Berawal dari pertemuan di sebuah pernikahan menjadi kisah cinta yang rumit. Kisah antara Devika Nala Arutala dengan Raditya Arya Wijaya. Bagi Arya, Nala bukan hanya masa kini namun juga masa lalu. Masa lalu yang tak mungkin bisa ia lupakan begitu saja.
Berawal dari pertemuan tanpa sengaja di sebuah pernikahan. Sekian lama kembali bertemu, Arya mengetahui sebuah rahasia tentang kisah mereka di masa lalu, membuat tekadnya yang padam menjadi membara.
Pertemuan mereka bukanlah hanya sebuah kebetulan, namun takdir. Bertemu kembali, mengulang kisah. Jika dahulu berakhir menyedihkan, maka kini haruslah indah. Air mata yang dulu tumpah haruslah berganti menjadi pelangi.
Waktu mungkin saja berjalan, namun hati selalu tahu tempat mereka pulang. Bunga yang layu mampu kembali mekar, sama seperti manusia. Ada saatnya kita layu untuk merenung dan mekar untuk bersinar. Cinta sejati tidak pernah benar-benar mati, ia hanya layu untuk mengajarkan kita cara merawatnya dengan lebih baik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anyelir 02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20 - Titik Semu
"Calling, calling!”
Zara dan Citra yang baru saja masuk ke dalam kafe merasa senang dengan sambutan kafe milik Nala ini. Terdengar ramah, membuat pelanggan merasa puas. Setiap kafe yang dimiliki Nala, selalu ada sentuhan klasik yang kental dan menyesuaikan kenyamanan pelanggan. Suasana hangat akan selalu ada dan pelayan yang ramah tamah adalah poin penting kafe ini.
“Gia, katanya Nala ada disini. Dimana dia?” Zara melihat-lihat keadaan kafe yang ramai. Tak ada Nala di kursi bawah, tempat Nala biasa duduk hanya sekedar untuk makan.
“Bos ada di ruangannya. Mbak Zara dan Mbak Citra bisa kesana!” Ini adalah catatan tak tertulis untuk pegawai kafe. Setiap anggota keluarga dan teman-temannya datang dan mencarinya, maka pelayan bisa menunjukkan keberadaan Nala tanpa harus konfirmasi Nala terlebih dahulu. Baik itu di ruangan maupun saat dirinya sedang makan di tempat tersembunyi. Namun, itu hanya berlaku jika Nala berada disana.
“Oke, kami naik ke atas ya!”
“Tapi mbak, bos sedang ada tamu tadi!” jelas Gia
“Tak masalah, kami bisa menunggu di atas!”
“Oh iya, bawakan matcha latte dingin, lemon tea, dam 2 miso ramen.”
“Baik kak, kami akan antarkan ke ruangan bos!”
Zara dan Citra naik ke lantai atas. Kafe ini berdiri dengan 3 lantai. 1 lantai untuk pelanggan kafe untuk umum. Lantai 2, tempat makan secara privat dimana terdapat beberapa ruangan untuk pelanggan dan aula berukuran sedang untuk acara keluarga. Lantai 3 adalah lantai khusus tempat Nala bekerja. Hanya ada 1 ruangan, namun kelengkapan ruangan itu sangat lengkap. Ruang makan, ruang teh, dan ruang kerja serta kamar tidur berukuran kecil sebagai tempat Nala untuk beristirahat.
“Kok sepi?” ujar Zara saat tak mendengar suara apapun dari dalam.
“Kau tak menelepon Nala atau Lila?” tanya Citra. Secara spontan, Zara menggelengkan kepalanya.
“Yang benar aja!” kesal Citra. Citra langsung menggapai ponselnya dan menelepon Lila, asisten Nala. Citra takut, jika menghubungi Nala secara langsung takutnya akan menggangu Nala yang sedang bekerja.
“Gimana?” tanya Zara.
“Nggak di angkat.”
Mendengar itu, Zara kembali mengintip bagian dalam kantor Nala dari balik pintu kaca. Terlihat sepi. Tak ada satu pun orang di dalam ruangan. Mengingat ruang kantor milik Nala terbagi beberapa ruang, kemungkinan mereka berada disana, bukan di ruang utama.
“Masuk?” tanya Citra saat panggilannya tak ada jawaban. Apalagi melihat ruangan itu terlihat kosong.
“Masuk aja deh. Kan bukan pertama kali juga kita langsung masuk kek gini.”
Akhirnya keduanya memilih masuk ruang kerja Nala. Menyadari ada cangkir teh di meja, menandakan sebelumnya terdapat orang di ruangan itu. Dilihat dari cangkir dan gelasnya, ada 3 orang. Tamu Nala kemungkinan ada 2 orang.
“Mereka kemana ya?” Citra memindai setiap inci kantor Nala. Berbagai pintu menuju ruang teh, ruang makan dan kamar tidur.
“Ruang makan?” Zara menoleh ke arah Citra setelah mendengar tebakan itu. Kemudian Citra menunjukkan jam tangannya yang menunjukkan waktu makan siang masih berlangsung.
“Jadi, kita ke ruang teh?” Citra mengangguk setuju. Jika Nala dan tamunya berada di ruang makan, mereka tak ingin mengganggu. Kemudian, Citra mengirim pesan mengenai kedatangannya bersama Zara dan posisi mereka agar Nala bisa menemui mereka setelah selesai.
Srrrrt!
Pintu ruang makan bergeser. Nala yang melihat kedatangan kedua sahabatnya terkejut. Mereka tak menghubungi dirinya, jika ingin datang.
