"Dia hanya memiliki aku, Maya. Sedangkan kau? Kau punya segalanya. Berhentilah bersikap menjijikkan dengan menuduhnya yang bukan-bukan!"
Kata-kata itu menjadi cambuk harian bagi Maya. Di rumah itu, dia adalah orang asing di tengah keluarga yang "sempurna". Arlan, suaminya, telah memindahkan seluruh pusat dunianya kepada Sarah dan anak almarhum adiknya.
Setiap kali Maya mencoba membela diri dari fitnah halus yang disebarkan Sarah, Arlan akan menatapnya dengan kebencian murni. Bagi Arlan, Maya adalah beban, sedangkan Sarah adalah amanah suci. Ketidakadilan itu semakin kelam ketika Arlan mulai memperlakukan Sarah layaknya seorang istri, dan membuang Maya ke sudut tergelap dalam hidupnya.
Ini bukan lagi tentang cinta, melainkan tentang pengabdian yang salah arah dan kehancuran seorang istri yang dipaksa menyaksikan suaminya mencintai bayangan orang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya sabir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Minggu-minggu berikutnya, rumah mewah keluarga Dirgantara berubah menjadi sebuah panggung teater yang sunyi namun penuh ketegangan. Sesuai perkataan Yudha, tim dari Dinas Sosial mulai melakukan pengawasan ketat. Setiap ketukan pintu di pagi hari atau sore hari bisa berarti penilaian atas hidup mereka.
Arlan benar-benar memindahkan kembali barang-barangnya ke kamar utama. Namun, atmosfer di dalam kamar itu tidak sehangat malam saat Arlan membisikkan janji di kamar Dion. Kini, kamar itu terbagi oleh garis imajiner yang tak kasat mata. Arlan tidur di sofa panjang di sudut kamar, sementara Maya meringkuk di ranjang besar, memunggungi pria yang dulu sangat ia cintai namun kini ia takuti kehadirannya.
"Pihak dinas akan datang jam sepuluh pagi ini untuk sesi wawancara psikologis," ujar Arlan suatu pagi sambil mengancingkan manset kemejanya. Ia menatap pantulan Maya di cermin wanita itu sedang menyisir rambutnya dengan gerakan mekanis.
Maya tidak menoleh. "Aku tahu prosedurnya, Mas. Aku akan memakai topeng 'istri yang mendukung' seperti yang kau inginkan. Kau tidak perlu mengingatkanku setiap saat."
"Maya... sampai kapan kita akan seperti ini?" Arlan melangkah mendekat, namun terhenti saat melihat bahu Maya menegang.
"Sampai Dion aman secara hukum. Bukankah itu kesepakatannya?" jawab Maya dingin. Ia berdiri, merapikan gaunnya yang elegan pakaian yang dipilihkan Arlan agar ia terlihat sebagai nyonya rumah yang sempurna dan berjalan keluar kamar tanpa menoleh sedikit pun.
Sesi wawancara itu berlangsung di taman belakang. Dion berlari-lari kecil di dekat mereka, tampak jauh lebih ceria karena ia merasa orang tuanya kini "bersatu" kembali. Di depan petugas, Arlan sesekali menyentuh tangan Maya atau merangkul bahunya dengan lembut. Maya tidak menolak, namun Arlan bisa merasakan kulit Maya yang sedingin es dan otot-ototnya yang kaku setiap kali ia bersentuhan dengannya.
"Kalian tampak sangat serasi dalam menangani trauma Dion," ujar petugas wanita itu sambil mencatat di bukunya. "Konsistensi ini sangat penting. Nyonya Maya, apakah Anda merasa tertekan dengan proses hukum yang sedang berjalan terhadap Nyonya Sarah?"
Maya tersenyum senyum yang sangat terlatih. "Tentu ada kekhawatiran, tapi selama saya bersama suami saya, saya merasa kami bisa menghadapi apa pun demi kebaikan Dion."
Arlan menggenggam tangan Maya lebih erat, dan untuk sesaat, ia membiarkan dirinya percaya bahwa kalimat itu tulus. Namun, begitu petugas itu pergi dan gerbang tertutup, Maya segera menarik tangannya seolah-olah baru saja menyentuh bara api.
"Sandiwara yang bagus, bukan?" desis Maya sambil berjalan masuk ke dalam rumah.
"Aku tidak sedang bersandiwara saat memegang tanganmu, Maya," sahut Arlan lirih, suaranya penuh keputusasaan.
Langkah Maya terhenti. Ia berbalik dengan mata yang berkilat tajam. "Lalu apa? Kau ingin aku terharu? Mas, setiap kali kau menyentuhku, aku hanya teringat dinginnya lantai gudang dan suaramu yang menuduhku pembunuh. Jika kau ingin menyelamatkan Dion, lakukanlah. Tapi jangan coba-cari celah untuk memperbaiki apa yang sudah kau hancurkan menjadi debu."
Malam itu, badai besar menghantam kota. Petir yang menggelegar membuat Dion ketakutan dan berlari masuk ke kamar utama. Bocah itu menyelinap di antara Arlan yang sedang duduk di sofa dan Maya yang ada di ranjang.
"Dion takut... mau tidur sama Papa dan Mama," isaknya.
