Di sebuah desa tersembunyi bernama Desa Batu, hiduplah keluarga Chen, keturunan langsung dari Raja Alkemis legendaris yang menguasai rahasia kehidupan dan kematian. Harta terbesar mereka bukanlah emas atau perak, melainkan resep Ramuan Keabadian—cairan mistis yang dapat memberikan kekuatan tak terbatas dan hidup selamanya bagi yang meminumnya.
Namun, kekuatan besar selalu menarik bayangan gelap. Saat Chen Si, pewaris tunggal keluarga itu, baru berusia lima bulan, desa mereka diserang habis-habisan oleh sekelompok manusia bertopeng yang haus kekuasaan. Seluruh klan Chen dibantai tanpa ampun demi merampas rahasia suci itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: LABIRIN BATU DAN PENJAGA KUNO
Angin di Lembah Mayat bertiup kencang, membawa suara lolongan yang menyeramkan seolah-olah arwah para pendahulu masih bergentayangan di sana. Kabut tebal menyelimuti tanah, membuat jarak pandang sangat terbatas.
Chen Si dan Wu Ye berjalan menyusuri lereng curam menuju pintu masuk utama reruntuhan. Mereka sengaja tidak bergabung dengan kelompok besar mana pun. Mereka memakai jubah longgar berwarna abu-abu dan menutupi sebagian wajah mereka agar tidak dikenali.
"Lihat itu," bisik Wu Ye sambil menunjuk ke arah gerbang batu besar yang setinggi puluhan meter.
Di gerbang itu, tertulis huruf-huruf kuno yang sangat megah dan kuno. Huruf-huruf itu tampak seolah hidup, memancarkan aura yang berat dan agung.
"Apa tulisan itu, Kek?" tanya Chen Si.
"Itu bahasa leluhur klan Chen. Artinya: 'Di sini berdiri kerajaan yang menyaingi langit, di sini juga tempat ia kembali menjadi debu. Hanya mereka yang memiliki darah suci yang boleh melangkah, yang lain... hanya akan menjadi makanan tanah.'"
Chen Si merinding membayangkan arti tulisan itu. "Berarti... orang biasa yang masuk akan mati?"
"Benar. Tekanan energi di dalam sana begitu padat. Orang yang kekuatannya rendah akan langsung pembuluh darahnya pecah dan mati sebelum berjalan sepuluh langkah."
Mereka melihat beberapa kelompok kecil yang mencoba masuk, namun baru saja melewati gerbang, mereka langsung muntah darah dan mundur teratur dengan wajah pucat.
"Tapi kita aman?" tanya Chen Si.
Wu Ye tersenyum. "Kau memiliki Darah Naga, kau adalah tuan rumah asli. Bagaimana mungkin tuan rumah tidak boleh masuk ke rumahnya sendiri? Ayo!"
Mereka melangkah maju. Saat melewati gerbang batu itu, Chen Si merasakan sesuatu yang aneh. Bukan tekanan yang menyakitkan, tapi rasa hangat yang menyambut. Seolah-olah reruntuhan ini mengenalinya.
Kamar Pertama: Ujian Matematika dan Bata Hidup
Di dalam gerbang, terdapat sebuah aula yang sangat luas. Lantainya terbuat dari lempengan batu hitam yang dipoles sangat halus, memantulkan bayangan orang yang berjalan di atasnya.
Di ujung aula, ada sebuah pintu besar yang tertutup rapat. Namun, untuk sampai ke pintu itu, mereka harus melewati jembatan yang terbuat dari batu-bata berwarna-warni yang tersusun acak.
Sudah ada beberapa kelompok ahli yang berkumpul di sana. Mereka terlihat bingung dan kesal.
"Goblok! Ini batu apa lagi?! Setiap diinjak bisa bergerak!" teriak salah satu pemuda berotot.
