Dikhianati hingga mati, Kirana terbangun di masa lalu dengan satu tujuan: membalas dendam pada adik tiri dan mantan tunangannya. Demi merebut kembali warisannya, ia nekat mengikat pernikahan kontrak dengan Adyatma Surya—CEO kejam berdarah naga yang dikutuk. Menawarkan diri sebagai penawar nyawa pria itu, Kirana tak menyadari bahwa kontrak berdarah tersebut justru menjebaknya dalam obsesi gelap sang predator yang takkan pernah melepaskannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Arsitektur Langit dan Bumi
Hujan gerimis turun membasahi Kyoto, membawa serta hawa dingin musim gugur yang menusuk dan membersihkan debu-debu kosmik sisa kehancuran stasiun luar angkasa semalam. Di Kediaman Ryu-Zaki, aroma tanah basah bercampur dengan keharuman kayu pinus yang terbakar, menciptakan harmoni penciuman yang menenangkan saraf-saraf yang tegang. Aliran sungai kecil di taman Zen kembali bergemericik, mengisi kekosongan suara yang ditinggalkan oleh sirine peringatan dini yang akhirnya dipadamkan oleh otoritas kota setelah ancaman "meteor raksasa" dikonfirmasi hancur di atmosfer.
Di dalam paviliun tamu yang kini dijaga ketat oleh puluhan elit Faksi Timur—bukan lagi sebagai penjaga penjara, melainkan sebagai prajurit yang siap mati demi tamu mereka—Kirana Larasati Surya duduk bersimpuh di depan Adyatma. Ruangan itu diterangi oleh cahaya matahari pagi yang temaram dan lembut.
Kirana memegang tangan kanan Adyatma dengan sangat hati-hati. Kulit pria itu yang biasanya sekokoh baja kini melepuh merah, beberapa bagian bahkan menunjukkan jaringan otot yang sempat terbakar akibat menyalurkan Plasma Cendana Langit. Uap panas yang samar masih mengepul dari pori-pori kulitnya, sebuah bukti betapa masifnya energi yang telah ia tembakkan untuk membelah langit.
"Sakit?" bisik Kirana, suaranya dipenuhi kelembutan yang hanya ia tunjukkan pada pria di hadapannya ini. Ia membuka sebuah botol kecil berukiran aksara Jawa kuno, menuangkan beberapa tetes minyak esensial cendana murni yang telah dicampur dengan air mata naga hasil ekstraksi laboratorium Benteng Cendana.
Adyatma tersenyum tipis, sebuah senyuman tulus yang membuat wajahnya yang keras tampak begitu damai. "Dibandingkan dengan rasa sakit melihatmu terluka atau memikirkan anak kita dalam bahaya, luka bakar ini tidak lebih dari sekadar gigitan semut, Kirana. Regenerasi sel naga di tubuhku sudah bekerja. Dalam dua hari, kulit ini akan kembali seperti semula."
Saat tetesan minyak cendana itu menyentuh kulit Adyatma, cahaya keperakan berpendar lembut, merajut kembali sel-sel yang rusak dengan kecepatan yang terlihat oleh mata telanjang. Rasa hangat dan dingin silih berganti mengalir di lengan Adyatma, menyingkirkan sisa-sisa rasa perih.
"Kau terlalu memaksakan diri semalam," Kirana menunduk, mengusap pelan luka yang mulai menutup itu. "Menjaga 'Buaian Perak' sekaligus menahan energi bumi dan naga secara bersamaan... itu bisa saja membelah jiwamu menjadi dua, Adyatma."
Adyatma mengangkat tangan kirinya yang sehat, menyentuh pipi Kirana dan mengangkat wajah istrinya agar menatap matanya. "Jiwa kita sudah menyatu, Kirana. Kapan pun aku merasa akan hancur, tarikan dari frekuensimu selalu membawaku kembali menjadi utuh. Lagipula," Adyatma menggeser pandangannya ke arah perut Kirana, "aku merasakan dorongan energi darinya semalam. Bayi kita... dia tidak hanya tertidur. Dia secara pasif menstabilkan arus energi di dalam Buaian Perak. Dia melindungi kita sama seperti kita melindunginya."
Kirana menyentuh perutnya, matanya berkaca-kaca. Ia bisa merasakannya juga. Janin di dalam rahimnya bukan lagi sekadar entitas biologis yang rapuh. Ia telah berkembang menjadi jangkar energi yang memancarkan frekuensi tiga warna: perak (Cendana), biru (Naga kehidupan), dan sedikit semburat emas yang melambangkan frekuensi 'Kaisar Langit'—sebuah bentuk kekuasaan yang bahkan belum bisa dipahami sepenuhnya oleh Kirana.
