NovelToon NovelToon
Chef Kirana Dan Jendral Berhati Dingin

Chef Kirana Dan Jendral Berhati Dingin

Status: tamat
Genre:Transmigrasi / Fantasi / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Kirana, Executive Chef bintang lima di Jakarta, mati konyol karena ledakan gas. Sialnya, dia malah terbangun di tubuh Putri Tantri—tokoh antagonis dalam novel sejarah yang baru saja meracuni adik angkat suaminya!
​Di hadapannya, Jenderal Arga sang "Iblis Perang Utara" sudah menghunus pedang, siap memenggal kepalanya.
​Tak mau mati dua kali, Kirana mengajukan penawaran gila: "Jangan bunuh aku dulu! Izinkan aku masak makanan terakhir!"
​Bermodalkan bawang merah, kecap manis buatan sendiri, dan teknik masak modern, Kirana bertekad mengubah takdir kematiannya. Siapa sangka, masakan lezatnya tak hanya menyelamatkan lehernya, tapi juga menyembuhkan maag kronis sang Jenderal dan mengguncang lidah satu kerajaan?
​Tapi hati-hati, Kirana! Musuhmu bukan cuma panci gosong, tapi juga pelakor bermuka dua dan intrik politik yang mematikan. Sanggupkah Kirana bertahan hidup di zaman kuno tanpa rice cooker dan kulkas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7: Penyamaran Kembang Desa dan Pangeran Penikmat Rasa

​Surat dari Jenderal Arga adalah "Mandat Surga". Dengan secarik kertas itu, aku berhasil membungkam kepala pelayan Laras dan memaksa bendahara rumah tangga mengeluarkan sekantong koin perak.

​"Ini perintah militer," kataku sambil mengibas-ngibaskan surat itu di depan hidung bendahara yang pelit. "Kalau pasukan Jenderal mati kelaparan karena kau pelit, kau mau tanggung jawab di depan Raja?"

​Bendahara itu langsung pucat dan menyerahkan uang belanja tanpa banyak tanya.

​Tapi masalahnya belum selesai. Gudang Laras isinya cuma bahan-bahan "cantik" seperti sarang burung walet, sirip hiu, dan beras impor. Tidak ada bumbu dapur 'hardcore' yang kubutuhkan untuk membuat Rendang Batch 2 dan Serundeng Daging (menu baru yang rencananya mau kubuat biar variatif).

​Aku butuh lengkuas segunung, serai segerobak, dan kelapa tua yang santannya kental. Barang-barang pasar tradisional.

​"Kita harus ke pasar," putusku.

​"T-tapi Nyonya... Nyonya kan tahanan rumah. Kalau ketahuan keluar gerbang, bisa dihukum cambuk," cicit Sari ketakutan.

​"Tenang, Sar. Kita tidak akan keluar lewat gerbang depan naik kereta kencana. Kita akan menyamar."

​[Pasar Gede Ibu Kota Cempaka]

[Waktu: 09.00 Pagi]

​Hiruk pikuk pasar pagi menyambut kami. Teriakan pedagang, aroma amis ikan, wangi bunga setaman, dan debu jalanan bercampur menjadi satu.

​Aku berdiri di tengah keramaian, menarik napas dalam-dalam.

Bagi sebagian orang, pasar tradisional itu kotor dan bau. Tapi bagi seorang Chef, ini adalah surga. Ini adalah tempat di mana "rasa" bermula.

​Aku melihat penampilanku di pantulan gentong air pedagang.

Tidak ada lagi Putri Tantri yang glamor.

Aku memakai kebaya lurik kasar milik Sari yang agak kebesaran, kain jarik batik pudar, dan caping (topi bambu lebar) yang menutupi setengah wajahku. Wajahku kupoles sedikit dengan bedak dingin supaya terlihat lebih pucat dan "ndeso".

​"Ingat, Sar. Namaku hari ini Rana. Kau adikku," bisikku pada Sari yang juga menyamar.

​"Baik, Kak Rana," jawab Sari, masih clingukan takut ada prajurit patroli.

