NovelToon NovelToon
Hasrat Kumbang Sewaan

Hasrat Kumbang Sewaan

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Selingkuh
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Viaalatte

Di balik nama samaran “Romeo”, ada seseorang yang hidup dari hasrat orang lain.
Semuanya tampak sederhana—transaksi, waktu, dan kesepakatan tanpa perasaan. Dunia yang dingin, terukur, dan seharusnya tidak menyisakan apa-apa. Tapi semakin lama, batas antara peran dan diri sendiri mulai kabur.
Ketika satu pertemuan berubah menjadi sesuatu yang lebih rumit dari sekadar pekerjaan, “Romeo” mulai menyadari bahwa tidak semua hal bisa dikendalikan. Ada perasaan yang tak seharusnya muncul. Ada masa lalu yang perlahan mengejar. Dan ada kenyataan yang memaksa dirinya melihat hidup dari sisi yang belum pernah ia hadapi sebelumnya.
Di saat yang sama, kehidupan di luar peran itu mulai retak—membuka rahasia, luka lama, dan tanggung jawab yang tak bisa lagi dihindari.
Kini, ia harus memilih: tetap menjadi “Romeo” yang dibayar untuk memenuhi hasrat, atau kembali menjadi dirinya sendiri… dengan segala konsekuensi yang menunggu.
Karena tidak semua kumbang sewaan bisa terbang bebas setelah selesai bekerja

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viaalatte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Sesampainya dirumah, Gilang membantu ibunya masuk lebih dulu, lalu menuntun kursi rodanya ke ruang tengah. Wildan langsung menuju kamar dengan langkah pelan, tbuhnya masih lemas.

Setelah memastikan adiknya sudah berbaring, Gilang berbalik. Ia menarik napas panjang, lalu berjalan ke arah kamarnya.

Tangannya baru saja menyentuh gagang pintu—

“Gilang.”

Langkahnya terhenti.

Ia menoleh.

Ibunya masih di ruang tengah, duduk di kursi roda. Tatapannya tertuju padanya, tidak lagi basah oleh tangis, tapi jelas serius.

“Sini dulu,” katanya pelan.

Gilang diam sebentar, lalu berjalan mendekat.

“Iya, Bu?”

Ibunya tidak langsung bicara. Ia menatap wajah Gilang beberapa detik, seolah mencari sesuatu.

“Ada yang Ibu mau tanya,” katanya akhirnya.

Gilang menelan ludah pelan. “Apa, Bu?”

Ibunya menarik napas.

“Kenapa kamu nutup-nutupin soal biaya pengobatan Ibu?”

Gilang langsung diam.

Tatapannya turun.

Ibunya melanjutkan, suaranya sedikit bergetar, “Selama ini kamu bilang sebagian besar sudah ditanggung asuransi dari kantor bapakmu dulu… itu gimana maksudnya?”

Gilang tidak langsung menjawab.

Tangannya perlahan mengepal di samping tubuhnya.

Gilang menarik napas pelan.

“Sebenernya…” suaranya sedikit ragu, “semenjak Bapak dipecat itu, asuransi dari kantor sudah nggak bisa dipakai lagi, Bu.”

Ruangan langsung hening.

Ibunya terdiam.

Matanya perlahan membesar, seperti baru memahami sesuatu yang selama ini tidak ia lihat.

“Tidak bisa dipakai…” ulangnya pelan.

Gilang mengangguk kecil, tetap menunduk. “Iya, Bu.”

Ibunya menatapnya lama.

“Jadi selama ini…” suaranya mulai bergetar, “kamu bohong sama Ibu?”

Gilang langsung menggeleng pelan. “Bukan bohong, Bu. Aku cuma nggak mau Ibu kepikiran.”

Ibunya menarik napas dalam, tapi justru terdengar seperti tertahan.

“Lang…” suaranya melemah, “biaya rumah sakit itu mahal…”

Gilang tidak menjawab.

Ibunya menatapnya lebih tajam, tapi bukan marah—lebih ke tidak percaya.

“Kamu dapat uang dari mana selama ini?” tanyanya lagi.

Gilang diam beberapa detik.

Lalu menjawab pelan, “Aku kerja.”