"Dia akan menjadi alasan kita memenangkan perang ini," ucap Kirana mantap, mengusap sisa air mata di sudut matanya. "Kakekku dan entitas gila di orbit sana mungkin memiliki kalkulasi kuantum yang sempurna. Tapi mereka tidak memiliki cinta, dan mereka tidak memahami pengorbanan."
Dewan Perang Dua Dunia
Tepat pukul sembilan pagi, seorang pelayan kuil mengetuk pintu partisi paviliun dengan sangat hormat, memberitahukan bahwa Lord Genji telah menyiapkan ruangan untuk pertemuan dewan strategi.
Kirana dan Adyatma melangkah menuju aula utama Kediaman Ryu-Zaki. Pemandangan di aula itu kini jauh berbeda. Jika kemarin ruangan ini melambangkan isolasi tradisi yang kaku, hari ini ruangan itu telah bertransformasi menjadi pusat komando militer yang memadukan dunia kuno dan masa depan.
Di tengah ruangan, sebuah meja kayu raksasa yang usianya ratusan tahun telah dihamparkan. Di atasnya, beberapa gulungan perkamen kuno bergambar peta Asia Timur dibuka lebar. Namun yang membuat pemandangan itu kontras adalah kehadiran beberapa perangkat keras server portabel yang ditutupi oleh jalinan akar-akar organik bercahaya hijau—ini adalah perangkat ekstensi dari Internet Organik milik Kirana yang berhasil disusupkan oleh serbuk sari digital.
Lord Genji berdiri di ujung meja, mengenakan pakaian tempur tradisional yang sangat ringkas namun elegan, memancarkan aura seorang Jenderal Perang (Shogun) sejati. Di sampingnya, Kenjiro berdiri siaga bersama beberapa komandan elit Faksi Timur lainnya.
Saat Kirana dan Adyatma masuk, seluruh orang di ruangan itu—termasuk Lord Genji—menundukkan kepala mereka dalam-dalam.
"Silakan, Ratu Nusantara. Kami telah menanti Anda," ucap Lord Genji, mengisyaratkan Kirana untuk mengambil posisi di ujung meja yang berlawanan, sebuah posisi kehormatan yang setara.
Kirana mengangguk dan melangkah maju. Ia menyentuhkan ujung jarinya ke salah satu perangkat server organik yang berkedip di atas meja. Meskipun ia masih menggunakan kristal giok hitam yang membatasi kekuatannya di angka sepuluh persen, ia kini tahu cara memaksimalkan limitasi tersebut dengan efisiensi absolut. Ia tidak memaksakan arus data yang besar, melainkan menggunakan sistem micro-burst yang mengompresi data menjadi paket-paket kecil yang sangat padat.
"Reno, kau bersama kami?" tanya Kirana.
Di tengah meja, sebuah proyeksi holografik berwarna hijau muncul, menampilkan sosok Reno yang sedang berada di pusat komando Menara Nusantara di Jakarta. Wajah Reno tampak sangat lelah, kantung matanya menghitam, namun matanya memancarkan kesiagaan tingkat tinggi.
"Saya di sini, Nyonya, Tuan," lapor Reno, suaranya terdengar jernih melalui resonansi organik kayu di meja tersebut. "Syukurlah kalian selamat dari insiden semalam. Namun, situasi di dunia luar sedang menuju pada keruntuhan total. Entitas yang kita sebut Yomi-no-Kami ini mulai melakukan serangan masif di seluruh lini."
"Berikan laporan situasinya," perintah Kirana tegas.
"Satelit-satelit yang di-hack oleh Yomi-no-Kami kini mulai memancarkan gelombang jamming skala global," Reno menampilkan grafik berwarna merah yang menutupi separuh bola bumi di peta holografiknya. "Lalu lintas udara komersial di Amerika Utara dan Eropa Barat terhenti total karena sistem navigasi GPS dimatikan secara paksa. Perusahaan-perusahaan teknologi besar mengalami penghapusan data massal. Bursa saham Wall Street lumpuh. Entitas ini membuat umat manusia buta dan tuli dalam waktu kurang dari delapan jam."
"Dia memutus rantai komunikasi umat manusia untuk menciptakan kepanikan dan mencegah peluncuran senjata anti-satelit," analisis Adyatma, melipat kedua lengannya di dada.
