Darren hanyalah sampah di mata dunia. Sebagai penagih pinjol ilegal, hidupnya habis untuk dihina debitur sombong, disiksa bos yang brengsek, hingga akhirnya dicampakkan anak-istri di titik terendah.
Beruntung maut di sebuah gudang tua itu justru menjadi awal dari segalanya. Saat nyaris mati dikeroyok, sebuah notifikasi muncul di hadapannya:
[Sistem Penagih Utang Akhirat Diaktifkan]
Kemudian dunia berubah menjadi deretan angka. Darren kini mampu melihat Utang Keberuntungan dan Utang Umur setiap orang. Dari pengusaha korup hingga pejabat sombong, semua memiliki utang rahasia yang tak bisa lunas dengan uang. Sedangkan Darren adalah algojo yang berhak menarik paksa semuanya.
Dari pecundang yang dipandang sebelah mata, menjadi penguasa finansial dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Babi dan Malaikat Tanpa Sayap
Kendaraan taksi daring itu berhenti tepat di depan sebuah pertigaan yang remang-remang. Memanglah seram, tapi Darren tetap keluar sembari menghirup udara malam kawasan Sunter yang terasa nostalgia. Deretan bekas pabrik dan gudang tua berjajar di kiri kanan jalan layaknya barisan raksasa yang sedang tertidur lelap. Lampu penerangan jalan di sekitar sini hanya tersisa sedikit yang masih menyala, sementara sisanya sudah mati dimakan usia. Setidaknya itulah gambaran singkat tempat ini selain banyaknya sampah plastik, sampai beberapa orang yang meringkuk di atas kardus.
Sistem memberikan sebuah pesan tanpa suara.
Jarak ke target saat ini 950 meter. Target berada di luar jangkauan efektif.
Sepatu kets yang dia kenakan sesekali menginjak genangan air sisa hujan sore tadi saat dirinya menyusuri tempat itu. Menoleh ke kanan dna ke kiri sambil menggaruk-garuk tengkuk sampai tepukan tangan mendarat di punggungnya dari belakang. Lantas Darren terperanjat hingga jantungnya serasa ingin melompat keluar, ia segera berbalik sembari mengepalkan tangan, siap untuk melakukan pembelaan diri. Kendati demikian, di hadapannya berdiri seorang pria dengan tubuh yang bulat layaknya bola. Pria itu memiliki pipi yang sangat tembem, perut buncit yang menyembul dari balik seragam, serta kumis yang belum tumbuh dengan sempurna.
“Darren? Benar kan? Kau Darren anak kompleks yang dulu sering main di lapangan?” tanya pria gendut itu sambil menunjuk-nunjuk tidak percaya.
Darren sendiri juga tidak percaya dengan figur yang kini berdiri di depannya. “Budi si Babi Rumahan? Kok kamu ada di sini?”
“Sst! Jangan panggil nama asli gue di sini. Bahaya kalau didengar orang lain, bos!” seru Budi sembari menaruh telunjuk di depan bibir. Dia menatap Darren dari ujung kepala sampai ujung kaki. “Sudah lama banget gak ketemuan. Bos keliatan beda.”
Darren masih terheran-heran. “Dunia ini sempit sekali. Budi bahkan masih manggil aku Bos seperti dulu,” batinnya. Alih-alih menjawab pujian itu, Darren justru balik melontarkan pertanyaan. “Kau ke mana saja selama ini? Kenapa gak pernah ngabarin?”
“Ceritanya panjang Bos. Dulu ayahku dipindahkan ke proyek di Sunter ini. Aku sempat coba cari rumahmu, tapi ternyata kalian sudah pindah tanpa meninggalkan alamat,” jelas Budi sembari mengelus perutnya. “Hehe, Bos! Akhirnya aku kerja serabutan untuk bertahan hidup. Pernah jaga gudang, angkat barang, sampai jadi kurir dadakan kalau ada lowongan.”
“Terus sekarang kamu bekerja di area ini, Bi?” (Bi\=Babi Rumahan) tanya Darren sembari mengamati seragam yang dikenakan teman lamanya itu.