​Kami bergerak menyusuri los bumbu. Mataku langsung liar memindai kualitas dagangan.

Sebagai Chef Hotel Bintang 5, standarku tinggi. Aku tidak mau bawang yang kopong atau cabai yang layu.

​"Bang, lengkuasnya kok muda semua? Ini mah buat sayur asem, bukan buat rendang. Ada yang tua nggak? Yang seratnya tebal?" protesku pada pedagang bumbu.

​"Walah, Mbakyu ini cerewet amat. Ini paling bagus!" elak si Abang.

​"Jangan bohong, Bang. Itu di keranjang belakang apa? Nah, itu lengkuas merah yang tua! Siniin! Saya ambil 5 kilo!"

​Aku menawar dengan sadis. Keahlian tawar-menawar ibu-ibu Jakarta Selatan keluar. Si Abang pedagang sampai kewalahan dan akhirnya memberiku harga miring asal aku cepat pergi.

​Setelah dapat bumbu, aku menuju los daging.

Aku memilih daging paha belakang (gandik) yang minim lemak. Cocok untuk rendang kering dan abon supaya tahan lama dan tidak tengik.

​"Potong lawan serat ya, Pak! Jangan searah! Nanti alot kayak sandal!" instruksiku pada tukang daging.

​Saat sedang sibuk memilah biji ketumbar di lapak rempah-rempah India, aku mendengar keributan kecil di kedai makan di seberang jalan.

​"Makanan apa ini?! Hambar! Dagingnya keras! Kalian mau meracuni lidahku?!"

​Suara seorang pria muda terdengar lantang.

Aku menoleh. Di sebuah kedai Sate Kambing yang cukup ramai, seorang pemuda berpakaian sutra biru langit sedang marah-marah.

Dia tampan—tipe flower boy kalau di drama Korea. Wajahnya bersih, matanya jenaka (meski sekarang sedang melotot), dan dia memegang kipas lipat dengan gaya flamboyan. Di belakangnya berdiri dua pengawal kekar yang tampak pasrah.

​"Maaf, Den Mas... tapi ini resep turun temurun..." kata pemilik kedai gemetar.

​"Turun temurun apanya? Kambing ini matinya stress! Bau prengus!" Pemuda itu melempar tusuk sate ke meja.

​Orang-orang di pasar berbisik-bisik.

"Itu Pangeran Panji... Adik Raja yang suka keluyuran..."

"Sst! Jangan keras-keras, nanti didengar."

​Pangeran Panji?

Aku mengingat plot novel. Ah, ya. Pangeran Panji. Second Lead Male yang nasibnya tragis. Dia playboy, pecinta kuliner, dan satu-satunya orang kerajaan yang tidak takut pada Arga. Di novel, dia jatuh cinta pada Laras (tentu saja), tapi cintanya bertepuk sebelah tangan.

​Dasar laki-laki di novel ini seleranya Laras semua. Membosankan.

​Aku sebenarnya mau masa bodoh dan lanjut belanja. Tapi... naluri Chef-ku terusik.

Aku melihat sate kambing yang dia komplain.

Dari warnanya yang pucat dan asapnya yang berbau tajam, aku tahu diagnosa Pangeran itu benar. Sate itu gagal.

​"Sar, pegang belanjaan," kataku, menyerahkan keranjang berat ke Sari.

​"Nyonya... eh, Kak Rana mau ke mana?"

​"Mau kasih pelajaran kuliner sedikit. Sayang daging kambingnya dibuang-buang."

​Aku berjalan mendekati kedai itu. Aku menyelinap di antara kerumunan penonton.

​"Permisi, Den Mas," suaraku kubuat medok desa. "Kalau boleh saya sumbang saran, kambingnya bau prengus bukan karena matinya stress."

​Pangeran Panji menoleh. Alisnya terangkat melihat wanita desa bercaping yang berani menyela omelannya.

"Siapa kau? Kau tahu apa soal kambing?"

​"Saya cuma tukang masak kampung, Den. Tapi saya tahu, sate Bapak ini salah di pengolahan awal," aku menunjuk daging mentah di gerobak si Bapak penjual.

