NovelToon NovelToon
Akan Ku Ubah Takdirku

Akan Ku Ubah Takdirku

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Queen Sun044

dilarang plagiat !
plagiat dosa ini karyaku asli.
jika kalian menemukan versi sama di aplikasi lain itu berarti bukan karyaku karena aku hanya membuat di aplikasi ini

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen Sun044, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Prasangka Yang Tak Pernah Hilang

Seiring berjalannya waktu, kehidupan di SMP mulai terasa biasa bagiku. Aku terus mengembangkan "Usaha Brokat"-ku, dan uang yang aku hasilkan cukup untuk membayar cicilan buku paket serta memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bahkan, aku mulai bisa membeli baju baru yang tidak terlalu mahal, tapi cukup membuat penampilanku terlihat lebih rapi.

Awalnya, di sekolah baru ini, aku sempat memiliki beberapa teman—baik cewek maupun cowok. Mereka terlihat tertarik berteman padaku, mereka sering mengelilingi mejaku dan memuji tangan kreatifku yang bisa mengubah sampah menjadi barang indah. Ada yang bilang aku lumayan cantik dan imut, dan aku sempat merasa senang karena akhirnya aku diterima di lingkungan mereka.

Namun, kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Perlahan tapi pasti, sikap mereka mulai berubah.

Awalnya hanya sekadar menyapa singkat, lalu menjadi jarang bicara, hingga akhirnya mereka benar-benar menjauh seolah aku membawa penyakit. Aku memperhatikan mereka mulai berkumpul dengan kelompok lain—anak-anak yang pintar, yang punya fisik kuat, dan yang berasal dari keluarga mampu.

Suatu siang, saat aku berniat bergabung dengan mereka yang sedang duduk di kantin, aku mendengar percakapan mereka yang membuat langkahku terhenti di belakang tiang.

"Ah, mending kita jauhi dia deh," kata salah satu cewek yang dulu sering memuji kerajinanku. "Iya sih, dia cantik dan tangannya kreatif, tapi buat apa berteman sama orang yang otaknya 'gitu' dan fisiknya lemah? Kita butuh teman yang setara, yang bisa diajak belajar dan main bareng tanpa bikin malu."

"Iya tuh," sahut temannya yang cowok. "Lagian kan dia miskin. Katanya kalau sering dekat sama orang miskin, nanti kita ikut miskin lho. Apalagi dia kan terkenal bodoh di kelas. Kalau kita berteman sama dia, nanti kita dikira ikutan bodoh juga sama guru-guru."

"Benar, benar. Mending jauhin aja. Aku sih lihat dia aja udah risih, apalagi kalau dia bawa bau apek atau bau sampah gitu," tambah yang lain dengan nada jijik.

Setiap kata yang keluar dari mulut mereka bagaikan pisau yang menusuk kembali luka lama yang baru saja mulai kering. Mereka melihatku bukan sebagai Laras yang berjuang, bukan sebagai Laras yang punya keahlian, tapi hanya sebagai Laras yang miskin, lemah, dan bodoh.

Bagi mereka, berteman itu harus ada "untungnya". Harus dengan orang yang pintar agar bisa dicontek, harus dengan orang yang kuat agar bisa dilindungi, atau harus dengan orang yang kaya agar bisa diajak jalan-jalan mewah. Sedangkan aku tidak punya salah satu dari semua itu, jadi mungkin itulah sebabnya mengapa aku tidak berguna bagi mereka.

Aku mundur perlahan, menjauh dari kantin itu tanpa mereka sadari. Mataku terasa panas, tapi aku tidak mau menangis. Bukan di tempat ini, bukan di depan mereka.

Saat berpapasan dengan mereka di lorong sekolah, aku bisa melihat tatapan jijik di mata mereka. Mereka akan menyingkir sedikit, seolah-olah aku adalah kotoran yang harus dihindari. Mereka berbisik-bisik, lalu tertawa kecil, dan aku tahu itu tentangku.

Meskipun tanganku bisa membuat barang-barang indah yang dibeli banyak orang, meskipun wajahku mungkin dianggap lumayan cantik, di mata mereka aku tetaplah sampah yang tidak berharga. Prasangka bahwa aku akan menularkan kemiskinan dan kebodohan seolah-olah adalah penyakit menular yang mematikan.

Tapi, di tengah rasa perih itu, ada satu hal yang berbeda dari dulu. Aku tidak lagi merasa hancur total. Aku merasa sakit, tentu saja. Siapa yang tidak sakit hati dijauhi dan dihina begitu? Tapi aku juga sadar, mereka tidak tahu apa-apa tentang perjuanganku. Mereka hanya menilai dari kulit luar dan apa yang mereka dengar saja.

Aku berjalan menuju tempat dudukku sendirian, mengeluarkan bahan-bahan kerajinan yang aku bawa dari rumah. Sambil memegang gunting dan lem, aku berbisik pelan pada diriku sendiri, "Tidak apa-apa, Lar. Kalau mereka tidak mau jadi temanmu, tidak apa-apa. Kamu punya usahamu, kamu punya kemampuanmu, dan yang paling penting, kamu punya dirimu sendiri yang tidak akan pernah meninggalkanmu."

Mereka bisa menjauh, mereka bisa jijik dengan ku, tapi mereka tidak bisa mengambil keahlian dan semangatku. Aku akan terus berjalan, meskipun harus melangkah sendirian.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!