NovelToon NovelToon
"Transmigrasi: Putri Lemah Berhati Bar-Bar!"

"Transmigrasi: Putri Lemah Berhati Bar-Bar!"

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Fantasi / Transmigrasi ke Dalam Novel
Popularitas:10k
Nilai: 5
Nama Author: acep maulana

PENGUMUMAN PENTING!

Saya Acep Maulana memohon maaf kepada para pembaca. Karena satu dan novel ini akan saya Remake Total.
Saya sadar masih banyak belajar sebagai pemula, dan saya ingin memberikan karya yang lebih layak untuk kalian baca. Versi baru akan segera hadir dengan judul yang sama namun dengan kualitas tulisan yang jauh lebih baik.

Sampai jumpa di versi terbaru yang lebih bar-bar!

‎"Sial beneran! Erika, mantan agen rahasia yang energinya tak habis-habis, malah transmigrasi ke dalam novel tragis menjadi Rosalind von Astride, sang Putri Terbuang yang lemah dan sakit-sakitan!
‎Lebih parahnya lagi, keluarganya adalah kumpulan orang 'Tampan tapi Telmi (Telat Mikir)' yang ditakdirkan hancur total dalam dua tahun. Beruntung, Erika punya Sistem Makan Melon (Gosip) yang bisa membongkar semua rahasia musuh.
‎Sambil menikmati martabak diskon dari Ruang Sistem, Erika bertekad merombak takdir tragis keluarganya. Tapi masalahnya... radio batin Erika ternyata bocor ke seluruh keluarganya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon acep maulana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33 Atraksi Peri Yupi & Diplomasi Puding yang Kacau

​Suasana di Paviliun Utama kediaman Wiraatmadja yang semula tegang akibat terbongkarnya silsilah keluarga Wiraatmadja—sebuah rahasia yang cukup untuk meruntuhkan fondasi politik kekaisaran—mendadak berubah drastis. Ketegangan yang tadinya seberat timbal, tiba-tiba menguap, digantikan oleh panggung komedi absurd yang hanya bisa dinikmati (atau lebih tepatnya, diderita) oleh mereka yang terhubung dengan frekuensi batin Rosalind.

Cahaya matahari sore yang menembus jendela kaca patri tampak membiaskan warna-warni pelangi yang indah di atas lantai marmer, namun warna-warni itu kalah cerah dengan kelakuan sesosok makhluk kecil yang sedang berpesta pora di udara dengan tingkat narsisme yang melampaui batas kewarasan.

​Rosalind, yang masih bersandar di ranjangnya dengan sisa puding karamel di tangan, hanya bisa menatap nanar ke arah depan.

Tatapannya kosong, seperti seseorang yang baru saja melihat tabrakan beruntun antara akal sehat dan realitas sistem. Di sana, si peri sistem Nana sedang dalam mode "hiperaktif" tingkat dewa. Nana terbang berputar-putar dengan lincah, melesat ke sana kemari mengelilingi kepala Putri Mytha dan Putri Amelia. Sambil tertawa cekikikan secara digital—suara yang terdengar seperti bunyi lonceng yang dicampur dengan efek suara kartun—Nana terus mengunyah permen Yupi rasa buah yang kenyal.

​Yang membuat Rosalind ingin pingsan di tempat adalah saat rempah-rempah gula dari permen Yupi itu berjatuhan dari tangan mungil Nana dan mendarat tepat di rambut pirang sempurna Putri Mytha. Rambut yang biasanya dirawat dengan minyak bunga mawar paling mahal seantero benua itu kini menjadi sasaran taburan gula digital.

Ajaibnya, karena Nana adalah entitas sistem yang berada di luar dimensi fisik biasa, remahan gula itu langsung menghilang menjadi partikel cahaya sebelum sempat membuat rambut sang Putri lengket. Namun, bagi Rosalind yang bisa melihat proses itu secara detail, rasanya seperti melihat seseorang menaburkan garam ke atas mahkota suci.

​Tak puas di sana, Nana kemudian terbang melakukan manuver zig-zag di atas kepala Duke Lyon Wiraatmadja yang sedang berusaha menjaga wibawanya. Nana meluncur turun ke hidung Duchess Elena, bergelantungan di sana sejenak seolah-olah hidung ibunda Rosalind adalah dahan pohon, lalu melompat-lompat di atas bahu Evelyn dan Celine seperti anak kecil yang sedang bermain trampolin di taman bermain.