​"Bapak nyuci dagingnya pakai air kan?" tanyaku pada penjual.

​"Iya, Neng. Biar bersih," jawab si Bapak polos.

​"Nah, itu salahnya!" seruku. "Daging kambing itu pantang kena air sebelum dimasak! Kalau kena air, bau prengusnya keluar dan dagingnya jadi alot!"

​Pangeran Panji tertarik. Dia melipat kipasnya. "Oh? Jadi harusnya bagaimana, Nona Manis?"

​"Harusnya dibungkus daun pepaya dulu, Den. Getah daun pepaya bikin empuk. Terus, jangan dicuci air. Langsung lumuri parutan nanas atau air jeruk nipis campur ketumbar. Itu baru bau prengusnya hilang."

​Aku mengambil satu tusuk sate mentah.

"Dan bakarnya jangan langsung kena api besar. Kipasnya pelan-pelan. Lemaknya harus menetes dulu baru dagingnya matang."

​Si Bapak penjual melongo. Pangeran Panji menatapku lekat-lekat, seolah aku baru saja membacakan teori fisika kuantum.

​"Kau... terdengar sangat ahli," kata Panji, matanya menyipit curiga tapi kagum. Dia melangkah mendekat, aroma parfum mahalnya tercium sopan. "Siapa namamu?"

​"Rana, Den," aku menunduk sedikit, menyembunyikan wajah di balik caping.

​"Rana... nama yang cantik. Kau kerja di mana? Mau jadi koki di istanaku?" tawar Panji spontan. "Gajinya sepuluh kali lipat dari penghasilanmu sekarang."

​Aku tersedak ludah sendiri.

Kerja di istana Pangeran Panji? Itu bunuh diri! Kalau dia tahu aku Istri Kakak Iparnya (Arga) yang menyamar, bisa gempar satu negara.

​"Waduh, nggak berani, Den. Saya cuma masak buat suami di rumah," tolakku halus. (Suami \= Arga. Yah, nggak bohong kan?).

​"Suamimu pasti pria paling bahagia sedunia," Panji tersenyum genit. "Sayang sekali sudah menikah."

​Tiba-tiba, dari kejauhan terdengar derap langkah kuda patroli kota. Sari di pojokan memberi kode panik dengan melambaikan tangan.

Patroli kerajaan! Kalau mereka memeriksa identitas, aku tamat.

​"Maaf Den Mas, saya harus pulang. Suami saya galak, kalau telat masak saya bisa dipancung," kataku buru-buru (ini juga nggak bohong).

​Aku berbalik dan berjalan cepat membelah kerumunan.

​"Tunggu! Rana!" panggil Panji.

​Aku tidak menoleh. Aku menarik tangan Sari dan kami menghilang di balik gang sempit pasar, meninggalkan Pangeran Panji yang berdiri bengong di depan kedai sate.

​Panji menatap punggung wanita desa itu menghilang. Dia tersenyum misterius.

"Rana... Wanita desa yang paham teknik masak daging kambing? Menarik. Sangat menarik."

​Dia menoleh ke pengawalnya. "Cari tahu siapa wanita itu. Aku ingin mencicipi masakannya."

​[Dapur Utama Kediaman Jenderal - Siang Hari]

​"Hampir saja!"

​Aku melempar caping ke meja dapur sambil menghembuskan napas lega. Jantungku masih deg-degan. Bertemu Second Male Lead tidak ada dalam rencanaku hari ini. Semoga dia tidak benar-benar mencariku.

​"Tapi hasilnya sepadan, Nyonya!" Sari bersorak girang sambil membongkar belanjaan. "Lihat daging sapi segar ini! Lihat lengkuas merah ini!"

​"Bagus. Sekarang kita kembali ke mode perang," perintahku, mengikat rambutku tinggi-tinggi.

​Target hari ini: Serundeng Daging Sapi Tahan Lama.

