Amanda, wanita tangguh yang "terjebak" oleh bakti. Di usianya yang sudah sangat matang, ia menutup rapat pintu hatinya. Takut suaminya nanti tidak sanggup menerima paket lengkap kehidupannya yang rumit. Ayahnya yang renta dan adiknya yang istimewa.
Dirga Wijaya, seorang pria kaya merupakan ayah dari mantan muridnya. Berlidah tajam, seringkali melontarkan kritik yang menyinggung perasaan, membuat keduanya kerap terlibat perdebatan.
Saat kehidupan tenang Amanda terusik oleh kemunculan kembali mantan kekasihnya yang obsesif dan mulai melakukan tindakan kriminal, Dirga Wijaya menawarkan pernikahan kontrak.
Dirga mendapatkan status "menikah" demi putrinya, sementara Amanda mendapatkan perlindungan bagi ayah serta adiknya.
Di bawah atap yang sama, Akankah pernikahan itu terus berlanjut, atau terputus ketika masa kontrak berakhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21
.
Putri terdiam usai mendengarkan cerita dari Bu Rani. Sesuatu menggelitik hatinya. Masa lalu yang terhapus sebagian tentang kisah antara kedua orang tuanya.
“Bu, Ibu sudah bekerja di rumah Ayah sejak aku belum lahir, kan? Apa dari dulu Ayah memang dingin seperti itu?” tanya putri menatap wajah bu Rani penasaran.
Bu Rani tidak langsung menjawab, keningnya berkerut seolah-olah sedang mencoba menggali sesuatu. Hingga cerita itu mulai meluncur dari bibirnya. “Menurut para pelayan terdahulu, Tuan memang dingin tapi tidak sedingin setelah kepergian Ibumu.”
Putri mengangguk. Berarti kepergian ibunya benar-benar berpengaruh terhadap ayahnya. Bukankah artinya ayahnya sangat mencintai ibunya? Dulu, dia hanya pernah mendengar sekilas, bahwa ibunya adalah pelayan di rumah itu yang dinikahi oleh ayahnya beberapa bulan setelah ayahnya bercerai dengan tante Jameela. Hanya saja tidak ada yang bercerita padanya bagaimana ceritanya sehingga ayahnya menikahi ibunya.
Bu Rani tiba-tiba terkekeh geli membuat Putri spontan menoleh dengan mengerutkan kening. Apakah ada yang sesuatu yang lucu yang ia lewatkan? Pikirnya.
“Tahu tidak? Dulu, Tuan seperti orang gila saat tahu ibumu pulang ke rumah kakekmu. Ibu tidak tahu persis, sih. Tapi pernah mendengar cerita ini sekilas dari mendiang Bu Surti. Ayahmu bahkan rela menjadi gembala sapi hanya agar bisa membawa ibumu pulang.”
“Haa…?” Mata Putri membelalak sempurna. “Serius ada cerita seperti itu?” mulut gadis itu menganga tak percaya. Kenapa tidak pernah ada yang cerita tentang kisah ini padanya?
*
Sementara itu, mobil yang dikemudikan oleh Kevin melaju membelah jalanan ibukota. Suasana hening menyelimuti kabin. Kevin fokus menyetir dengan sesekali melirik kaca spion melihat bosnya yang duduk diam di belakang bersama Amanda.
Dirga menatap lurus ke depan, tangannya terlipat di dada. Wajahnya kembali datar, namun pikirannya entah kemana. Di sebelahnya, Amanda duduk dengan tegak, menatap ke luar jendela, berusaha tidak peduli meski jantungnya berdegup kencang.
Perjalanan terasa singkat. Mobil akhirnya berhenti tepat di depan gerbang sekolah tempat Amanda mengajar.
Amanda segera mengangkat tasnya, bersiap turun. "Terima kasih, Tuan," ucapnya singkat, lalu tangan nya segera meraih pegangan pintu.
Namun, sebelum pintu itu terbuka luas dan ia sempat melangkah turun, sebuah suara berat terdengar pelan namun jelas di samping telinganya.
"Terima kasih."