​[(Batin Rosalind):]

[​“Aduh, Nana! Berhenti! Aku pusing tujuh keliling melihatmu muter-muter dan zig-zag nggak jelas begitu kayak lalat yang habis mabuk lem aibon! Kamu itu peri sistem terhormat yang seharusnya menjaga martabak, atau gasing pasar malam yang lepas kendali sih?! Kepalaku serasa mau copot memantau gebrakan mu yang lebih liar dari balapan liar di sirkuit Beijing! Plis, mendarat sekarang atau aku bersumpah demi semua poin yang kukumpulkan, aku hapus akses Yupi-mu selamanya! Aku bakal ganti camilan mu jadi kencur mentah kalau kamu nggak diam!”]

​Nana sama sekali tidak menggubris ancaman itu. Alih-alih berhenti, ia justru merasa tertantang. Ia melakukan gerakan backflip tepat di depan mata Lady Clara, hampir mengenai bulu mata lentik wanita itu, lalu meluncur cepat menuju Paman Baskara yang wajahnya sudah sepucat kertas HVS karena menahan syok akibat frekuensi suara batin yang masuk ke otaknya.

​[(Batin Rosalind):]

[​“Nana, awas! Nanti kamu menabrak hidung mancung mereka! Kalau kamu sampai collision sama Putri Kekaisaran, bisa-bisa sinyal batin ini meledak dan kita semua berubah jadi butiran debu kosmik yang tidak punya harga diri! Rem dikit dong, rem! Jangan gas pol terus kayak supir angkot yang lagi kejar setoran di jam pulang kantor! Kamu itu peri pendamping, bukan peluru kendali nyasar yang kehilangan navigasi! Kamu mau kita dideportasi dari dunia ini karena pelanggaran etika batin, hah?]

​Namun, Nana yang sedang merasa sangat bahagia karena saldo poin melon inangnya melonjak drastis setelah pengungkapan identitas Alaric, malah ingin melakukan hal-hal yang benar-benar di luar nalar manusia normal. Ia mencoba melakukan gerakan tarian "kayang" di udara—sebuah pemandangan yang sangat tidak estetis untuk ukuran peri—lalu berpura-pura berselancar di atas kerah baju Duke Lyon.

Nana menggunakan biskuit mentega yang ia curi dari piring saji sebagai papan seluncurnya, meluncur dari pundak kiri ke pundak kanan Duke dengan gaya bak atlet profesional di kompetisi selancar internasional.

​[(Batin Rosalind):]

[​“ASTAGA NANA! KAMU BENERAN SUDAH GILA YA?! Itu Duke Lyon, Singa Perbatasan yang ditakuti musuh di tujuh lautan, bukan papan selancar di pantai Kuta! Berhenti berselancar di bahu Ayahku atau aku bakal teriak 'Tarik Mang' dengan frekuensi paling pecah sampai sirkuit digital mu korslet total dan kamu berubah jadi kalkulator rusak yang cuma bisa hitung tambah-tambahan anak TK! Dasar peri stres, nggak tahu tempat, nggak tahu situasi, hobinya malah bikin inangnya kena serangan jantung batin di depan tamu agung!”]

​Reaksi Keluarga: Antara Horor dan Keinginan Tertawa

​Di ruang tamu paviliun yang mewah itu, semua orang membeku dalam posisi yang sangat tidak alami. Pemandangan ini jika difoto akan terlihat seperti patung lilin di museum yang gagal. Putri Mytha dan Putri Amelia saling pandang dengan dahi berkerut dalam, alis mereka hampir bertaut di tengah.

Mereka berdua merasa ada sesuatu yang aneh—sangat aneh. Ada sesuatu yang berkelebat cepat di sekitar mereka, sebuah eksistensi yang tidak tertangkap mata namun terasa nyata. Rasanya seperti embusan angin hangat yang membawa aroma stroberi, gula, dan sedikit wangi kimiawi dari permen Yupi, namun mereka tidak bisa melihat wujud Nana .

​Yang mereka dengar dengan sangat jelas—terlalu jelas malah—hanyalah suara makian Rosalind kepada sosok bernama "Nana" yang bergema sangat kencang, penuh emosi, dan menggunakan istilah-istilah asing yang belum pernah ada dalam kamus bahasa Kekaisaran.

​[Batin Putri Mytha:]

​“ Suara ini... dia sedang memaki seseorang bernama Nana? Siapa Nana? Dan kenapa suaranya terdengar sangat... frustrasi? Apa ada entitas gaib yang sedang menari di atas kepalaku sekarang? Bau stroberi ini... apakah ini tanda-tanda sihir kuno? Ini benar-benar tidak masuk akal, tapi kepalaku mendadak terasa pusing mendengarkan teriakan 'supir angkot' dan 'kalkulator rusak'. Apa itu angkot? Apa itu kalkulator? Apakah itu sejenis senjata rahasia keluarga Wiraatmadja?”