Gilang menunduk lebih dalam.

Ibunya mengulang pelan, seperti tidak percaya dengan kata yang baru saja didengar.

“Kerja…” katanya lirih. “Kerja… kerja…”

Ia menggeleng kecil, lalu menatap Gilang lagi.

“Kamu selalu bilang kamu kerja, tapi Ibu nggak pernah tahu kamu kerja di mana, kerja apa…”

Suaranya mulai bergetar.

“Kemarin kamu dapat uang untuk bayar hutang itu dari mana?” tanyanya cepat, lebih tajam. “Uang sebanyak itu dari mana, Lang?”

Gilang tetap diam.

Tangannya mengepal, tapi tidak ada kata yang keluar.

Ibunya menarik napas panjang, tapi malah pecah di tengah.

“Dan sekarang…” suaranya melemah, “Ibu baru tahu kalau pengobatan Ibu… kamu yang tanggung, Nak.”

Wajah ibunya berubah sepenuhnya. Air mata yang tadi tertahan akhirnya jatuh.

“Kamu itu anak Ibu…” katanya pelan, hampir seperti tidak sanggup melanjutkan. “Harusnya Ibu yang jagain kamu…”

Gilang tetap menunduk dalam.

Napaknya berat, bahunya sedikit bergetar.

Saat ibunya bertanya pelan, “Seberat apa hidupmu di luar sana, Nak?”

Gilang tidak langsung menjawab.

Ia hanya diam sebentar.

Lalu perlahan, ia bergerak lebih dekat.

Kepalanya turun, jatuh ke pangkuan ibunya.

Ibunya langsung terdiam, tangannya refleks ingin menyentuh kepala Gilang.

“Ibu…” suara Gilang pelan dari bawah, terdengar tertahan. “Ibu nggak usah khawatir…”

Ia menarik napas, lalu melanjutkan, lebih tegas meski tetap lirih.

“Aku nggak mencuri. Aku bukan penjahat.”

Tangannya masih menggenggam ujung baju ibunya.

Ibunya tidak langsung menjawab.

Beberapa detik kemudian, suara ibunya terdengar pecah.

“Maafkan Ibu, Nak…”

Ibunya menarik napas tersengal.

“Ibu… sumber kesusahan kamu selama ini…”

Tangisnya pecah lagi, tapi kali ini lebih pelan, seperti kelelahan yang sudah tidak bisa ditahan.

Gilang langsung menggeleng di pangkuannya.

“Jangan bilang gitu, Bu…” katanya pelan. “Jangan…”

Tapi ibunya tidak berhenti.

Air matanya jatuh tanpa bisa dihentikan, sementara tangannya akhirnya mengusap pelan kepala Gilang.

Gilang masih diam di pangkuan ibunya.

Usapan di kepalanya tetap terasa, tapi tidak membuat pikirannya tenang.

“Ibu…” suaranya pelan lagi, “jangan mikir begitu.”

Ibunya tidak menjawab, hanya menangis pelan sambil terus mengusap kepalanya.

Ruangan kembali hening.

Tapi Gilang justru mulai berpikir.

Kalimat yang tadi ia ucapkan terulang di kepalanya.

Aku bukan penjahat.

Ia menarik napas pelan.

Tangannya masih menggenggam baju ibunya.

Tapi pikirannya mulai mempertanyakan sendiri ucapannya.

Benarkah begitu?

Ia teringat pekerjaannya selama ini. Tentang permintaan orang-orang yang tidak pernah benar-benar ia pahami sepenuhnya, tapi tetap ia jalani karena keadaan.

Tentang dirinya yang “melayani” orang lain, yang sebenarnya bukan sesuatu yang bisa ia jelaskan dengan mudah ke siapa pun.

Gilang menutup mata sebentar.

Rahangnya mengeras.

Kalau dipikir lagi, hidupnya memang tidak seperti orang pada umumnya.

Ia tidak mencuri secara langsung, tidak juga melakukan sesuatu yang ia anggap kriminal.

Tapi juga tidak bisa dibilang benar-benar bersih.

Gilang membuka mata lagi.

Tatapannya kosong ke lantai.

