"Saya nikahkan engkau dengan Rasti Nugroho binti Adi Nugroho dengan mas kawin satu set perhiasan emas dan uang seratus juta rupiah di bayar tunai"
"Saya terima nikah Rasti Nugroho binti Adi Nugroho dengan mas kawin tersebut tunai" sahut Xena.
"Sah"
" Sah"
Air mata Rasti mengalir deras. Dengan cepat ia mengusapnya agar tak terlihat oleh ibu dan adiknya. Sementara itu Budi ayah Xena tersenyum senang. Namun berbeda dengan Mira istrinya ,raut wajahnya menunjukkan ketidaksenangan melihat pernikahan putranya. Namun ia sebisa mungkin menutupinya.
"Selamat ya Nak, kini kau sudah menjadi seorang istri." ucap Siti, ibu Rasti sambil memeluk putrinya.
Rasti hanya bisa mengangguk pelan. Sungguh ini suatu mimpi buruk baginya. Ia tak pernah mengira akan menikah dengan pria yang sama sekali belum mengenalnya bahkan untuk melihat juga belum pernah.
"Siti, terima kasih atas semuanya. Akhirnya hutangku pada sahabatku lunas. Kini aku akan menjaga Rasti seperti putriku sendiri." Ujar Budi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irh Djuanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah perjanjian
"Aku bilang berhenti menangis! Kau pikir aku setuju menikahi mu?!" ucap Xena dingin.
Deg
Kata-kata itu membuat hati Rasti semakin teriris. Dari tadi hanya luka yang diucapkan Xena yang kini telah menjadi suaminya.
"Aku menikahi mu karena ayahku. Kalau bukan karena dia, aku tak akan pernah menikahi perempuan seperti mu." tambahnya lagi.
Rasti mencoba menatap Xena dengan tatapan datar, mencoba kuat walau sebenarnya hatinya perih.
"Aku juga! Aku menangis bukan karena menikah denganmu. Tapi..."
"Tapi apa?! Bukankah ini yang keluargamu inginkan? Menikah dengan orang kaya!, potong Xena cepat.
Kembali. Kata-kata pahit yang keluar dari mulut Xena membuat Rasti semakin gemetar. Bukan karena takut melainkan karena tak mampu menahan tangis yang sudah menggenang di pelupuk mata.
" Seandainya saja kau menolak. Mungkin..."
"Mungkin pernikahan ini tidak terjadi." sambung Rasti mencoba menerangkan.
Suasana hening. Xena tak lagi berbicara. Sedang Rasti tak tau harus apa. Ia tak ingin membuat siapa pun terluka. Tetapi nyatanya lahir batin dirinya yang harus menerima semua hinaan yang bertubi-tubi.
"Kalau begitu, turunkan aku di sini!" ucap Rasti tiba-tiba.
Xena langsung menoleh tajam, menatap Rasti yang masih menatap ke depan.
"Kau pikir dengan begitu semua ini selesai. Kau tidak tau siapa ayahku. Jika kau bersikeras aku tak akan memaksa." ujar Xena.
Perlahan Xena menepikan mobilnya. Rasti melepas sabuk pengamannya. Tanpa berpikir lagi Rasti membuka kunci pintu. Namun, niat itu ia urungkan. Rasti menatap Xena,
"Aku rasa kau benar. Jika aku pergi sekarang, semua akan menjadi semakin rumit," ucap Rasti dengan sedikit berpikir.
Dahi Xena berkerut, " Apa maksudmu?"
"Sebaiknya kita membuat perjanjian saja. Aku tau kau tak akan pernah mencintaiku. Jadi aku ingin kita membuat jarak," ucap Rasti.
Xena menatap Rasti beberapa detik,lebih lama dari sebelumnya. Untuk pertama kalinya tatapannya tidak dingin,tetapi lebih ke arah heran.
"Perjanjian?" ulangnya pelan, seolah membenarkan ucapan yang baru saja ia dengar.
Rasti mengangguk, "Iya. Kita jalani pernikahan ini, hanya sebagai kewajiban. Di depan orang tua, kota selayaknya pasangan suami istri. Tapi diluar itu kita punya batasan masing-masing."
Xena menyandarkan punggungnya ke kursi,matanya masih menatap Rasti lekat.Ada sesuatu yang berubah,tapi bukan lembut namun tak sekeras tadi.
"Lanjutkan," ucap Xena singkat.
"Aku tidak akan mencampuri urusanmu, kau bebas melakukan apa saja selama tidak mempermalukan keluarga.Dan..." Rasti berhenti sejenak menelan ludah
"Dan aku tidak akan menuntut apapun darimu, baik itu hatimu."
Kalimat itu pelan tapi terdengar jelas. Xena terdiam. Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia terkekeh kecil.
"Menarik, seorang istri yang tidak menuntut apapun dari suaminya," gumamnya.
"Baiklah aku setuju," ucap Xena lagi.
"Deal," sahut Rasti tegas.
Keduanya melanjutkan perjalanan yang kembali sunyi. Tetapi berbeda dari sebelumnya.Bukan lagi sunyi karena keterpaksaan. Melainkan sunyi karena dua orang asing yang baru saja sepakat untuk hidup bersama tanpa harus saling memiliki.