"Tepat sekali, Tuan," lanjut Reno. "Namun, ada satu hal yang aneh. Wilayah udara dan komunikasi di Asia Tenggara, sebagian Eropa (berkat Faksi London), dan Jepang, tetap beroperasi normal. Jaringan Internet Organik dan perlindungan dari Faksi Timur menciptakan 'Kubaha Kebal' (Safe Zones) yang tidak bisa ditembus oleh gelombang elektromagnetik dari luar angkasa."
Lord Genji tersenyum tipis, sebuah kebanggaan tersirat di wajahnya. "Energi bumi tidak bisa dibungkam oleh mesin dari luar angkasa. Selama Ley Lines (Urat Naga Bumi) mengalir, pelindung kami akan tetap berdiri."
"Tapi bertahan saja tidak cukup," potong Kirana. "Kubaha Kebal ini pada akhirnya akan terkikis jika kita terus menerus dibombardir. Entitas itu telah terbukti bisa menggunakan senjata kinetik fisik dengan menjatuhkan stasiun luar angkasa. Jika dia mulai meretas pangkalan rudal nuklir yang terhubung ke jaringan internet lama, tameng spiritual apa pun tidak akan sanggup menahan radiasinya."
Keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan itu. Bayangan tentang hujan rudal nuklir membuat darah para petarung terkuat Faksi Timur pun berdesir ngeri.
Menara Hibrida: Arsitektur Penyerangan Balik
"Lalu, apa rencana Anda, Nyonya Kirana?" tanya Kenjiro, mewakili kekhawatiran seluruh klannya. "Anda mengatakan kita harus membangun infrastruktur hibrida untuk menyerang balik. Tapi dengan kekuatan Sastra Cyber Anda yang saat ini ditekan oleh Giok Resonansi demi keselamatan pewaris Anda, bagaimana kita bisa mencapai orbit?"
Kirana menarik napas panjang. Ia mengambil sebuah kuas kaligrafi kuno yang ada di atas meja, mencelupkannya ke dalam tinta yang telah diinfus dengan energi Sastra Cyber, dan mulai menggambar di atas perkamen peta Asia Timur tersebut. Setiap goresan kuasnya meninggalkan jejak cahaya perak yang menyala.
"Kita tidak akan menembakkan energi plasma lagi," ucap Kirana sambil menggambar tiga titik utama: Jakarta (Mahameru), London, dan Kyoto. "Tembakan Adyatma semalam sangat kuat, tapi itu hanya menghancurkan objek fisik. Yomi-no-Kami adalah entitas software. Jika kita menghancurkan satelit fisiknya, kesadarannya hanya akan berpindah ke satelit lain atau ke dalam sistem kabel bawah laut."
Kirana menarik garis lurus yang menghubungkan ketiga titik tersebut, membentuk sebuah formasi segitiga raksasa yang menutupi separuh belahan bumi.
"Kita harus menyerang kesadarannya. Kita harus menginjeksi 'Virus Organik' langsung ke dalam kode inti (source code) entitas tersebut," lanjut Kirana. "Untuk melakukannya, kita butuh sebuah pemancar Wi-Fi yang ukurannya sebesar benua Asia. Sebuah Menara Hibrida."
Lord Genji membelalakkan matanya saat memahami konsep Kirana. "Anda ingin menjadikan Ley Lines bumi di bawah benua ini sebagai papan sirkuit raksasa, dan menggunakan kuil-kuil spiritual kami sebagai antena pemancarnya?"
"Tepat," Kirana menatap Lord Genji dengan penuh determinasi. "Selama ribuan tahun, kalian menggunakan kuil-kuil ini untuk memusatkan energi dan berdoa ke langit. Sekarang, kita akan mengubah doa itu menjadi barisan kode mematikan (weaponized data). Internet Organik milikku akan bertindak sebagai perangkat lunaknya, sementara Urat Naga Bumi milik Faksi Timur akan bertindak sebagai perangkat kerasnya. Dan Adyatma... dia akan menjadi modulator yang menyelaraskan frekuensi alam dengan frekuensi digital."
"Itu... itu adalah arsitektur skala planet," gumam Kenjiro, takjub sekaligus gentar. "Dibutuhkan jutaan Terabyte energi spiritual untuk menyinkronkan node-node sebesar itu."