“Iya Bos, aku sedang berjaga di gudang milik seorang pengusaha kaya. Kebetulan malam ini adalah giliranku untuk patroli di sisi luar,” jawab Budi dengan polosnya.
Darren terkejut saat matanya menangkap logo perusahaan Alvino Chandra yang terbordir jelas di bagian dada seragam Budi. “Bi, kau emangnya tahu siapa bosmu itu? Dia tidak lebih dari seorang kriminal yang lihai berakting.”
“Aku gak tahu kalau dia punya urusan gelap. Aku cuma butuh uang untuk biaya hidup, Bos,” jawab Budi dengan nada yang sedikit bingung, meski Darren juga sudah menduganya.
“Kau harus keluar dari sini sekarang juga. Tempat ini akan menjadi sangat kacau dalam beberapa menit ke depan,” perintah Darren dengan tegas.
“T-tapi Bos. Aku masih punya banyak tanggungan,” jawab Budi sembari menggelengkan kepala.
Lantas Darren menarik napas panjang satu kali. “Pokoknya ikut aku sekarang. Aku janji bakal bantu urus tanggunganmu itu nanti, tapi untuk saat ini nyawamu lebih penting.”
Budi terlihat ragu, dia menahan langkah Darren. “Sebelum aku ikut, aku mau menanyakan sesuatu dulu yang mengganjal sejak zaman SD. Aku ingat Bos dulu pernah ngambil jajanku yang rasa cokelat dan bilang itu hilang dimakan kakak kelas. Kau bohong kan Bos? Jujur aja, aku masih kepikiran sampai sekarang.”
“Sialan, babi ini malah bahas jajanan SD sekarang,” pikir Darren sembari menepuk dahi. “Ini bukan waktu yang tepat untuk membahas masalah masa kecil, Bi! Kau udah gede juga. Ikhlasin aja napa.”
“Tapi aku suka jajan cokelat itu, Bos! Rasanya belum tenang kalau belum tahu kebenarannya,” desak Budi dengan wajah yang terlihat sangat serius.
Darren menghela napas pasrah. “Baiklah, iya, iya! Aku yang makan! Aku bakal membelikanmu satu truk cokelat nanti asal kamu mau lari bersamaku sekarang! Dan kalau aku punya duit lebih juga... dan kalau udah gak jomblo lagi.”
Baru saja kata-kata itu terucap, sorot lampu senter yang tajam mendadak menyoroti mereka dari arah gudang utama.
“Hei! Bukankah seharusnya tempat ini sudah kosong? Kejar mereka!” bentak seorang pria berjas hitam dari kejauhan.
Dua orang pengawal Alvino pun berlari dengan sangat cepat ke arah mereka. Adapun Darren segera menarik tangan Budi yang terasa sangat besar dan mereka pun mulai berlari menjauh. Langkah kaki mereka menimbulkan suara gaduh di tengah gang yang sunyi itu. Budi yang memiliki tubuh sangat berat jelas mulai ketinggalan di belakang.
“Ayo lari lebih cepat, Bi! Hitung-hitung ini adalah program diet dadakan untukmu!” seru Darren sembari sesekali menoleh ke belakang.
“Napas... napasku mau habis, Bos!” keluh Budi dengan wajah yang mulai pucat.
Pengawal itu semakin mendekat. Bilamana keadaan terus seperti ini, mereka pasti akan tertangkap. Sampai Budi malah tersandung batu besar dan jatuh tersungkur di atas aspal. Dia tampak sudah menyerah sepenuhnya.
“Tinggalkan saja aku, Bos. Biar aku ditangkap, sejujurnya aku sudah memaafkanmu soal coklat itu, jadi tolong... reset hpku ini jangan sampai tersisa apapun, terutama riwayatnya,” rintih Budi sembari menyodorkan ponselnya.
“Bangun! Jangan jadi pecundang sekarang, atau namamu akan dikenal sebagai penonton bo*ep handal!” perintah Darren.
“Lu jahat amat Bos!”