​Serundeng adalah olahan kelapa parut yang disangrai dengan bumbu rempah sampai kering. Rasanya manis, gurih, dan pedas. Enak dimakan pakai nasi hangat, dan yang paling penting: awet berbulan-bulan tanpa kulkas.

​Aku merebus daging sapi dengan air kelapa (biar manis alami) sampai empuk, lalu memotongnya kecil-kecil dan memukul-mukulnya (gepuk) sampai seratnya terurai.

Kelapa parut kusangrai terpisah sampai kuning keemasan.

Bumbu halus (bawang, ketumbar, jintan, lengkuas, gula merah, asam jawa) kutumis sampai matang pekat.

​Lalu, semua disatukan dalam wajan besar.

Daging gepuk + Kelapa Sangrai + Bumbu.

Diaduk terus di atas api kecil.

Proses ini butuh kesabaran ekstra. Harus diaduk terus selama 2 jam agar tidak gosong dan keringnya merata.

​Aroma kelapa sangrai yang manis memenuhi dapur. Ini bau 'rumah'. Bau hajatan di kampung.

​"Mbok, apinya jaga stabil ya. Jangan kebesaran," ujarku sambil mengelap keringat.

​Tiba-tiba, aku teringat sesuatu.

Arga suka pedas (terbukti dia suka nasi gorengku yang pakai lada). Tapi kalau perang, perutnya nggak boleh sakit.

Aku memutuskan membuat Sambal Bawang Goreng Kering (BonCabe versi kearifan lokal).

Cabai rawit diiris halus, digoreng sampai kering krispi. Bawang merah iris digoreng kering. Terasi bakar dihancurkan. Campur semuanya dengan sedikit garam dan gula.

Simpan di toples kaca kecil.

​"Ini senjata rahasia," gumamku sambil menatap toples sambal itu. "Kalau ransum tentara hambar, tinggal tabur ini. Dijamin melek."

​Sore harinya, 50 bungkus Serundeng Daging dan 20 toples kecil Sambal Kering sudah siap kirim.

Kurir militer (anak buah Wira) datang menjemput saat matahari terbenam.

​"Sampaikan pada Jenderal," pesanku pada kurir itu, "Jangan cuma makan Abon. Serundeng ini ada kelapanya, bagus buat tenaga. Dan sambal ini... hati-hati pakainya. Sedikit saja sudah pedas."

​Kurir itu mengangguk hormat—jauh lebih hormat dari sebelumnya. Berita tentang kelezatan masakan "Nyonya Tantri" rupanya sudah menyebar di kalangan prajurit rendahan. Aku sekarang punya fanbase kecil di barak militer.

​[Dua Hari Kemudian - Di Perbatasan Selatan]

​Malam di tenda komando terasa dingin menusuk tulang.

Jenderal Arga duduk mengelilingi api unggun bersama Letnan Wira dan beberapa perwira tinggi.

Mereka baru saja memenangkan pertempuran kecil melawan pemberontak.

​"Makan malam!" seru Wira membagikan jatah.

​Biasanya, makan malam pasca perang adalah bubur hambar atau dendeng keras.

Tapi malam ini, setiap perwira mendapat sebungkus daun pisang berisi nasi hangat (dimasak di panci lapangan) dengan taburan bubuk cokelat keemasan yang wangi. Serundeng Daging.

​Arga membuka bungkusannya. Aroma kelapa sangrai dan gula merah langsung menggelitik hidungnya.

Dia menyendok nasi dan serundeng itu.

Kriuk.

Renyahnya kelapa berpadu dengan serat daging sapi yang manis gurih. Rasanya 'kaya'. Rasa lengkuas dan ketumbar menghangatkan badannya yang lelah.

​"Enak sekali, Jenderal!" puji Kapten Pasukan Panah. "Ini bikin kangen rumah. Istri saya nggak pernah masak seenak ini."

​Arga mengunyah dalam diam.

Dia merasakan ada sesuatu yang berbeda dalam masakan ini.

Bukan cuma rasa. Tapi... perhatian.

Memasak serundeng butuh waktu berjam-jam mengaduk di depan api. Wanita itu... Tantri... pasti berdiri lama di dapur yang panas demi membuat ini.