Amanda membeku. Gerakannya terhenti. Ia menoleh perlahan, menatap pria di sampingnya dengan kening berkerut. Dirga Wijaya mengucapkan terima kasih? Apa dia salah dengar?
Pria itu tidak menatapnya, matanya tetap lurus ke depan seolah tak terjadi apa-apa. Namun kata itu terucap tulus, tanpa sarkasme, tanpa nada tinggi.
Amanda tertegun lama, mulutnya sedikit terbuka tapi tak ada kata yang keluar. Namun, akhirnya ia mengangguk pelan. “Sama-sama, Tuan," jawabnya sopan, meski ia tak tahu ucapan terima kasih itu untuk hal apa? Apakah untuk kotak bekal?
Amanda turun dan menutup pintu mobil dengan hati-hati lalu berdiri di trotoar menatap kaca mobil yang gelap yang perlahan bergerak maju meninggalkan debu halus dan rasa aneh yang tertinggal di dada Amanda.
*
*
*
Siang hari di Perusahaan Pusat Wijaya Corp
Dirga Wijaya duduk bersandar di kursi kebesarannya. Pria itu memijat pelan pelipisnya dan menghembuskan nafas panjang mengurai penat yang melanda.
Matanya menatap kosong ke arah jendela kaca besar yang memperlihatkan pemandangan kota.
Tiba-tiba di kepalanya muncul bayangan kejadian semalam. Amanda yang memimpin anak-anak asuhnya untuk mendoakan mendiang istrinya.
Penilaiannya terhadap wanita itu perlahan berubah. Awalnya ia hanya menganggapnya sebagai guru kesayangan Putri yang memiliki sifat bar-bar. Tapi kini ada sesuatu yang bergejolak di dalam dadanya. Rasa kagum? Rasa hormat? Atau hanya sekadar teringat akan masa lalu? Ia sendiri tak bisa mendefinisikannya.
Dirga menghela napas panjang seraya mengulurkan tangannya untuk meraih sebuah pigura foto kecil yang terletak di sudut meja kerjanya.
Di dalam foto itu, terlihat dirinya yang masih terlihat lebih muda, berdiri tegap dengan sebelah tangan tersimpan di saku celana dan tangan lainnya merangkul pundak seorang wanita cantik dengan senyum lembut yang menenangkan, Susi.
Dan di tengah mereka, ada seorang gadis kecil berusia sekitar enam tahun yang sedang tertawa lebar, menggendong boneka dengan wujud gadis kecil berkerudung pink yang bahkan tak sempurna menutup seluruh rambutnya yang berwarna coklat.
Dirga mengusap perlahan wajah mendiang istrinya di dalam foto dengan ujung jarinya.
"Dia benar-benar mirip denganmu, Sayang?" gumamnya pelan, hampir tak terdengar. “Bar-bar, pemberontak, dan berani, tapi juga terlihat tulus. Benar-benar persis seperti dirimu.”
Rahangnya mengeras, menahan gejolak perasaan yang mulai muncul kembali setelah sekian lama terkubur.
Dirga meletakkan kembali foto itu dengan hati-hati, lalu bersiap untuk berdiri mengingat sebentar lagi Kevin pastri datang untuk bertemu klien. Hingga sesaat kemudian tatapannya terpaku pada tas kerjanya. Dirga membuka tas itu dan terlihat kotak bekal yang tadi dimasukkan oleh Putri. Entah kenapa Dirga malah kembali duduk untuk membuka kotak bekal itu.
Ser!
Ada sesuatu yang berdesir dalam hatinya. Menu yang sudah bertahun tahun tak pernah ia lihat, kini ada di depan matanya. Dirga mengambil sendok dan memasukkan sesuap ke dalam mulutnya. Satu kunyahan, dua kunyahan, lalu berhenti. Rasa yang sama.
Mata Dirga perlahan kembali beralih pada pigura kecil yang ia sentuh beberapa saat lalu. Kembali mengunyah pelan, lalu menelan dengan susah payah. Tanpa sadar air matanya menetes.
“Sayang… ?”gumamnya menatap wajah yang tersenyum dalam bingkai. “Aku merindukanmu.”
tapi kalo cinta kok memaksa
tanpa filter sekali pak
menurutku lebih pas.