​Keluarga Wiraatmadja jauh lebih mengenaskan kondisinya. Sebagai orang-orang yang sudah "terlatih" menghadapi keanehan Rosalind belakangan ini, mereka berada di ambang kehancuran mental. Duke Lyon merasa bahunya terasa gatal secara misterius—efek dari gesekan kaki digital Nana yang sedang berselancar—sementara tangannya gemetar hebat saat memegang cangkir teh. Ia berusaha keras menahan tawa sekaligus ngeri. Bayangkan, seorang Panglima Perang yang ditakuti, disebut sebagai "papan selancar pantai Kuta" oleh batin putrinya sendiri.

​Duchess Elena menutup mulutnya rapat-rapat dengan sapu tangan sutra. Matanya berkaca-kaca, bukan karena sedih, tapi karena menahan tawa yang hampir meledak saat mendengar batin Rosalind memaki perinya sendiri. Evelyn dan Celine bahkan harus menggigit bibir bawah mereka sampai hampir berdarah. Wajah mereka memerah menahan tekanan udara di paru-paru yang ingin keluar sebagai tawa terbahak-bahak. Mereka harus menjaga martabat di depan para Putri, tapi deskripsi "gasing pasar malam" benar-benar terlalu akurat untuk menggambarkan situasi kacau itu.

​Lady Clara, yang baru saja didera kesedihan mendalam karena tahu tentang nasib tragis keluarga Alaric, kini malah bingung harus bereaksi apa. Air matanya yang hampir jatuh mendadak surut karena terdistraksi oleh suara batin Rosalind yang memaki "peluru kendali nyasar". Ia merasa seolah-olah sedang berada di dua dunia berbeda secara bersamaan: tragedi masa lalu dan komedi putar masa kini.

​Paman Baskara dan Bibi Ratna bahkan

sampai tersedak teh mereka sendiri. Baskara terbatuk-batuk kecil sambil mengelap dadanya yang basah. Mereka merasa seolah-olah sedang menonton pertunjukan sirkus gaib yang dipandu oleh narasi batin Rosalind yang lebih tajam dari pedang mana pun di gudang senjata Duke.

​Perintah Duke: Evakuasi dari Kegilaan

​Duke Lyon menyadari satu hal dengan sangat pasti: jika sesi ini diteruskan lebih dari lima menit lagi, kewibawaan keluarga Wiraatmadja yang dibangun selama ratusan tahun akan hancur lebur berkeping-keping. Ia sendiri sudah merasa kewarasannya menipis. Ia harus segera mengirim Rosalind kembali ke paviliunnya sebelum "Nana" melakukan hal yang lebih gila lagi, seperti mungkin melakukan atraksi akrobatik yang lebih ekstrem atau—yang paling ia takutkan—buang air kecil digital di atas kepala sang Putri sebagai tanda dominasi sistem.

​"Ehem!" Duke Lyon berdeham sangat keras. Suaranya menggelegar, memenuhi ruangan dan berhasil memutus sejenak transmisi batin yang berisik itu. "Rosalind, Putriku sayang..."

*​**Duke** menatap Rosalind** dengan tatapan yang mengandung seribu satu makna, mulai dari 'Tolong hentikan ini' hingga 'Ayah mohon selamatkan martabat kita*'.

​"Ayah lihat wajahmu semakin pucat dan suaramu... maksud Ayah, aura batinmu terdengar sangat lelah. Kamu baru saja siuman dan belum cukup pulih sepenuhnya untuk menerima tamu agung terlalu lama. Sebaiknya kamu istirahat kembali saja ke Paviliun Musim Semi sekarang juga. Ayah akan mengirimkan dokter terbaik, bahkan tabib istana jika perlu, untuk memeriksa kondisimu lagi setelah ini agar kamu segera bugar kembali."

​Rosalind, yang sebenarnya memang sudah lelah secara mental memaki Nana yang bebalnya minta ampun, langsung menangkap umpan itu dengan sigap. Ia tahu ini adalah kesempatan emas untuk melakukan exit strategy yang dramatis sebelum ia benar-benar meledak karena kelakuan Nana.

[​"Baik... Ayah..." ] ucap Rosalind dengan nada suara yang diatur sedemikian rupa. Ia sengaja membuatnya terdengar lemas, gemetar, dan serak. Ia mengeluarkan kemampuan akting kelas Oscar yang selama ini terpendam.

["Rosalind merasa... dunia ini mendadak berputar... penglihatan Rosalind kabur... sepertinya Rosalind butuh tidur panjang untuk menenangkan jiwa..."]

