati
Lanjut
Wawan
Semangat... ✍️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!