​Arga merogoh tasnya, mengambil toples kecil berisi sambal kering. Dia menaburkannya sedikit.

Pedas! Tapi enak.

Dia tersenyum tipis. Sangat tipis.

​"Wira," panggil Arga.

​"Ya, Jenderal?"

​"Siapkan hadiah."

​"Hadiah? Untuk siapa?"

​"Untuk istriku. Saat kita pulang nanti, bawakan dia kain sutra terbaik dari rampasan perang ini. Dan... carikan dia satu set pisau dapur dari baja Damaskus."

​Wira melongo. "Pisau dapur, Jenderal?"

​"Ya. Dia bilang pisaunya tumpul. Seorang prajurit butuh senjata yang bagus. Dan dapur adalah medan perangnya."

​Arga kembali makan dengan lahap.

Di bawah langit berbintang yang penuh asap mesiu, hati Sang Iblis Perang perlahan mulai mencair oleh hangatnya Serundeng Daging buatan istri yang dulu paling dia benci.

...****************...

...Bersambung.......

...Terima kasih telah membaca📖...

...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...

...****************...

1
🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR🪡
Ada kelegaan yang menyumbat rongga dada,
Kasih di mana tak dapat bersatu di masa itu ,kembali bereinkarnasi menemui cinta abadi nya.
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
cinta Arga membawa nya ke masa depan
tak berjodoh di masa lalu
berjodoh di masa depan
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
tdk bisa kah takdir di rubah kembali
Tantri akan bahagia bersma jenderal dan putra nya
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
seluruh istana pasti berduka atas hilangnya Tantri yang istimewa
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
waduhh , kisah masa lalu bisa kacau kembali ini
kalau Tantri kembali ke masa depan
apa tantrii sebenarnya yg telah meninggal
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
huhuhu.. /Sob/ bagaimana kelanjutannya ini thor? semoga happy ending..
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
taktik gerilyaa apalagi tantri
🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR🪡
pengorbanan seorang ibu tidak akan pernah sia2, ....
siapa tahu "SUARA" itu akan tersentuh oleh ketulusan cinta kalian.
Hingga nanti semua akan berakhir bahagia
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
udah ngaku aja daripada disuruh makan ceker mercon yg isinya potongan jari2 sendiri 🙈🙀
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
tambahin irisan kol dan daun bawang 😆😆
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
gak main main, 5 liter minyak jelantah 🤣🤣
🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR🪡
kAlau kirana bangun ,tantri kembali kesetelan awal donk🤣,kecuali tersisa memori dan sedikit keahlian kirana agar tantri hidupnya tak sengsara dengan kehilangan keahliannya.
Ahh ...kirana jangan kau kacaukan dulu perjalanan mereka, biar berdiri dulu sekolah tata boga tantri dan sukses mencetak lulusan terbaik baru kau kembali ke asalmu😄
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
refresh tenaga dlu ya tantrii
musuh baru akan segera datang
🤣
🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR🪡
Bebek timbung = bebek betutu, hhmmm yummy....
besok masakin bebek bengil yaa kirana, dengan lawar sayuran pedas🤤
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
yoo jadikan si cakar ayam bulan2an, yg kepleset minyak, kesiram air, kena tepung, kejepit pintu 🥳🥳🥳
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ: panjangin listnya /Determined//Determined//Scream//Scream//Scream/
total 2 replies
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
eeh kirain namanya Pembunuh Bayaran Cakar Ayam 🤣🤣
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
cinta lama sulit terganti kan ya Diah
sampai segala cara di pake buat merebut arga
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
mantan jenderal kembali
seperti apa kisah cinta mu jenderal
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
🤣🤣🤣 tidur dulu biar bangun udah fresh, siap atur strategi hadapi ibu suri 🥳
Ai Emy Ningrum: turing#turumiring😴😴😴😴😴💤💤💤💤💤
total 3 replies
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
Diah ngajak warrr 🤼‍♀️ siapkan amunisi Tantri 🥁🥁🥁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!