​Ia menyandarkan kepalanya ke bantal dengan gerakan yang sangat pelan, seolah-olah lehernya terbuat dari kaca yang mudah pecah. Ia memberikan tatapan "anak kucing yang hampir mati di tengah hujan" kepada kedua Putri Kekaisaran, sebuah tatapan yang sangat kontras dengan teriakan "preman pasar" yang baru saja mereka dengar di dalam kepala.

​Putri Mytha dan Putri Amelia tersentak. Mereka baru saja mendengar batin Rosalind yang teriak-teriak seperti supir angkot yang sedang emosi di kemacetan, tapi sekarang melihat sosok di depannya berbicara dengan nada selemas tisu yang terkena air hujan.

Kesenjangan antara batin yang "Bar-bar" dan fisik yang "Lemes" ini benar-benar membuat kedua Putri itu kehilangan kata-kata. Mereka merasa seperti sedang berhadapan dengan penderita kepribadian ganda yang paling ekstrem di dunia.

​[Batin Putri Amelia:]

​“Bagaimana bisa... seseorang yang di dalam hatinya punya energi meledak-ledak seperti kembang api tahun baru, secara fisik tampak seolah-olah akan hancur hanya dengan satu tiupan angin? Rosalind Wiraatmadja... kamu bukan sekadar bangsawan yang sakit. Kamu adalah teka-teki paling absurd, paling tidak logis, dan paling membingungkan yang pernah kutemui di seluruh wilayah kekaisaran ini. Apa sebenarnya yang ada di dalam kepalamu?”

​Keluarga Duke, meskipun sudah mulai terbiasa dengan sifat asli putri mereka yang "ajaib" dan penuh drama ini, tetap saja dibuat takjub dengan transisi aktingnya yang begitu mulus. Dari mode "Singa Betina" di batin menjadi mode "Bunga Layu" di fisik dalam hitungan detik.

​Tanpa membuang waktu, Duke Lyon memberi kode kepada para pelayan. Mereka semua serentak berdiri, menciptakan barisan untuk menghormati "kepergian" Rosalind yang digotong perlahan oleh Martha dan Nanchi. Rosalind dipindahkan ke tandu empuk dengan sangat hati-hati, seolah-olah mereka sedang membawa harta karun yang bisa meledak kapan saja.

​Begitu pintu Paviliun Utama tertutup rapat dan rombongan Rosalind menghilang di balik lorong menuju Paviliun Musim Semi, Duke Lyon mengembuskan napas panjang yang terdengar sangat berat, persis seperti suara ban truk yang bocor di jalan tol. Ia memijat pelipisnya yang berdenyut.

​Kini, tugas berat menantinya. Ia harus segera memikirkan cara paling masuk akal untuk menjelaskan kepada para Putri Kekaisaran mengapa mereka mendengar istilah "Nana", "supir angkot", dan "kalkulator rusak" dalam komunikasi batin tadi. Drama keluarga Wiraatmadja baru saja menyelesaikan satu babak gila yang menguras energi, namun semua orang tahu bahwa babak berikutnya—yang kemungkinan besar akan terjadi di Istana Matahari—dipastikan akan jauh lebih berisik, jauh lebih kacau, dan mungkin akan melibatkan lebih banyak camilan Yupi yang beterbangan.

​Sementara itu, di kejauhan, sayup-sayup masih terdengar teriakan batin Rosalind yang belum berhenti:

[​"NANA! BALIKIN BISKUIT AYAHKU SEKARANG ATAU AKU UNINSTALL KAMU DARI SEMESTA INI!"]

​Duke Lyon hanya bisa memejamkan mata, berdoa agar leluhur Wiraatmadja memberinya kesabaran seluas samudra.

1
Manusia Ikan 🫪
🫪
Manusia Ikan 🫪
mari kita ambil sebanyak banyaknya/Shhh/
Raizel_0511
teruskan bro💪💪💪
Raizel_0511
semangat bro💪💪💪
Manusia Ikan 🫪
sistem b like :
Manusia Ikan 🫪
ooh ada sistem nya😏👍
Manusia Ikan 🫪
bro kena mag :v
Manusia Ikan 🫪
jangan remehkan kekuatan dari lantai yang licin di kamar mandi😂
Manusia Ikan 🫪
ah biasa ini mah😏
Rina Yuli
celana dalam lagi 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Rina Yuli
urusan celana dalam pakek mau dibongkar segala lagi 🤣🤣🤣🤣🤣
Rina Yuli: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
acep maulana
sama 2 kk maaf kalau cerita sebelumnya saya hapus 🤣🤣🤣🤣
acep maulana: Mohon maaf kalau saya sebagai penulis tidak aktif sehari atau 2 hari karena mencari Ilham untuk bab berikutnya hehehe 🤣🤣🤣
total 3 replies
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Manusia Ikan 🫪: hadir thor
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!