Arlan dan Maya saling berpandangan. Mau tidak mau, Arlan harus naik ke ranjang besar itu. Mereka tidur dengan Dion sebagai pembatas di tengah. Dion tertidur lelap setelah menggenggam tangan keduanya, menyatukan tangan Arlan dan Maya di atas perut kecilnya.
Dalam kegelapan, Arlan merasakan jari-jari Maya yang bergetar. Ia ingin menggenggamnya lebih erat, ingin menangis di bahu istrinya dan memohon ampunan yang mustahil. Namun ia tahu, di rumah ini, ia adalah pemenang yang paling kesepian. Ia memiliki Dion, ia memiliki statusnya, tapi ia telah kehilangan satu-satunya wanita yang pernah menjadikannya seorang pria sejati, bukan sekadar seorang CEO berdarah dingin.
Keheningan malam itu terasa jauh lebih berat daripada suara guntur di luar. Arlan bisa merasakan napas teratur Dion yang hangat di punggung tangannya, namun ia juga merasakan dingin yang luar biasa dari sisi ranjang tempat Maya berbaring. Tangan mereka masih bertautan karena genggaman Dion yang erat, sebuah jembatan kecil yang dipaksakan oleh kepolosan seorang anak.
"Dia sudah tidur," bisik Maya setelah sekian lama terdiam. Suaranya sangat rendah, nyaris tenggelam dalam deru hujan.
Maya mencoba menarik perlahan tangannya dari bawah jemari Dion, namun gerakan itu justru membuat Dion sedikit melenguh dalam tidurnya dan mempererat pegangannya. Maya menghela napas pasrah. Ia terpaksa membiarkan tangannya tetap di sana, bersentuhan langsung dengan kulit Arlan.
"Maya," panggil Arlan pelan. Ia tidak bergerak, matanya menatap langit-langit kamar yang gelap. "Besok Yudha akan membawa saksi kunci dari bengkel itu ke kantor kejaksaan. Nama kamu akan benar-benar bersih secara hukum minggu depan. Seluruh berkas tuntutan Sarah juga sudah dipatahkan."
"Lalu?" Maya menyahut datar.
"Lalu... aku akan menepati janjiku. Jika setelah putusan hak asuh ini keluar kau tetap ingin pergi, aku tidak akan menahanmu. Aku akan memberikan rumah di pinggir kota yang kau sukai dulu, dan tunjangan yang cukup agar kau tidak perlu kesulitan."
Maya tertawa kecil, suara tawa yang penuh luka. "Kau masih berpikir semuanya bisa diselesaikan dengan aset dan uang, Mas? Rumah di pinggir kota? Kau pikir itu bisa menghapus memori saat kau menyeretku keluar dari rumah ini setahun lalu?"
Arlan membalikkan tubuhnya ke samping, menatap siluet wajah Maya yang hanya diterangi cahaya kilat dari balik jendela. "Lalu apa yang harus kulakukan, Maya? Katakan padaku. Aku sudah mengirim Sarah ke penjara, aku sudah menyerahkan seluruh hidupku untuk menebusnya, tapi kau bahkan tidak bisa melihatku tanpa rasa jijik."
Maya akhirnya menoleh. Di bawah keremangan, matanya berkaca-kaca. "Kau ingin tahu apa yang harus kau lakukan? Kau harusnya jujur sejak awal. Kau harusnya percaya padaku saat aku bersumpah di depan nisan adikmu bahwa aku tidak melakukannya. Tapi kau lebih memilih percaya pada dendammu."
"Tidurlah,Mas Arlan. Jangan biarkan Dion melihat kita bertengkar saat dia bangun nanti. Cukup pastikan besok pagi kau memakai topengmu lagi dengan rapi. Karena hanya itu yang tersisa dari kita."
Arlan terdiam, tenggorokannya terasa seperti ditusuk ribuan jarum. Ia melihat tangan Dion yang kini terkulai kosong di tengah-tengah mereka ,sebuah simbol bahwa bahkan anak itu pun tidak bisa menyatukan apa yang sudah hancur berkeping-keping.
Keesokan paginya, tepat pukul delapan, sebuah kejutan tak terduga muncul di depan gerbang. Bukan tim dinas sosial, melainkan asisten pribadi Arlan yang datang dengan wajah pucat dan napas terengah-engah.
"Tuan Arlan, ada masalah," lapor asisten itu saat Arlan menemuinya di teras. "Sarah... dia tidak bertindak sendiri. Pengacaranya baru saja mengajukan bukti baru ke pengadilan. Mereka menuduh Anda telah menyuap saksi bengkel tersebut dan menekan Nyonya Maya secara psikologis untuk tinggal di sini demi hak asuh. Mereka meminta pemeriksaan psikiater independen untuk Nyonya Maya hari ini juga."
Arlan mengepalkan tangannya kuat-kuat. Sarah seolah masih memiliki cakar meskipun sudah di balik jeruji besi. Jika psikiater itu menemukan bahwa Maya tinggal di sini di bawah tekanan atau depresi karena perlakuan Arlan, maka seluruh perjuangan mereka akan hancur dalam sekejap. Arlan melirik ke dalam rumah, di mana Maya sedang menyuapi Dion sarapan dengan senyum yang dipaksakan. Ia tahu, nasibnya kini benar-benar hanya bergantung pada satu hal: apakah Maya masih memiliki cukup rasa iba untuk menyelamatkannya sekali lagi?