Kupikir setelah Dev sadar dari koma, dia sudah berubah menjadi seseorang yang tidak lagi mengekangku.
Namun justru, perubahan sikapnya menjadi lebih gila...
"Kita akan menikah hari ini."
"Aku tidak mau!"
"Jika kamu tidak mau, aku akan mengakhiri hidupku sekarang juga."
NB: Season 2 dari Obsession
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lasti Handayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 15
POV: Devandra
"Dev."
Aku menoleh saat ia menahan tanganku.
"Aku ingin jalan-jalan, boleh?"
Katanya ia ingin membeli lipstik, mungkin kali ini aku harus mempercayainya. Apalagi yang ku takutkan, dia sudah menjadi istriku, dan Leon—bahkan ia sudah tidak lagi di sini.
"Oke, tapi besok aku akan
memanggil Bagas lagi."
Bukan karena aku ingin mengawasi Nara.
Aku hanya tidak bisa tenang membiarkannya sendirian di luar sana. Dunia terlalu kotor untuk seseorang seperti dirinya. Nara terlalu sempurna, terlalu mudah membuat orang lain tertarik. Dan aku tahu persis seperti apa manusia ketika mereka menginginkan sesuatu. Karena itulah aku hanya ingin memastikan dia tetap aman. Tetap berada dalam jangkauanku.
Akhir-akhir ini restoran selalu terlihat lebih ramai dari biasanya. Aku bahkan tidak tahu sejak kapan semuanya mulai berubah, tapi perlahan aku menyadari satu hal. Hidupku terasa jauh lebih baik sejak Nara ada di sisiku. Entah dia memang membawa keberuntungan, atau mungkin aku hanya bekerja lebih keras demi memberikan kehidupan yang layak untuk seseorang yang kucintai.
Aku selalu ingin memberikan segalanya untuk Nara. Kebahagiaan, kenyamanan, materi, kemewahan. Apa pun yang bisa membuatnya tetap tersenyum. Itu sebabnya dia tidak perlu bersusah payah bekerja. Nara hanya perlu tinggal di rumah, hidup tenang tanpa memikirkan apa pun. Layaknya seorang putri yang menikmati kemewahan dari singgasananya sendiri. Dan selama aku masih mampu, aku akan memastikan tidak ada satu pun hal buruk yang menyentuh hidupnya.
Tok... tok.
Suara pintu kantorku diketuk dari luar. “Masuk.”
Seorang pria berpakaian rapi melangkah masuk sambil membawa map hitam di tangannya.
“Maaf, Pak. Saya ingin melaporkan hasil reservasi minggu ini.”
Aku mengangkat kepala perlahan.
“Seluruh meja VIP penuh sampai akhir bulan. Bahkan beberapa pelanggan tetap meminta penambahan jadwal khusus.”
Arsen membuka salah satu map dan menyerahkannya padaku. “Selain itu, proposal kerja sama dari perusahaan distribusi wine asal Prancis akhirnya disetujui. Mereka ingin restoran kita menjadi partner eksklusif untuk wilayah Jakarta Pusat.”
Aku membaca cepat isi dokumen di tanganku. “Apa syarat yang mereka ajukan?”
“Mereka meminta pembaruan konsep jamuan premium dan peningkatan standar pelayanan. Jika kerja sama ini berjalan lancar, nama restoran kita akan masuk dalam daftar rekomendasi internasional mereka.”
Ruangan mendadak terasa lebih sunyi. Arsen kembali menatapku hati-hati sebelum melanjutkan kalimatnya.
“Namun ada satu hal yang perlu Anda pertimbangkan, Pak.”
“Apa?”
“Mereka ingin menghadiri peninjauan langsung akhir bulan ini. Dan mereka dikenal sangat ketat dalam menilai kualitas maupun reputasi pemilik restoran.”
Aku menutup map itu perlahan. “Kalau begitu, pastikan tidak ada satu kesalahan pun terjadi.”
“Baik, Pak.” Arsen mengangguk singkat sebelum keluar dari ruangan.
Sementara aku tetap diam menatap berkas di atas meja, sadar bahwa semakin tinggi restoran ini naik, semakin banyak mata yang mulai memperhatikan.
Tiba-tiba aku teringat Nara, ponsel yang tergeletak di meja ku raih. Aku telah menanam spyware di ponsel Nara sejak lama. Dari sana, aku bisa mengetahui hampir seluruh aktivitasnya. Ke mana Nara pergi, siapa yang berbicara dengannya, bahkan suara-suara kecil di sekitar Nara dapat terdengar jelas melalui mikrofon ponselnya. Mungkin ini terdengar jahat, tapi ini demi kewarasanku.
Studio tato.
Kenapa Nara ada di sana?
Jantungku berdegup kencang, perasaanku mulai tidak nyaman. Aku memasang earphone ke telinga lalu menyentuh satu tombol kecil pada aplikasi pengawas itu. Beberapa detik kemudian, suara beberapa pria terdengar samar, disusul suara Nara. Aku bisa mendengar jelas tawa Nara. Aku terdiam mendengarkan setiap percakapan mereka. Jemariku mengetuk pelan permukaan meja saat mendengar seseorang tertawa di dekat Nara.
“Dengan siapa kamu kali ini?"
"Kenapa lagi-lagi kamu berbohong padaku, Nara?"
...***...
POV: Nara
"Leon?" tanyaku memastikan.
"Nara," suaranya terdengar berat.
Aku berlari dan memeluknya dengan erat, air mataku jatuh tanpa henti. "Ini beneran kamu kan?" ucapku.
Leon membalas pelukanku.
Aku menatapnya sangat lama, rasanya seperti mimpi, "kamu kembali?"