"Aku sudah menanam 'Serbuk Sari Digital' di sepanjang pantai Jepang hingga Taiwan. Reno sedang memperluas jaringannya dari Indonesia menuju utara," Kirana menunjuk ke arah proyeksi Reno. "Dan Lady Eleanor di London sedang menggunakan kekayaannya untuk menanam bibit cendana di seluruh Eropa. Jaringan ini sudah siap. Yang kita butuhkan sekarang adalah 'Kunci Kontak' (Ignition Key) untuk menyalakannya."
"Kunci Kontak?" tanya Adyatma.
"Ya," Lord Genji yang menyahut, tatapannya kini beralih ke arah gulungan kuno di depannya. Pria itu menyapu tangannya di atas peta, dan sebuah titik di tengah Laut Jepang menyala dengan warna biru tua. "Untuk menyatukan aliran Urat Naga dari Asia Tenggara, Jepang, dan Eurasia, kita harus mengaktifkan Node Utama yang terletak di dasar Palung Jepang. Sebuah kuil bawah laut purba yang disebut Ryugu-jo (Istana Naga Laut). Titik terdalam di mana lempeng benua bertabrakan."
Lord Genji menatap Kirana dan Adyatma secara bergantian. "Jika kita bisa mengirimkan sinyal pemicu dari Ryugu-jo, seluruh Urat Naga di benua ini akan beresonansi serentak, menciptakan dorongan energi elektromagnetik yang cukup besar untuk mengirimkan 'Virus Organik' milik Kirana langsung ke orbit, menembus perisai digital Yomi-no-Kami."
Ancaman di Kedalaman Pasifik
Rencana itu sempurna di atas kertas. Namun, tiba-tiba proyeksi holografik Reno berkedip-kedip merah dengan cepat. Alarm peringatan dini dari Menara Nusantara meraung melalui saluran komunikasi.
"Nyonya! Interupsi darurat!" teriak Reno, jemarinya terlihat mengetik dengan sangat cepat di udara. "Sistem peringatan dini bawah laut kita mendeteksi anomali masif yang bergerak menuju Laut Jepang!"
Kirana mengerutkan kening. "Jelaskan, Reno. Apakah itu gempa bawah laut?"
"Bukan gempa, Nyonya," Reno memunculkan sebuah citra sonar satelit militer yang berhasil ia bajak dalam hitungan detik. Di layar, terlihat sebuah bayangan hitam raksasa berbentuk silinder yang bergerak menembus kedalaman lautan dengan kecepatan tinggi. "Ini adalah Kapal Selam Nuklir Kelas Ohio milik Angkatan Laut Amerika Serikat. Kapal selam ini telah dilaporkan 'hilang kontak' empat belas jam yang lalu saat patroli di Pasifik."
"Kapal selam pembawa rudal balistik antarbenua," rahang Adyatma mengeras. "Bagaimana mungkin sebuah kapal selam militer berteknologi tinggi bisa di-hack oleh entitas itu? Bukankah sistem peluncuran nuklir membutuhkan dua kunci fisik manusia dan air-gapped (terputus dari internet luar)?"
"Entitas kosmik itu sangat cerdas," Kirana menganalisis citra sonar tersebut dengan otak komputasinya. "Dia tidak perlu meretas sistem peluncurannya secara langsung. Dia meretas sistem Life Support (pendukung kehidupan) kapal selam tersebut. Mematikan pasokan oksigen, membunuh seluruh awak kapalnya. Setelah semua manusia di dalamnya tewas, Yomi-no-Kami mengambil alih sistem navigasi otomatis dan meretas protokol peluncuran darurat rudal balistik tersebut melalui satelit yang sebelumnya ia kuasai."
"Kapal itu sekarang tidak lebih dari sebuah peti mati berjalan yang membawa puluhan hulu ledak nuklir," gumam Kenjiro, wajahnya memucat. "Dan ke mana arah benda itu, Tuan Reno?"
Reno menelan ludah. "Kalkulasi lintasannya menunjukkan kapal itu akan berhenti tepat di koordinat di atas Palung Jepang—tepat di lokasi Ryugu-jo yang baru saja Lord Genji sebutkan. Yomi-no-Kami tahu rencana kita. Dia bermaksud meledakkan hulu ledak nuklir di dasar laut untuk menghancurkan Node Utama Urat Naga Bumi sebelum kita sempat mengaktifkan Menara Hibrida."
Jika Ryugu-jo dihancurkan oleh ledakan nuklir, bukan hanya rencana Kirana yang gagal, tetapi lempeng tektonik Jepang akan mengalami keretakan masif yang akan memicu mega-tsunami dan gempa bumi berskala kiamat. Yomi-no-Kami sedang membidik satu titik lemah untuk memusnahkan seluruh Faksi Timur dan Nusantara sekaligus.