Chen Si melihat lebih dekat. Ternyata, batu-bata itu bukan sekadar pijakan. Setiap bata memiliki simbol angka dan gambar hewan. Dan jika seseorang menginjak bata yang salah, bata itu akan berubah menjadi mulut raksasa dan mencoba menelan kaki orang itu!
"Ini adalah Jembatan Urutan Bintang," kata Wu Ye setelah mengamati sebentar. "Ini bukan ujian kekuatan, tapi ujian kecerdasan dan ingatan. Kita harus menemukan pola urutan yang benar agar bisa lewat."
"Pola apa itu, Kek?"
"Lihat gambarnya. Ada Naga, Harimau, Burung Phoenix, Kura-kura... Itu adalah lambang empat penjuru langit. Dan angkanya... 1, 9, 2, 8, 3, 7..." Wu Ye mengerutkan dahi, otaknya bekerja cepat menghitung rumusan kuno.
Tiba-tiba, dari belakang mereka, terdengar suara tawa sombong.
"Hahaha! Orang-orang bodoh seperti kalian memang tidak akan pernah bisa lewat! Minggir! Biarkan ahli dari Sekte Pedang Langit yang menunjukkan caranya!"
Sekelompok orang berjalan mendekat. Pemimpinnya adalah pemuda tampan dengan pedang di punggung, wajahnya penuh kesombongan. Ia menganggap dirinya paling pintar.
"Lihat! Polanya sederhana! Angka ganjil dan genap bergantian!"
Pemuda itu melompat dengan percaya diri, menginjak bata nomor 1, lalu 2, lalu 4...
BRUK!
Tiba-tiba bata nomor 4 berubah menjadi mulut raksasa! GNAM!
"AAAAARRGGHH!! KAKIKU!!"
Pemuda itu menjerit kesakitan. Kakinya hancur digigit batu. Teman-temannya panik menariknya mundur, terluka parah dan dipermalukan di depan semua orang.
Orang-orang lain semakin takut, tidak ada yang berani melangkah lagi.
"Dasar bodoh," desis Wu Ye pelan. "Bukan angka ganjil genap, tapi jumlahnya harus selalu sepuluh. 1+9, 2+8, 3+7... Begitu seterusnya."
Wu Ye menatap Chen Si. "Si, kau jalan duluan. Kau yang punya darahnya, batu-batu ini akan lebih patuh padamu."
Chen Si mengangguk. Ia menarik napas, lalu melangkah.
Langkah 1: Injak Naga angka 3.
Langkah 2: Lompat ke Phoenix angka 7. (3+7\=10)
Langkah 3: Harimau angka 5.
Langkah 4: Kura-kura angka 5. (5+5\=10)
Setiap langkah Chen Si sempurna. Batu-batu itu tetap diam, bahkan tampak bersinar lembut saat ia lewat.
"Wah! Dia bisa! Bagaimana caranya?!" kerumunan orang terkejut.
"Cepat ikuti jejak kakinya!" teriak seseorang.
Banyak orang langsung berlarian mengikuti persis di belakang Chen Si, takut salah injak.
Dalam waktu singkat, Chen Si dan Wu Ye sudah sampai di ujung jembatan, tepat di depan pintu besar itu.
"Keren, Si. Ingatan dan perhitunganmu cepat sekali," puji Wu Ye.
"Itu karena aku sering belajar meramu, Kek. Menghitung takaran obat sama saja dengan menghitung angka ini," jawab Chen Si santai.
Penjaga Golem Batu
Namun, sampai di pintu bukan berarti selesai.
DUG... DUG... DUG...
Suara langkah kaki berat terdengar dari dalam dinding. Dua patung batu setinggi lima meter yang tadinya diam di sisi kiri dan kanan pintu, tiba-tiba membuka matanya yang menyala merah!
Tubuh mereka terbuat dari batu granit hitam, memegang palu batu raksasa di tangan mereka. Itu adalah Golem Penjaga, makhluk buatan yang diprogram untuk membunuh siapa saja yang bukan pemilik sah.
"INTRUDER!! (PENYUSUP!!)"