"Aku kalah, Nara. Aku tidak bisa benar-benar meninggalkan mu."
"T—Tapi aku..."
"Aku tahu kamu sudah menikah dengan Dev, justru itu aku datang." Leon menggenggam tanganku.
Aku tidak mengerti maksud Leon, aku hanya menatapnya dengan ekpresi bingung.
"Aku ingin memastikan jika kamu baik-baik saja." Dia tersenyum tipis, walau sebenarnya ada luka yang tidak terlihat.
"Aku pasti baik selama ada kamu."
Itu jujur, entah kenapa saat aku bisa melihat Leon kembali rasanya lebih tenang, aku merasa tidak lagi sendiri di dunia ini. Setidaknya ada yang benar-benar ingin memastikan aku tetap dalam keadaan baik—tanpa menuntut apapun.
"Apa Dev sudah tahu kalau kamu kembali?" tanyaku.
"Belum, tapi aku bakal kasih kabar ke dia."
Aku tahu kabar kedatangan Leon bukan suatu hal yang menyenangkan bagi Devandra, bisa jadi itu memicu kekhawatirannya terhadapku. Tapi aku memilih untuk tidak mengatakannya pada Leon, bisa saja ini hanya prasangka ku. Lagi pula mereka kan sudah bersahabat sejak lama.
"Nara, aku ingin tanya satu hal. Kamu menikah dengan Dev atas keputusan bersama kan?"
Aku menunduk, dengan berat hati menggeleng.
Leon menghela nafasnya seolah ia pun sama kesalnya, "sepertinya Dev sangat mencintaimu."
Kepalaku langsung terangkat. "Itu bukan cinta," aku menjawab dengan cepat. "Dia selalu memutuskan semuanya sendiri, dia tidak pernah bertanya tentang perasaanku." Tanpa sadar aku menitihkan air mata.
"Loen mengusap pundakku, "aku mengenalnya dengan baik, dia tidak seperti itu aku tahu, tapi semenjak trauma kehilangan itu, dia menjadi overthinking terhadap apapun."
Trauma kehilangan. Semua berawal dari perempuan itu, namun anehnya, kenapa aku yang harus menanggung sisa-sisa luka dari masa lalunya? Kenapa aku yang dijadikan tempat pelampiasan atas ketakutan yang bahkan tidak pernah kuciptakan? Mungkin benar, laki-laki memang sulit melupakan cinta pertamanya. Sekali seseorang membekas terlalu dalam di hidup mereka, kenangannya akan terus tinggal di sana. Diam-diam hidup, bahkan sampai bertahun-tahun kemudian. Dan Devandra terlihat seperti seseorang yang belum pernah benar-benar selesai dengan masa lalunya.
"Nara, aku berjanji akan tetap di sini menjagamu. Aku tidak akan membiarkan dia menyakitimu lebih jauh."
Memangnya apa yang bisa Leon lakukan pada istri orang?
Tidak terasa waktu berjalan begitu tenang di tempat ini. Berbeda dengan rumah yang selalu dipenuhi rasa sesak dan kehati-hatian. Aku terlalu hanyut dalam kebersamaan kami. Obrolan-obrolan random yang sebenarnya tidak penting, lelucon sederhana yang entah kenapa tetap berhasil membuatku tertawa setelah sekian lama. Sampai-sampai aku hampir lupa bagaimana rasanya tertawa dengan tulus.
Tanpa sadar, suasana hangat itu membuat beban di kepalaku perlahan menghilang, meski hanya untuk sementara.
Hingga mataku menangkap jam dinding di sudut ruangan—Pukul lima sore. Senyum di wajahku perlahan memudar. Aku harus segera pulang sebelum Dev sampai rumah lebih dulu.
Setelah berpamitan pada Leon dan Keanu, aku bergegas memesan taksi. Sesampainya di rumah aku kaget—sebuah mobil putih terparkir di garasi. Dev ternyata sudah ada di rumah. Ah sial bahkan aku lupa membeli lipstik sebagai alasan keluar.
Aku mencoba berjalan dengan santai, mataku menyapu seluruh ruangan ingin memastikan keberadaan Dev, sampai
"Nara," suara itu menggema keseluruhan ruangan.
Aku menoleh ke arah sumber suara yang berasal dari sofa di ruang santai. Perlahan aku mendekatinya. Ia duduk di sana dengan tubuh sedikit membungkuk, jemarinya bergerak lincah di atas laptop, sementara tatapannya tetap fokus menyorot layar di hadapannya.
"Kamu baru pulang," katanya lirih.
"Iya," jawabku singkat.
"Dari mana?"
"Dari—" kalimatku berhenti, aku ragu ingin menjawab. "Dari mal." Jawaban yang terdengar dipaksakan.
Ia tiba-tiba menoleh ke arahku. Seketika jantungku berdegup lebih cepat. Tangannya terulur pelan ke arahku, dan tanpa berpikir panjang aku meraihnya sebelum duduk di sampingnya.
“Aku sudah bilang, jangan berbohong padaku.”
Suaranya terdengar lembut, justru itu yang membuatku takut. Karena aku tahu, nada seperti itu selalu menjadi awal sebelum sisi lain dalam dirinya muncul. Sisi yang perlahan berubah menjadi monster.
Aku sudah ketahuan berbohong. Bibirku terasa kelu, tenggorokanku menegang, sementara jemariku hanya mampu menggenggam tangannya erat seolah itu bisa meredakan ketakutan yang mulai memenuhi dadaku.
"Kenapa kamu ke studio tato?"
Seketika kepalaku terangkat menoleh padanya. Bagaimana dia tahu? Aku menatap matanya mencoba berpikir. Ah benar, ponselku—ia sudah menyadap ponselku dan tahu semua aktivitasku.