Berbeda dengan Nala yang tampak senang, Arya justru merasa terganggu. Kedatangan iparnya itu akan menghalangi waktu berdua dengan Nala. Arya sangat tau, Nala pastinya akan lebih fokus ke arah mereka berdua dibandingkan dengannya. Melirik ke arah Nala, senyum manis Nala tampak lebih mudah keluar dibandingkan saat dengannya. Lihat! Belum apa-apa dirinya sudah merasa kalah.
“Kak Arya!” Citra dan Zara terkejut melihat adanya kakak sepupu suami mereka. Yang paling mengejutkan adalah melihat Arya muncul bersamaan dengan Nala. Mereka berada dalam satu ruangan, makan bersama pula. Seketika mereka teringat akan pembicaraan bersama suami mereka soal Arya.
“Jangan bilang, yang dikatakan Arsyad itu bener?” bisik Zara
“Gue nggak tau. Tapi yang jelas itu ada kemungkinan.”
Suasana begitu terasa canggung dan Nala sangat merasakannya. Nala melihat ke arah Arya, kemudian ke arah Citra dan Zara. Di mata Nala, ketiganya tampak tenggelam dalam pemikiran masing-masing.
“Kalian berdua!” tegur Nala
Zara dan Citra yang awalnya menatap ke arah Arya, kini beralih ke arah Nala. Arya pun begitu, melihat ke arah Nala yang berada di sampingnya.
“Lebih baik kita duduk di ruang teh, sepertinya kalian ingin membicarakan sesuatu. Bagaimana?” tawaran Nala tampak menggiurkan bagi Arya. Menikmati waktu bersama Nala lebih lama, sungguh ingin sekali ia mengiyakan. Namun, melihat jam tangannya, waktunya dirinya kembali ke kantor. Ada dokumen penting yang harus ia kerjakan di kantornya.
“Sungguh, ingin sekali saya ikut dengan anda, nona. Namun, saya masih ada pekerjaan yang harus saya urus di kantor.” Tolakan itu, membuat Nala sadar bahwa waktu makan siang tak lagi banyak. Nala yang tau diri hanya mengangguk mengiyakan. Kemudian, meminta Lila untuk mengantar tamu.
“Sampai jumpa di lain waktu!” Arya keluar ruangan bersama Kevin dan Lila. Citra dan Zara mengangguk sebagai sapaan saat Arya pergi.
Melihat Arya yang sudah keluar ruangan, Citra dan Zara buru-buru mendekat ke arah Nala.
“Heh, kok bisa Kak Arya disini! Gimana ceritanya?” Bagi mereka ini adalah sebuah kejutan yang tak terkira. Mereka sangat mengenal Arya. Sosok Arya yang dingin tak tersentuh itu, sosok yang sangat tak mau jika berdekatan dengan perempuan, bisa-bisanya keluar dari ruangan yang sama dengan sahabatnya. Apalagi tatapan Arya ke arah Nala tampak berbeda. Siapapun yang mengenal Arya pasti akan menyadarinya. Tatapan Arya seolah begitu dalam, ada titik kerinduan di dalamnya dan cinta.
Cinta? Rindu?
Di kepala mereka banyak sekali pertanyaan akan hal itu. Nala tak pernah bercerita soal Arya kepada mereka. Mereka tau Nala hilang ingatan, tapi sebelum kejadian kecelakaan itu terjadi Nala tak pernah menceritakan sosok lelaki bernama Arya. Hanya pernah bercerita sosok ‘R’ yang berhasil masuk ke dalam hati Nala.
“Akan kuceritakan. Tapi sebelum itu, lebih kita duduk dulu.” Citra dan Zara mengangguk setuju. Kaki keduanya masih terasa lemas melihat kehadiran Arya yang tak terduga.
“Kita ke ruang makan. Pasti tadi kalian sudah memesan makanan kan?” Kedua orang itu tersenyum, seolah ketahuan melakukan hal buruk.
Nala sangat mengenal keduanya. Kedua sahabat Nala ini tak mungkin datang tanpa memesan terlebih dahulu. Dan melihat gelagat keduanya, pasti akan banyak yang mereka bicarakan. Terutama saat melihat Arya yang berada di ruangannya. Penjelasan ini membutuhkan ketenangan dan cerita yang detail. Nala tak ingin ada kesalahpahaman yang membuat kedua temannya ini menyimpulkan sendiri dan berakhir menyebar ke semua orang.
...****************...
Lila yang mengantar Arya dan Kevin, berhenti ke arah resepsionis. Mengambil pesanan yang telah diminta Nala kepadanya.
Lila menyerahkan goodie bag ke arah Kevin, dirinya tau akan posisinya jika ingin menyerahkan kepada Arya secara langsung.
“Apa ini?” tanya Arya yang kebingungan saat melihat Lila yang menyerahkan dua tas tas ke arah Kevin
“Ini adalah pesanan dari Nona Nala. Di dalam masing-masing tas terdapat sekotak mochi rasa teh hijau dan onigiri.”
Arya mengerutkan keningnya. Tak paham dengan maksud dari pemberian Nala. “Alasannya?”
Lila tersenyum dan kembali menjawab, “Nona melihat Anda dan asisten anda tampak tak berselera makan. Karena itu nona meminta untuk menyiapkan makanan yang lain mudah dibawa untuk anda berdua.”
“Kami mengerti. Terima kasih!”
Lila sedikit menunduk sebagai tanda hormat. Kemudian kembali memimpin jalan, dan membukakan pintu untuk Arya dan Kevin.
Sebelum pergi, Arya berbalik ke arah kafe tempat Nala berada. “Sampaikan rasa terima kasihku pada Nala.”
“Tentu tuan!”