Sage Iskandar atau lebih sering dipanggil Ge, merupakan murid badung di sekolah. Sejak kecil dia memang dirawat oleh pasangan rentenir. Orang sering menganggapnya preman, karena memang kebanyakan orang terdekatnya adalah preman.
Sampai suatu hari, seorang pria asing mendatangi Ge dan mengatakan sesuatu yang selama ini dirahasiakan darinya. Apakah itu?
"Kamu tuh ya, Ge! Nggak capek kamu tiap hari kerjaannya keluar masuk ruang BK terus, hah?!" omel guru BK.
"Nggak capek lah, Bu. Kan guru BKnya cantik," sahut Ge gamblang. Dia langsung kena jewer.
"Ge! Kamu ya yang ambil duit Mamak? Dasar anak kurang ajar!" timpal ibunya Ge sambil berlari keluar.
"Makasih, Mak! Love yuhh!" Ge langsung pergi dengan motornya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 30 - Kuasa Hukum Romy
Siang itu, suasana di mansion kembali tegang. Berbeda dengan pagi yang sempat dipenuhi tawa, kini udara terasa lebih berat. Semua berkumpul di ruang utama.
Pintu terbuka. Arif masuk lebih dulu, diikuti seorang pria berusia sekitar lima puluhan dengan jas rapi dan wajah serius.
“Perkenalkan,” kata Arif tenang, “ini Pak Tony. Kuasa hukum almarhum Tuan Romy.”
Tony mengangguk sopan. “Selamat siang.”
Clara duduk tegak, mencoba tetap anggun meskipun jelas terlihat tegang. Naya di sampingnya tampak gelisah. Zara sendiri diam, memperhatikan.
Ge? Dia malah duduk santai sambil bersandar. “Wah, sidang dimulai nih,” gumamnya pelan.
Arif melirik sekilas, tapi membiarkan.
Tony membuka map hitam yang dibawanya. “Saya akan langsung ke inti,” katanya profesional. “Ini adalah dokumen wasiat resmi milik almarhum Romy Armansyah.”
Dia mengeluarkan beberapa lembar kertas, lalu meletakkannya di meja.
“Dokumen ini telah disahkan secara hukum,” lanjutnya. “Dan di dalamnya tertulis jelas… seluruh aset, baik properti, bisnis, maupun rekening… diwariskan kepada satu orang.”
Semua menahan napas.
Tony menoleh ke arah Ge. “Kepada Ge.”
Sunyi.
Naya langsung mengepalkan tangan. “Nggak mungkin…” gumamnya.
Clara menatap dokumen itu dengan mata sedikit bergetar. “Tidak… ini…”
Tony mendorong dokumen itu sedikit ke arah mereka. “Silakan diperiksa. Semua legalitas lengkap. Tidak bisa diganggu gugat.”
Clara mengambil kertas itu dengan tangan sedikit gemetar. Dia membaca perlahan. Semakin lama, wajahnya semakin pucat.
Naya ikut melihat. “Mama… ini…”
Tidak ada celah. Tidak ada yang bisa dibantah.
Arif berdiri dengan tenang. “Saya sudah bilang dari awal.”
Ge mengangkat tangan santai. “Berarti… fix ya? Gue jadi sultan?”
Tidak ada yang menjawab. Zara melirik Ge sekilas, lalu kembali ke Clara. Dia bisa melihat untuk pertama kalinya, ibunya benar-benar terpukul.
Beberapa menit kemudian, semua selesai. Tidak ada lagi yang bisa diperdebatkan.
Tony menutup mapnya. “Kalau begitu, tugas saya selesai.”
Dia berdiri, menyalami Arif, lalu sedikit mengangguk ke yang lain sebelum pergi.
Pintu tertutup. Sunyi kembali. Clara masih duduk, menatap kosong ke depan. Dokumen itu masih di tangannya. Naya menggigit bibirnya. Tapi kali ini dia tidak marah. Hanya diam.
