Raisa Maureen ditinggal mati suaminya di dalam kondisi masih prawan, lalu ia melakukan hubungan satu malam dengan kakak iparnya karena pria itu mabuk berat dan kehilangan keperawanannya. setelah menikah dengan Evan ia baru mengetahui kenapa selama ini Aditya almarhum suaminya tidak pernah menyentuhnya. Apa yang sebenarnya terjadi? ikuti kelanjutan kisah nya hanya disini!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prettyies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Restu
Raisa masuk ke kamar, menutup pintu, lalu langsung menuju kamar mandi. Air mengalir, mencoba menenangkan pikirannya yang masih campur aduk.
Beberapa saat kemudian, ia selesai mandi dan mulai berdandan di depan cermin. Tangannya merapikan rambut, sesekali menarik napas panjang.
"Santai, Raisa… ini cuma ketemu orang tua… dulu juga pernah melewati masa itu sama, Mas Aditya. " gumamnya pelan, mencoba menenangkan diri sendiri.
Sementara itu di bawah Evan mengeluarkan ponselnya dan menelpon seseorang.
"Hallo, Put…"
"Siang, Pak Evan," jawab suara di seberang.
"Kirimkan kemeja sama celana saya ke rumah Aditya sekarang."
Sekretarisnya terdengar sedikit heran.
"Bapak… nginep di sana? Bukannya di rumah itu hanya ada istrinya Pak Aditya?"
Evan langsung menghela napas pendek.
"Kamu banyak tanya," ucapnya datar. "Pokoknya kirim aja. Lima belas menit harus sampai."
"Baik, Pak… saya segera kirim."
Evan menutup telepon, lalu bersandar sebentar.
Matanya menatap ke arah tangga menunggu Raisa turun.
Bel rumah berbunyi.
"Ting tong…"
Evan langsung bangkit dari duduknya, berjalan cepat ke arah pintu. Ia membukanya dan menerima paket dari kurir.
"Permisi Pak saya ingin mengantarkan paket atas nama Evan. ucap kurir itu memberikan barangnya.
"Iya, ini punya saya," ucapnya singkat.
"Terima kasih, Pak."
Evan mengambil bungkusan itu, lalu menutup pintu. Ia melihat isi paket sekilas kemeja dan celana yang dimintanya.
"Pas," gumamnya.
Tanpa menunggu lama, Evan langsung menuju kamar tamu untuk berganti pakaian.
Tak lama kemudian, Raisa turun dari tangga.
Ia sudah rapi makeup tipis, rambut tertata, dan pakaian yang sederhana tapi anggun.
"Mas?" panggilnya pelan, melihat ruang tamu kosong.
Dari arah kamar tamu, pintu terbuka.
Evan keluar dengan penampilan yang jauh lebih rapi.
Raisa sempat terdiam sesaat.
"Kamu… sudah siap?" tanya Evan sambil merapikan lengannya.
Raisa mengangguk pelan.
"Iya…"
Evan menatapnya dari atas sampai bawah, lalu tersenyum tipis.
"Cantik."
Raisa langsung memalingkan wajah.
"Ih… biasa aja."
Evan mendekat.
"Kalau gugup, bilang aja," ucapnya pelan.
Raisa menghela napas.
"Dikit…"
Evan mengangguk, lalu menggenggam tangannya.
"Tenang. Mas ada."
Raisa menatap tangan mereka yang saling menggenggam lalu mengangguk kecil.
"Iya…"
Evan tersenyum.
"Yaudah, kita berangkat sekarang."
Mereka keluar rumah dan masuk ke dalam mobil. Evan langsung menyalakan mesin, sementara Raisa duduk di sampingnya, masih terlihat sedikit tegang.
Evan melirik sekilas.
"Kamu di rumah sendirian? Pembantu kamu ke mana?" tanyanya.
Raisa menatap ke depan.
"Lagi pulang ke kontrakannya… mau ketemu suaminya. Memang kenapa?" jawabnya santai.
Evan mengangguk pelan.
"Kalau nggak ada, mas bisa cariin orang buat bantu kamu. Biar kamu nggak kesepian… dan nggak harus ngerjain semuanya sendiri."
Raisa menggeleng.
"Nggak usah, mas. Aku masih bisa sendiri."
Evan menoleh, memastikan.
"Yakin?"
Raisa mengangguk.
"Iya."
Evan akhirnya tersenyum kecil.
"Yaudah… tapi kalau capek, bilang."
Raisa hanya mengangguk pelan.
Mobil pun melaju meninggalkan rumah, suasana di dalamnya sempat hening.
Raisa sesekali menarik napas panjang, mencoba menenangkan dirinya.
Evan melirik lagi.
"Masih gugup?"
Raisa tersenyum tipis.
"Dikit…"
Evan mengangguk.
"Wajar."
Tak lama kemudian mobil memasuki halaman rumah besar milik orang tua Evan.
Evan mematikan mesin.
"Sudah sampai," ucapnya.
Raisa menatap rumah itu, jantungnya kembali berdegup kencang.
Mereka turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah besar itu.
Evan melangkah lebih dulu.
"Mbok… papa sama mami ada?" tanyanya.
Pembantu itu menoleh.
"Ada, Mas… lagi di belakang."
Evan mengangguk.
"Pah…"
Ia berjalan masuk bersama Raisa.
Begitu melihat mereka, wajah David langsung berubah tegang.