“Bangun!”
Masalahnya, salah satu pengawal sudah berada dalam jarak jangkau yang berbahaya. Darren secara spontan mengambil sebuah botol kaca bekas di samping jalan dan melempar benda itu dengan sekuat tenaga ke arah para pengejar. Botol itu hancur berkeping-keping tepat di depan kaki para pengawal, menciptakan bunyi yang sangat keras dan membuat langkah mereka tersendat meski sebentar.
“Lemparanmu masih sebagus dulu saat kita main bola kasti,” komentar Budi sembari berusaha bangkit kembali.
Mereka berdua pun segera masuk ke dalam sebuah area gudang terbengkalai yang sudah tidak memiliki atap. Darren mendorong pintu besi yang sangat berat dengan seluruh tenaganya agar pintu itu tertutup. Sementara Budi ikut membantu mendorong dari samping. Alhasil, mereka berdua terduduk di atas lantai yang kotor sembari terengah-engah.
“Aku kapok. Jangan pernah mengajakku lari-lari lagi seperti ini,” cetus Budi sembari menyeka keringat di dahinya.
“Itu karena kau terlalu banyak makan cilok. Tubuhmu itu sudah mirip karung beras,” balas Darren dengan nada bercanda.
“Tega sekali kau Bos, menghina hasil kerja kerasku mengumpulkan daging ini,” protes Budi tidak terima.
Kendati demikian, mereka baru menyadari bahwa satu pengawal ternyata berhasil mengejar melalui jalur lain. Pria berjas hitam itu berhasil masuk melalui jendela bagian belakang gudang sembari menarik keluar sebuah pistol.
“Sekarang bagaimana, Bos? Kita sudah terkepung!” tanya Budi.
“Lari lagi lewat pintu samping!” perintah Darren.
“Aku tidak kuat lagi! Kakiku serasa mau copot!” aku Budi dengan putus asa.
Walau begitu, sebelum Darren sempat memberikan jawaban, sebuah cahaya yang sangat terang mendadak menyinari wajah mereka. Sorot lampu mobil yang sangat kuat muncul dari arah pintu masuk gudang, membutakan pandangan mereka berdua. Sebuah sedan hitam mewah muncul dari balik kegelapan, mengarahkan lampu jauh tepat ke figur mereka yang sedang terpojok.
Budi langsung mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi ke udara sembari memohon ampun dengan suara yang memelas. “Jangan bunuh aku! Aku hanya pekerja serabutan yang butuh makan! Jangan pecat aku juga, aku perlu bayar ini itu, perlu makan enak juga!”
Dirinya bahkan sampai berlutut di atas lantai yang berpasir, tubuhnya menggigil karena membayangkan hal buruk yang akan terjadi. Sementara itu, Darren tetap berdiri si sampingnya. Dia tidak mengangkat tangan sedikit pun. Matanya menyipit, berusaha menatap siluet yang berada di balik cahaya lampu yang menyilaukan itu, bagaimana kehadiran mobil itu membuat pengawal yang mengejar mereka tidak mau melanjutkan niatnya.
Pintu mobil terbuka perlahan saat seseorang melangkah keluar dari dalam sana dengan sangat tenang. Wajah figur itu mulai terlihat jelas seiring dengan langkahnya yang semakin mendekat. Darren mengernyitkan dahi sembari menyebut satu nama yang sangat akrab di telinganya.
“Nona Seo yeon? Kenapa Anda bisa ada di sini?” tanya Darren.
Seo yeon berdiri dengan angkuh di hadapan mereka. Dia masih mengenakan blazer yang sama dengan pertemuan terakhir mereka. Tatapan matanya tetap tajam dan menusuk, layaknya mata elang yang sedang mengawasi buruannya. Satu tangannya melipat di depan dada sembari menatap Darren dengan ekspresi yang datar, namun menyimpan sedikit kekesalan saat menatap pengawal Alvino yang kabur.
“Saya sudah menduga Anda akan bertindak sejauh ini tanpa memikirkan risiko yang ada,” kata Seo yeon begitu dingin.