Suara Golem itu bergema seperti gemuruh gunung.
SWING!
Salah satu Golem mengayunkan palu ke arah kerumunan orang yang baru saja sampai!
BUMMMMM!!!
"ARRRGHH!!"
Beberapa orang yang lari paling depan langsung hancur menjadi daging cincang dalam sekejap! Darah menyembur membasahi lantai batu.
Yang lain menjerit ketakutan, lari balik ke arah jembatan dengan panik. Aula yang tadi ramai kini menjadi medan pembantaian.
"Mereka terlalu kuat! Kita tidak bisa melawannya!"
"Lari! Kabur!"
Kekacauan terjadi. Golem-golem itu terus menyerang tanpa ampun. Palu mereka bisa menghancurkan batu sebesar rumah dengan sekali pukul.
Wu Ye menatap situasi itu dengan tenang. "Si, mereka tidak akan menyerang kita kalau kita menunjukkan tanda pengenal. Tapi lihat orang-orang itu... mereka akan mati semua kalau dibiarkan."
"Tapi kita tidak bisa menghentikan dua Golem sekaligus, Kek. Kulit mereka sekeras gunung!" kata Chen Si.
"Kalau tidak bisa dihancurkan, maka kita kendalikan," kata Wu Ye tersenyum licik. "Ingat pelajaran tentang energi dalam? Golem itu bergerak karena ada 'inti energi' di dada mereka. Kalau kita bisa memasukkan energi kita ke sana dan mengambil alih..."
"Mereka akan jadi boneka kita?" mata Chen Si berbinar.
"Tepat sasaran!"
"Baik! Biar aku yang coba!"
Chen Si maju selangkah. Saat Golem lain mengayunkan palu ke arahnya...
"JANGAN RUSAK! ITU MILIKKU!" teriak Chen Si.
Alih-alih lari, Chen Si justru melompat tinggi! Ia tidak memukul, tapi menempelkan kedua telapak tangannya tepat di dada batu Golem itu!
"TEKNIK ROH BUMI: PENYERAPAN ENERGI!"
WZZZZZZZZZT!
Cahaya kuning keemasan menyembur dari tangan Chen Si, masuk ke dalam celah-celah batu Golem.
Golem raksasa itu tiba-tiba berhenti bergerak. Matanya yang merah berkedip-kedip, lalu perlahan berubah menjadi warna kuning yang sama dengan mata Chen Si!
KRAK... KRAK...
Golem itu menurunkan palunya, lalu perlahan menundukkan kepalanya ke arah Chen Si, seolah memberi hormat!
"Master..." terdengar suara mekanis yang pelan.
Semua orang yang melihat itu ternganga, mulut mereka ternganga tak bisa berkata-kata.
"Dia... dia menaklukkan Golem?! Hanya dengan sentuhan?!"
"Siapa pemuda itu?! Dewa apa dia?!"
Chen Si tersenyum bangga. Ia menoleh ke Golem satunya lagi. "Hei! Temanmu sudah sadar, kamu kapan? Atau mau dipukul?"
Golem yang satunya lagi sepertinya mengerti. Ia pun segera berhenti menyerang, dan ikut menunduk hormat.
Kekacauan berhenti seketika.
Wu Ye tertawa kecil. "Bagus kerjaannya, Si. Sekarang kita punya dua bodyguard raksasa. Buka pintunya!"
Chen Si memberi perintah dengan pikiran. Dua Golem itu maju, mencengkeram pintu batu besar yang beratnya ribuan ton, lalu mendorongnya dengan kuat!
KRRRRRRRRRRRAAAAAAASSSSHHHHH!!!
Pintu raksasa itu terbuka lebar!
Di balik pintu itu, terlihat sebuah lorong panjang yang gelap gulita, namun di ujung sana, terlihat cahaya yang sangat terang dan memancarkan aura yang sangat murni dan kuat.
"Itu dia... Ruang Utama," bisik Wu Ye dengan napas tertahan. "Harta karun sesungguhnya ada di sana."