Ge menggaruk kepalanya. “Kok jadi sepi gini…”
Tidak ada yang menanggapi. Beberapa detik kemudian, Clara berdiri pelan. Tanpa berkata apa-apa, dia meletakkan dokumen itu di meja.
“Ma…” panggil Zara pelan.
Clara tidak menjawab. Dia hanya berjalan pergi menuju pintu keluar.
“Ma, mau ke mana?” tanya Naya, suaranya mulai panik.
Clara berhenti sebentar tapi tidak menoleh. Lalu dia melanjutkan langkahnya dan keluar dari rumah.
Naya menatap pintu dengan wajah bingung. “Mama…” gumamnya pelan.
Zara juga terlihat khawatir, tapi dia tidak bergerak.
Ge yang dari tadi diam, akhirnya bersandar lagi. “Dia kenapa?” tanyanya santai.
Naya tidak menjawab. Dia hanya duduk kembali, wajahnya menunduk.
Arif melirik ke arah Ge. “Biarkan saja.”
Ge mengangguk pelan. “Oh… oke.”
Beberapa detik suasana kembali hening. Lalu tiba-tiba, Ge menoleh ke arah Naya dan Zara.
“Eh, gue mau nanya,” katanya.
Zara langsung menatap. “Apa?”
Ge menyandarkan dagu di tangan. “Itu… soal nyokap kalian.”
Naya langsung menegang.
Zara mengernyit. “Kenapa?”
Ge bicara santai, tanpa beban, “Katanya dia selingkuh ya?”
Sunyi.
Zara langsung kaget. “Hah?!” Dia menoleh ke Naya. “Maksudnya apa?”
Naya diam. Tatapannya kosong ke meja.
Ge mengangkat alis. “Lah… kalian nggak tahu?”
Zara makin bingung. “Ge, ngomong apa sih?”
Naya akhirnya bersuara, pelan. “Nggak usah dibahas.”
Zara menatap kakaknya. “Nay…”
Naya menggeleng kecil. “Udah.”
Nada suaranya cukup untuk menghentikan pembicaraan.
Ge mengangkat tangan. “Oke, oke. Gue diem.”
Dia bersandar lagi. “Gue kira kalian udah tahu.”
Zara masih terlihat bingung, tapi dia tidak memaksa. Sementara Naya hanya menatap kosong, seolah tidak ingin membicarakannya.
Arif yang sejak tadi diam, akhirnya melangkah maju.
“Ge,” katanya.
Ge menoleh. “Kenapa, Om?”
“Kita keluar sebentar,” kata Arif.
Ge mengernyit. “Ke mana?”
“Melihat sesuatu yang perlu kamu tahu.”
Ge langsung menyeringai. “Wah… serius nih. Kayak bos mafia ngajak inspeksi.”
Arif menghela napas. “Ini penting.”
Ge berdiri. “Oke deh.”
Dia menoleh ke Zara dan Naya. “Gue cabut dulu ya. Jangan kangen.”
Naya langsung mendecak. “Siapa juga yang kangen!”
Ge ketawa kecil.
Zara hanya tersenyum tipis. “Hati-hati.”
Ge mengacungkan jempol. “Siap, bos kecil.”
Arif sudah berjalan duluan. Ge langsung menyusul.
Beberapa saat kemudian, mereka keluar dari mansion. Mobil sudah menunggu.
Ge masuk ke kursi penumpang. “Jadi… kita mau ke mana?”
Arif menyalakan mobil. “Ke beberapa tempat usaha milik ayahmu.”
Ge langsung mengangkat alis. “Bisnis, ya…”
Arif mengangguk. “Kamu harus mulai mengenal semuanya.”
Ge menyandarkan kepala ke kursi. “Wah… dari anak tongkrongan jadi pebisnis dalam semalam.”
Arif meliriknya sekilas. “Kamu tidak punya pilihan.”
Ge tersenyum miring. “Santai aja, Om.”
Mobil mulai melaju keluar dari mansion.