"Aku Jadi Ibu?" Melisa Wulandari, seorang gadis desa yang bercita-cita menjadi pengacara, berjuang menempuh pendidikan hukum di kota demi melindungi tanah kelahirannya dari mafia tanah. Hidupnya sederhana, hanya ditemani dua sahabat setianya, Diana dan Riki. Namun, suatu malam yang seharusnya biasa berubah menjadi titik balik hidupnya. Di sebuah gang sepi, tangisan bayi menggema, menggiring Melisa pada pemandangan mengejutkan—dua bayi mungil tergeletak dalam sebuah kotak. Nalurinya mengatakan untuk menyerahkan mereka kepada pihak berwajib, tetapi dunia tidak seadil yang ia kira. Alih-alih mendapatkan keadilan, Melisa justru dituduh sebagai ibu bayi-bayi itu dan dianggap berniat membuang mereka. Tak ada jalan keluar. Nama baiknya tercoreng, keluarganya di desa tak boleh tahu, dan tak ada yang percaya bahwa dia hanyalah seorang mahasiswa yang kebetulan menemukan bayi-bayi malang itu. Dengan segala keterbatasan, Melisa mengambil keputusan gila—merawat bayi-bayi itu diam-diam bersama Diana
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susiajaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 14
Di kampus, Diana dan Riki yang sudah berada di dalam kelas tampak celingukan ke sana kemari, mencari satu teman mereka yang belum juga muncul—Melisa.
"Tumben banget Melmel belum datang. Biasanya dia yang paling awal," ucap Diana heran.
"Iya, gue juga belum lihat dia dari tadi. Biasanya minimal papasan di lorong lah," sahut Riki ikut bingung.
"Jangan-jangan anak itu sakit, ya?" tanya Diana lagi sambil membuka ponsel.
"Masak? Semalam dia masih baik-baik aja tuh," jawab Riki sambil mengangkat bahu.
"Iya juga, aneh banget sih," gumam Diana.
Percakapan mereka terpotong ketika dosen masuk ke ruangan. Keduanya pun segera fokus ke depan, meski Diana sempat mengirim pesan ke Melisa diam-diam.
> “Mel, lo di mana? Ga masuk? Lo sakit?”
Sampai kelas kedua selesai, Melisa tak juga muncul. Pesan-pesan dari Diana dan Riki juga tidak kunjung dibalas. Ini membuat keduanya mulai resah karena tidak biasanya Melisa menghilang tanpa kabar.
Di kantin, mereka duduk sambil menyantap makan siang dengan pikiran yang tidak tenang.
"Ntar abis makan, kita ke kosan Meli aja ya," usul Riki.
"Iya. Gue juga khawatir. Semalam dia pulang sendirian pula, udah malem lagi," jawab Diana sambil mengaduk-aduk makanannya.
"Tapi gue gak bawa mobil. Lo bawa kendaraan apa?" tanya Riki.
"Motor. Tumben lo gak bawa mobil, mogok?"
Riki senyum-senyum. "Enggak, tadi gue dijemput sama calon pacar."
Diana mendelik. "Dih, kebalik bego. Kok lo yang dijemput? Kayak anak perawan aja, Ki."
"Sensi banget, Lo. Iri ya gak ada yang jemput juga?"
"Iri apaan. Gue ini independent woman, ga butuh dijemput-jemput. Cukup motor dan bensin full."
Dan seperti biasa, mereka mulai berdebat soal hal-hal kecil. Biasanya Melisa akan menyela dan menengahi mereka, tapi kali ini suasana terasa berbeda. Tak ada suara Melisa yang menenangkan. Kekosongan itu membuat mereka makin sadar ada sesuatu yang tidak beres.
Sementara itu, di kamar kos sederhana yang kini terasa lebih sumpek dari biasanya, Melisa tengah sibuk menenangkan dua bayi mungil yang terus saja rewel. Padahal susu sudah ia berikan, tapi tetap saja kedua bayi itu tampak gelisah dan tidak nyaman.
"Aduh, kenapa sih kalian? Udah minum susu, tapi kok masih rewel juga?" keluh Melisa sambil menggendong satu bayi, sementara yang lain tetap merengek.
Dengan panik, ia membuka ponsel dan mencari-cari cara merawat bayi di internet.
> “Penyebab bayi rewel padahal sudah menyusu”
Beberapa artikel muncul, dan Melisa membaca cepat.
> “Bayi bisa rewel karena popok basah, suhu ruangan tidak nyaman, atau karena perlu dimandikan dan diganti pakaian agar lebih segar.”
Melisa menatap kedua bayi itu dengan bingung. Ia belum pernah memandikan bayi. Bahkan, pakaian bayi pun ia tak punya. Semuanya terasa serba terbatas dan serba mendadak.
"Gimana caranya mandiin bayi? Aku baju bayi aja gak punya," ucapnya panik, hampir menangis karena kelelahan.
Tapi tatapannya kembali jatuh pada wajah mungil dua bayi itu yang kini memerah karena terus menangis. Melisa menggigit bibir.
"Tenang ya… kakak cari cara. Tapi tolong, jangan nangis terus kayak gini… kakak juga bingung banget."
Ia pun bangkit, mulai membuka lemari mencari kain bersih seadanya untuk mungkin bisa dipakai sebagai pengganti baju. Di dalam hatinya, Melisa mulai merasa benar-benar sendirian—tapi juga tahu bahwa sekarang, ada dua nyawa kecil yang sangat bergantung padanya.