***
Beberapa menit kemudian, mobil Xena memasuki sebuah kawasan elit. Gerbang besar perlahan seolah menyambut tuannya. Rasti menatap ke luar jendela. Matanya menatap rumah megah dengan halaman luas dan tanaman yang tertata rapi. Semuanya terlihat begitu asing, begitu jauh dari kehidupannya selama ini.
Mobil berhenti. Xena tidak turun dari mobilnya, ia menatap Rasti sekilas dan memintanya turun.
"Kita susah sampai. Sekarang, sandiwara ini dimulai." ucap Xena.
Rasti menatap getir," Kau tidak turun,"
"Aku akan ke kantor. Aku tidak bisa mengantarmu ke dalam," sahut Xena datar.
Rasti mengangguk patuh. Sejak sebelumnya, Xena memang tidak berniat mengantarnya kalau bukan karena desakan ayahnya.
"Baiklah, aku mengerti," sahutnya lirih.
Rasti membuka pintu mobil. Setelah memastikan Rasti benar-benar turun, Xena langsung melaju meninggalkan Rasti yang masih tampak bingung.
"Nonya Rasti, ya?" ucap seorang asisten rumah tangga yang menghampirinya.
"Iya, Bu,"
"Mari ikut saya ke kamar," ajak Bu Siti.
Rasti sempat terdiam sejenak,mendengar panggilan nyonya yang terasa asing terdengar di telinganya.
"Kenalkan nama saya Siti, Nyonya cukup memanggil saya Bu Siti atau Siti juga boleh,"
Rasti terdiam lagi, nama itu. Nama yang harus ia sebut dengan sebutan ibu. Kembali. Air matanya kembali menggenang. Namun ia harus tetap kuat. Baru saja ia membuat janji pada orang lain yang tak pernah mengharap keberadaannya.
"Baik Bu Si..ti," ucapnya terbata.
"Di rumah ini, hanya ada Nyonya, Tuan Besar dan juga Tuan muda Xena," jelas Siti.
"Oh begitu, Bu,"
"Ada Non Dhea, adik Tuan muda Xena. Tetapi tinggal di luar negeri. Kemungkinan tahun ini akan kembali," jelas Siti lagi.
Rasti hanya mengangguk pelan, " Oh iya Bu, bagaimana ibu tau tentang saya?"
Siti terkekeh kecil, sebelum akhirnya berbicara," Tuan besar sudah menghubungi saya untuk menyambut Nyonya muda,"
Rasti hanya mengangguk pelan. Lagi... sebutan itu masih terasa asing dan berat dipundaknya. Perlahan mereka anak tangga yang melingkar. Setiap langkahnya bergema di dalam ruangan yang terlalu luas itu.
"Ini kamar Nyonya," ucap Siti sambil membuka pintu kamar.
Rasti melangkah masuk perlahan. Matanya langsung disuguhi ruangan yang sangat luas. Ranjang besar dengan sprei putih bersih, lemari tinggi, sofa empuk dan jendela yang menghadap ke taman. Indah...tapi terasa dingin.
"Kalau Nyonya butuh sesuatu, panggil saya saja,"
"Bu," panggil Rasti pelan.
Siti menatap Rasti penuh senyum, " Iya Nyonya,"
"Bisakah tidak memanggil saya dengan sebutan Nyonya?" ucap Rasti pelan,
"Tidak bisa, Nyonya. Mulai saat ini, Anda Nyonya di rumah ini. Jadi, saya harus mematuhinya," jawab Siti.
Rasti terdiam. Jawaban itu sederhana,tapi seperti pengingat apa posisi dirinya di rumah itu. Rasti menarik nafas pelan, lalu mengangguk.
"Baiklah...jika memang begitu," ucapnya lirih.
Siti tersenyum tipis, seolah memahami sesuatu yang tak bisa diucapkan.
"Kalau begitu saya pamit dulu, Nyonya. Istirahatlah, Anda pasti lelah," katanya lembut sebelum akhirnya keluar dari kamar.
Rasti menatap punggung Siti yang kian menghilang,
"Nyonya? Entah sampai kapan bisa begitu," batinnya.
***
Sementara, Xena baru saja sampai kantor. Bukannya bekerja, Xena masih memikirkan perkataan Rasti.
"Yang benar saja, seorang istri tidak menuntut apapun," ucapnya pada dirinya sendiri.
Xena menghempaskan tubuhnya ke kursi kerja.Tangannya mengusap wajahnya kasar, mencoba mengusir pikiran yang entah kenapa terus terngiang.
"Memangnya ada wanita seperti itu?" ucapnya lagi, mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
Selama ini, ia selalu bertemu dengan wanita yang mengejar-ngejar dirinya karena harta dan menginginkan cintanya. Bahkan ada wanita yang bersedia tidur dengannya asal bisa selalu dekat dengannya. Xena menghembuskan nafas panjang.Pikirannya semakin kacau.
"Wanita seperti itu...apa dia hanya pura-pura,?" gumamnya pelan.