"Evan!" suaranya meninggi. "Kamu ini kenapa menceraikan Mona, ha? Kasian dia datang ke sini nangis-nangis!"
Raisa langsung menunduk, suasana terasa panas.
Lina buru-buru menenangkan.
"Mas… jangan emosi dulu. Nanti penyakit jantung kamu kambuh," ucapnya lembut. "Ayo duduk dulu, Sa… Van…"
Mereka pun duduk, tapi ketegangan masih terasa.
David menatap tajam ke arah Evan.
"Kamu anak satu-satunya papa. Baru nikah seminggu, langsung pisah ranjang, lalu cerai!" ucapnya geram. "Kapan kita dapat keturunan kalau kamu begini?"
Evan menatap balik tanpa ragu.
"Aku nggak cinta sama dia, Pah. Papa yang maksa aku nikahin Mona."
David menghela napas kasar.
"Terus siapa yang kamu cintai, ha?" tanyanya tajam. "Raisa?"
Raisa yang duduk di samping Evan langsung terdiam.
"Mas Evan cinta sama aku…" batinnya.
Evan menjawab tegas.
"Iya. Dari dulu sampai sekarang… perasaan aku nggak pernah berubah. Cuma Raisa yang ada di hati aku."
Raisa menoleh, kaget.
"Kamu… sudah cinta sama aku dari dulu?" tanyanya pelan.
Evan mengangguk.
"Iya. Sebelum kamu menikah sama Aditya, aku sudah suka sama kamu," ucapnya jujur. "Kamu itu adik kelasku waktu SMA. Sayangnya kita cuma sempat ketemu beberapa kali sebelum aku kuliah ke luar negeri."
Suasana mendadak hening.
Namun David langsung memotong dengan nada dingin.
"Papa nggak akan pernah menerima Raisa jadi menantu keluarga ini," tegasnya. "Walaupun dia mantan istri Aditya."
Evan menatap tajam.
"Kenapa, Pah? Waktu sama Aditya boleh, tapi sama aku nggak?"
David tersenyum sinis.
"Kamu pikir saja… Raisa itu nggak setara dengan keluarga kita," ucapnya. "Kalau Aditya beda. Dia cuma anak tiri papa, walaupun dia anaknya Lingga adik papa."
Lina langsung menatap suaminya dengan kecewa.
"Kamu nggak pernah benar-benar menyayangi Aditya, Mas," ucapnya lirih. "Dulu waktu kamu ngajak aku menikah naik ranjang, kamu bilang kamu akan menerima dia seperti anak sendiri."
David menghela napas, lalu menjawab dingin.
"Itu semua supaya harta keluarga ku nggak jatuh ke orang lain," ucapnya tanpa ragu. "Kalau kamu menikah dengan orang lain, otomatis warisan kamu bisa ikut terbawa."
Lina terdiam, matanya berkaca-kaca.
"Aku nggak nyangka… kamu bisa seserakah ini, David…" ucapnya pelan penuh kecewa.
Ruangan itu mendadak hening setelah ucapan Lina.
Raisa hanya menunduk, dadanya terasa sesak mendengar semuanya.
Evan mengepalkan tangannya, menatap ayahnya dengan tajam.
"Jadi selama ini… semua keputusan papa cuma soal harta?" suaranya rendah, tapi penuh tekanan.
David tidak menghindari tatapan itu.
"Papa cuma menjaga apa yang seharusnya jadi milik keluarga kita," jawabnya dingin.
Evan tersenyum miring.
"Dengan cara mengorbankan orang lain?" balasnya.
Lina menatap Evan, lalu Raisa.
"Sa… maafkan kami," ucapnya lirih. "Kamu nggak pantas diperlakukan seperti ini dari awal."
Raisa langsung menggeleng cepat.
"Nggak, Mi… saya yang berterima kasih sudah diterima dulu…" ucapnya pelan.
David berdiri dari duduknya.
"Papa nggak peduli kamu merasa apa, Evan," katanya tegas. "Tapi papa nggak akan merestui hubungan ini."
Evan ikut berdiri.
"Aku nggak butuh restu kalau harus mengorbankan kebahagiaan aku," jawabnya tanpa ragu.
"Van!" Lina mencoba menahan.
Namun Evan tetap menatap ayahnya.
"Aku akan tetap menikahi Raisa… dengan atau tanpa persetujuan papa."
Raisa langsung menatap Evan, kaget.
"Mas…" bisiknya.
David tertawa sinis.
"Kamu pikir hidup itu semudah itu?" ucapnya. "Kalau kamu tetap keras kepala, jangan harap kamu masih dianggap anak di keluarga ini."
Ucapan itu membuat suasana makin tegang.
Lina menutup mulutnya, tak percaya.
"Mas… jangan sampai sejauh itu," ucapnya panik.
Evan terdiam sejenak, rahangnya mengeras.
Lalu ia menggenggam tangan Raisa.
"Kalau harus memilih… aku sudah tahu pilihanku," ucapnya tegas.
Raisa merasa tangannya digenggam lebih erat
sementara hatinya justru semakin tidak tenang.
udah tau juga belang Aditya..
udah dengerin aja,jangan jadi orang yang sok tau gimana Aditya
udah di obok obok tiap hari msak gak mau dinikahi..
ada2 aja,kemana harga diri Mu Sa
pak David tukang kibul malah dikibulin...
anak sendiri pula pelakunya 🤣🤣🤣🤣
Cuma Raisa yang disini gak tau kelakuan Aditya