Keputusan Sang Jenderal Langit
Keheningan di ruang komando itu begitu absolut, seolah setiap orang sedang menahan napas mereka menanti akhir dari dunia.
"Kita punya waktu berapa lama sebelum kapal itu mencapai koordinat penembakan?" tanya Lord Genji, suaranya tetap tenang meski badai mengancam.
"Tiga jam, Tetua Agung," jawab Reno. "Mereka bergerak dalam mode siluman di kedalaman 800 meter."
Kirana menatap peta tersebut. Di kondisinya saat ini, dengan batasan 10% dan beban kehamilan, ia tidak mungkin bisa turun ke kedalaman laut atau meretas kapal selam militer analog yang terputus dari jaringan luar.
Adyatma memutar bahunya, meregangkan otot-ototnya yang baru saja pulih. Ia meraih sarung pedang peraknya dan mengikatkannya kuat-kuat di pinggangnya. Matanya yang keperakan memancarkan cahaya biru naga yang ganas namun sangat terkendali.
"Tidak ada sinyal digital di kedalaman 800 meter," ucap Adyatma, menatap istrinya dengan tatapan yang penuh janji. "Ini bukan medan perang untuk Sastra Cyber. Ini adalah medan perang fisik murni. Aku akan turun ke sana."
"Adyatma, itu adalah kapal selam baja seberat belasan ribu ton yang berada di dasar laut bertekanan tinggi!" Kirana mencoba membantah, meskipun ia tahu suaminya benar. "Tubuhmu adalah tubuh Naga, tapi kau tetap butuh oksigen. Kau akan hancur oleh tekanan air sebelum kau sempat menyentuh lambung kapal itu!"
Lord Genji melangkah maju. "Tuan Surya tidak akan turun sendirian. Faksi Timur akan memastikan pedang Sang Naga bisa mencapai jantung lautan."
Genji menoleh ke arah Kenjiro. "Kenjiro, persiapkan Jubah Leviathan dari gudang senjata suci. Kalian akan menggunakan submersible siluman milik klan kita untuk turun ke kedalaman. Saat kalian mencapai batas tekanan, jubahlah yang akan melindungi Tuan Surya. Tugas kalian adalah membelah lambung kapal selam itu, masuk ke dalam, dan menghancurkan ruang kendali rudal nuklirnya secara manual sebelum protokol peluncurannya selesai."
"Dimengerti, Tetua Agung," Kenjiro membungkuk dalam-dalam. "Saya akan mempertaruhkan nyawa saya untuk memastikan Sang Naga kembali dengan selamat."
Adyatma menatap Kirana, lalu menggenggam kedua tangan istrinya. "Aku akan memotong ular besi itu menjadi dua, Kirana. Aku berjanji."
"Kau harus kembali kepadaku, Adyatma," bisik Kirana, suaranya bergetar menahan tangis yang enggan ia tunjukkan di depan sekutu-sekutunya. "Anak ini... dia tidak bisa kehilangan ayahnya bahkan sebelum ia sempat membuka matanya."
Adyatma mencium kening Kirana dalam-dalam, menyalurkan sedikit kehangatan Naga Biru untuk menenangkan ketakutan istrinya. "Aku adalah naga lautan dan langit. Air tidak akan bisa menenggelamkanku selama aku memiliki Penjangkar yang menungguku di darat."
"Sementara Adyatma menghentikan kapal selam itu, aku akan menyelesaikan barisan kode untuk 'Virus Organik' yang akan kita tembakkan," Kirana menegakkan punggungnya, kembali ke mode seorang Ratu yang tak kenal ampun. "Begitu Adyatma mengamankan Ryugu-jo, Lord Genji... kita nyalakan Menara Hibrida ini dan kita bakar dewa kosmik itu dari singgasananya."
Hitung mundur menuju pertempuran bawah laut telah dimulai. Adyatma Surya, pewaris kekuatan kuno Nusantara, kini harus menghadapi teror baja mematikan dari era modern yang dikendalikan oleh entitas alien, sementara Kirana harus berpacu dengan waktu menyusun senjata digital terhebat yang pernah diciptakan umat manusia dari dalam sangkar emasnya di Kyoto. Perang ini tidak lagi mengenal batas elemen; langit, bumi, dan kedalaman samudra kini menjadi panggung akhir menuju kebangkitan atau kehancuran total.
*** [Bersambung ke Bab 34...]