Ibunya masih mengusap kepalanya, pelan, tidak berhenti.

Gilang menghela napas panjang.

Ia tidak melanjutkan pikirannya.

Tapi satu hal jadi jelas di kepalanya: hidup yang ia jalani terlalu rumit untuk dijelaskan dengan satu kalimat sederhana.

...****************...

Ketukan pelan terdengar dari arah pintu.

“Tok… tok…”

Ibunya langsung menoleh, Gilang juga perlahan mengangkat wajah dari pangkuan ibunya.

Pintu terbuka.

Sekar berdiri di ambang pintu.

Seragam putih abu-abunya masih lengkap, tapi terlihat kusut. Wajahnya sembab, matanya merah seperti habis menangis cukup lama. Tas sekolahnya masih di tangannya, lalu dilempar begitu saja ke lantai dengan suara cukup keras.

“Semua ini karena Bapak!” suara Sekar langsung meninggi.

Ruangan seketika tegang.

Ibunya terdiam, Gilang perlahan berdiri dari posisi berlututnya.

Sekar melangkah masuk, napasnya tidak stabil.

“Dia sumber semua penderitaan ini!” lanjutnya, suaranya pecah tapi penuh emosi.

 “Kelakuan Bapak selama hidup sudah bikin kita hancur kayak gini!”

Ia menunjuk ke lantai, lalu mengepalkan tangan.

“Utang, masalah, semuanya! Kita yang nanggung sekarang!”

Ibunya langsung mencoba bicara, “Sekar… jangan begitu…”

Tapi Sekar memotong cepat.

“Kenapa nggak boleh? Ini kenyataan, Bu!”

Suasana makin berat.

Sekar menoleh ke Gilang.

Matanya masih basah, tapi penuh amarah yang tidak tertahan.

“Kak Gilang juga…” suaranya sedikit turun, tapi tetap tajam, “kenapa harus kakak yang tanggung semua ini sendirian?”

Gilang tidak langsung menjawab.

Ia hanya berdiri diam, menatap Sekar.

Ibunya memegang lengan Sekar, berusaha menenangkan. “Sudah, Nak…”

Tapi Sekar menggeleng.

“Ini nggak bisa terus ditahan,” katanya pelan, tapi masih emosional. “Kita hidup kayak gini karena semua yang Bapak lakukan dulu. Itu karma…”

Sekar masih berdiri di tengah ruangan, napasnya belum stabil. Matanya sembab, tapi sorotnya masih keras.

“Kalau aku tahu dari dulu…” katanya pelan, “aku nggak bakal lanjut sekolah.”

Ibunya langsung menoleh cepat, seperti tidak setuju dengan kalimat itu.

Sekar melanjutkan, “Aku nggak mau jadi beban Kak Gilang.”

Suasana jadi lebh hening.

Sekar mengusap air matanya kasar lalumenatap Gilang. “Kak… Sekar boleh kerja?”

Ibunya langsung memanggil pelan, “Sekar…”

Tapi Sekar tidak langsung bereaksi.

Gilang akhirnya bicara, singkat.

“Tidak.”

Sekar mengerutkan kening. “Tapi Kak—”

“Sekolah dulu,” potong Gilang lagi, nadanya tetap, tidak meninggi tapi tegas.

Sekar terdiam.

Ibunya mendekat menarik kursi rodanya sendiri menyentuh lengan Sekar. “Jangan ambil keputusan saat emosi, Nak.”

Sekar menunduk, tangannya yang tadi mengepal mulai melemah. Tas sekolahnya masih di lantai, tidak ada yang bergerak untuk mengambilnya.

Gilang menghela napas pelan, lalu menatap Sekar.

“Kamu nggak jadi beban,” katanya singkat. “Jangan bikin keputusan sendiri tanpa mikir panjang.”

Sekar tidak menjawab.

Hanya berdiri diam, menatap lantai.

Ibunya akhirnya memundurkan kembali kursi rodanya,seperti tenaga sudah habis untuk menenangkan suasana.

1
hrarou
kasian gilang sayang 🥺
Viaalatte: huhu iya kak🥺, makasih sudah mampir🥰♥️
total 1 replies
Viaalatte
yok baca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!